
"Permisi, Bu ... assalamualaikum!"
Roni langsung mengetuk pintu rumah Ustad Yunus, setibanya dia di sana.
Karena bingung dan tak mungkin membawa uang itu kembali, akhirnya dia pun memutuskan untuk menemui Uminya Ustad Yunus saja. Dan berniat ingin memberikan uang itu padanya.
Tak lama, pintu rumah itu pun dibuka dan keluarlah Umi Mae dengan memakai mukenah sembari menjawab salam.
"Walaikum salam ...."
"Bu maaf, tolong terima ini, Bu," pinta Roni seraya mengulur tangan, memberikan amplop tersebut.
"Lho ... Apa itu, Pak?" Umi Mae tampak bingung. Sama halnya seperti Ustad Yunus, benda itu juga tak langsung diambil. "Tapi Bapak ini Pak Roni, kan, yang tadi pergi bareng anak saya? Terus anak saya di mana, Pak?" tambahnya seraya menatap mobil Roni yang terparkir di depan halaman rumah.
"Ustad Yunus sudah saya antarkan ke masjid, Bu. Karena beliau yang memintanya," jawab Roni. "Dan tentang ini ...." Dia menunjuk amplop. "Ini ada rezeki dari bos saya, karena Ustad Yunus sudah membantunya tadi. Jadi saya harap ... Ibu menerimanya."
"Tapi kenapa nggak langsung kasih saja ke anak saya, Pak? Kan yang membantu dia, bukan saya." Umi Mae masih terlihat bingung, tapi kali ini amplop itu sudah berpindah ke tangannya.
"Ustad Yunusnya menolak, Bu. Sedangkan bos saya begitu tulus memberikannya. Dan kalau pun uang itu harus dibawa kembali oleh saya ... bisa-bisa saya dipecat."
"Urusannya sama Bapak dipecat apa?"
"Bos saya menyuruh saya, Bu. Untuk memberikan uang itu. Kalau Ustad Yunus nggak mau menerima ... dia bilang mau memecat saya. Jadi saya mohon ... hanya Ibu yang bisa membantu saya sekarang."
"Oh ya sudah. Uang ini saya terima, Pak. Tapi tolong sampaikan rasa terima kasih saya ke bos Bapak, ya?"
Ternyata jauh lebih mudah, ketimbang Ustad Yunus yang selalu menolak.
"Iya, Bu." Roni langsung mengulas senyum dengan mata berbinar. Dia juga sekaligus menghela napas lega. "Terima kasih juga ya, Bu. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Setelah melihat pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumahnya, Umi Mae pun masuk kembali ke dalam rumah. Kemudian menutup pintu.
"Kebiasaan memang si Yunus ini, suka sekali menolak rezeki. Padahal diterima saja 'kan nggak masalah. Lagian rezeki halal dan hitung-hitung buat tabungan dia nikah."
Umi Mae berjalan menuju kamar Ustad Yunus sembari bergumam, lalu membuka salah satu lemari pakaian dan menyelipkan benda itu ke dalam sana.
Dan saat dirinya hendak menutup pintu lemari, tiba-tiba ada selembar foto yang terjatuh menimpa kakinya.
Segera, Umi Mae membungkuk untuk mengambil foto tersebut. Dan setelah membalikkannya, terlihat dengan jelas sebuah foto perempuan cantik berkerudung merah. Yang tengah tersenyum di sana.
__ADS_1
"Lho ... siapa ini? Cantik sekali ...?" Umi Mae sampai tersenyum sumringah memandangi foto tersebut. Kedua pipinya juga ikut merona. "Apa jangan-jangan ini calonnya si Yunus, ya? Eh tapi ... apa nggak kelihatan terlalu muda?"
"Tapi kalau dianya suka dan menerima Yunus ... nggak apalah. Yunus juga 'kan ganteng, meskipun umurnya sudah matang. Semoga saja mereka berjodoh ... amiiin." Terakhir Umi mengusap wajahnya, sebelum akhirnya dia menaruh kembali selembar foto itu dan menutup pintu lemari.
***
Malam hari di rumah sakit.
Ceklek~
Joe perlahan membuka pintu kamar inap Abi mertuanya, kemudian melangkah masuk bersama Syifa dan Robert.
Ketiganya baru saja pulang dari restoran depan, sehabis makan malam.
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam." Umi Maryam dan Abi Hamdan menjawab secara bersamaan. Kali ini suara pria tua itu terdengar jauh lebih lancar dalam berbicara, tidak seperti saat pagi tadi. "Udah makan malamnya? Bagaimana, enak nggak?" tambah Umi Maryam bertanya.
"Enak Oma!" Yang menyahut Robert dengan cepat. Bocah itu juga langsung menghampiri sembari memberikan paper bag di tangannya. "Ini ada makan malam buat Oma dan Opa. Tadi Daddy sekalian minta ditake away."
"Take away itu apa, Nak?"
"Dibungkus maksudnya, Umi," sahut Syifa yang baru saja duduk di sofa bersama Joe.
"Sama-sama Umi." Joe tersenyum.
"Nak ... ayok duduk di sini! Opa ingin bicara denganmu." Abi Hamdan menepuk pelan kasur, diposisi dirinya saat duduk selonjoran.
"Iya, Opa." Robert mengangguk. Umi Maryam pun membantu bocah itu untuk naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Abi Hamdan.
"Alhamdulillah ... Abi sekarang sudah lancar bicara. Semoga saja besok bisa langsung pulang ya, Bi," ucap Joe mendoakan.
"Amin, Jon." Abi Hamdan mengangguk dan tersenyum. Kemudian mengangkat tubuh Robert untuk duduk di atas pangkuannya. "Oh ya, Nak ... kamu suka nggak sama mobil hadiahnya Opa?"
"Yang dapat lomba panjat pinang?"
"Iya."
"Suka." Robert mengangguk. "Kenapa memangnya, Opa?"
"Kalau kamu suka, mobil itu buat kamu saja."
__ADS_1
"Serius?!" Robert sontak membulatkan mata, terkejut mendengarnya. Tapi dia juga berbinar.
"Abi ... Abi ini bicara apa? Kok mobilnya dikasih ke Robert?" tanya Joe yang sama terkejutnya dengan Syifa. Sedangkan Umi Maryam sendiri tidak sama sekali, lantaran sebelum ini dia dan suaminya sudah berdiskusi serta sepakat—jika mobil itu akan diberikan kepada Robert. Yang memang awalnya menginginkan hadiah mobil.
"Nggak apa-apa, Jon. Kan Robert yang dari awal kepengen mobil." Abi Hamdan menatap menantunya.
"Tapi 'kan lomba itu Abi yang menangkan. Lagian Robert juga masih kecil, Bi. Nggak mungkin dia bawa mobil."
"Kan bisa disimpan buat dia besar, Jon."
"Keburu rusak dong, Bi." Joe terkekeh. "Lagian makin tahun model mobil itu banyak. Pasti Robert kepengen mobil yang baru."
"Mobilnya nggak perlu dikasih ke Robert, Bi. Buat Abi saja." Syifa ikut menyahut, dia tampaknya setuju dengan pendapat sang suami. "Abi juga 'kan belum punya mobil selama ini. Kan enak punya mobil, ke mana-mana Abi dan Umi nggak akan kepanasan dan kehujanan."
"Kalau Opa mau ngasihnya ke Robert ... biarin saja, Mom ... Dad! Robert kepengen kok! Robert mau mobil itu jadi milik Robert!" rengek Robert yang terlihat senang, mendapatkan mobil.
"Jangan, Rob!" Joe melarang sembari menggelengkan kepala. "Kalau kamu kepengen mobil, nanti Daddy belikan. Tapi nggak sekarang. Nanti kalau kamu sudah besar dan punya SIM."
"Kalau tunggu besar ya lama dong, Dad." Robert mendengkus. Raut wajahnya pun berubah menjadi sendu.
"Ya nggak apa-apa. Lagian kalau punya sekarang pun kamu nggak bisa memakainya."
"Kan bisa belajar."
"Nggak boleh! Kamu masih kecil!" larang Joe menasehati. "Naik kendaraan itu ada peraturannya, Rob! Memang kamu mau ... dimarahi Om Polisi? Mau ditangkap kamu?"
"Ya sudah ... nanti yang nyetir Om Sandi saja, Dad. Kan bisa, tapi mobil itu mobilnya Robert." Robert memberikan penawaran.
"Enggak! Daddy nggak izinkan!" tegas Joe.
Robert langsung merenggut, lalu memeluk tubuh Abi Hamdan.
"Bener apa yang Robert katakan, Jon. Nanti biar Sandi yang nyetir. Yang penting mobil itu bisa dia pakai." Terlihat Abi memihak kepada sang cucu. Karena memang diawal dia ingin memberikan mobil itu.
"Tetap saja nggak bisa, Bi!"
"Enggak bisanya kenapa?"
"Mobil itu 'kan pakai surat-surat. Yang pasti tertera nama pemiliknya. Si Robert jangankan KTP, kartu pelajar saja dia belum punya. Dia 'kan masih kelas satu SD. Masih ingusan, masih cengeng, masih bau susu. Ditambah belum sunat juga. Ya nggak bisa lah, Bi!" jelas Joe dengan tegas.
"Hiksss ..!!! Daddy tega banggeeeeettttttt ...!!" Mendengar apa yang Joe katakan, Robert pun akhirnya menangis tersedu-sedu. Merasa sedih karena tak mendapatkan izin darinya.
__ADS_1
...Engga tega lah, Cil. Kan kamu memang masih bocil, mana boleh punya mobil. kecuali mobil-mobilan 😂😂...