
Ceklek~
Sebuah pintu ruang perawatan dibuka secara perlahan oleh seorang suster.
Mami Soora, Mami Yeri dan Papi Paul yang berada di sana langsung berdiri dari duduknya, ketika perempuan berseragam putih itu melangkah mendekati mereka.
"Ada apa, Sus? Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Mami Soora penasaran.
"Alhamdulillah ... suami Anda akhirnya sudah siuman, Bu."
"Puji Tuhan ...." Tiga orang itu langsung berucap syukur sambil menyentuh dadanya masing-masing. "Terima kasih Tuhan Yesus," tambah mereka kemudian.
"Tapi Ibu jangan dulu masuk!" Suster itu melarang Mami Soora yang hendak melangkah menuju pintu.
"Kenapa, Sus? Aku mau lihat keadaan suamiku." Mami Soora bahkan sudah berusaha menelisik ke dalam, meskipun terlihat susah karena masih dihalangi.
"Suami Anda harus diperiksa oleh dokter terlebih dahulu. Anda dan yang lain tunggu dulu diluar, saya ingin memanggil Dokter."
"Turuti saja apa yang Suster itu katakan, Ra," kata Mami Yeri seraya merangkul bahu temannya, lalu mengusapnya dengan lembut. "Jangan terlalu terburu-buru. Yang penting 'kan sekarang suamimu udah melewati masa komanya."
"Iya, deh." Mami Soora mengangguk. Akhirnya dia setuju dan kini duduk kembali bersama Mami Yeri untuk menunggu hasil pemeriksaan oleh Dokter.
*
Setengah jam kemudian setelah dokter itu masuk ke dalam demi memeriksa keadaan Papi Yohan, tak lama dia pun keluar dari sana dan menemui semua orang yang cukup lama menunggu.
"Bagaimana kondisi suamiku, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Mami Soora penasaran.
"Semuanya baik, Bu." Dokter itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Anda dan yang lain sudah boleh bertemu dengannya. Tapi jika ingin bertanya sesuatu hal padanya ... mohon dengan pelan-pelan saja, ya, dan kalau dia kesulitan mengingat, jangan dipaksa."
__ADS_1
"Tapi suamiku nggak lupa ingatan, kan, Dok?"
"Enggak, Bu." Dokter itu menggeleng. "kalau dia sedikit lupa, itu hal yang wajar karena efek pemulihan operasi. Tapi semuanya normal."
"Baik, Dok, terima kasih." Mami Soora mengangguk paham. Dan Dokter pria itu pun melebarkan pintu kamar inap tersebut, seolah mengizinkan mereka semua untuk masuk ke dalam sana.
"Puji Tuhan Papi sudah baik-baik saja ... Mami sempat khawatir sekali, karena Papi mengalami koma."
Mami Soora melangkah mendekati suaminya yang berbaring lemah di atas ranjang sambil menatap ke arahnya.
Papi Yohan sudah tak memakai alat bantu oksigen, tapi dia masih diinfus. Dahi dan kepala atasnya kini berbalut kain kasa yang terlihat cukup tebal.
Mami Yeri dan Papi Paul sendiri memilih untuk duduk di sofa yang ada di sana. Karena tak ingin menganggu interaksi dari sepasang suami istri itu.
"Berapa hari Papi koma? Dan kapan Mami sampai Indonesia?" tanya Papi Yohan yang berbicara dengan lirih.
Mami Soora menarik kursi kecil di dekat ranjang, lalu duduk di sana dan langsung meraih tangan suaminya. "Tiga hari, Pi. Dan Mami tiba di Indonesia saat Yumna memberikan kalau Papi masuk rumah sakit karena tertabrak mobil."
"Mungkin ada seminggu yang lalu, Han." Yang menyahut Mami Yeri. "Kebetulan ... Yumna memang ikut aku dan suami ketika kita mau balik ke Indonesia."
"Oh gitu. Terus sekarang ... ke mana anaknya? Kok nggak kelihatan?" Papi Yohan menatap sekeliling ruang kamarnya. Mencari-cari keberadaan anaknya.
"Dia paling lagi pemotretan." Mami Yeri tampaknya belum mengetahui jika Yumna sudah dipecat oleh Joe. Makanya dia bisa menebak seperti itu.
"Pemotretan?" Alis mata Papi Yohan tampak bertaut. "Pemotretan apa?"
"Dia 'kan sudah jadi model di kantornya si ...." Ucapan Mami Yeri seketika terhenti diujung bibir, saat baru saja mendengar ponselnya berdering kencang didalam tas branded yang berada diatas paha. Buru-buru dia mengambilnya dari sana dan terlihat ada sebuah panggilan masuk dari 'Pak Bambang (KepSek Robert)' pada layar ponselnya.
"Sebentar ya, Han, Soora ...." Mami Yeri sudah berdiri dari duduknya. "Kepala sekolahnya Robert telepon. Takutnya penting. Aku mau angkat dulu sebentar, ya?"
__ADS_1
"Angkat saja, Yer. Silahkan." Mami Soora mengangguk mengizinkan.
Mami Yeri pun gegas keluar dari kamar itu, kemudian langsung mengangkat panggilan.
"Hal—"
"Oma!! Oma cepat ke rumah sakit!" Terdengar suara Robert dari seberang sana dan amat nyaring.
"Rumah sakit?" Mami Yeri sedikit membulatkan matanya. "Mau apa memangnya? Dan kamu ini Robert, kan?"
"Iya, ini Robert. Cucu Oma yang ganteng meskipun gundul."
"Ada apa, Sayang? Kenapa Oma musti ke rumah sakit dan di rumah sakit mana?" tanya Mami Yeri yang mendadak cemas.
Memang kalau sudah bawa-bawa nama rumah sakit, pasti semua orang akan menjadi was-was.
"Mommy muntah-muntah terus pingsan, Oma. Awalnya udah dibawa ke UKS. Tapi Mommy nggak bangun-bangun dan Pak Bambang memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Robert udah telepon Daddy, tapi Daddy songgong banget!" Robert menjelaskan sembari mengomel diakhir kalimatnya.
"Kenapa songgong, Sayang?"
"Teleponnya nggak diangkat-angkat. Padahal 'kan lagi genting. Oma cepat datang ke rumah sakit, ya! Nanti sekalian teleponin Daddy dan marahin dia!" pinta Robert kesal.
"Iya. Tapi di rumah sakit mana Mommymu dibawa? Apa Rumah Sakit Sejahtera?"
"Bukan. Namanya Rumah Sakit Pelita."
"Oke. Oma akan segera ke sana dengan Opamu," jawab Mami Yeri kemudian mematikan sambungan telepon.
Dan setelah itu, dia lantas masuk kembal ke dalam kamar inap Papi Yohan untuk memberitahukan suaminya jika menantu mereka dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalin jejak like sama komentar perbabnya, ya. karena kalian pasti akan kangen kalau novel ini udah tamat 😊...