Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
153. Warna baru dihidup mereka


__ADS_3

"Tuh, Dad, Papanya Baim saja ngasih nama anaknya nama Nabi. Kok Daddy pas Robert lahir nggak kasih nama Nabi?" tanya Robert dengan wajah kesal. "Harusnya, kasih namanya nama Nabi dong, Dad. Kata Mommy Syifa juga ... Nabi itu adalah orang-orang pilihan dari Allah karena kesolehannya. Dan Robert juga kepengen jadi orang soleh."


"Kamu ini gimana, sih, Rob? Kan pas kamu lahir ... Daddy belum masuk Islam."


"Ya sudah, sekarang saja ganti namanya, Dad!" rengek Robert.


"Jangan, Sayang, nama Robert itu nama yang diberikan oleh almarhumah Mommy Sonya. Jadi kamu nggak boleh merubahnya." Joe masih berusaha menolak permintaan sang anak, tapi tentu dengan nada lembut.


"Ah Daddy pasti bohong. Orang nama itu Daddy, kan, yang ngasih? Bukan Mommy!" Robert tampak tak percaya. Bibirnya sudah merenggut kesal.


"Sumpah, ngapain Daddy bohong."


"Nak ... menurut Opa juga kamu nggak perlu ganti nama," ucap Abi Hamdan yang ikut menimpali.


"Lho, kenapa? Memangnya nggak boleh, ya, Opa?"


"Dalam Islam memang boleh mengganti nama, tapi itu ada alasannya, Nak. Misalkan namamu itu artinya buruk dan diharamkan. Tapi menurut Opa ... nama Robert itu bagus. Apa coba artinya? Kamu tau, nggak?"


"Dalam bahasa Inggris artinya pintar dan cemerlang, Abi," sahut Joe.


"Tuh ... artinya saja bagus. Jadi ngapain ganti nama segala? Nanti yang ada kamu juga sakit, kalau nama itu nggak cocok dibadan kamu."


"Apa hubungannya coba, nama sama sakit? Opa sama Daddy sama aja! Sama-sama nyebelin! Pokoknya Robert tetap ingin ganti nama! Biar jadi anak soleh titik!" tegas Robert marah. Segera dia pun berlari masuk ke dalam rumah, berniat mengadu kepada Syifa.


Sampainya di dapur, dia pun langsung mendekap tubuh Mommy sambungnya dari belakang. Yang tengah mengelap piring bersih.


"Mommy ... Opa sama Daddy nyebeliiiinn ...!" kesalnya yang sudah terisak.


Syifa sontak terperanjat, lalu menyudahi aktivitasnya dan menoleh ke arah anaknya. "Nyebelin gimana? Dan kenapa kamu nangis, Nak?"


"Mereka nggak setuju, padahal Robert kepengen ganti nama, Mom ... hiks," jawab Robert yang masih menangis.


"Lho, kenapa ganti nama? Ada apa memangnya dengan namamu?" Syifa menarik lengan Robert di pahanya, kemudian dia membungkuk untuk menggendong tubuhnya. Setelah itu Syifa membawanya pada ruang tengah, duduk bersama di sofa dengan posisi memangku.


"Mommy 'kan waktu itu pernah bilang, kalau Nabi itu adalah manusia pilihan Allah karena kesolehannya. Dan sekarang Robert kepengen ganti nama yang namanya sama seperti nama Nabi, Mom. Karena Robert juga ingin jadi manusia soleh. Tapi sayangnya ... Opa dan Daddy melarang ...," jawabnya sambil sesenggukan.


Syifa memutar tubuh anaknya, supaya menghadap ke arahnya. Kedua tangannya itu perlahan terulur, lalu mengusap lembut pipi Robert yang basah karena air mata. "Oh ... jadi itu penyebab kamu ingin ganti nama," ujar Syifa sambil menghela napas, kemudian mencium lembut pipi kanan anaknya. "Tapi, Nak, ketika kita ingin menjadi manusia soleh ... kita nggak perlu mengganti nama. Yang penting kita itu taat sama Allah, itu saja sudah cukup."


"Tapi Robert tetap ingin ganti nama, Mom!" rengek Robert dan kembali dia tersedu-sedu. "Robert kepengen namanya nama Nabi, kayak si Baim. Robert kepengen, Mom ...."

__ADS_1


"Eemm ... begini saja, bagaimana kalau ditambah. Jadi nggak perlu mengganti nama, Sayang?" Syifa memberikan usul.


"Ditambah gimana maksudnya?" tanya Robert dengan raut bingung.


"Nama Nabi disematkan didepan namamu, atau dibelakang namamu. Bisa juga ditengah-tengah ... asalkan nama Robert Anderson jangan dihilangkan. Itu 'kan nama kamu dari lahir."


"Memangnya boleh, seperti itu?" Kening Robert mengerenyit.


"Tentu boleh dong, Sayang." Syifa mengangguk, kemudian mengusap kembali pipi anaknya. "Sekarang, kasih tau Mommy ... nama Nabi siapa, yang ingin kamu tambahkan?"


"Menurut Mommy ... dari ke-25 nama Nabi, Nabi mana yang paling baik?"


"Semua Nabi baik, Sayang, mangkanya mereka jadi manusia pilihan Allah," jawab Syifa, kemudian mulai berpikir mencari ide. "Eemmm ... bagaimana kalau Nabi Muhammad saja? Jadi namamu nanti Muhammad Robert Anderson. Bagus, kan?"


"Tapi Robert 'kan anak pertama, Mom. Dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir."


"Memangnya kenapa? Ya nggak masalah. Lagian ... banyak juga kok yang memakai nama Nabi Muhammad jadi nama depan, Nak."


"Masa, sih? Jadi pasaran dong, Mom?"


"Pasaran itu justru bagus. Itu tandanya nama yang kita miliki bagus."


"Menurut Mommy sih setuju, soalnya 'kan cuma ditambah. Bukan diganti."


"Tapi nanti Mommy saja, ya, yang ngomong sama Daddy? Barangkali kalau Mommy yang ngomong ... Daddy langsung setuju."


"Iya. Nanti Mommy yang ngomong." Syifa menganggukkan kepalanya, lalu mengusap lembut puncak rambut anaknya.


"Fa ... ayok keluar, semuanya sudah siap dan waktunya kita makan bareng," ajak Umi Maryam yang keluar dari dapur bersama para ibu-ibu. Semuanya membawa hasil masakan dan beberapa alat untuk makan.


"Satenya udah mateng semua memangnya, Mi?" Syifa perlahan berdiri, kemudian menggendong tubuh anaknya.


"Kata Sandi sih tadi udah."


"Oh, ya sudah ayok ... kita makan bareng." Syifa mengangguk, kemudian melangkah di belakang.


Mereka semua pun akhirnya menyantap makan malam bersama dengan beralaskan tikar yang terhampar di depan halaman rumah. Sate unta itu benar-benar terasa nikmat dilidah, rasa dagingnya perpaduan antara daging sapi dan kambing.


Joe dan Robert terlihat senang sekali, bisa makan bersama dan berkurban tahun ini. Momen seperti ini tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Kehadiran Syifa memang benar-benar membuat warna baru dihidup mereka.


*


*


*


Di kamar.


Ceklek~


Syifa membuka pintu kamar mandi, setelah dirinya gosok gigi dan bersiap untuk tidur.


Perlahan kakinya melangkah mendekat ke arah ranjang, lalu merangkak naik dan duduk selonjoran di samping anaknya. Yang sudah terlelap tidur sambil memeluk bantal guling.


"Aa kok belum masuk kamar? Apa masih asik ngobrolnya, ya?" Syifa menyingkap sedikit gorden jendela kamarnya, kemudian menatap sang suami yang duduk di kursi plastik di teras rumah bersama Abi Hamdan, Ustad Yunus, Sandi dan Pak RT.


Kelima pria itu terlihat asik mengobrol sambil tertawa.


"Tapi ini 'kan udah jam 10. Dan ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada dia. Termasuk tentang Robert yang ingin tambah nama," gumamnya. "Oh ya, Aa juga nggak ngomong ada gaya baru. Apa malam ini kita juga libur bercinta? Tapi kok aneh ... bisanya 'kan sekali bercinta saja dia minta berulang-ulang. Tapi kok ini ...." Ucapan Syifa seketika terhenti, ketika tiba-tiba mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka.


Ceklek~


Saat dirinya menoleh, ternyata Joe yang membuka. Pria itu masuk kemudian menutup kembali pintunya.


"Assalamualaikum," ucap Joe dengan senyuman tipis.


"Walaikum salam. Udah selesai ngobrolnya, A?" tanya Syifa sambil tersenyum menatap wajah Joe. Kening pria itu terlihat berkeringat, sampai rambut depannya pun ikut basah. Tapi entah mengapa, itu semua justru membuat Joe makin tampan.


"Iya, Yang." Joe mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Syifa yang tengah menunggu akhirnya bisa menghela napas. Karena melihat Joe sudah keluar dari kamar mandi.


Ceklek~


"Aa habis mandi?" Wajah Syifa sudah merona, ketika melihat suaminya hanya memakai lilitan handuk di atas pinggang. Jantungnya pun ikut berdebar kencang kala melihat deretan roti sobeknya. 'Apa sebentar lagi Aa akan mengajakku bercinta, dengan gaya barunya? Ah ... aku udah nggak sabar rasanya. Kangen.'


...Nggak usah nebak-nebak, kalau kamu kepengen mah langsung ngajak aja, Fa 🤭...

__ADS_1


__ADS_2