
Tak mau kalah dan sudah terlanjur kesal, Syifa pun tanpa pikir panjang langsung menampar pipi kanan Yumna. Sebab menurutnya, perempuan itu cukup berani dengannya dan sudah diluar batas.
Plak!!
"Aakkhh!" jerit Yumna terkejut, dan langsung menyentuh pipinya yang terasa perih.
Dan bukan hanya dia saja yang terkejut di sini, tapi seluruh orang di ruang makan itu juga sama. Termasuk dengan Robert.
'Mami menampar Tante Yumna?' Bola mata Robert membulat sempurna. Baru kali ini dia lihat sisi garang dari seorang Syifa, tapi entah mengapa dia justru merasa bangga. "Mommy keren!!" serunya sambil bertepuk tangan.
"Jaga bicaramu pelakor! Dasar gatal dan nggak bermoral!" tandas Syifa sambil melotot.
"Berani sekali kamu menamparku, Syifa! Apa kamu nggak tau aku siapa?" Tangan kana Yumna sudah diudara, hendak menjambak hijab Syifa.
Namun sayang, dia kalah cepat oleh tangan Joe yang sudah mencekalnya.
__ADS_1
"Siapa pun orangnya nggak ada yang boleh menyakiti Syifa! Termasuk kau, Yumna!" bentak Joe penuh amarah yang berkobar. Matanya melotot tajam.
Telinga Yumna sampai berdengung mendengarnya, tapi dia justru langsung menangis. Mengeluarkan air mata buaya supaya mendapatkan simpati.
"Hiks! Kakak tega sekali ...," tangisnya sambil menyentuh pipinya sendiri. "Jelas-jelas Syifa yang menamparku. Tapi kenapa aku justru yang dibentak?"
"Hei pelakor ... kau yang dorong aku duluan!" geram Syifa memekik, dan langsung menepis tangan Joe dari pergelangan perempuan itu.
Tak ingin memperkeruh suasana yang makin mencekam, Joe pun akhirnya menarik Syifa untuk berlalu pergi dari sana. Mungkin lebih baik, mereka memang dipisahkan. Daripada akan makin panjang urusannya.
Robert yang melihat Daddy dan Mommynya pergi dari ruang makan langsung bergegas menyusulnya.
Ternyata tamparan maut Syifa cukup keras juga, dan jujur—Mami Yeri benar-benar tak menyangka, jika menantunya yang terlihat kalem itu berani berbuat kasar.
"Sakit Tante, hiks ...," ringis Yumna tersedu-sedu.
__ADS_1
"Papi akan minta tolong Bibi buat ambilkan es batu, ya, Mi, biar pipi Yumna dikompres." Papi Paul berdiri, kemudian melangkah pergi.
"Iya, Pi." Mami Yeri mengangguk, lantas mengajak Yumna menuju ruang keluarga untuk duduk di sana.
"Tante lihat sendirikan tadi, Syifa menamparku? Ini sakit, Tante, hiks!" lirih Yumna yang masih berpura-pura menangis.
"Iya, Tante tau kok. Tante melihatnya." Mami Yeri menyeka air mata dipipi Yumna, kemudian membereskan rambutnya yang tampak berantakan. "Tolong maafin Syifa, ya, Yum. Kalian tadi itu hanya salah paham."
Mami Yeri mencoba menengahi, meskipun masih berpihak kepada Yumna. Tapi dia tak mau, masalah ini menjadi panjang.
"Yang salah paham itu Syifa, kenapa dia menuduhku perempuan gatal? Enak saja! Memangnya aku perempuan gatal?!" geram Yumna emosi.
"Iya, dia terbawa emosi karena kamu pegang tangan Joe tadi. Memang dari awal Syifa itu terlihat cemburu banget sama kamu."
"Pecat saja sih, Tan, si Syifa ... jadi menantu Tante. Sama aku aja berani kasar dia, apalagi sama Kak Joe? Bisa-bisa nanti Kak Joe jadi korban kdrt!" saran Yumna mengompor-ngompori. Dadanya terlihat naik turun karena terasa bergemuruh. "Memangnya, Tante mau, ya ... Kak Joe babak belur? Ada tau, Tan, diberita ... istri yang bunuh suami atau ngasih racun ke suami. Ya itu karena si istri awalnya nggak bisa mengendalikan emosinya. Apalagi kalau istrinya kaya Syifa ... yang cemburuan."
__ADS_1
...Ya udah, Mi, pecat aja si Syifa... tapi kalau bisa itu juga 🤣...
...Jangan lupa vote+hadiahnya, ya, Guys, biar semangat 😚...