Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
73. Aku mau susulin Aa


__ADS_3

"Enggak, sih, Bi, cuma aku takut saja." Syifa menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya mendadak menjadi sendu.


"Ya kenapa musti takut, kecuali kalau dia main perempuan, baru takut," sahut Abi Hamdan sok bijak. Padahal sebelumnya tadi dia ikut mencurigai menantunya.


"Masalahnya ... Aa lemburnya sama perempuan, Bi, sekertarisnya. Bagaimana bisa aku nggak khawatir coba?"


"Sekertaris?!" Kening Abi Hamdan tampak mengerut. "Abi baru dengar, mandor punya sekertaris, Fa. Hebat amat." Bukannya kembali terkejut dengan sekertaris Joe yang berjenis kelamin perempuan, Abi Hamdan malah heran dengan hal lain.


"Dih, siapa yang jadi mandor, Bi?"


"Ya si Jojon."


"Aa kerjanya jadi CEO, bukan mandor."


Lagi-lagi, Abi Hamdan masih saja percaya dengan tebakannya sendiri. Tentang profesi menantunya. Padahal sudah jelas, waktu itu Sandi mengatakan jika Joe bekerja menjadi CEO pada perusahaannya sendiri.


"Dan CEO itu memang punya sekertaris, Bi," tambah Syifa memberitahu.


Setelah minuman untuk Robert sudah jadi, Syifa pun berlalu pergi dari dapur. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tapi Abi Hamdan justru mengikuti dan ikut masuk juga. Sebab menurutnya, pembasahannya tadi belum selesai. Dan dia masih penasaran dengan Joe.


"Pasti es susu coklat buatan Mommy enak, nih!" Robert terlihat berbinar melihat Syifa membawa minuman di hadapannya, segera dia pun meraihnya. "Terima kasih Mommy yang cantik."


"Sama-sama, Sayang," jawab Syifa. Dan anaknya itu langsung menenggakkan minuman tersebut penuh semangat. "Pelan-pelan minumnya, Nak, nanti tersendak," tegurnya seraya mengelus puncak rambut anaknya, lalu duduk di samping Robert. Di atas kasur.


"Syifa, memangnya sekertarisnya si Jojon itu seperti apa? Masih muda atau sudah tua?" tanya Abi Hamdan yang kembali membahas masalah tadi. Dan menurutnya, jika sekertarisnya tua pasti sang menantu tak akan mungkin tergoda.


"Aku nggak tau." Syifa menggelengkan kepalanya. "Tapi Aa bilang dia belum menikah, Bi."


"Kok Mommy dan Opa nanya-nanya sekertarisnya Daddy? Kenapa memangnya?" Robert mengusap bibirnya sisa es, lalu memberikan gelas kosong ke tangan Syifa.


"Itu, Mommymu takut jika Daddy berseling—"


"Enggak kenapa-kenapa, Nak." Syifa dengan cepat menyela ucapan Abi Hamdan, lalu menatapnya. Matanya pun langsung berkedil beberapa kali. Seolah memberikan kode.


Dia tak mau, jika Abinya itu mengatakan hal-hal yang menurutnya tidak pantas diketahui oleh anak seumuran Robert.

__ADS_1


"Mommy hanya penasaran saja, sama sekertarisnya Daddymu. Katanya dia perempuan, ya?" tambah Syifa bertanya.


"Iya. Perempuan." Robert mengangguk cepat.


"Apa masih muda, Rob?" Abi Hamdan langsung menyerbu pertanyaan, sebab takut diserobot oleh Syifa.


"Kalau sama Robert sih masih mudaan Robert, Opa," jawab Robert sambil terkekeh. Dia mengajak bercanda.


"Kalau sama Mommymu gimana??" Abi Hamdan menyentuh bahu kanan Syifa. Sang cucu langsung memerhatikan wajah Syifa dan tersenyum.


"Kayaknya sih sama," jawab Robert yang terlihat ragu.


"Cantikan mana sekertaris Daddymu jika dibanding dengan Mommymu?"


"Ya cantikkan Mommy lah ...." Robert merentangkan tangannya dengan terbuka, lalu segera memeluk tubuh Syifa dan menghirup aroma tubuhnya yang wangi.


Saat ini perempuan itu memakai baju tidur lengan panjang. Bermotif bunga-bunga berwarna merah.


"Abi harusnya jangan tanya begitu, Bi," protes Syifa yang terlihat tak setuju dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Abinya tadi.


"Lho, kenapa? Memangnya salah?" Abi Hamdan tampak bingung.


"Kan Robert udah bilang tadi, masih cantikan Mommy."


"Iya, Mommy tau. Tapi menurutmu sendiri, sekertaris Daddymu itu cantik nggak, Sayang?"


"Cantik. Tapi Robert nggak suka sama penampilannya."


"Memangnya, kenapa dengan penampilannya?" tanya Syifa kembali.


"Terlalu terbuka, Mom. Dia selalu memakai rok mini, juga baju yang ketat. Robert nggak suka lihatnya."


Mendengar itu, perasaan takut Syifa kian bertambah. Dan sekarang menjadi sebuah kegelisahan yang mulai tak terbendung.


'Ini sangat berbahaya. Bisa saja nanti Aa tergoda karena tubuh sekertarisnya, lalu dia berselingkuh di belakangku,' batin Syifa.

__ADS_1


Dia pun langsung berdiri sembari mengendong Robert, lalu menarik tangan Abi Hamdan dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Abi harus mengantarku dan Robert, kita harus pergi, Bi!" pinta Syifa dengan wajah cemas. Keringat di wajahnya pun kini bermunculan.


"Pergi ke mana, Fa?" tanya Abi Hamdan bingung. Bahkan anaknya itu sudah menariknya hingga keluar dari rumah dan berdiri di teras. "Sebentar lagi juga mau Magrib. Kita nggak boleh pergi-pergi."


"Tapi aku mau susulin Aa, Bi. Aku takut nantinya sekertarisnya itu menggoda Aa, terus Aa terbuai dan akhirnya berselingkuh!" seru Syifa yang sudah tak karuan. Wajahnya pun menjadi pucat pasi.


"Berselingkuh itu apa, Mom?" tanya Robert bingung.


"Ya sudah, ayok kita pergi." Melihat kegelisahan diwajah sang anak, Abi Hamdan menjadi tidak tega. Dan akhirnya menyetujui. "Sekarang kamu masuk lagi ke kamar untuk memakai jaket dan pakaikan juga Robert jaket. Terus ambil helm dikamar Abi, karena kita perginya naik motor saja, ya?" Abi Hamdan menepuk jok motor bebeknya yang terasa alot itu. Kebetulan kuda besinya itu masih terparkir pada halaman rumah.


"Kok naik motor? Terus Robertnya gimana?" Syifa tampak tak setuju. Selain itu di rumahnya hanya ada dua helm. Pasti Robert tak kebagian untuk memakainya.


"Robert diajak. Pasti dia tau tempat kerja Joe. Iya, kan, Nak?" Abi Hamdan mengelus dagu cucunya. Robert pun mengangguk cepat.


"Iya, Opa. Tapi berselingkuh itu apa, sih?" tanya Robert kembali yang terlihat sangat penasaran.


"Helmnya gimana, Bi? Kan cuma ada dua?" tanya Syifa. Lagi-lagi pertanyaan Robert tak ada yang menjawab.


"Helm untuk Robert nanti saja sekalian dijalan kita mampir ke rumah Pak RT. Abi akan pinjam helm anaknya," usul Abi Hamdan.


"Oh ya sudah ... tunggu sebentar, Bi!" Syifa dengan semangatnya langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan membawa Robert yang dia gendong.


Hanya dalam waktu semenit, dia pun sudah kembali dengan memakai jaket dan helm. Sedangkan Robert jaket dan sepatu sekolah.


Mereka bertiga akhirnya naik bersama dalam satu motor, dan Robert ditengah. Setelah Abi Hamdan memakai helm, dia pun melajukan motornya. Berlalu dari rumahnya.


Lima menit setelah kepergian mereka, Umi Maryam yang keluar dari kamar mandi di dapur sehabis buang hajat dibuat heran. Sebab suasana rumahnya itu mendadak menjadi sunyi sepi.


"Lho, pada ke mana semua orang?" Umi Maryam melongok ke dalam kamar Syifa yang pintunya kebetulan terbuka. Keningnya tampak mengernyit sebab dia tak mendapati anak dan cucunya berada di sana.


Merasa penasaran, akhirnya Umi Maryam memutuskan keluar rumah. Dan pintu utama rumahnya juga kebetulan terbuka dengan lebar.


"Lho, bukannya motor Abi tadi ada di sini, ya? Kok sekarang nggak ada?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Yah ... kasihan deh Umi, nggak diajak 🤣...


__ADS_2