
Ammar terdiam, sembari memerhatikan wajah anaknya yang terus saja seperti orang memohon padanya.
"Ya, Pa? Papa mau, kan, izinin Atta digundul? Temen-temen Atta mau digundul semua tau, Pa ... kan nggak keren kalau Atta sendirian yang berambut." Atta masih berusaha.
Ammar menghembuskan napasnya, lalu berkata, "Ya udah, iya. Kamu boleh digundul."
Akhirnya dia setuju, lantaran tidak tega.
"Hore!!" Atta langsung berdiri di sofa dan melompat-lompat, karena sangking senang dan puasnya mendengar jawaban Ammar.
"Tapi Papa saja yang gundulin kamu, ya? Nggak usah ke tukang cukur."
"Lho, kenapa memangnya?" Seketika, Atta menghentikan gerakan tubuhnya.
"Papa bisa, Ta. Udah kamu mending ganti baju terus makan, biar nanti langsung Papa gundulin."
"Tapi Papa 'kan bukan tukang cukur. Nanti jelek lagi hasilnya. Atta nggak mau, ah!" tolak Atta dengan gelengan kepala.
"Meskipun Papa bukan tukang cukur, tapi Papa dulunya sering potongin rambut orang. Apalagi gundulin. Udah ahli itu mah." Ammar menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.
"Ah masa sih?"
"Bener. Masa kamu nggak percaya sama Papa?"
"Tapi Papa 'kan nggak punya alat cukur. Gimana coba caranya? Dan Atta juga kepengen... gundulnya itu sampai licin, Pa. Sampai nyamuk pun terpleset saat berdiri diatas kepala Atta." Bocah itu langsung menyentuh kepalanya, sambil membayangkan dirinya yang telah botak.
"Tentang hal itu mah gampang ...," jawab Ammar dengan enteng. "Intinya kamu terima beres aja nanti dan pasti sesuai dengan apa yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Pakai apa dulu buat cukurnya nanti? Nggak pakai pisau dapur, kan?"
"Ya nggaklah. Pakai alat cukur. Nanti Papa pinjem sama Opanya si Juna."
"Masa pinjem sama Opanya si Juna, sih, Pa? Nggak modal amat. Dan belum tentu dia punya."
"Papa sering lihat dia dicukur sama Om Bejo, Ta, diluar."
"Papa yakin bisa buat sampai licin, kan? Kalau nggak licin terus gimana?"
"Pakai amplas nanti. Papa punya banyak amplas di gudang. Dijamin licin deh."
"Amplas itu apa? Dan Papa nggak bohong, kan, bisa beneran nyukur rambut?" Meski begitu, Atta masih saja belum sepenuhnya percaya. Sebab wajah Ammar tidak begitu meyakinkan menurutnya.
"Beneran ya Allah, Ta ... nggak percayaan amat kamu jadi anak." Ammar jadi kesal, sebab lagi-lagi anaknya itu terus saja memberikannya pertanyaan. Ditambah tak mempercayainya. "Kamu mau nurut apa nggak, nih? Jangan sampai Papa berubah pikiran, ya! Dan kamu nggak akan Papa izinkan buat digundul!" tambahnya sedikit mengancam.
"Iya, deh. Atta nurut." Atta menganggukkan kepalanya dengan patuh. Meski belum sepenuhnya percaya, tapi dia akan coba.
***
Berpindah pada Leon.
Bocah itu kini berada dalam satu mobil bersama Daddynya yang bernama Jaccob.
"Kita mau ke mana, Dad? Kok ini seperti bukan arah pulang?"
Leon menatap ke arah kaca mobil, memerhatikan jalan raya yang lalu lalang karena banyaknya kendaraan.
__ADS_1
"Kita mampir dulu ke salon, ya, Sayang. Daddy mau warnain rambut soalnya," jawab Jaccob yang tengah mengemudi.
"Ke salon?" Leon sontak berbinar.
Tentu dia senang. Karena kebetulan dia juga ingin mengunduli rambut. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan—pucuk dicinta, ulan pun tiba.
"Iya."
"Kebetulan banget. Leon juga sekalian mau digundul, ya, Dad?" pintanya langsung.
"Lho, kok digundul?" Jaccob tampak heran. Keningnya mengerenyit.
"Di sekolah ... lagi nge-trend anak-anak yang digundul, Dad. Masa Leon nggak ikutan? Nggak seru dong namanya."
"Oohh gitu. Daddy sih oke-oke aja kamu digundul. Tapi kamu tanya dulu sama Mommymu. Takutnya dia melarang, kan kamu tau sendiri Mommymu kayak gimana kalau dia marah? Jangan sampai nanti Daddy yang kena amukan."
"Oke, siiipp!!"
Rupanya begitu mudah, meminta izin kepada Daddynya. Tinggal kepada Mommynya saja yang bernama Maria.
Sekarang, Leon sedang menunggu respon Mommynya lewat sambungan telepon. Dia menghubungi dari ponselnya sendiri.
"Halo, Sayang," ucap Maria yang baru saja mengangkat panggilan. Suaranya terdengar berat sekali, seperti menahan sesuatu.
"Halo, Mom. Mommy lagi apa?"
"Mommy lagi berak. Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Ih Mommy jorok. Berak sambil ngangkat telepon."
"Nggak apa-apa. Nggak kecium ini baunya sampai sana. Eeeegghh ... jadi ada apa?" tanyanya sambil mengejan.