Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
215. Boy


__ADS_3

"Tidak kembar Pak, Bu. Tapi dia terlihat sehat," jelas Dokter itu.


Mendengar itu, Syifa langsung menatap kepada kedua mertuanya dengan harap-harap cemas, lantaran takut jika mereka kecewa.


"Papi, Mami, maafkan—"


"Puji Tuhan, Pi!" Mami Yeri langsung menyeru sambil melompat memeluk suaminya, dan akhirnya Papi Paul pun melakukan hal yang sama. "Cucu kita ternyata perempuan!"


"Iya, Mi! Tapi sayangnya dia nggak kembar." Ada raut kekecewaan yang tergambar jelas diwajah Papi Paul, dan Syifa yang melihatnya seketika menjadi sedih.


"Nggak apa-apa nggak kembar juga, yang penting dia sehat, Pi." Joe berucap demikian, dan seolah mengerti akan perasaan istrinya. "Dia juga perempuan, seperti apa yang Papi dan Mami harapkan."


"Iya, Pi, nggak apa-apa." Mami Yeri menimpali. "Yang penting 'kan dia perempuan, dan pastinya akan cantik seperti Mami. Iya, kan?"


"Kalau itu pasti, Mi." Papi Paul mengangguk dan mengulas senyum, lalu menatap ke arah Syifa.


'Syukurlah ... mereka nggak kecewa. Terima kasih ya Allah, karena dia sehat di dalam sana. Semoga aku bisa melewati proses ini dengan sempurna. Seperti ibu-ibu hebat diluar sana,' batin Syifa penuh harap.


"Berapa usia kandungan istriku sekarang, Dok?" tanya Joe sembari mengelus pipi kanan istrinya disertai kecupan lembut.


"Sudah masuk 16 Minggu, Pak," jawab Dokter itu, lalu menatap ke arah Syifa sambil tersenyum. "Tetap jaga kesehatan ya, Bu Syifa. Sering lah datang untuk kontrol, biar Ibu dan keluarga tahu bagaimana perkembangan bayi Anda."


Syifa mengangguk. "Iya, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama. Hasil pemeriksaan ini cukup di sini, ya, Bu." Dokter itu membereskan pakaian Syifa dari dalam selimut, lalu memberikan foto hasil USG tersebut ke tangan Joe. "Itu fotonya, Pak. Tolong disim ...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, tapi foto tersebut sudah berpindah tangan karena ulah Papi Paul.


"Fotonya biar Papi saja yang simpan, Joe," pintanya sambil mencium foto.


"Ih. Mami juga kepengen, Pi!" Mami Yeri langsung merebutnya kembali.


"Dih, Mi! Foto mah biar Papi saja yang simpen!" Papi Paul mengambilnya kembali.


"Mami aja!"


"Papi!"

__ADS_1


"Mami!"


"Papi!"


"Mami, Pi!!"


"Papi aja, Mi!!"


Keduanya saling berebutan dan menarik-narik benda tersebut, sampai pada akhirnya foto itu robek menjadi dua.


Joe langsung mengusap kasar wajahnya. Kesal dengan tingkah orang tuanya. Padahal cuma foto, tapi bisa-bisanya sampai tak ada yang mengalah. "Kalian ini bener-bener! Jadi robek, kan?!" omelnya dengan dada bergemuruh.


"Biar nggak ribut, saya cetak fotonya jadi tiga deh, ya, biar suami dan kedua mertua punya," ujar Dokter.


"Memangnya bisa ya, Dok?" tanya Syifa. Berbeda dengan Joe yang sudah mulai berapi-api, dia sendiri jauh lebih tenang dan mulai menyesuaikan diri dengan tingkah mertuanya.


"Kalau memang dibutuhkan bisa, Bu."


Dokter itu terlihat begitu pengertian sekali, sampai-sampai memberikan tiga lembar hasil USG tersebut. Saat mendapatkan foto kedua, Papi Paul pun langsung menyunggingkan senyuman yang merekah dan tampak begitu senang.


"Pengertian banget Dokter ini, terima kasih, Dok," ucap Papi Paul. Buru-buru dia mengambil dompetnya di dalam kantong belakang celana, lalu menciumnya terlebih dahulu dan barulah dia sematkan ke dalam sana. 'Si Botak Hamdan kayaknya bakal merana nih, karena do'aku yang ingin punya cucu perempuan sudah terkabul duluan, dibandingkan dirinya yang ingin cucu laki-laki. Kasihan deh ... pasti rambutnya akan makin susah buat tumbuh,' batinnya sambil tersenyum puas.


Dia bahkan sudah menaruh benda tersebut ke dalam muka bening ponselnya, supaya ketika bermain ponsel seluruh dunia akan tahu jika dia punya cucu baru dan berjenis kelamin perempuan.


"Pamer apaan, Mi?" tanya Papi Paul.


"Pamer kalau Mami punya cucu perempuan. Mereka 'kan sejak dulu sering tanya jenis kelaminnya apa, jadi Mami bocorkan sekarang." Mami Yeri melompat-lompat dan langsung memeluk tubuh suaminya lagi.


Terlihat sangat lebay memang, tapi begitulah mereka.


***


Sekitar jam 1 siang seusai sholat Zuhur dan membaca Al-Qur'an, Ustad Yunus pun pergi ke salah satu restoran yang berada di Jakarta.


Hari ini dia ada janji ketemuan dengan Naya, dan gadis itu mengatakan kalau dia ingin bertemu di sana sekalian makan siang.

__ADS_1


"Aku udah rapih belum, sih? Dan apakah aku wangi?" Lewat kaca depan di dalam mobil, Ustad Yunus sibuk membereskan rambut sambil memerhatikan wajah dan penampilannya.


Dia tidak memakai peci saat ini, hanya memakai kemeja pendek berwarna hijau tosca dan celana jeans berwarna hitam.


Terlihat rapih dan tampan, selain itu Ustad Yunus juga sudah mandi dua kali hari ini, sesudah mengaji tadi. Karena sempat berkeringat dan dia jadi tidak pede, takut nantinya bau. Karena dia juga tipe pria yang selalu menjaga penampilannya untuk tetap wangi.


"Mau ke mana kamu?!"


Baru saja kedua kaki Ustad Yunus hendak menuju pintu kaca restoran, tapi tiba-tiba ada seorang perempuan yang mencekal tangannya. Sehingga membuat pria itu menghentikan langkah sembari menoleh.


"Nona ... kenapa—"


"Mau ngapain kamu ada di sini? Sengaja, ya?" tuduh perempuan itu yang ternyata adalah Yumna.


"Sengaja?" Kening Ustad Yunus seketika mengerut, dia tampak bingung dengan apa yang Yumna katakan. "Maksudnya?"


"Enggak usah berpura-pura. Sekarang jelaskan apa tujuanmu datang ke restoran ini? Pasti ingin menemui Papiku, kan?" tuduhnya sambil melotot.


"Papi? Lho ... saya ada janjian sama teman saya, Nona."


Ustad Yunus menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Papinya Yumna. Tapi perempuan itu justru menangkup kedua pipinya, supaya Ustad Yunus menghentikan apa yang dia lakukan.


"Cari siapa? Bohong, kan, kamu?"


"Ya ampun, Nona!" Ustad Yunus langsung menepis tangan perempuan itu, tapi entah mengapa kedua pipinya sudah memerah sekarang. "Kita belum muhrim, Nona nggak boleh pegang-pegang saya."


"Cih!" Yumna berdecih sebal lalu mengusap telapak tangannya. "Siapa juga yang mau pegang-pegang kamu. Sekarang mending kamu pergi deh dari sini, aku nggak mau kalau sampai kamu ketemu Papiku!" teriaknya mengusir.


"Memangnya Papi Nona ada di mana? Dan restoran ini memangnya punya Nona, sampai-sampai Nona berani mengusir saya?"


"Kamu nggak perlu tau Papi ada di mana! Dan terserah aku mau mengusirmu atau nggak!" tegas Yumna yang terlihat kekeh. Dia juga kembali memegang lengan kanan Ustad Yunus, karena khawatir pria itu masuk ke dalam restoran.


"Tapi Nona nggak boleh begitu sama saya. Ini restoran umum, jadi Nona nggak berhak mengusir saya."


"Aku nggak peduli! Lagian kamu juga nggak akan mampu—"

__ADS_1


"Yumna, kamu sama siapa?" sergah seseorang yang baru saja datang, dan langsung membuat atensi kedua orang itu perpindah ke arahnya. Yumna juga tampak membulatkan mata. "Siapa namamu, Boy?" tanyanya dengan tangan yang terulur kepada Ustad Yunus.


...Pasti Ustad sekarang merasa muda, karena ada yang manggil Boy 😄...


__ADS_2