Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
74. Melihatnya langsung


__ADS_3

Umi Maryam melangkah menghampiri Ustad Yunus, yang tengah berdiri di depan masjid bersama beberapa pria yang memakai baju koko. Niatnya ingin bertanya, siapa tahu pria itu mengetahui kemana perginya suaminya.


"Ustad ...," panggil Umi Maryam.


"Iya, Bu?" Ustad Yunus menoleh, dan membuat beberapa pria itu ikut menoleh kemudian tersenyum pada Umi Maryam.


"Apa Ustad Yunus ada lihat suamiku naik motor? Soalnya motornya nggak ada diteras," tanyanya sambil menunjuk dimana letak motor Abi Hamdan seingatnya.


"Oh, Pak Ustad Hamdan tadi saya lihat pergi, Bu. Naik motor memang."


"Sendirian, Tad?"


"Bertiga, sama Robert dan Syifa."


"Apa Ustad sempat nanya, mereka mau ke mana?" tanya Umi lagi penasaran.


"Enggak, Bu." Ustad Yunus menggelengkan kepalanya.


***


Sementara itu diperjalanan, mereka sempat mampir dulu sebentar ke salah satu masjid. Sebab untuk melaksanakan sholat Maghrib.


Dan setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Nanti kalau sudah sampai, Abi jangan ngomong sama Aa kalau niat kita datang karena aku takut dia selingkuh, ya?" pinta Syifa sedikit berteriak. Karena khawatir Abi Hamdan tak mendengar dan kebetulan memang angin malam itu berhembus cukup kencang.


"Kenapa emang?"


"Aku nggak mau nantinya Aa merasa nggak nyaman, Bi. Dan berpikir aku wanita yang posesif."


"Posesif itu apa memangnya?" tanya Abi Hamdan bingung.


"Ih, Abi, masa posesif saja Abi nggak tau!" Syifa mendengkus kesal.


"Ya memang Abi nggak tau. Mangkanya beritahu."


"Ya kayak cemburuan gitu, Bi. Padahal di sini aku 'kan hanya takut dia selingkuh, bukan maksud cemburu," jelas Syifa.


Tidak! Sebenarnya dia jelas cemburu. Jangankan kepada sekertaris Joe, kepada istri pertamanya saja yang sudah tiada—nyatanya Syifa juga cemburu. Dia begitu menginginkan jika hanya dirinya seorang yang Joe cintai.


'Sebenarnya selingkuh itu apa, sih? Kok Mommy dari tadi bahas Daddy selingkuh mulu?' batin Robert yang sejak tadi masih bingung. Tapi dia memilih untuk diam sebab pastinya, baik Syifa atau pun Abi Hamdan—keduanya tak akan menanggapinya lagi, seperti tadi. Sebab mereka berdua terlihat sama-sama panik.


"Tapi kalau misalkan Jojon beneran ada main sama perempuan itu gimana, Fa? Apa kamu langsung minta cerai?"


"Amit-amit, Bi! Abi kok ngomongnya gitu, sih?" omel Syifa marah. Emosinya tiba-tiba saja mendidih tingkat dewa. "Abi memangnya mau, anaknya jadi janda? Kok Abi tega, sih?"


"Dih, bukan kayak gitu, Fa. Tapi Abi 'kan hanya nanya."


"Nanya juga nggak boleh. Kita harus bicara baik-baik, Bi, supaya semuanya nggak terjadi apa-apa."


"Ya sudah, Abi minta maaf kalau begitu, Fa," ucap Abi Hamdan yang masih sibuk menyetir dengan penuh berkonsentrasi.


Namun mendadak, sepeda motornya itu terasa berat sekali dia gas. Dan segera, Abi Hamdan mengeremnya. Hingga berhenti di sisi jalan.


"Kok berhenti, Bi?" tanya Syifa.


"Coba kamu turun dulu, Fa. Abi mau mengecek motor Abi. Soalnya kayak berat pas digas," titah Abi Hamdan.


Syifa menurut, dia lantas turun bersama Robert yang digendong. Dan melihat, ternyata ban belakang motor itu kempes.

__ADS_1


"Bannya sepertinya bocor, Fa," ucap Abi Hamdan yang sekarang tengah berjongkok sambil menyentuh ban belakang motornya. Kemudian dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari bengkel, barangkali ada disekitar mereka.


"Kok bisa bocor sih, Bi? Terus gimana dong?" Syifa terlihat begitu kesal. Sebab dia sudah tidak sabar ingin cepat bertemu suaminya. Dan melihat apa saja yang tengah dilakukannya bersama sang sekertaris.


Abi Hamdan langsung berdiri. "Bawa ke bengkel dulu. Tapi bengkel disekitar sini kok nggak ada ya, Fa?"


"Taksi!" teriak Syifa saat melihat taksi yang baru saja lewat, dan mobil berwarna biru telor asin itu langsung berhenti di dekatnya.


"Lho, Fa, kenapa kamu malah manggil taksi?" tanya Abi Hamdan heran. Dia pun langsung menggenggam pergelangan tangan kanan anaknya, khawatir kalau perempuan itu akan pergi meninggalkannya.


"Mending kita teruskan perjalanannya dengan naik taksi aja, Bi, ayok," ajak Syifa dengan menarik sedikit tangan Abi Hamdan.


"Terus motor Abinya gimana? Kan bannya kempes, Fa."


"Ya karena bannya kempes, jadi kita naik taksi saja, Bi. Motor Abi ditinggal saja."


Abi Hamdan sontak terbelalak. "Enak saja, ya janganlah, Fa!"


"Tapi nanti lama, Bi, belum kita nyari bengkelnya. Terus nunggu motor diservise, terus kita jam berapa sampainya? Bisa-bisa Aa udah melakukan ronde ketiga bersama wanita itu," kesal Syifa ingin menangis. Bola matanya bahkan sudah berkaca-kaca sekarang.


"Hush! Jangan bilang kayak gitu!" omel Abi Hamdan seraya mengusap kasar wajah Syifa. "Katanya tadi kita harus bicara yang baik-baik, supaya semuanya baik-baik. Gimana, sih, Fa?"


"Iya, tapi aku khawatir. Udah Abi sekarang ikut saja, kalau memang nggak mau aku cepat jadi janda! Ayok!" pinta Syifa agak memaksa, dia juga sudah menarik tangan Abi Hamdan untuk masuk ke dalam mobil taksi bersamanya. "Jalan, Pak!" titah Syifa pada sang sopir, dan tak lama mobil itu pun melaju pergi.


"Kalau si Kuning hilang diambil orang bagaimana, Fa?" Abi Hamdan memutar kepalanya ke belakang, memerhatikan motor bebeknya yang terpaksa ditinggalkan itu. Rasanya tidak tega, tapi disisi lain—dia jauh lebih tidak tega kepada Syifa. Kalau harus pergi hanya bersama Robert.


"Nggak mungkin, Bi." Syifa mengusap pipinya, saat tiba-tiba air matanya itu mengalir.


"Nggak mungkinnya?" Kening Abi Hamdan tampak mengerenyit sambil menatap heran anaknya.


"Ya nggak mungkin. Kan motornya kempes."


"Kan bisa didorong, Fa."


"Enak saja kalau ngomong!" teriak Abi Hamdan tak terima. "Butut juga yang penting punya, Fa. Daripada suamimu, nggak punya motor."


"Tapi Aa 'kan punya mobil, Bi."


"Tetap saja nggak punya motor. Lagian naik motor itu lebih enak, ya, daripada naik mobil."


"Enaknya gimana, Opa?" tanya Robert yang baru bersuara, setelah lebih dari sejam dia diam saja. Bocah itu kini berada di atas pangkuan Syifa.


"Karena nggak macet, terus bisa nyelip-nyelip, Nak. Udah gitu motor mah jauh lebih keren," jawab Abi Hamdan dengan bangganya, sambil menepuk dada.


"Keren?" Robert tampak bingung. Sebab motor Abi Hamdan sendiri jauh dari kata keren. Selain model lama, juga memang jelek. Dan kalau boleh jujur, bokongnya saja saat ini terasa kebas dan kesemutan bekas tadi membonceng.


"Iya. Kelihatan lebih gagah. Buktinya Opa saja pas naik motor kelihatan gagah perkasa, kan?"


"Eeemm ... iya, kelihatan gagah perkasa," jawab Robert yang terlihat terpaksa. Ingin mengatakan tidak tapi rasanya takut jika nantinya dia akan menyakiti perasaan Abi Hamdan.


"Apa masih jauh, Rob, kantornya Daddy?" tanya Syifa yang terlihat sudah putus asa. Mungkin memang terlihat terlalu berlebihan, tapi nyatanya dia memang benar-benar merasa sangat takut saat ini.


"Sebentar lagi, Mom." Robert menatap jendela mobil, memerhatikan jalan. "Pak ... nanti di gedung depan berhenti, ya!" titahnya pada sang sopir.


"Baik, Dek." Sopir itu mengangguk. Dia hanya mengemudi sedikit lagi sampai akhirnya berhenti.


Ketiganya pun lantas turun dari mobil, dan Syifa segera merogoh kantong celananya untuk mengambil uang. Namun nyatanya, kedua kantong kanan kirinya itu kosong.


"Fa, nyari apa kamu?" tanya Abi Hamdan bingung menatap anaknya.

__ADS_1


"Uang, Bi," jawab Syifa. "Tapi kayaknya aku lupa bawa uang deh."


"Oh. Bilang dong dari tadi." Abi Hamdan merogoh ke dalam kantong celana kolornya, dibalik sarung. Kemudian memberikan uang sebesar 30 ribu ke tangan sopir itu. "Ini, terima kasih ya, Pak."


"Maaf, Pak, tapi kurang," sahut sopir itu.


"Kok bisa kurang? Kan satu orangnya 10 ribu, kan?"


"Semuanya total 150 ribu, Pak."


"Astaghfirullahallazim." Abi Hamdan sontak terbelalak, terkejut dengan tarif taksi itu. "Mahal amat. Aku biasa naik angkot paling jauh hanya 10 ribu. Dan tadi tuh 'kan deket," protesnya.


"Tapi ini bukan angkot, Pak."


"Tapi 'kan sama-sama mobil!" teriak Abi Hamdan kesal.


"Mobil juga tetap beda, Pak."


"Bedanya apa? Sama-sama roda empat. Kecuali kalau mobil taksi itu bannya ada lima. Baru lebih mahal!"


"Bayar saja sisanya, Bi, nanti aku ganti uangnya," pinta Syifa.


"Nggak ada lagi, Fa. Hanya itu uang di kantong Abi," jawab Abi Hamdan yang menang jujur. Matanya melotot tajam ke arah sopir taksi.


Robert langsung merogoh saku baju kokonya, dia mengambil uang 200 ribu sisa uang jajannya tadi pagi. Kemudian memberikan ke tangan sopir taksi, supaya perkara ongkos cepat selesai. "Ini, Om. Kembaliannya buat Om saja."


"Terima kasih, Dek." Sopir itu tersenyum, kemudian melajukan mobilnya pergi dari sana.


"Terima kasih ya, Nak," ucap Syifa dengan perasaan tak enak. "Nanti pas di rumah Mommy ganti dua kali lipat."


"Sama-sama, Mom. Ayok langsung masuk, Mom. Katanya tadi Mommy udah nggak sabar ingin ketemu Daddy," ajak Robert seraya menunjuk ke arah gerbang besi yang menjulang tinggi.


Abi Hamdan dan Syifa ikut memerhatikan sambil melangkah bersama. Dan pria tua itu langsung berdecak kagum, melihat bangunan yang jauh lebih tinggi dan besar dibalik gerbang itu.


'Kantornya si Jojon ternyata gede banget, ya, hebat banget dia bisa kerja di sini,' batin Abi Hamdan yang merasa bangga. 'Kira-kira ... ada lowongan buat jadi tukang bersih-bersih nggak, ya? Kalau ada sih aku mau, apalagi kalau gajinya gede.'


"Selamat malam Dek ... Eehh Bu-Bu Sonya?!" Seorang satpam yang hendak membukakan gerbang dibuat terkejut, saat melihat Robert datang bersama perempuan yang begitu mirip dengan istri dari bosnya. Dan seketika saja, bulu kuduknya berdiri.


"Malam, Om," jawab Robert, kemudian meluruskan. Sepertinya pria itu baru tahu Syifa. "Tapi ini Mommy Syifa namanya, Mommy baru Robert. Om pasti nggak datang pas Daddy mengadakan pesta, ya? Mangkanya nggak tau."


Pria berseragam hitam itu langsung menghela napasnya dengan lega. Rasa takutnya tadi pun seketika lenyap sekarang. "Maaf, Dek, Om memang nggak datang. Karena saat itu ada di kampung pas Pak Bos mengadakan pesta."


"Bos?" Abi Hamdan tampak bingung, mendengar panggilan yang disematkan pria di depannya. "Kok kamu memanggil menantunya dengan sebutan bos?"


"Ya 'kan dia memang—"


"Pak, cepat buka gerbangnya," sergah Syifa cepat. Sejak tadi dia berdiri dengan gelisah karena ingin segera masuk ke dalam. Ingin menerobos sebenarnya, tapi takut dikira tidak sopan. "Aku ingin segera bertemu suamiku, aku takut dia berselingkuh, Pak!" pintanya sambil menatap ke depan. Tepat pada pintu kaca yang tertutup rapat di kantor.


"Maaf, Bu. Tapi Pak Joe baru saja pulang tadi," jawab satpam itu.


"Bapak jangan bohong! Suamiku lembur hari ini!" tegas Syifa tak percaya. Dia juga terlihat marah.


"Iya, Pak Joe memang lembur, Bu. Tapi barusan sudah pulang."


"Bukakan saja gerbangnya, Om. Biar Mommyku masuk dan melihatnya langsung," titah Robert.


Satpam itu mengangguk, dia pun cepat-cepat membuka pintu gerbang tersebut. "Silahkan."


Syifa langsung berlari masuk ke dalam gerbang, juga ke dalam kantor. Abi Hamdan pun di belakang ikut berlari menyusulnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Kalian pada percaya Om Joe udah pulang nggak, Guys?🤣 apa bakal ada perang dunia di dalam kantor?🤭...


__ADS_2