Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
8. Harus hamil anakku


__ADS_3

"Tapi Nona Syifa—"


"Papi dan Mami aneh deh." Cepat-cepat Joe menyela ucapan dari dokter itu. Berupaya supaya tak ketahuan, jika Syifa tidak sedang hamil. Joe tidak mau, kalau nantinya mereka marah dan menarik restunya kembali. "Dokter ini 'kan bukan Dokter kandungan, jadi mana tau."


"Tapi Nona Syifa memang nggak lagi—"


"Sebaiknya Papi dan Mami langsung pulang saja." Untuk kedua kalinya, Joe menyela Ucapan dokter itu. Segera, dia meraih kedua tangan orang tuanya, kemudian menariknya. Membawa dua orang tua itu pergi dari sana.


"Lho, kok kami disuruh langsung pulang, Joe? Kan kami mau lihat kondisi Syifa dan adiknya Robert!" omel Mami Yeri seraya menghentakkan tangannya yang dipegang oleh Joe. Langkah mereka pun seketika terhenti.


"Kalian ketemu Syifanya nanti saja, kalau Syifa sudah pulang dari rumah sakit," sahut Joe.


"Kenapa memangnya?" tanya Papi Paul.


"Syifa itu mengalami trauma pasca diculik. Jadi biarkan dia tenang dulu, Papi dan Mami pulang saja."


"Ah kamu pelit, Joe!" gerutu Mami Yeri marah. "Kita ketemu juga cuma mau lihat doang kondisinya. Nggak bakal diapa-apain."


"Iya. Nggak usah lebay deh, kamu, Joe." Papi Paul menimpali.


"Bukan lebay. Tapi memang bagusnya biarkan Syifa lebih banyak menghabiskan waktu denganku, Mi, ,Pi," ujar Joe, lalu menyentuh dadanya. "Karena hanya aku saja, yang membuatnya nyaman dan merasa aman."


"Ah ya sudah deh. Ayok kita pulang, Pi, Joe mah nggak seru." Mami Yeri dengan jengkelnya langsung menarik tangan Papi Paul. Melengos, lalu melangkah pergi bersama dari sana.


Setelah melihat orang tuanya benar-benar pergi sampai masuk ke dalam mobil, Joe langsung berlari menuju kamar inap Syifa lagi. Tak sabar rasanya, ingin memberitahukan gadis itu jika mereka sudah resmi menjadi suami istri.


Ceklek~


Joe membuka pintu, kemudian masuk ke dalam sana. Dilihat Syifa tengah menggelengkan kepalanya, masih berusaha menolak untuk ditawari makan oleh Suster.


"Ayok sarapan, Nona, biar Nona bisa minum obat," rayu Suster, kemudian meraih segelas susu di atas meja troli. "Kalau nggak, minum susu saja Nona," tawarnya lagi.


"Nggak mau! Kan aku sudah bilang nggak lapar, Sus!" tegas Syifa marah.


"Biar aku saja yang menyuapinya, Sus." Joe langsung mengambil alih gelas itu. Syifa yang baru saja sadar akan kehadirannya sontak terkejut.


"Ngapain Bapak ada di sini?!" Syifa beringsut dari posisinya berbaring. Dia terlihat gelisah sekali. Tapi langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kok ngapain? Ya mau nemenin kamu lah, Sayang. Aneh deh," kekeh Joe. Tangannya terulur memberikan segelas susu ditangannya, akan tetep lagi-lagi Syifa menolak.


"Aku nggak mau makan atau minum. Juga dengan bertemu Bapak. Sebaiknya Bapak pergi dari sini! Cepat!" usirnya sambil menunjuk pintu.

__ADS_1


"Lho, kenapa, Yang? Apa aku punya salah padamu? Sampai kamu ngusir aku?" Bukannya pergi, Joe justru menarik kursi kecil di dekat ranjang Syifa, lantas duduk disana.


"Aku nggak mau ketemu Bapak!" tegas Syifa dengan lantang. "Mulai sekarang dan seterusnya, jangan pernah temui aku lagi."


"Lho, kok begitu? Mana boleh. Aku 'kan suamimu. Aku harus selalu bersamamu, mendampingimu." Suara Joe terdengar lembut, tangannya juga terulur untuk menyentuh puncak hijab putih Syifa. Tapi segera ditepis olehnya.


"Kan aku sudah bilang beberapa kali. Kalau aku nggak mau menikah dengan Bapak. Bapak nggak boleh memaksaku!"


"Siapa juga yang maksa kamu? Orang kita sudah sah kok, Yang."


"Sah? Apanya yang sah?" Syifa menoleh, keningnya tampak mengernyit.


"Ya sah. Kita sudah menikah, aku juga sudah menjadi mualaf. Ini buktinya." Joe merogoh pada saku dalam jasnya, kemudian memberikan sebuah buku nikah berwarna hijau.


Buku nikah tersebut sudah ada ditangannya dan Joe sudah menandatanganinya.


Syifa yang melihatnya sedikit mendelikkan mata. Segera, dia lantas mengambilnya dengan kasar, lalu membukanya.


"Kamu pasti seneng, kan, setelah tau ternyata kita itu sudah resmi jadi suami istri? Mulai sekarang panggil aku Sayang, Cinta, Hanny atau Bebeb. Jangan Bapak lagi," jelas Joe sambil tersenyum dengan kedua pipi yang merona.


"Ini pasti palsu, kan?" tebak Syifa.


"Mana ada palsu. Itu asli."


"Kata siapa belum? Orang sudah." Joe kembali merogoh kantong jas. Kali ini dia mengambil ponsel, lalu menunjuk sebuah video saat momen ijab kabul yang diabadikan Sandi. Supaya lebih meyakinkan gadis itu, jika mereka benar-benar sudah menikah. "Nih liat. Ini pas aku ijab kabul, Yang."


Syifa menonton video itu. Dan sontak matanya terbelalak, lantaran terkejut ketika melihat Abi dengan semangatnya mengucapkan kata 'SAH' kemudian disusul beberapa orang yang lain. "Apa-apaan ini? Bapak menikah tanpa sepengetahuanku? Itu namanya nggak sah, Pak!" berang Syifa marah. Wajahnya pun tampak begitu masam.


"Itu buktinya sah, bahkan Abi yang pertama kali mengatakannya, Yang."


"Tapi di situ nggak ada aku. Pernikahan ini juga terkesan memaksa, jadi nggak sah menurutku!" Syifa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Maksa apanya, sih, Yang? Kan memang niat kita semalam itu mau menikah. Jadi nggak ada yang dipaksakan."


"Tapi 'kan aku sudah bilang, kalau aku nggak mau menikah dengan Bapak. Kenapa, sih, Bapak nggak ngerti-ngerti juga? Bapak nyebelin!" geramnya. Kedua tangannya itu tampak mengepal kuat. Matanya melotot tajam ke arah Joe.


Pria tampan bermata sipit itu langsung menatap suster yang masih ada di sana. Kemudian menggerakkan dagunya ke arah pintu, seolah memintanya pergi.


Tidak nyaman rasanya, jika perdebatan ini dilihat orang lain. Apalagi bukan kerabatnya.


"Maaf ...." Suster itu membungkuk sopan, cepat-cepat dia melangkah keluar dari kamar inap Syifa, kemudian menutup pintunya dengan rapat.

__ADS_1


"Meskipun kamu nggak mau menikah denganku, tapi pada kenyataannya kita itu sudah menikah. Jadi nggak perlu diperdebatkan lagi, Yang," ucap Joe dengan santai dan mencoba mencairkan suasana yang mendadak panas. "Lebih baik, kita fokus pada rumah tangga kita saja dan aku akan membahagiakanmu."


"Bapak pasti menyesal, karena telah melakukan ini ... hiks!" Syifa tiba-tiba saja langsung menangis, kemudian menangkup wajahnya dengan telapak tangan.


"Aku nggak akan menyesal. Karena memang kamu ditakdirkan untuk menjadi istriku, Yang."


"Kalau misalkan aku hamil bagaimana? Kenapa Bapak nggak memikirkan ke arah sana?" Syifa tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak menyeruak. "Apa kata Abi, Umi dan kedua orang tua Bapak, kalau semisalnya aku hamil anak pria lain?" Perlahan tangan kanannya menyentuh perut dan tak lama cacingnya berbunyi.


"Kamu nggak akan hamil anak pria lain, Yang."


"Nggak akan hamil gimana, sih, Pak? Jelas-jelas aku sudah diperk*osa dan—"


"Berhenti mengatakan hal itu!" potong Joe cepat dengan suara tegas. "Meskipun kamu diper*kosa, Beni tetap nggak akan bisa menghamilimu!"


"Bapak sok tau. Tau apa Bapak tentang hal seperti itu? Semuanya 'kan Allah yang ngatur, bukan manusia, hiks!" Air matanya tak henti-hentinya untuk keluar, padahal sudah berulang kali Syifa menyekanya.


"Tapi Beni itu nggak normal, Yang."


"Nggak normal gimana? Bencong?"


"Bukan bencong. Tapi impotensi."


"Ah sok tau. Kalau impotensi itu nggak bisa memper*kosa orang! Itu tandanya dia bisa."


"Tapi tetap dia nggak akan bisa menghamilimu. Ma*ninya juga pasti encer, nggak bakal jadi anak. Pasti jadinya ta*i."


Syifa tidak meladeni, dia malah sibuk menangis tersedu-sedu. Sampai-sampai sesenggukan.


Joe terdiam sebentar, mencari sebuah ide demi meringankan beban yang melanda hidup Syifa dan rumah tangganya.


Sepersekian menit kemudian, ide itu akhirnya bermunculan di dalam otak. Lantas, dia pun berkata, "Aku punya ide, untuk bisa mengatasi masalah ini, Yang."


"Apa? Bercerai, kan?" jawabnya sambil meringis pilu.


"Bukan bercerai. Tapi bercinta."


"Bercinta?! Maksudnya gimana?" Syifa menganga sambil membuka telapak tangannya, kemudian menatap Joe dengan dahi yang mengerut.


"Ya kita bercinta. Kan katanya kamu nggak mau hamil anak dari pria lain, jadi kamu harus hamil anakku."


Syifa sontak terbelalak. Bantal untuk menyangga kepalanya itu langsung dia ambil dan melemparkannya ke wajah Joe. "Bapak gila, ya! Aku baru diperko*sa sama Kak Beni, masa sudah Bapak perko*sa lagi?"

__ADS_1


"Ya kalau sama aku bukan diper*kosa namanya, Yang. Tapi bercinta." Joe perlahan membuka sarungnya, kemudian mengintip miliknya yang bersembunyi dengan malu-malu di dalam sana.


...Kayak udah kering aja, pake ngajakin bercinta 🤣🤭...


__ADS_2