Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
163. Dijahit sedikit


__ADS_3

"Tapi—"


"Udah," sela Mami Yeri cepat yang tak mau melihat orang berdebat. "Kalau si Imel, sekertaris Joe, ada nggak di ruangannya?"


"Ada, Bu." Perempuan itu mengangguk cepat. "Mari saya antar ke ruangan—"


"Nggak perlu. Biar aku dan Yumna saja yang langsung ke sana," tolak Mami Yeri cepat seraya menarik tangan Yumna.


Perempuan berambut pirang itu bahkan masih menatap sinis perempuan penjaga resepsionis. Entahlah, dia kesal karena ada yang membela Syifa. Harusnya biarkan saja, supaya Mami Yeri makin membenci menantunya.


"Tante, kita mau ngapain ketemu sekertarisnya Kak Joe?" tanya Yumna saat dia dan Mami Yeri sudah berada di dalam lift.


"Nanti juga kamu tau, Yum."


"Tapi beneran, kan, ya, aku tetap diterima kerja jadi model di sini meskipun Kak Joe nggak setuju, Tan? Aku udah jauh-jauh ke Jakarta, masa tetap ditolak, sih?"


"Kamu akan diterima. Tenang saja." Mami Yeri tersenyum dengan anggukan kepala.


Ting~


Setelah pintu lift itu terbuka, keduanya lantas melangkah keluar. Sampai pada ruangan sekretaris, Mami Yeri pun mengetuk pintunya dan memanggil.


"Imel! Apa kamu di dalam?" tanya Mami Yeri dengan sedikit lantang, takut suaranya tak terdengar.


"Iya ...." Seseorang menyahut dan tak lama membuka pintu.


Ceklek~


Dia Imel, sekertaris Joe. Umurnya 25 tahun. Sama seperti apa yang Robert katakan dulu, dia memang cantik dengan rambut panjangnya dan berpenampilan seksi.


Rok span hitam panjang sepaha dengan jas berwarna pink.


"Eh Bu Yeri ... selamat pagi, Bu." Imel langsung mengulas senyum, menatap wanita tua di depannya. Kemudian menatap heran Yumna dan memerhatikan wajahnya.


"Pagi," jawab Mami Yeri. "Ayok masuk, ada yang ingin aku bicarakan padamu, Mel."


"Oh mari, Bu ... Silahkan ...." Imel mempersilahkan masuk, juga melebarkan pintu.


Mami Yeri merangkul bahu Yumna dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan sekertaris, kemudian duduk di sofa.


"Ibu mau minum apa? Biar nanti saya panggilkan OB," tawar Imel yang sudah ikut masuk dan menutup pintu ruangannya.


"Nggak perlu," tolak Mami Yeri. "Sekarang, kamu pergi saja ke ruangan HRD. Untuk mengambil formulir pendaftaran model baru, biar si Yumna mengisinya," tambahnya sambil menepuk pelan bahu Yumna.

__ADS_1


"Oh ... jadi Nona ini Nona Yumna?" Imel menatap ke arah Yumna dan memerhatikan kembali wajahnya.


"Iya. Apa kamu sudah mengenalnya?"


"Kemarin ... Nona Yumna kebetulan sempat menghubungi saya, Bu, menanyakan perihal pekerjaan. Dia ingin menjadi model. Tapi saya sudah katakan ... kalau di perusahaan Pak Jonathan sedang tidak menerima model," jelas Imel.


"Benar itu, kamu kemarin menghubungi Imel?" Mami Yeri menatap Yumna, mencoba memastikannya.


"Iya, Tan." Yumna mengangguk. "Tapi aku tetap ingin bekerja di sini. Aku juga nggak suka ditolak."


"Masukkan saja si Yumna jadi model di sini, tambah satu lagi nggak apa-apa, Mel," ujar Mami Yeri yang sekarang menatap Imel.


"Maaf, Bu, tapi model di sini sudah banyak. Dan sudah punya pekerjaannya masing-masing."


"Cuma ditambah satu memangnya nggak bisa, ya? Followers Yumna di media sosial banyak lho, Mel. Pasti perusahaan Joe pun makin maju kalau dia diangkat jadi model," kata Mami Yeri menyanjung. Dia juga mengatakannya dengan sangat yakin.


"Sebentar, Bu, saya konfirmasi dulu kepada Pak Joe ... biar ...." Imel meraih ponselnya di atas meja hendak menghubungi bosnya. Tapi tiba-tiba, Yumna merebut ponselnya. "Lho, Nona, kenapa hape saya diambil?"


"Tante ... lebih baik Kak Joe nggak udah dikasih tau." Yumna berbicara kepada Mami Yeri. "Karena aku tau, pasti dia nggak akan setuju."


"Iya, kamu bener." Mami Yeri mengangguk setuju. "Udah, Mel ... mending begini saja. Kamu pecat salah satu model di sini, dan gantikan dengan Yumna," tambahnya memberikan saran.


"Duh ... Bu, nggak bisa saya, Bu." Imel menggelengkan kepalanya. Dia terlihat tak setuju. "Memecat karyawan yang bekerja di sini bukan kewenangan saya. Semuanya harus dari tangan Pak Joe langsung."


"Ya kalau begitu, udah tambahin aja si Yumna jadi model. Nambah satu doang nggak apa-apa kali, Mel. Nggak usah ribet deh ... ini 'kan perusahaan anakku. Harusnya kamu juga nurut apa kataku!" tegas Mami Yeri yang tampak kesal. Juga tak tega kepada Yumna yang terus merengek kepadanya.


Sementara itu di sekolah SD.


Seluruh murid-murid itu tengah beristirahat di dalam kantin sekolah. Ada yang jajan langsung di sana, ada juga yang membawa bekal.


Atta, Robert, Baim, Juna dan Leon juga ada disalah satu meja di kantin. Tapi mereka membawa bekalnya masing-masing dan hampir setiap harinya begitu.


"Kamu bawa bekal apa, Rob? Apa Bu Syifa bisa masak?" tanya Juna yang duduk di samping Robert.


"Bisa dong. Masa nggak bisa sih?" Robert membuka kotak bekalnya yang berwarna biru, di sana sudah ada nasi, lima potong nugget ayam dan sayur capcay. Semuanya terpisah pada kotaknya masing-masing.


"Itu semua Bu Syifa yang buat?" tanya Baim yang sempat menelan ludah, ketika melihat capcay. Dia memang sangat suka dengan sayuran.


"Nggak tau, Mommy nggak ngomong apa-apa pas naruh ke dalam tas. Apa kamu ingin mencobanya?" tawarnya seraya mendorong kotak bekal itu ke dekat Baim yang duduk di samping kanan.


"Kamu coba dulu, baru aku coba."


"Lho, kenapa memangnya? Takut nggak enak, ya?"

__ADS_1


"Bukan takut nggak enak, tapi kamu yang punya, Rob. Jadi bagusnya ... kamu yang makan dulu."


"Oh gitu. Oke deh." Robert mengangguk cepat, kemudian memegang sumpit dan mulai melahap sayur capcay, dan barulah Baim ikut mencobanya. "Enak, ya?"


"Iya, enak." Baim mengangguk kepala dengan mulut yang mengunyah. "Kayaknya ini buatannya Bu Syifa, Rob."


"Iya." Robert pun melahap nasi ke mulutnya. Dan teman-temannya yang lain ikut makan juga.


"Kamu bekalnya kok mie, sih, Ta, apa nggak bosen?" tanya Leon memerhatikan bekal Atta yang isinya hanya mie goreng.


"Mamaku kalau pagi sering kesiangan. Jadi hanya mie yang keburu," jawab Atta.


"Makan mie terus nggak boleh tau, nanti sakit lambung," tegur Juna.


"Memangnya di rumahmu nggak ada pembantu? Yang sering masak, ya?" tanya Leon.


"Pulang kampung orangnya. Terus nggak ke sini lagi, nggak tau kenapa."


"Makan saja bareng sama aku, Ta." Robert menyodorkan bekal miliknya supaya berada di tengah-tengah meja. Sebab posisi duduknya Atta kebetulan berada di depannya.


"Nggak apa-apa memangnya?" Atta terlihat ragu untuk makan bareng. Sebab merasa tidak enak, meskipun aslinya dia kepengen.


"Nggak apa-apa. Kita 'kan teman."


"Terima kasih ya, Rob." Atta pun langsung menyendokkan nasi dan mengambil nugget untuk dia gigit.


"Sama-sama."


Semuanya pun makan bekalnya masing-masing dengan khusyuk sampai habis tak tersisa. Bekalnya Atta pun sama saja tetap dimakan, cuma bedanya dibagi kepada teman-temannya.


"Oh ya, Jun ...." Robert berkata pada Juna, dan membuat bocah sebayanya itu menatap ke arahnya. "Udah lama kita baru ketemu lagi, ya. Terakhir aku dengar dari Baim ... katanya b*rungmu kejepit resleting celana. Itu beneran nggak sih?"


"Bener." Juna mengangguk-nganggukkan kepala. "Untungnya ... Papiku langsung bawa aku ke rumah sakit. Jadi langsung ditangani dokter. Aku juga baru masuk sekolah hari ini, Rob."


"Oh ... tapi masih utuh nggak b*rungmu itu? Pas di rumah sakit diapain?" tanya Robert penasaran.


"Cuma dijahit sedikit, soalnya ada yang robek."


Robert dan teman-temannya yang lain langsung meringis ngilu, mendengar cerita dari Juna.


"Aku kira kamu disunat lagi, Jun," ucap Atta.


"Ah ngarang aja. Aku 'kan udah sunat, nggak bisa lah kalau dua kali."

__ADS_1


"Awal mula bisa kejepit itu gimana, sih?" tanya Leon yang ikut penasaran. "Dan apa kamu nggak pakai sempaak? Sampai kejepit begitu, Jun?"


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2