Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
51. Kunci kamar hotel


__ADS_3

"Itu karena efek makan berlebihan, Pak," jawab Dokter itu. "Lambungnya mengalami kram dan saya sarankan Pak Fahmi dirawat untuk sementara waktu, untuk memulihkan kondisinya."


"Makan berlebihan?!" Pak Haji Samsul tampak mengerutkan keningnya, lalu menatap kepada Fahmi. "Apa yang kamu makan, Fahmi, sampai berlebihan begitu?! Dan kamu ini nggak waras atau nggak, sih?! Bukankah kamu juga tau ... makan berlebihan itu nggak boleh! Haram hukumnya!" teriaknya mengomel.


"Aku nggak makan berlebihan kok," kilah Fahmi. Sengaja dia berbohong karena takut dimarahi serta malu pada Ustad Yunus dan Sandi. Tak mau rasanya, dia terlihat buruk di depan orang lain.


"Apa Dokter berbohong?!" Sekarang Pak Haji Samsul justru menuduh sang Dokter yang berbohong.


"Ngapain saya berbohong? Apa untungnya?" Dokter itu menjawab dengan santai.


"Kamu benar-benar nggak waras, Mi! Bisa-bisanya kamu kekenyangan makan di pesta. Kan niat awal kamu datang hanya ingin bertemu Ustad Hamdan, kenapa pakai acara makan segala. Pasti di sana juga banyak makanan haram!" geram Pak Haji Samsul, emosinya terlihat meluap-luap.


Ustad Yunus dan Sandi hanya bisa saling pandang dan geleng-geleng kepala.


"Kan aku sudah bilang, Pa, aku nggak kekenyangan!" bantah Fahmi yang juga terlihat emosi, namun dia kembali meringis saat merasakan perutnya ngilu. "Aku yakin ... perutku sakit pasti ada sebab yang lain. Bukan karena kekenyangan."


"Saya sudah memeriksa Bapak, tapi apa yang Bapak makan sama sekali tak berbahaya." Sebelum Fahmi berpikir yang tidak-tidak, Dokter itu langsung menjelaskannya.


"Aku yakin ... pasti karena makanan di pesta Pak Joe itu sangat enak. Mangkanya kamu kekenyangan, kan?" tebak Sandi sambil terkekeh.


"Jangan sembarang kalau bicara!" bentak Fahmi sambil melototi Sandi. "Makanan di pesta si Jojon nggak ada apa-apanya, dibanding restoranku!"


Sandi berdecak. "Tapi kenapa—"


"Berhubung Bapak sudah datang dan Fahmi baik-baik saja ... aku dan Sandi pamit pulang, ya, Pak," ucap Ustad Yunus yang langsung memotong perkataan dari keponakannya.


"Kalian nggak boleh pulang!" larang Pak Haji Samsul. Saat melihat kedua pria itu hendak melangkah pergi, dia pun langsung mencekal tangan salah satu dari mereka.


"Kenapa nggak boleh?" tanya Ustad Yunus bingung.


"Kalian harus tanggung jawablah gimana, sih? Masa begitu saja nggak ngerti?!" berang Pak Haji Samsul.


"Tanggung jawab gimana? Kan Fahmi sakit bukan kesalahan kami, Pak," sahut Ustad Yunus.


"Lagian, harusnya Bapak itu bersyukur ... kami sudah membawa Fahmi ke rumah sakit. Tanpa kami mungkin nyawa Fahmi sudah melayang." Sandi menimpali dengan wajah kesal.


"Jangan sembarang kalau bicara! Kalian pikir, kalian ini Allah, yang tau umur manusia itu kapan?!"


Sandi menghela napas dengan berat, lama-lama dia merasa jengah berbicara dengan pria tua itu yang sifatnya 11 12 sama seperti anaknya. Sombong dan maunya menang sendiri.


"Kita pulang saja, Om," ajak Sandi kepada Ustad Yunus.

__ADS_1


Namun, saat Omnya itu hendak menepis tangan Pak Haji Samsul dari pergelangan tangannya—pria itu justru mencekalnya makin kuat.


"Kalau kalian nggak mau tanggung jawab, tolong berikan nomor si Jojon padaku!" pintanya dengan nada memaksa.


"Mau apa, Pak?" tanya Ustad Yunus yang masih terlihat sabar, meskipun sejujurnya dia juga kesal pada sikap pria itu. "Masalah ini nggak ada sangkut pautnya dari Pak Joe. Semua kesalahannya ada pada diri Fahmi, jadi tolong ... bersikaplah seperti umat muslim yang baik dan biarkan aku dan Sandi pergi dari sini."


Setelah itu, dia menepis kasar tangan Pak Haji Samsul, kemudian melangkah cepat bersama keponakannya.


Pria tua itu sebenarnya ingin mengejar mereka, tapi semuanya urung karena mendengar Fahmi memekik kesakitan


"Duh, Pa! Perutku sakit banget! Antar aku ke toilet, pengen berak kayaknya!" ringisnya sambil meremmas perut.


"Perawat!!" Bukannya langsung menuruti permintaan sang anak, Pak Haji Samsul justru berteriak memanggil dua perawat pria yang baru saja lewat.


Keduanya menoleh dan bergegas mendekat.


"Ada apa, ya, Pak?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalian 'kan dibayar di rumah sakit ini, jadi tolong anakku. Antarkan dia ke toilet dan bawa ke kamar rawatnya," pintanya sambil menggerutu.


Kedua pria berseragam putih itu mengangguk, kemudian langsung bersama-sama mendorong kursi roda Fahmi menuju toilet di dekat sana.


"Silahkan Bapak ke resepsionis depan, untuk mengisi formulir pasien rawat inap," ujar Dokter.


"Aku harus beritahu Ustad Hamdan, tentang kelakuan jahat menantunya. Bisa-bisanya dia tega pada Fahmi. Padahal... Fahmi sudah cukup berlapang dada karena menyerahkan Syifa untuknya. Harusnya, si Jojon itu berterima kasih ... bukan malah mengerjainya!"


***


Acara resepsi itu telah benar-benar sepi ketika jam 3 pagi. Dan akhirnya, Abi Hamdan, Papi Paul dan Umi Maryam bisa beristirahat di dalam kamar hotel.


"Maafin Abi, ya, Umi ... Abi nggak tau Umi nungguin Abi sampai ketiduran," ucap Abi Hamdan dengan wajah bersalah. Dia menatap istrinya yang berada di samping.


Memang tadi, Umi Maryam sempat ketiduran di kursi sambil mendengarkan beberapa santri yang mengaji. Mungkin karena sangking lelah.


"Nggak apa-apa, Bi. Memang tadinya Umi mau nonton penceramah kok," jawab Umi Maryam sambil tersenyum.


Ting~


Tak lama, pintu lift terbuka. Dan ketiga orang itu langsung keluar secara bersama.


"Wah ... kamarnya banyak banget, mana pintunya tinggi-tinggi lagi." Umi Maryam menatap takjub beberapa pintu kamar di lantai 3 tersebut sambil melangkah menggandeng tangan suaminya. Semuanya pun terlihat tertutup rapat.

__ADS_1


"Namanya juga hotel, Mi. Ya wajar," jawab Abi Hamdan santai. Sengaja dia menjawab seperti itu supaya tak terkesan norak di depan besannya.


"Kalau begitu, saya masuk duluan ya, Pak Hamdan ... Bu Maryam, selamat malam," ucap Papi Paul yang berhenti di depan kamar nomor 201, itu adalah kamarnya. Kemudian memencet bel, sebab dia tidak memegang kunci.


"Lho, Pak! Terus kamar kita di mana?" tanya Abi Hamdan cepat sebelum pintu kamar Papi Paul dibuka dan pria itu meninggalkan mereka.


"Lho, memangnya Bapak nggak dikasih tau sama Joe?" Papi Paul justru berbalik tanya, sebab dia sendiri tidak tahu.


Ceklek~


Pintu kamar Papi Paul perlahan dibuka dan keluarlah Mami Yeri. Wanita itu sudah berganti pakaian dengan baju tidur kimono berwarna merah, matanya terlihat sayup seperti baru bangun tidur.


"Eh, Pak Hamdan dan Bu Maryam kok belum masuk kamar? Kenapa?" tanyanya sambil menatap besannya silih berganti.


"Kamar untuk kami di mana, ya, Bu? Saya nggak tau," ucap Umi Maryam.


"Itu di sebelah, Bu." Mami Yeri menunjuk ke arah sebelah. "Nomor 202. Dikuncinya juga ada nomornya, coba Ibu cek saja."


Umi Maryam langsung memerhatikan sebuah kartu yang saat ini dia pegang. Ternyata memang benar, ada nomornya di sana. "Oh iya, saya lupa untuk melihatnya."


"Kamarnya si Jojon ... Eh, maksudnya Syifa dan Joe. Di mana, ya, Bu?" tanya Abi Hamdan.


"Ini, Pak." Mami Yeri menunjuk kamar yang berada di depan. Nomor 300.


"Oh gitu. Ya sudah ... selamat malam Pak, Bu," ucap Abi Hamdan.


"Malam juga, Pak Hamdan, Bu Maryam." Mami Yeri dan Papi Paul menjawab secara bersamaan, kemudian masuk ke dalam kamar.


"Tapi, Bu ... Ini bagaimana cara ...." Ucapan Umi Maryam menggantung diujung bibir, sebab melihat besannya sudah menutup pintu. Padahal tadinya, dia hendak bertanya tentang cara membuka kunci kepada Mami Yeri. Sebab dia sendiri tidak tahu caranya.


"Ayok masuk, Mi. Abi capek mau tidur sebentar sebelum adzan Subuh berkumandang," ajak Abi Hamdan yang merangkul bahu istrinya, lalu mengajaknya menuju kamar dan menurunkan handle pintunya.


Namun sudah berulang kali dia naik turunnya, benda itu tak kunjung terbuka.


"Lho, ini dikunci apa gimana, Mi?" tanya Abi Hamdan bingung.


"Iya, dikunci, Bi," jawab Umi Maryam sambil mengangguk, kemudian memberikan card system ke tangan suaminya. "Ini kuncinya, tolong Abi bukain. Umi nggak bisa caranya."


"Kunci model apa kayak gini? Kok kotak?" tanya Abi Hamdan heran dengan kening yang mengerenyit. Dia memerhatikan benda tersebut, kemudian beralih ke arah handle pintu. "Ini di pintunya juga nggak ada lubangnya, Umi. Gimana cara masukin kuncinya?" tanyanya lagi yang benar-benar bingung.


"Itu dia, Umi juga nggak ngerti, Bi."

__ADS_1


...Hayo lho, Umi, Abi, kalian ga bisa masuk 🤣 diluar sampai subuh, yak 😆...


__ADS_2