
Tak lama, Sandi pun masuk kembali bersama seorang satpam rumah Mami Yeri.
"Kata Satpam, dia nggak lihat Dek Robert dari tadi, Bu," ucap Sandi memberitahu.
"Kok bisa?" Mami Yeri menatap Sandi heran, kemudian beralih menatap satpam rumahnya. "Bukannya kamu dari tadi duduk berjaga di depan, ya? Kok bisa nggak tau, kalau mungkin saja Robert keluar?"
"Saya memang duduk berjaga di depan, Bu," jawab pria berseragam hitam itu sambil menganggukkan kepalanya. "Tapi nggak setiap jam, saya sempat pergi untuk makan dan ke toilet."
"Dih, kok nggak nonstop sih kamu menjaganya? Kalau Robert sampai diculik bagaimana?!" omel Mami Yeri dengan kesal. Mendadak kepalanya pun berdenyut karena sakit dan refleks dia menyentuh dahinya.
"Mami kenapa, Mi?" tanya Syifa seraya menyentuh lengan mertuanya, tapi Mami Yeri segera menepisnya dan menggelengkan kepala.
"Mami nggak apa-apa. Sekarang kita lebih baik cari Robert. Biar Mami coba—"
"Tante, ada apa? Kok kayak ribut-ribut?" sela Yumna yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia pun langsung berdiri sambil membereskan rambut, kemudian melangkah mendekat kepada Mami Yeri sambil menatap Syifa.
"Ini, si Robert nggak ada, Yum, padahal tadi bukannya dia tidur sama Tante di kasur, kan?" Mami Yeri memberitahu seraya menatap wajah Yumna.
"Pak, kita cari Robert saja disekitar sini, berpencar," titah Syifa kepada Sandi dan Satpam. "Biar Robert cepat ketemu," tambahnya.
Dua pria itu mengangguk secara bersamaan, kemudian melangkah keluar dari kamar inap dan disusul oleh Syifa.
"Coba kita cek CCTV saja, Tan. Biar gampang," usul Yumna kepada Mami Yeri.
"Kamu benar, Yum. Ayok," ajak Mami Yeri yang langsung menarik tangan Yumna, hingga mereka berdua keluar dari kamar itu secara bersama-sama.
*
"Ish! Ini semua gara-gara Papi! Jadi aku 'kan disuntik!" Joe berdecak kesal sambil menyentuh bokongnya yang terasa ngilu bekas suntikan.
Dia dan Papi Paul baru saja keluar bersama dari ruangan dokter umum, seusai diperiksa. Sekarang mereka menuju instalasi farmasi untuk mengambil obat.
"Nggak ada bersyukurnya kamu, Joe, udah Papi antar juga!" Papi Paul terlihat mulai emosi, tapi tangannya sejak tadi menarik lengan anaknya. "Kata dokter juga kamu 'kan kena asam lambung gara-gara telat makan! Lagian kamu juga, kenapa bisa telat makan, sih?!" tambahnya mengomel.
"Ya udah sih, Pi, cuma asam lambung doang. Lagian 'kan aku udah diperiksa juga," sahut Joe dengan santai.
"Tapi dari dulu kamu nggak pernah tuh, kena asam lambung, Joe. Heran deh Papi ... kok pas nikah kamu bisa kena asam lambung, apa istrimu itu nggak bisa mengurusmu? Kata Papi juga ganti istri saja!"
__ADS_1
"Dih, Papi kalau ngomong!" kesal Joe yang langsung merengut dengan mata melotot. Tapi melihat itu, Papi Paul segera mengusap kasar wajah sang anak, sebab merasa tak suka dengan hal tersebut.
"Songgong ya, kamu, Joe! Berani melototi orang tua!" sembur Papi Paul marah.
"Lagian Papi ngeselin, ngomongnya asal. Coba dibalik, Papi saja yang ganti istri. Bagaimana coba perasaannya? Nggak enak, kan?"
"Ngapain juga Papi ganti istri. Mami 'kan istri yang baik." Papi Paul mencebik bibirnya, kemudian memberikan selembar resep yang diberikan kepada apoteker penjaga farmasi.
"Ya Syifa juga istri yang baik, Pi," balas Joe.
"Bagimu. Tapi bukan bagi Papi!"
"Terserah Papi deh, lagian Syifa 'kan istriku ... bukan ...." Ucapan Joe seketika terhenti bersamaan dia melihat dua perempuan berlari tergesa-gesa dengan wajah panik menuju pintu keluar. Salah satu dari mereka terlihat begitu familiar dalam penglihatannya. "Itu bukannya Mami, ya, Pi?" tebaknya sambil menunjuk. "Kok dia lari-lari dan sama siapa?"
"Mana?" Seusai mengambil obat dan membayar, manik mata Papi Paul pun mengikuti dimana arah Joe menunjuk. Untuk melihat perempuan yang ternyata benar itu adalah Mami Yeri. "Iya, itu Mami dan sepertinya bersama Yumna. Mau ke mana mereka?"
"Yumna itu siapa?" tanya Joe dengan alis mata yang bertaut.
Bukannya dijawab, Papi Paul justru menarik lengan Joe. Membawanya ikut dengannya menyusul dua perempuan itu.
Melihat istrinya berlarian di rumah sakit dengan wajah panik, tentu membuat Papi Paul khawatir akan apa yang sebenarnya terjadi.
*
*
Niatnya memang masih mencari keberadaan anak sambungnya. Tapi entah mengapa, kakinya itu justru membawanya menuju restoran mewah yang letaknya di depan rumah sakit.
Heran sebenarnya, tapi seperti ada feeling saja jika Robert ada di sini.
"Masa, sih, Robert ada di restoran? Tapi dia 'kan awalnya habis pingsan." Manik mata Syifa langsung menatap sekeliling sambil menggerakkan kepalanya.
Suasana restoran itu cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang dapat dihitung oleh jari tengah makan.
Namun, pandangan matanya seketika terhenti kala melihat seorang anak kecil yang duduk meja paling ujung.
Dia seorang diri dan memakai pakaian berwarna biru awan garis-garis.
__ADS_1
Hanya melihat dari punggung kecilnya, entah mengapa Syifa sudah sangat yakin jika itu adalah Robert. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk melangkah menghampiri demi memastikan benar atau tidaknya.
"Robert ...," panggil Syifa yang sudah mendekat. Dan membuat bocah itu menoleh.
"Mommy!" Ternyata benar, dia Robert. Bocah itu terlihat terkejut tapi sangat girang sekali. Segera dia turun dari kursi dan menghamburkan pelukan kepada Syifa. "Alhamdulillah, akhirnya Robert bisa ketemu Mommy! Robert kangen, Mom!"
"Iya, Mommy juga kangen kamu, Sayang," balas Syifa seraya mengelus puncak rambut anaknya. Kemudian menatap ke atas meja yang ada dua gelas, piring serta mangkuk di sana. Semuanya kosong, tapi terlihat seperti bekas sisa makanan dan jus. "Kamu habis makan, Nak? Apa gimana?" tanyanya heran.
"Iya, Mom." Robert mengangguk-nganggukkan kepala dan merelai pelukan. Dia pun menarik Syifa untuk duduk dikursi bekas bokongnya tadi, lalu dia ikut duduk juga tapi di atas pangkuan. "Dari pagi Robert hanya makan dua sendok sereal, mana ditambah nangis seharian. Ya Robert laper jadinya," ujarnya memberitahu sambil menyentuh perutnya yang terasa begah karena kekenyangan.
"Kalau laper kenapa kamu nggak ngomong sama Oma, Nak? Dan kenapa kamu harus ke restoran sendiri? Apa kepalamu nggak sakit? Kalau kamu pingsan lagi bagaimana?" tanya Syifa penuh perhatian. Dia juga menyentuh kedua pipi serta kening anaknya. Tapi suhu tubuh Robert terasa normal menurutnya.
"Robert baik-baik saja kok, Mom. Mommy nggak perlu khawatir," jawab Robert sambil tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi putihnya. Tapi banyak cabe yang menyangkut di sana.
"Bagaimana Mommy nggak khawatir? Orang kamu pingsan udah gitu ngilang, lain kali jangan pergi begini, Nak. Kasihan yang lain. Mereka sibuk mencarimu," tegur Syifa menasehati dengan suara lembut, sambil mencium pipi kanan Robert juga.
"Maafin Robert, Mom," ucapnya dengan ekspresi manja dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Namun sejujurnya, apa yang Robert lakukan memang sengaja. Dia pergi diam-diam karena tak mau Mami Yeri dan Yumna tahu, jika dirinya sudah terbangun dari pingsan.
Khawatir kalau sampai Mami Yeri berubah pikiran, untuk tidak jadi mempertemukannya dengan Syifa. Robert sudah sempat menahan diri, supaya makan saat Syifa dan Joe sudah datang saja.
Tapi sayangnya, cacing di dalam perutnya itu tak bisa dia ajak kompromi. Mereka hanya kuat menunggu Mami Yeri dan Yumna sampai tidur, tapi tidak kuat menunggu Syifa dan Joe datang.
Alhasil, dia melakukan apa yang sudah terjadi.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Tapi sekarang kita langsung balik lagi ke rumah sakit, ya?" rayu Syifa. "Tapi ngomong-ngomong makanannya sudah dibayar belum, Nak?" Menunjuk ke arah meja. "Biar Mommy yang bayar, ya?"
Tangan Syifa perlahan terangkat, dan hendak memanggil pelayan yang berdiri di dekat kasir. Tetapi dengan cepat, Robert menahan tangannya dan menutup bibirnya.
"Udah bayar kok, Mom!" sahut Robert cepat dan langsung melepaskan bibir Syifa.
"Oh udah bayar. Ya sudah, kita langsung ...." Bokong Syifa sudah mulai terangkat, hendak bangun dari duduknya. Tapi kembali, Robert menahan dengan cara memegang kedua lengan kursi.
"Jangan ke rumah sakit dulu, Robert kepengen ngobrol empat mata sama Mommy!" serunya mencegah.
"Ngobrol empat mata?" Kening Syifa tampak mengernyit. "Tentang apa, Nak?"
__ADS_1
...Tentang apa, ya? 🤔...