Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
247. Mencintaimu melebihi apa pun


__ADS_3

"Bi ... aku pamit masuk ke dalam dulu, ya?" ucap Joe lalu menyesap kopinya sedikit dan menaruhnya kembali ke atas meja.


"Iya." Abi Hamdan mengangguk.


Pria tampan bermata sipit itu lantas berdiri dari duduknya, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Di ruang tengah, dia melihat dua bocah berkepala botak tengah duduk bersama di sofa. Sambil makan nasi dan telor ceplok yang dibaluri kecap di atas piring. Keduanya makan begitu lahap sekali.


"Yang ...," panggil Joe kepada istrinya, yang baru saja datang lalu menaruh dua gelas air di atas meja untuk Robert dan Leon. "Aku kepengen makan juga dong, sama telor ceplok. Dikecapin juga. Tapi nggak perlu pakai nasi."


Syifa hanya menatap suaminya dengan kening yang mengerut, tapi dia sepertinya tak ada niat untuk menjawab. 'Bukannya tadi Aa sudah makan, ya? Kok dia kepengen makan lagi?' batinnya heran.


"Tadi makan siangmu kurang ya, Joe?" tanya Umi Maryam yang keluar dari dapur, dengan membawa jemuran baju yang sudah kering di tangannya.


"Iya, Mi, kayaknya." Joe nyengir kuda. "Dan aku sekarang kepengen makan telor ceplok dibuatin Syifa," tambahnya sambil mengusap perut.


Sebetulnya dia memang sudah makan siang tadi, bareng dengan yang lain. Mungkin terkecuali Robert dan Leon yang memang sibuk main.


Tapi alasannya ingin dibuatkan telor ceplok adalah karena supaya Syifa bisa berinteraksi lagi dengannya. Dia berpikir kalau dengan meminta sesuatu, istrinya itu tak lagi mogok bicara.


Kalau pun mereka sedang ada masalah, Joe hanya ingin berdua saja yang tahu. Tanpa membuat orang lain curiga.


"Ya sudah, buatkan sana, Fa. Banyak telur ini di dalam kulkas," titah Umi Maryam menatap anaknya yang kini memasang wajah cemberut.


"Iya, Umi," jawab Syifa kemudian melangkah kembali menuju dapur. Sedangkan Umi Maryam masuk ke dalam kamarnya.


Joe pun berjalan cepat menyusul Syifa, berniat ingin mendekatinya.


"Yang ... jangan marah terus dong. Aku nggak mau Umi dan Abi curiga," pinta Joe setengah berbisik seraya merengkuh pinggang Syifa. Perempuan itu baru saja membuka pintu kulkas hendak mengambil tiga butir telor.


Syifa menarik tangan Joe dengan kasar, lalu mendorong tubuhnya dengan bokong. Supaya pria itu menjauh darinya.


Namun, apa yang dilakukannya justru membuat tongkat sang suami terbangun. Padahal niat Syifa bukan untuk membangunkannya.


"Duh ... Yang, tongkat bisbolku jadi bangun. Mana dari semalam nggak jadi muntah lagi dia." Joe mendekati istrinya yang kini berada di depan kompor. Tapi dia sedikit menjaga jarak, karena takut. Bisa-bisa nanti Syifa mengucurinya minyak panas kepadanya. Namanya orang sedang marah pasti bisa berbuat diluar akal sehat. "Nanti malam kita bercinta ya, Yang, dikamar tamu saja tapi ... setelah Robert tidur. Biar aman."

__ADS_1


'Otaknya isinya bercinta mulu. Heran deh.' Syifa memutar bola matanya dengan jengah.


"Kamu mau pakai gaya apa? Helikopter, ya? Kamu suka 'kan dengan gaya helikopter? Oh ... apa mau gaya baru? Aku masih punya koleksi, Yang."


'Ah biarkan saja deh dia mau ngomong apa. Bodo amat.' Syifa mengacuhkan Joe dan sibuk pada wajannya.


"Aku minta maaf ya, Yang." Joe kali ini menyentuh tangan Syifa. Tapi hanya sebentar, sebab dirinya langsung melepaskan karena perempuan itu seperti hendak mengangkat telur ceplok yang sudah matang. "Kita hanya tinggal tunggu kabar dari Sandi kok. Dia pasti bisa secepatnya menemukan pelakunya. Nanti sekalian dua laki-laki itu dibawa ke dukun juga."


'Ngapain dibawa ke dukun segala?' Syifa ingin bertanya hal itu. Tapi rasanya malas dan akhirnya dia memilih diam sambil mematikan kompor.


Tiga telor ceplok itu akhirnya sudah tersaji di atas piring. Syifa membuatnya setengah matang karena kata Bibi di rumah Joe—pria itu suka telur yang setengah matang.


"Mau makan di mana?" tanya Syifa dengan ketus lalu mengucuri kecap di atas piring.


Mendengar istrinya berbicara, Joe langsung membulatkan matanya. Kaget sekaligus senang mendengarnya.


"Aku mau makan di belakang rumah saja sayangku, cintaku, cantikku lope-lope." Joe mengambil piring tersebut, lalu mengecup bibir Syifa secara paksa sebab perempuan itu sempat menghindar. "Terima kasih, Sayang ... aku mencintaimu melebihi apa pun," tambahnya kemudian menuju pintu belakang rumah. Dia membukanya dan keluar dari sana.


"Ngapain dia makan di dekat kandang kambing? Apa nggak bau?" Syifa benar-benar merasa tak habis pikir dengan tingkah Joe yang memang sangatlah konyol. "Ah bodo amat deh. Yang penting aku udah buatin telor buat dia." Syifa mendesaah pelan, lalu pergi meninggalkan dapur.


Sama halnya dengan Abi Hamdan, Papi Yohan juga sudah dibolehkan pulang oleh dokternya hari ini.


Sekarang, dia dan sang istri tengah berbincang di ruang keluarga.


Semalam saat berada di rumah sakit, Papi Yohan sudah mengutarakan tentang niatnya yang ingin masuk Islam. Ah ralat, maksudnya ingin mengenal Islam terlebih dahulu. Kalau dia mantap akan lanjut, kalau tidak akan mundur.


Papi Yohan juga sudah mengajak Mami Soora untuk ikut dengannya. Dan ternyata setelah dibujuk, wanita itu langsung menyetujui. Toh, apa yang mereka lakukan bukan paksaan. Jadi tidak masalah menurutnya.


"Menurut Mami ... kita perlu ngajak Yumna nggak, biar ikut mempelajari Islam?" tanya Papi Yohan.


"Harusnya diajak, Pi. Kan Yumna anak kita satu-satunya."


"Kira-kira mau nggak, ya, dia. Papi agak ragu dan sebenarnya males juga ngomongnya. Dia terlalu bawel anaknya, Mi."


"Mami juga males, Pi, bicara sama Yumna. Tapi mau gimana, walau bagaimanapun dia 'kan anak kita. Kasihan."

__ADS_1


"Mi ... Pi, aku pergi dulu, ya?" Yumna tiba-tiba datang menghampiri mereka, berniat ingin pamit pergi.


Dia juga terlihat begitu rapih sekali dengan menggenakan stelan jas berwarna pink dan tas selempang di bahunya. Berwarna hitam.


"Mau pergi ke mana panas-panas begini, Yum?" tanya Mami Soora.


"Bos ngajakin meeting para modelnya, Mi, satu jam lagi. Karena takut macet jadi aku berangkat sekarang."


"Bos?" Kening Papi Yohan tampak mengerenyit. "Katanya kamu udah nggak kerja di kantornya Joe, Yum. Kok sekarang mau meeting?"


"Aku udah kerja di kantor lain, Pi. Jadi model juga sama."


"Oh ... siapa pemiliknya?"


"Pak Hermawan."


"Oh ... Papi kenal dia, Yum. Tapi kamu duduk sebentar bisa nggak? Ada yang mau Papi bicarakan." Papi Yohan menunjuk kursi single di sampingnya.


"Bicara apa sih, Pi? Kalau enggak penting males, ah," tolak Yumna yang tak mau duduk.


"Ih duduk dulu, Yum!" perintah Papi Yohan sedikit memaksa. "Nggak boleh bicara begitu sama orang tua. Kalau disuruh ya langsung nurut dong."


"Iya, iya." Yumna mendengkus, dan akhirnya dia duduk.


"Papi dan Mami udah sepakat ... kalau kami ingin mengenal Islam, Yum. Dan Papi ingin mengajakmu supaya ikut."


"APA?!" Yumna memekik dengan keterkejutannya, kedua bola matanya membulat sempurna. "Papi gila, ya? Yang benar saja, Pi!"


"Papi nggak gila. Papi bicara serius. Tanya Mami kalau nggak percaya."


Yumna langsung menatap ke arah Mami Soora, dan perempuan berambut pendek berwarna biru itu mengangguk. "Tapi kenapa? Apa kalian selama ini nggak yakin dengan Tuhan Yesus? Bukannya Papi dan Mami rajin pergi ke gereja, ya?"


Yumna benar-benar tak habis pikir. Sebab memang apa yang dia katakan ada benarnya. Dia justru orang yang jarang sekali pergi ke gereja, tapi dia masih percaya dengan Tuhan Yesus. Sedangkan orang tuanya yang rajin hampir setiap Minggunya justru ingin pergi meninggalkan Tuhannya.


Aneh dan terdengar konyol sekali dalam pikirnya.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2