
"Nggak jadi saja, A."
"Kok nggak jadi?"
"Ya 'kan kita ada di rumah sakit, A. Masa kita bercinta? Lagian ada Papi dan Mami juga, A."
"Ya nggak apa-apa. Tunggu mereka semua udah tidur, nanti kita langsung gas!!" sahut Joe penuh semangat.
"Nggak mau ah." Syifa menggelengkan kepalanya. "Takutnya mereka bangun dan melihat kita bugil. Gimana nanti? Malu banget aku, A. Nggak sanggup kayaknya."
"Nggak mungkinlah mereka lihat kita bugil, Yang. Kan kita bercintanya nggak terang-terangan."
"Maksudnya, kita matiin lampu dulu?" tanya Syifa dengan polosnya.
"Bukan matiin lampu." Joe menggelengkan kepalanya sambil bergelak tawa. "Tapi kita bercintanya di dalam kamar mandinya, kan dikamar inap Robert ada kamar mandi. Gimana? Bagus 'kan, ideku?"
"Nggak mau, masa dikamar mandi?"
"Kenapa memangnya? Bukannya pas di rumah Abi kita juga sempat bercinta di kamar mandi, kan, Yang?"
"Iya, tapi itu 'kan di rumah, A. Beda sama di rumah sakit. Aku nggak mau," tolak Syifa.
"Enggak boleh nolak, Yang, dosa. Itu 'kan kewajiban," tegur Joe.
Syifa masih bersikukuh menolak, tapi Joe juga sama. Masih bersikukuh ingin mengajaknya bercinta. Jadi di sini mereka tak ada yang mengalah.
"Aku tau, A. Tapi lihat tempat dulu dong, masa ...." Ucapan Syifa seketika terhenti kala Joe tiba-tiba mendaratkan kecupan di bibirnya. Terasa singkat, namun cukup mendebarkan jantungnya.
"Nurut kata suami, kamu pasti akan menikmati," sambung Joe cepat dan mereka pun akhirnya mengakhiri obrolan. Sebab Syifa sendiri bingung untuk menjawab apa lagi.
Ceklek~
Pintu kamar inap Robert perlahan dibuka oleh Joe, mereka semua telah sampai dan masuk secara bersama-sama.
"Robert kepengen langsung pulang saja, Opa, pengen tidur di rumah saja," rengek Robert ketika tubuh kecilnya dibaringkan secara perlahan oleh Papi Paul di atas kasur. Perlahan dia juga menaikkan selimut sampai dada.
__ADS_1
"Pulangnya besok saja, Sayang. Tanggung." Mami Yeri menyahuti, kemudian mencium kening Robert. "Kamu juga 'kan baru bangun dari pingsan. Pasti lemes, jadi istirahat dulu."
"Robert kepengen tidurnya bareng Mommy, Oma. Di sini." Robert menepuk di samping kasur, sambil menggeserkan tubuhnya sedikit. Memberikan ruang untuk Syifa.
"Oh ... kamu kepengen tidur sambil Mommy peluk, ya?" ucap Syifa yang mana dianggukan oleh Robert penuh semangat.
"Iya, Mom!"
"Eh, Syifa. Kita belum berkenalan." Yumna tiba-tiba mengulurkan tangannya, saat Syifa baru saja hendak naik ke atas tempat tidur Robert. Alhasil, Syifa tak jadi naik dan berniat meraih tangannya. "Namaku Yumna," ucapnya kemudian.
"Yumna?" Nama itu, membuat Syifa seketika teringat saat dimana anaknya bilang ingin bicara empat mata. 'Jadi dia Yumna yang Robert maksud? Tapi ada apa dengannya?' batin Syifa seraya memerhatikan wajah perempuan di depannya.
"Iya, aku Yumna. Salam kenal, Syifa," ucap Yumna dengan ramah sambil tersenyum.
"Oh iya, salam kenal juga. Aku Syifa." Syifa membalas senyuman dan perlahan melepaskan jabatan tangannya.
"Berapa umurmu, Fa? Kayaknya kita seumuran deh." Baru tadi mereka berkenalan, tapi sekarang Yumna bersikap seolah-olah sudah akrab.
"24 tahun, Mbak."
"Cuma beda dua tahun berarti. Aku minggu depan pas 26 tahun," balas Yumna yang masih tersenyum. "Panggilnya Yumna saja, jangan Mbak, biar akrab, Fa."
"Sekarang dengan Kak Joe, kita belum sempat berkenalan lho." Yumna menoleh ke arah Joe. Sambil tersenyum dia pun mengulurkan tangannya. "Aku Yumna, Kak, anak temannya Tante Yeri."
Syifa langsung menatap ke arah Joe, ingin melihat ekspresi wajahnya saja. Tapi dilihat, pria yang berdiri di samping Papi Paul itu tengah terbengong. Entah memikirkan apa pikirnya.
'Kayaknya ... di atas kloset nggak bisa gaya kepiting. Takutnya si Syifa jatoh. Berarti mending di lantai saja,' batin Joe sambil mengangguk-angguk kepalanya.
"Yumna ini anaknya Tante Kim Soora, Joe. Kamu kenal Tante Soora, kan?" Mami Yeri menatap ke arah Joe, lalu menepuk pundaknya yang mana membuat pria itu tersentak kaget.
"Ih Mami! Ngagetin aja!" cicit Joe sambil mengusap dadanya. Sebab terasa berdegup kencang.
"Malah bengong kamu. Itu si Yumna ngajak kenalan, kasihan dianggurin!" Mami Yeri menggomel, sambil menggerakkan dagunya ke arah Yumna yang masih mengulurkan tangannya ke arah Joe.
"Oh maaf. Aku Joe," balas Joe cepat yang meraih tangan Yumna, kemudian melepaskannya.
__ADS_1
"Aku ingin mengobrol sama Kakak, apa bisa?" tanya Yumna. "Tapi diluar saja, biar enak."
"Masa nggak bisa? Ya tentu bisalah, Yum." Mami Yeri yang menjawabnya sambil tersenyum dan mengusap punggung Yumna.
Syifa yang melihatnya entah mengapa menjadi tidak suka, dadanya pun mendadak terasa sesak. 'Mau ngapain Yumna ngobrol sama Aa? Mana diluar segala. Mami juga kok malah ngizinin?' batin Syifa bertanya-tanya.
"Mau bicara apa memangnya? Ngomong saja di sini," sahut Joe yang memilih duduk di atas kasur, di samping Syifa.
Sedangkan Robert yang masih memeluk Syifa terlihat sudah terlelap dari tidurnya dengan mata terpejam.
"Mungkin tentang kerjaan, Joe. Udah sana kalian ngobrol saja. Lagian ini juga udah pagi, jadi nggak perlu tidur lagi," sahut Mami Yeri. Dia melangkah menghampiri suaminya yang tengah duduk si sofa, kemudian ikut duduk.
"Ya tinggal ngomong saja di sini, apa susahnya?" sahut Joe.
"Takut menganggu Robert tidur, Kak. Aku tunggu diluar, ya?" Yumna mengulas senyum, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
Tapi bukannya ikut dengan Yumna, Joe justru memilih untuk berbaring dengan paha Syifa yang dijadikan penyangga kepalanya.
"Itu si Yumna 'kan bilang mau ngobrol, Joe. Kok malah tiduran kamunya?" Mami Yeri langsung sewot. Terlihat jelas jika dirinya di sini sangat menghargai dengan kehadiran Yumna. "Dan jangan disitu juga dong! Kasihan Robertnya kesempitan!" Dia juga langsung berdiri, lalu menarik tangan Joe hingga membuat tubuh pria itu turun dari ranjang. Padahal baru saja, Joe hendak memejamkan mata.
'Kok aku merasa Mami seperti memaksa? Ada apa dengan Mami?' batin Syifa bingung.
"Ah nyebelin banget. Orang mau istirahat. Kayak nggak ada besok saja, mau ngobrol segala. Lagian aku juga nggak kenal Yumna." Joe menggerutu sambil melangkah malas menuju pintu. Dia juga mengusap kasar wajahnya.
"Masa nggak kenal? Kan Mami bilang dia anaknya Tante Soora. Dia juga seorang model, Joe. Barangkali kamu membutuhkan seorang model," sahut Mami Yeri.
"Enggak!" seru Joe dan kemudian menghilang dari balik pintu. Keluar dari kamar inap Robert.
"Yumna mengajak Aa ngobrol di kursi depan pintu, kan, Mi? Nggak kemana-mana?" tanya Syifa penasaran sambil menatap mertuanya.
"Ya paling emang di situ," jawab Mami Yeri yang kembali duduk di sofa di samping Papi Paul. "Kenapa memangnya? Nggak boleh, Joe ngobrol sama Yumna?" tambahnya dengan tatapan yang terlihat tajam.
"Bukan begitu, Mi." Syifa menggelengkan kepalanya. "Mereka 'kan bukan muhrim, aku hanya takut saja nanti Aa berdosa."
"Nggak usah lebay deh, Fa," hardik Papi Paul, yang terlihat memihak kepada Mami Yeri. Bola matanya terlihat agak melotot sekarang. "Cuma mengobrol doang kamu udah bawa-bawa agama. Dan apa kamu lupa ... Joe itu kerja di perusahaan skincare? Yang pastinya sering berkomunikasi dengan orang-orang termasuk lawan jenis. Tapi bukan berarti ... Joe akan melakukan tindakan yang senonoh! Dia itu pria setia, Fa!" tambahnya dengan tegas dan meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
"Maaf, Pi. Aku nggak bermaksud." Nyali Syifa seketika menciut karena takut. Dia pun lantas memilih untuk menunduk wajahnya, lalu menatap ke arah Robert sembari mengusap rambutnya. 'Kalau memang mereka mengobrol masalah pekerjaan, mudah-mudahan sih Aa nggak menerima Yumna menjadi modelnya. Maafkan aku ya, Allah ... bukan maksud bersu'uzan. Hanya saja entah mengapa perasaanku jadi nggak enak. Dan aku selalu takut jika Aa berpaling dariku,' batinnya.
...Aman, Fa 😄 Aa Joe mah dijamin setia ðŸ¤...