
"Korea."
"Lho, kok ke Korea? Mau ngapain, Mi?" Joe makin terlihat bingung.
"Mami dan Papi ada kerjaan di sana. Tapi kami ingin kalian juga ikut."
"Mommy Syifa diajak juga, kan, Oma?" tanya Robert.
"Kalian nggak perlu banyak bertanya, sekarang ganti bajulah. Mami akan menunggu kalian di bawah!" tekan Mami Yeri dengan nada yang terdengar masih judes.
"Tapi, Oma, Robert nggak mau kalau ...." Ucapan Robert menggantung begitu saja, saat Omanya itu sudah berlalu pergi keluar dari kamar.
"Silahkan ganti baju Dek Robert, Pak Joe ... saya permisi." Setelah mendorong kursi roda di dekat ranjang, Bibi pembantu langsung membungkukkan badannya. Kemudian melangkah cepat keluar dari sana.
Robert pun menatap ke arah Joe, dilihat sekarang pria itu tengah sibuk seperti mencari-cari sesuatu. Sampai merogoh kantong celananya sendiri.
"Daddy! Robert nggak mau ke Korea kalau nggak sama Mommy!" rengek Robert.
"Daddy juga nggak mau, Rob." Joe menggelengkan kepalanya. "Oh ya, ngomong-ngomong ... dimana hape Daddy? Kamu tau nggak?" tanyanya seraya menyibak selimut dan memindahkan beberapa bantal di atas kasur. Joe ingin menghubungi Syifa, itulah alasan mengapa dia mencari ponselnya.
"Robert nggak tau, Dad." Robert menggelengkan kepalanya. Dia pun lantas menurunkan tubuhnya dari kasur, dan baru sejengkal kaki kecilnya itu melangkah ke arah pintu, tapi Joe segera mencekalnya.
"Mau ke mana?" tanya Joe.
"Mau keluar, mau temui Oma dan mengatakan kalau kita nggak mau ikut ke Korea kalau nggak sama Mommy Syifa."
"Biar nanti Daddy saja yang ngomong. Tapi sebelum itu, kita ganti baju saja dulu. Soalnya takut Oma marah, Rob." Tangan Joe terulur ke arah kursi roda, kemudian mengambil semua pakaian yang ada di sana dan meletakkan di atas kasur. Setelah itu dia mengangkat kembali Robert untuk berdiri di atas kasur.
"Kan kita nggak mau ke Korea, Dad, kenapa musti ganti baju segala?" tanya Robert bingung. Dilihat sekarang Joe tengah melepaskan seragam sekolahnya.
"Nggak mau kalau Mommy Syifa nggak ikut, kan, tadi bilangnya? Ya minimal kita ganti baju dulu, nanti Daddy coba bujuk Oma sekalian bicara sama dia, siapa tau dia mau jika mengajak Mommy. Kita juga 'kan belum pernah mengajaknya pergi ke Korea. Mommy Syifa pasti senang. Iya, kan?"
"Iya, Dad." Robert mengangguk, dia tampak setuju.
Joe berpikir sangat positif, sama sekali tak menaruh curiga. Padahal sebenarnya ada rencana yang disembunyikan dari orang tuanya.
Setelah keduanya mengganti pakai, dengan stelan kaos panjang berwarna hitam putih kotak-kotak dan berbalut jaket berwarna krem. Keduanya lantas turun bersama dari kasur kemudian melangkah menuju pintu.
__ADS_1
Namun, baru saja Joe menyentuh handle pintu, hendak menurunkannya. Tapi secara tiba-tiba, dia melihat anaknya jatuh pingsan di lantai, padahal sebelumnya dia sempat menggandeng tangannya.
Bruk!!
"Ya ampun, Rob!" Joe membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang terjadi secara tiba-tiba itu. "Kamu kenapa, Sayang?" Segera, Joe pun menurunkan tubuhnya. Berniat untuk mengendong anaknya.
Namun ternyata, bukannya membantu anaknya, Joe justru ikut menyusulnya. Pingsan di sampingnya.
Bruk!!
*
"Bagaimana, Mi? Apa sudah sesuai rencana?" tanya Papi Paul yang baru saja dihampiri istrinya di ruang tamu.
"Sudah, Pi. Tapi Mami belum sempat lihat mereka pingsan atau nggak," jawab Mami Yeri.
Jawaban dari wanita tua itu bisa disimpulkan, kalau memang penyebab anak dan cucunya pingsan itu bersumber darinya. Sebab memang sengaja dia memberikan obat bius pada kerah jaket keduanya, supaya mudah membawanya pergi ke Korea.
"Nggak apa-apa. Paling sebentar lagi mereka akan jatuh pingsan." Papi Paul menatap menit pada arlojinya.
"Tapi mereka siapa, Pi?" Mami Yeri menatap heran dan asing, kedua pria yang memakai masker hitam dan juga berpakaian serba hitam. Yang sejak tadi memang sudah ada di samping kanan kiri suaminya, ketika dia menghampirinya di ruang tamu.
"Salam kenal Madam, Madam cantik sekali," ucap Ali dengan tangan yang terulur ke arah Mami Yeri. Tapi belum sempat tangan Mami Yeri menyambut, tangan Ali sudah ditepis kasar oleh Papi Paul.
"Nggak usah ganjen! Udah sana lakukan tugasmu!" omel Papi Paul yang tiba-tiba marah.
"Maaf." Ali membungkukkan badannya, kemudian berlalu pergi dari sana. Dengan ditemani Bibi pembantu yang akan mengantarkan.
"Kamu sih, Al, genit. Jadi belum apa-apa bos kita udah marah," sindir Aldi seraya menyenggol lengan temannya.
"Genit apaan? Orang aku mau ngajak kenalan bos ceweknya doang kok. Abis cantik, meskipun udah berumur. Wajahnya kayak aktris Korea, Di."
"Ah alasan saja kamu."
***
Ceklek~
__ADS_1
Abi Hamdan perlahan membuka pintu depan rumahnya. Niatnya ingin pergi ke masjid, sebab sebentar lagi akan datangnya waktu Magrib. Sekalian juga untuk menemui dan cucunya, yang hampir dari siang ditinggal diluar.
Namun, saat melihat tak ada kehadiran mereka. Juga dengan mobil Joe yang ikut tidak ada, Abi Hamdan justru merasa heran sendiri.
"Ke mana Robert dan Jojon? Kok mereka menghilang?" Monolognya seraya menatap sekeliling.
"Ustad Hamdan pasti mencari si ganteng Joe dan Robert, ya?" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang berucap demikian, asalnya dari sebelah kanan teras rumahnya.
Ternyata dia adalah Bu Nining, sedang berdiri di depan celah-celah pagar rumah Abi Hamdan.
"Memangnya Ibu tau, ke mana perginya Joe dan Robert?" tanya Abi Hamdan.
"Tau." Bu Nining mengangguk cepat.
"Ke mana, Bu?"
"Mereka berdua diajak pergi sama Bu Yeri, naik mobil, Ustad."
"Oh gitu. Terima kasih infonya, Bu," jawab Abi Hamdan sambil menganggukkan kepalanya. 'Paling Bu Yeri mengajak Jojon dan Robert ke rumahnya, untuk menemui Pak Paul. Dan pasti si Jojon dapat amukan juga di sana,' batinnya. Abi Hamdan hanya menebak, tapi memang tepat sasaran.
Perlahan dia pun merogoh kantong celana kolornya, yang berada dibalik sarung. Kemudian mencoba menelepon seseorang.
Bukan Joe yang dia telepon, melainkan Papi Paul. Sebab meskipun Abi Hamdan masih kesal lantaran kecewa kepada menantunya, tapi dia juga menyimpan rasa khawatir. Apalagi dia juga sempat melihat Joe mimisan.
"Halo, assalamualaikum Pak Paul," ucap Abi Hamdan saat sambungan telepon itu diangkat oleh seberang sana.
"Iya, Pak." Papi Paul menyahut dari seberang sana.
"Apa Bapak sudah tau, tentang masalah Joe dan Syifa?" tanya Abi Hamdan. Dia melangkah menuju kursi plastik yang berada diteras rumahnya, kemudian duduk.
"Sudah, Pak. Istriku sudah memberitahu."
"Pasti Bapak kecewa juga, kan, sama sepertiku? Aku juga nggak habis pikir ... kenapa Jojon, ah maksudku Joe. Sampai melakukan hal itu."
"Iya, Pak, aku sangat kecewa sekali. Dan sepertinya ... ada yang harus kita selesaikan."
"Tentu saja, Pak." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Menurutnya, selesaikan yang dimaksud Papi Paul adalah masalahnya. Tapi yang sebenarnya adalah hubungannya. "Lebih baik ... kita rundingkan saja bersama. Bapak atau aku nih, dan di rumah siapa kita rundingkan bagusnya? Tapi ajak juga sekalian Joe sama Syifanya, biar mereka dipertemukan."
__ADS_1
...----------------...
...Om Joenya udah pergi ke Korea, Bi 🥲...