Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
39. Sakit kepala


__ADS_3

Robert mengangkat wajahnya ke arah Abi Hamdan, kemudian berkata, "Tuh 'kan bener, Opa, tadi Daddy itu lagi nyuntik vitamin buat adik bayi melalui Mommy. Tapi semuanya gagal gara-gara Opa."


"Lho, kok kamu malah nyalahin Opa?" Abi Hamdan menunjuk wajahnya sendiri. Dia merasa tak terima jika disalahkan. "Ngapain juga nyuntik adik bayi yang masih di dalam kandungan? Mana bisa?" tanyanya.


Namun seketika saja—dia langsung terdiam. Memikirkan apa yang dimaksud dari menyuntik bayi melalui Syifa. Dan tak berselang lama, sontak kedua mata Abi Hamdan terbelalak.


'Apa Jojon dan Syifa tadi sedang bercinta?' batinnya menebak. Awalnya dia kaget, tapi langsung berubah menjadi biasa saja. 'Ah dasar si Jojon, nggak ada puasnya jadi orang. Bukannya tadi siang sudah, ya? Sekarang malah minta nambah.'


'Harusnya 'kan gantian, malam ini aku sama Uminya Syifa. Eh malah dia nitipin Robert. Emang dasar gatel banget itu tongkatnya, mentang-mentang sudah sembuh dan Syifanya nurut.'


Abi Hamdan jelas berpikir kalau Joe adalah pria yang tak ada puasnya. Padahal dia tak tahu saja, jika selama ini jangan puas. Berhasil mencetak gol saja tidak.


Tadi hampir sedikit lagi, dan secara tidak langsung dialah orang yang menghentikannya.


"Ya sudah, kita kembali saja ke kamar yuk, Nak!" ajak Abi Hamdan pada sang cucu, kemudian mengendongnya dan menatap ke arah Syifa. "Kalau kamunya capek, jangan dipaksa. Abi tau ... itu memang kewajiban seorang istri. Tapi 'kan ada hari esok, Abi nggak mau kamu ngedrop. Ingat ... kamu lagi hamil muda, jaga yang benar cucu kedua Opa." Mengelus perut rata anaknya, lantas tersenyum dan melangkah keluar bersama Robert yang melambaikan tangan.


"Dadah Mommy!" seru Robert dan Syifa membalas lambaian tangannya.


"Maaf, kalau terdengar Umi kurang sopan. Apa maksudnya ... kamu dan Joe tadi sedang bercinta, Fa?" bisik Umi Maryam ditelinga kanan Syifa. Ucapan sang suami tadi membuatnya berpikir seperti itu. Dan dialah satu-satunya orang yang mengetahui jika anaknya tidak sedang hamil. "Dan apa ini malam pertama kalian?" tambahnya menebak. Tapi belum dijawab, wajah Syifa sudah makin terlihat merah saja.


"Iya, Umi." Syifa mengangguk kecil dan menurunkan pandangan. Merasa malu sendiri.


"Oh." Tangan Umi Maryam terangkat, lalu mengelus pipi kanan anaknya. "Maafin Abi ya, Fa. Mungkin kalian tadi belum selesai dan Abi yang menggagalkannya. Tadi kami sempat berpikir kamu kenapa-kenapa."


"Nggak apa-apa, Umi. Maaf juga, kalau gara-gara suaraku kalian jadi khawatir. Aku sejujurnya udah coba supaya nggak bersuara. Tapi itu spontan." Syifa menyentuh bibirnya. Bahkan bekas bibir Joe masih mampu dia rasakan.


"Apa tadi rasanya beneran sakit?"


Pertanyaan dari Umi sontak membuat jantungnya berdegup kencang. Syifa pun lantas menatap mata Umi Maryam sebentar, kemudian menurunkan kembali pandangannya. "Umi bicara apa, sih? Aku malu tau bahas hal begituan."

__ADS_1


"Ohh malu ...," kekeh Umi, lalu meraih tangan anaknya. "Maaf. Ya sudah, Umi balik ke kamar lagi. Kalian boleh lanjutkan yang tadi, tapi pelankan suaranya. Selamat malam."


"Malam Umi."


Umi Maryam mendekat, lalu mencium kening anaknya. Setelah itu dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar.


'Si Abi nih kerjaannya, ganggu aja anak yang lagi enak-enak,' batinnya menggerutu. Tetapi entah mengapa, tiba-tiba Umi Maryam teringat akan apa yang pernah terjadi oleh anaknya. 'Tapi kok Syifa kayak kesakitan banget. Bukannya itu bukan pertama kali untuknya? Atau mungkin tongkat Joenya yang kegedean?'


Mendadak, otak Umi Maryam jadi traveling memikirkan tongkat bisbol menantunya. Namun dengan cepat, dia mengusap kasar wajahnya dan geleng-geleng kepala. 'Astaghfirullahallazim! Apa coba yang aku pikirkan. Itu 'kan nggak boleh!'


"Aa! Buka pintunya!" Syifa mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang masih terdengar suara Joe menangis. Dia sendiri awalnya tidak tahu kalau suaminya itu akan menangis di sana, yang dia tahu memang Joe berlari masuk ke dalam kamar mandi ketika dirinya hendak membuka pintu. "Udah malem, A, dingin. Cepat keluar!" titahnya yang kembali mengetuk pintu.


"Apa Abi sama yang lain sudah pergi, Yang?" tanya Joe lirih.


"Sudah, A."


Ceklek~


Syifa bersusah payah menelan ludahnya, lalu menatap wajah sang suami. "Aa nggak apa-apa, kan?" tanyanya sambil menangkup kedua pipi Joe. Dilihat memang wajahnya begitu merah, matanya sembab dan berair.


"Apa ada obat sakit kepala, Yang?" tanya Joe pelan. Dia melangkah melewati Syifa dan langsung duduk di atas kasur sambil menyentuh kepalanya yang terasa kunang-kunang. Dan sebetulnya, bukan kepala atas saja yang sakit. Melainkan kepala yang bawah juga, bahkan dialah pusat rasa sakitnya.


Kalau saja Joe bisa menuntaskan dengan sabun, mungkin dia akan melakukannya. Tapi masalahnya, sejak dulu dia memang tak pernah bermain hal semacam itu. Dan tak ingin juga mencobanya, sebab menurutnya, bermain sendiri tak akan enak.


"Ada, A. Sebentar ... aku ambilkan." Syifa berjalan menuju nakas, lalu menarik lacinya untuk mengambil ibuprofen dan setelah itu dia melangkah membuka pintu kamar. "Aku ke dapur dulu untuk mengambil air minum hangat untuk Aa, ya, sebentar."


"Iya," lirih Joe sambil menganggukkan kepalanya. Dia pun menatap punggung istrinya yang menghilang dari sana. 'Aku harus cari ide, supaya bisa bercinta tanpa diganggu siapa pun.'


***

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Permisi ... saya ingin mengantarkan undangan," ucap seorang pria yang berbicara diluar gerbang sebuah rumah mewah. Dan seseorang yang baru saja turun dari mobil Lamborghini berwarna kuningnya langsung menghampiri.


"Ya, undangan dari siapa?" tanyanya. Dia adalah Fahmi. Tangan kanannya langsung terulur lewat celah pagar untuk mengambil undangan berwarna sage tersebut. kertasnya cukup tebal dan cantik, ada pita berwarna putihnya.


"Dari Ustad Hamdan, Pak. Kalau begitu saya permisi," jawab pria itu kemudian melangkah pergi dari sana.


"Lho, ternyata mereka jadi nikah?!" Fahmi tampak terkejut setelah membaca isi dari kertas itu. Rasanya tak menyangka, jika dirinya benar-benar sudah kalah saing dari Joe.


"Undangan dari siapa, Fahmi?" Pak Haji Samsul yang tengah menyiram tanaman pada halaman rumahnya itu langsung menjeda aktivitasnya, kemudian berjalan melangkah menghampiri anaknya sebab merasa penasaran.


"Ini, Pa, ternyata Abi Hamdan benar-benar ingin menikahi Syifa dengan si China itu," ucapnya sambil menyerahkan undangan.


"Oh, ya sudah biarkan saja. Nggak penting juga." Pak Haji Samsul terlihat santai, tidak seperti Fahmi yang tampak syok. Malah, dia langsung menyobek kertas undangan itu menjadi beberapa helai.


"Lho, kok disobek? Aku 'kan belum tau mereka nikahnya dimana, Pa."


"Buat apa memangnya? Nggak penting ini untukmu."


"Pentinglah, Pa. Orang aku mau datang kok." Fahmi langsung berjongkok dan memunguti robekan kertas itu.


"Dih mau ngapain? Jangan bilang nanti kamu mau mengemis cinta sama Syifa. Perempuan banyak, bukan cuma dia. Papa akan mencarikan yang lebih-lebih dari Syifa, Mi!" tegas Pak Haji Samsul dengan nada tinggi.


"Aku datang karena ingin membuat Abi Hamdan menyesal. Aku juga mau lihat bagaimana pestanya, sekaya apa si Jojon itu. Sampai dengan sombongnya mengambil calon istriku!" geramnya penuh emosi.


"Masih lebih kaya kita ke mana-mana lah. Kita 'kan tahun ini kurbannya sapi," sahut Pak Haji Samsul dengan sombongnya. Dia menepuk dada. Dia mengatakan hal itu sebab ditahun-tahun kemarin hanya berkurban kambing. "Dan orang China seperti Jojon ... mana mungkin kurban. Taunya makan babi doang."


"Maka dari itu, aku juga sekalian ingin pamer sama Abi Hamdan, kalau tahun ini aku kurban satu ekor sapi. Pasti dia sangat sedih, karena menantunya nggak mungkin bisa berkurban seperti aku," balas Fahmi yang terdengar sama sombongnya.

__ADS_1


...Dih, ga tau aja dia kalau Om Joe mau kurban unta 🤣...


__ADS_2