
"Tapi, Pi, bagaimana dengan Robert?" Mami Yeri merelai pelukan, dan suaminya itu langsung mengusap air mata di pipinya.
"Robert?" Kening Papi Paul tampak mengernyit. "Maksudnya gimana, Mi?"
"Papi 'kan tau, Robert dekat banget sama Syifa. Kemarin-kemarin saja pas Joe nitipin Robert sama kita ... dia bahkan nggak mau makan, kalau nggak disuapi sama Syifa." Mami Yeri sih setuju-setuju saja, tapi disisi lain dia memikirkan nasib cucunya. Yang begitu nempel pada Mommy barunya itu.
"Iya juga, sih, Mi." Papi Paul menganggukkan kepalanya. Setuju dengan pendapat dari istrinya. Dia pun lantas terdiam sebentar untuk mencari ide, kemudian berkata, "Tapi nggak ada salahnya kita coba dulu, Mi. Mungkin saja kalau Robert sudah terbiasa jauh dengan Syifa, dia nggak akan seperti itu. Jadi hal yang pertama kita lakukan adalah menjauhkan mereka dengan Syifa."
"Apa kita perlu pindah ke Korea, Pi?"
*
*
*
*
*
Di kamar.
Joe dengan perlahan mengerjapkan matanya, kala merasakan sentuhan dingin di atas dahi.
Ternyata itu berasal dari handuk kecil yang basah. Benda itu dijadikan kompres oleh Robert.
"Alhamdulillah, Daddy sudah bangun." Robert mengusap wajahnya sambil tersenyum, kemudian mendekat ke arah Joe untuk mencium pipi kanannya.
"Ini di mana, Rob?" Joe menatap sekeliling kamar itu, lalu mengusap kedua matanya sebab pandangannya terasa agak buram.
"Ini di kamar Daddy, di rumah Oma dan Opa."
"Oh ... terus Omanya mana? Kok kita hanya berdua di sini?" Joe dengan perlahan menarik tubuhnya untuk duduk seraya menyentuh kepalanya yang masih terasa berat. Robert juga membantu Joe untuk menyandar pada dipan ranjang.
"Robert nggak tau, Dad." Robert menggelengkan kepalanya. "Sejak Daddy diperiksa sama Dokter Victor ... Robert disuruh Oma untuk menjaga Daddy. Tapi sudah hampir satu jam lebih ... Oma dan Opa belum balik ke sini."
"Oh, tadi ada Opa juga, Rob?"
__ADS_1
Robert mengangguk. "Iya. Datang bareng Dokter Victor."
"Apa Opa Paul terlihat marah, saat datang?"
Robert menggelengkan kepalanya. "Enggak, dia malah terlihat khawatir."
"Terus pas diperiksa sama Dokter Victor ... dia bilang Daddy kenapa, Rob?"
"Hidung Daddy infeksi, terus tubuhnya ada demam. Tapi Daddy sudah disuntik sama Dokter Victor tadi, tinggal tunggu demamnya saja yang belum turun." Robert menyentuh leher putih Joe dengan punggung tangannya, terasa panas memang suhu tubuh Joe saat ini. "Oh ya, Dad, apa Robert boleh tanya sesuatu?"
"Bicaralah." Joe dengan perlahan merangkul bahu anaknya, kemudian mencium rambutnya.
"Kenapa Daddy bohong kalau Mommy hamil? Kan bohong itu dosa. Dan bukannya Daddy selalu mengajari Robert supaya nggak berbohong, ya?" tanya Robert, raut wajahnya itu seketika berubah menjadi kesal. Sorotan matanya pun begitu tajam menatap ke arah Joe.
"Berbohong memang nggak boleh, dan memang dosa. Tapi kalau berbohong demi kebaikan itu nggak masalah."
"Mana ada. Namanya bohong ya tetap bohong, Dad!" Robert berdecih sebal dengan kedua tangan yang melipat di atas dada.
"Enggak, Sayang." Joe menggeleng lemah. "Daddy pernah baca dibuku, kalau bohong demi kebaikan itu dibolehkan. Misalkan supaya kita nggak menyakiti hati orang lain. Itu dibolehkan kalau kita berbohong."
"Tapi masalahnya, kebohongan Daddy malah membuat orang sakit hati!" protes Robert yang tampak tak setuju dengan apa yang Joe katakan. "Bukan hanya Opa Hamdan, Oma Maryam, Opa Paul dan Oma Yeri saja yang kecewa ... tapi Robert juga kecewa!" tegasnya dengan bibirnya yang mengerucut.
"Robert memang dukung, Robert juga senang Daddy dan Mommy bisa menikah. Tapi ya nggak perlu berbohong juga, pakai bilang Mommy Syifa hamil! Itu 'kan sama saja memberikan harapan palsu, padahal Robert sudah senang mau punya adik bayi! Tapi kesenangan itu langsung sirna!" Robert menggerutu dengan dada yang naik turun, mengungkapkan rasa kecewa yang terlukis didalam hatinya.
"Maafin Daddy, Sayang ...." Joe dengan perlahan meraih tubuh kecil anaknya, memindahkannya untuk berada di atas pangkuannya. Setelah itu dia peluk tubuh kecil itu dengan erat. "Daddy berbohong karena terpaksa, karena Daddy nggak ada jalan lain supaya bisa menikahi Mommy Syifa. Kan kamu tau sendiri, Opa Paul dan Oma Yeri nggak setuju awalnya."
"Tapi bukannya waktu itu Daddy minta bantuan Robert, ya, untuk membujuk mereka? Daddy sama Mommy 'kan sempat mengumpet. Harusnya kalian jangan dulu datang ke rumah sakit sebelum Robert berhasil membujuk Opa dan Oma." Robert tentu ingat, perjuangannya saat membantu Joe dan Syifa, sampai-sampai dia bersandiwara kesurupan macan putih yang berakhir menjadi seekor kucing.
"Daddy nggak mau terus membebanimu. Daddy juga harus berjuang demi mendapatkan restu, itulah sebabnya Daddy datang ke rumah sakit bersama Mommy Syifa, Sayang."
"Tapi cara Daddy salah dan kurang pintar. Padahal masih ada cara lain, selain pura-pura hamil."
"Cara lainnya apa, Rob?"
"Pura-pura kesurupan misalnya, atau mau nelen kunci."
"Kok ke kunci-kunci lagi, sih?" Joe berdecak sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ya 'kan Daddy bisa mengancam Opa dan Oma dengan cara menelan kunci, kalau tetap nggak mau direstui. Pasti mereka nanti khawatir, dan mana mungkin tega membiarkan anaknya menelan kunci. Dan akhirnya merestui deh," balas Robert yang terdengar enteng.
"Ah ya sudahlah. Mau merubah cara pun percuma, Rob, orang sekarang semuanya sudah terbongkar." Joe menghela napasnya dengan gusar, lalu memijit pelan dahinya yang terasa pening. "Yang terpenting sekarang ... Daddy harus mendapatkan maaf dari mereka semua, biar rumah tangga Daddy baik-baik saja."
"Daddy juga perlu minta maaf sama Robert lho, kan Robert juga ikut kecewa."
"Kan udah tadi, Daddy minta maaf."
"Oh iya, Robert lupa. Terus kira-kira, kapan Mommy Syifa beneran hamilnya? Apa Daddy dan Mommy sudah membuat adik bayi?"
"Kamu berdo'a saja, semoga secepatnya."
"Tapi Daddy dan Mommy sudah bikin atau belum? Kalau belum 'kan nggak bakal jadi."
"Udah kok." Joe mengangguk. "Tinggal tunggu saja, Sayang."
"Bikinnya gimana sih, Dad, caranya? Robert masih penasaran. Dan apakah musti pakai kompor?"
"Kok ke kompor-kompor?" Alis mata Joe tampak bertaut. Bingung dengan pertanyaan anaknya.
"Ya barangkali, membuat adik bayi itu seperti kita memasak. Kan butuh kompor."
Joe menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. "Enggak perlu, Rob. Yang kita butuhkan hanya ...." Ucapan Joe seketika terhenti, kala mendengar suara pintu kamar yang dibuka secara perlahan.
Ceklek~
Mami Yeri datang dengan wajah datarnya bersama Bibi pembantu yang mendorong sebuah kursi roda. Di atas tempat duduk kursi roda tersebut ada beberapa pakaian.
"Mami ...," panggil Joe pelan seraya menatap Mami Yeri. Kemudian menurunkan kedua kakinya di lantai. "Kok Mami membawaku dan Robert ke rumah Mami dan Papi?"
"Memangnya kenapa? Nggak suka kamu, berada di sini?" Mami Yeri berbicara dengan nada judes.
"Bukan begitu." Joe menggeleng sambil menggerakkan kedua tangannya menyilang. "Aku hanya bertanya, apa alasannya."
"Enggak ada alasan seorang orang tua membawa anaknya ke rumah, Joe. Udah sekarang kamu dan Robert ganti baju." Mami Yeri melirikkan matanya ke arah pakaian yang berada di atas dudukan kursi roda. Kemudian menatap kembali ke arah anaknya, sambil berkata, "Kita akan segera pergi."
"Pergi? Pergi ke mana, Mi?" tanya Joe bingung.
__ADS_1
...----------------...
...Pulang kampung, Om😔...