Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
145. Kok nyebelin?


__ADS_3

"Pak Haji!" seru seseorang yang baru saja memanggil dan menghampiri.


Pak Haji Samsung yang tengah mengobrol dengan anak-anak itu langsung menoleh, dan ternyata yang memanggilnya adalah seorang wanita paruh baya yang memakai daster. Dilihat dari wajahnya, dia seperti seumuran dengan istrinya.


Namun, matanya tampak merah dan sembab. Wajahnya juga sangat muram, seperti ada beban yang tengah dia tanggung.


"Ya?" sahutnya, lantas berbalik badan untuk menghadap ke arahnya.


"Pak Haji, boleh nggak saya pinjam uang 10 juta? Untuk biaya lahiran anak saya yang belum dibayar di rumah sakit. Saya benar-benar nggak punya uang, Pak Haji," pintanya memohon dengan kedua tangan yang sudah menangkup di depan dada.


"Enak saja pinjam uang, memang kamu pikir aku koperasi?" ketusnya sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Dibungain juga nggak apa-apa Pak Haji, saya bersedia. Saya sangat membutuhkan—"


"Pa, dibantu saja Ibunya," potong Bu Hajah Dijah yang baru saja menghampiri, kemudian mendekat ke telinga kanan suaminya seraya berbisik, "Kita bisa memanfaatkannya, Pa, supaya dia mau menolong kita. Lagian meminjamkan uang 'kan kita nggak akan dapat rugi, malah berpahala. Apalagi dikasih bunga, itu bonus buat kita."


Bujukan dari istrinya itu seolah sebagai rayuan setan yang terkutuk, tapi anehnya—Pak Haji Samsul justru setuju. Dia menganggukkan kepala.


"Oke, aku akan meminjamkanmu uang." Jawaban darinya seketika membuat wanita berdaster itu membinarkan kedua matanya. "Tapi ada syaratnya,* tambahnya kemudian.


"Apa syaratnya, Pak Haji?" tanyanya penasaran.


"Kamu ikut aku, biar nanti aku jelaskan dan langsung kuberikan uang," ajaknya yang kemudian melangkah pergi, Bu Hajah Dijah pun mengikutinya.

__ADS_1


Pak Haji Samsul akan mengajak ibu berdaster itu masuk ke dalam mobilnya, untuk memberitahukan semua rencana busuknya.


Karena kalau mengatakannya secara langsung di lapangan, dia takut kalau sampai ada yang tak sengaja mendengar. Ini tentu rahasia, dan reputasinya akan semakin hancur jika semua orang tahu.


***


Joe, Syifa, Robert dan Sandi sudah tiba di Jakarta pukul 21.00.


Sekarang, mereka berempat berada disalah satu mobil taksi yang mengarah menuju rumah Abi Hamdan.


"Aa ... kok kita pulangnya ke rumah Abi? Aa memangnya nggak jadi, ya, ngajak aku tinggal bersama di rumah Aa?" tanya Syifa yang duduk disebelah Joe, sambil mengelus Robert yang saat ini tertidur di atas pangkuannya.


"Jadi," jawab Joe yang sibuk dengan ponselnya. Dia melihat beberapa email yang masuk dari Imel—sekertarisnya.


"Tapi kenapa pulangnya justru ke rumah Abi?" Syifa menatap sedikit kesal kepada sang suami, sebab memang sejak dalam perjalanan pulang pria itu selalu sibuk dengan gadgetnya.


"Oh ...." Syifa menganggukkan kepalanya, lalu menghela napas.


"Pak, saya sudah dapat info dari pihak ekspedisi, kalau hewan kurban kita udah tiba di Indonesia," ucap Sandi memberitahu. Pria itu ada dikursi depan, di samping sopir taksi.


"Kalau udah datang hari ini, terus disembelihnya kapan, San?" Joe mengalihkan pandangannya untuk menatap Sandi di depannya.


"Besok, Pak. Kan besok hari raya kurbannya."

__ADS_1


"Ya ampun ... ternyata besok? Aku cuma puasa sehari, itu pun nggak tau ... diterima apa nggak sama Allah." Raut wajah Joe tampak sedih. Bukan dia tidak senang hari raya itu telah datang, tapi kecewa saja pada dirinya sendiri sebab melewatkan puasa. Karena lupa dengan semua masalah yang ada.


"Insya Allah diterima, Pak, asalkan niat," jawab Sandi sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak, meskipun cuma puasa sehari. Tahun depan Bapak bisa puasa lagi. Banyak juga lho, orang diluar sana ... yang nggak pernah puasa Zulhijjah. Ya memang nggak wajib, sih ... cuma sebagai umat muslim nggak ada salahnya kita puasa Sunnah. Toh ... dapat pahala juga," tambahnya menerangkan.


"Iya. Semoga saja diterima, ya, San."


"Amiiinnn ...."


*


*


"Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illa Allah wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil-hamd."


Suara takbir dengan tabuhan gendang berkumandang di masjid, setibanya mereka di halaman rumah Abi Hamdan.


Masjid itu juga terlihat ramai sekali, banyak beberapa orang yang berdatangan. Baik Ibu-ibu, Bapak-bapak atau anak-anak sekalipun. Dan mereka hampir semua memakai baju muslim.


"Kok rame ... di masjid, ada apa, ya, San?" tanya Joe kepada Sandi, saat baru saja turun dari mobil sambil menggendong Robert. Dia juga sekalian membayarkan ongkos taksi.


"Oh itu paling ada pengajian atau ceramah, A. Kalau malam takbiran memang suka ada." Yang menjawab Syifa, dia juga ikut turun dari mobil taksi.


"Oh ... boleh nggak, ya, aku ikut hadir. Tapi aku nggak bisa ceramah sama ngaji, San?" Joe kembali bertanya pada Sandi yang sudah melangkah bersamanya sambil mendorong koper menuju teras rumah Abi Hamdan. Agak menyebalkan juga menurut Syifa, padahal jelas-jelas dia tadi yang menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


'Kenapa dengan Aa? Kok nyebelin? Kan aku yang jawab, tapi justru dia nanya baliknya ke Pak Sandi?' batin Syifa sambil mendengkus kesal. Lantas melangkah di belakang dua pria tersebut dengan bibir yang mengerucut.


...Diinget-inget, punya salah apa nggak kamu ke suamimu, Fa?🤣...


__ADS_2