
Sebelumnya...
Joe baru saja duduk di ruang makan bersama Syifa dan Robert, mereka bertiga berencana sarapan dengan sepotong sandwich pagi ini.
Drrttt ... Drrttt ... Drrttt.
Sandwich itu sudah ada ditangan dan hendak digigit, tapi seketika tak jadi lantaran ponselnya berdering di dalam saku celana.
Joe pun meletakkan kembali sarapannya di atas piring, kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Mami Yeri.
"Pagi Joe, Sayang ...." Suaranya terdengar sangat manis dan lembut.
"Pagi juga, Mi."
"Kamu dan Robert udah sarapan belum?"
"Ini baru mau sarapan. Ada apa, ya, Mi?"
"Mami mau ngasih tau ... kalau Om Yohan masuk rumah sakit. Dia kecelakaan. Kamu masih inget sama Om Yohan, kan, Joe?"
"Papinya Yumna, kan?"
Mendengar nama Yumna, seketika saja membuat telinga Syifa berkedut. Dia pun langsung melirik ke arah Joe dengan penasaran.
'Kok masih pagi udah bahas Papinya cewek gatal, sih? Ada apa?' batinnya kesal.
"Iya," jawab Mami Yeri. "Kamu kalau ada waktu jenguk dia, ya, Joe. Om Yohan 'kan suami teman baik Mami. Kamu harus menghargainya."
"Iya, Mi. Aku ngerti. Memangnya di rumah sakit mana dia dirawat?"
"Di Rumah Sakit Sejahtera, Joe."
"Terus ... Apa ada lagi yang mau Mami sampaikan?"
"Enggak. Cuma itu aja. Ya sudah, ya, Joe. Kamu jangan lupa berangkat kerja."
"Iya, Mi."
Jawaban Joe menutup sambungan telepon. Benda itu kembali ditaruh ke dalam kantong celana, lalu dia mulai sarapan.
"Tadi Mami yang telepon, A?" tanya Syifa penuh selidik.
"Iya, Yang." Joe mengangguk.
"Kok bawa-bawa Yumna segala?"
Joe langsung menatap ke arah Syifa. "Oh ... itu Papinya Yumna katanya kecelakaan. Mami memberitahunya, Yang."
"Aa disuruh jenguk juga, ya?" tebak Syifa yang sudah memasang wajah cemberut.
"Iya. Kalau aku senggang katanya. Paling nanti malam ... pulang kerja. Itu juga kalau kamu dan Robertnya mau. Tapi kalau kalian enggak mau ya berarti nggak jadi jenguk aku, Yang."
"Lho ... Kenapa musti bawa-bawa aku sama Robert, A? Aa kalau mau jenguk ya jenguk aja. Aku sih nggak mau." Syifa menggeleng kepala. Malas rasanya, apalagi dia yakin—jika Yumna pasti ada di sana. Dan bahaya juga pastinya kalau sampai Joe menemuinya.
"Ya kamu dan Robert 'kan istri dan anakku. Masa aku nggak ngajak kalian. Pasti ngajak dong, Sayang."
Syifa hanya mengangguk, kemudian mengigit sandwichnya. 'Apa Mami sampai sekarang masih berharap Yumna jadi istrinya Aa, ya? Harusnya 'kan jangan,' batinnya dengan sedih.
"Oh ya, Mom ... Mommy kapan ngajar lagi? Pak Bambang dan teman-teman Robert yang lain sering nanyain Mommy tau," tanya Robert dengan mulut yang terisi penuh.
"Mommy juga kepengen ngajar lagi, Nak. Tapi Mommy bingung." Syifa menghela napas, lalu menatap kembali ke arah Joe.
"Bingungnya kenapa?" Robert menatap Syifa dengan raut heran.
"Kalau kamu kangen kepengen ngajar lagi ... ngajar aja, Yang," ucap Joe menanggapi. "Nanti pas sudah hamil ... baru kamu resign."
"Sebenarnya aku udah ada pikiran seperti itu, A. Tapi ya gitu ... aku bingung."
__ADS_1
"Bingungnya kenapa? Oh ... apa kamu masih trauma, ya? Dengan insiden dulu itu?"
"Bukan masalah trauma atau, A." Syifa menggelengkan kepalanya. "Jujur sih ... rasa itu sudah sedikit demi sedikit menghilang, A. Cuma sekarang ... aku takut pada hal lain."
"Hal lainnya apa? Hantu?"
"Bukan." Syifa menggeleng lagi. "Aku cuma takutnya Aa selingkuh."
"Lho, kenapa takut aku selingkuh? Memangnya sampai detik ini ... kamu belum percaya, kalau aku suami yang setia?"
"Percaya nggak percaya, sih." Syifa terlihat ragu.
"Kok jawabnya gitu? Kayak ragu kamu, Yang."
"Habis gimana, ya, A. Namanya hati manusia 'kan kadang suka berubah-ubah. Dan itulah yang aku takutkan."
"Iya, aku ngerti. Tapi hubungannya kamu ngajar lagi sama aku selingkuh itu apa, Yang?"
"Aku nggak bisa ke kantor Aa nantinya, karena aku 'kan sibuk ngajar di pagi hari."
"Lho, memang kamu ke kantorku mau apa, Yang?"
"Ya nggak mau apa-apa. Cuma mau lihat Aa kerja doang."
"Ke kantor Daddynya habis ngajar saja, Mom, kan bisa," saran Robert yang sebenarnya dia ingin sekali Syifa mengajar lagi. "Robert kangen banget kayaknya, lihat Mommy ngajar dikelas. Ayok ngajar lagi, Mom," tambahnya yang terdengar memohon. Dia juga sampai memasang wajah memelas.
"Eemm ... gimana ya, Nak?" Syifa memerhatikan wajah anaknya sambil berpikir keras.
"Nggak usah takut Daddy selingkuh, Mom. Kan ada Robert. Nanti Robert akan ikut jagain Daddy!" Dia menepuk dadanya, mencoba menyakinkan. "Kalau sampai Daddy berani berulah ... kita sunat lagi saja tongkatnya sampai buntung."
"Ya Allah, Rob!" Joe sampai terperanjat dari duduknya lantaran kaget mendengar hal itu. "Jangan sadis-sadis kenapa, sih, sama Daddy. Kamu kelihatan nggak sayang tau ... kalau kayak gitu."
"Ya memangnya Daddy ada rencana mau selingkuhi Mommy?"
"Enggaklah, Rob," sahut Joe dengan gelengan kepala.
"Ya kalau enggak Daddy nggak perlu setakut itu dong. Santai saja."
"Robert pegang janji Daddy, ya? Yang mengatakan nggak bakal selingkuh."
"Pegang aja. Silahkan," tantang Joe.
***
Kembali lagi ke sekolah.
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
"Botak!"
Keempat bocah itu bersorak secara bersamaan tak lupa dengan sebuah tepuk tangan yang begitu keras.
Dan membuat beberapa murid yang lain memusatkan atensinya terhadap bocah berkepala botak.
Jelas bahwa, apa yang dilakukan mereka adalah hal untuk meledek bocah berkepala botak yang ternyata adalah Robert. Teman mereka sendiri.
__ADS_1
"Lho ... anak-anak ... jangan ledekin Robert kayak gitu. Nggak boleh!"
Sebelum Robert tersinggung, Syifa lebih dulu menasehatinya. Jangan sampai karena hal ini, anaknya itu menangis dan bermusuhan dengan teman-temannya.
"Bu Syifa tadi bilang apa?" Juna tampak mengerut keningnya. Dia keheranan, berikut dengan teman-temannya yang lain. "Robert? Maksudnya ... bocah botak ini Robert?" tambahnya sambil menunjuk Robert tepat pada kepalanya.
"Masa, sih, dia Robert?" Atta tampak tak percaya. Dia pun mendekat, lalu menyentuh pundak Robert dan memerhatikan wajah di depannya dengan seksama.
"Aku memang Robert, temen-temen." Robert membuka suara. "Masa kalian nggak mengenaliku hanya karena aku tanpa rambut?"
Leon langsung memeluk tubuh Robert. Tapi maksudnya di sini hanya untuk menghirup aroma tubuhnya. Karena dia kenal betul aroma Robert seperti apa.
"Iya bener, ini Robert. Bocah yang belum disunat itu." Setelah yakin, barulah Leon melepaskan tubuh temannya.
"Ngatain aku belum sunat, sendirinya juga belum sunat!" cibir Robert membalikkan ucapannya.
"Tapi kok bisa, sih, Rob ... kamu nekat menggunduli rambutmu begitu?" Juna mendekat, lalu berjinjit sedikit dan menjulurkan lidahnya ke arah kepala Robert.
"Iiiihh ... Jangan dijilat dong! Bau, Jun!" protes Robert marah, dan langsung mengusap air liur temannya yang tertinggal.
Syifa yang melihatnya cepat-cepat mengambil tissue basah di dalam tas, kemudian membantu anaknya untuk mengusap kepalanya.
"Maaf. Habis licin banget kepalamu, kaya permen lollipop, hehehe ...." Juna tertawa terbahak. Apalagi dia juga merasakan manis saat berhasil menjilat kepala temannya.
"Kamu kutuan, ya, Rob? Mangkanya dibotakin gitu?" tebak Baim yang ikut tertawa.
"Enak saja. Ya nggaklah!" bantah Robert yang masih mengusap kepalanya. "Ini itu lagi nge-trend tau. Kalian aja yang ketinggalan zaman."
"Nge-trend apanya?" tanya Leon dengan bingung.
"Kepala gundul ini lagi nge-trend ditahun 2023 ini!" tegas Robert dengan penuh percaya diri. "Dan kalian juga pasti kaget. Kalau tau Daddy dan kedua Opa-Opaku digundul juga."
"Masa sih? Ah nggak percaya aku." Atta geleng-geleng kepala.
"Ini buktinya ...." Robert merogoh kantong celana olahraganya, kemudian memperlihatkan selembar foto berukuran dompet.
Itu adalah foto keluarga gundulnya kemarin, yang sengaja Robert minta ada ukuran kecil supaya bisa dibawa kemana-mana. Karena memang sedari dulu, dia hobi sekali membawa-bawa sebuah poto pada kantong seragam sekolahnya.
"Wih ... bener ... keren banget!!" Leon langsung menyeru lantaran takjub dengan empat kepala di dalam foto itu yang begitu licin-licin.
"Tuh 'kan ... apa aku bilang. Keren, kan?" Robert menarik turunkan alis matanya dan tampak percaya diri.
"Iya, keren!!" Juna, Atta dan Baim ikut menyeru berbarengan.
"Mangkanya ... kalian ikut digundul saja sama sepertiku. Biar nggak ketinggalan trendnya. Lagian enak juga tau ... punya kepala gundul."
"Enaknya kenapa, Rob?" tanya Atta penasaran.
"Ya enak, karena adem. Lagian nggak boros sampoo."
"Kepala udah botak begitu memang tetap dikasih sampoo kalau mandi?" tanya Juna.
"Ya tetap lah, Jun. Tapi nggak sebanyak saat kita punya rambut."
"Iya, benar juga," sahut Baim setuju. "Jujur ... aku kalau pagi kadang males keramas. Tapi Papaku selalu nyuruh."
"Ya udah. Mending kita habis pulang sekolah digundul bareng-bareng aja gimana? Biar ngikutin trend?" tanya Atta memberikan sebuah ide.
"Setuju!"
Orang pertama yang menjawab adalah Baim, kemudian disusul temannya yang lain.
"Setuju!"
"Setuju!"
Sedangkan Syifa sendiri sudah tepok jidat sambil geleng-geleng kepala. Lantaran heran dan aneh saja dengan ide konyol anak muridnya.
__ADS_1
"Nah ... begitu dong. Itu namanya teman, baru cocok!" Robert pun memamerkan dua jempol tangannya kepada teman-temannya. Merasa puas sekaligus senang, karena ini berarti personil botak akan bertambah banyak.
...Dasar bocah🤣🤣...