
"Kalian bertiga keren!!" Robert langsung bertepuk tangan dan berlari dengan cerianya menuju meja makan. Tapi dia memilih untuk memeluk tubuh Joe, karena baginya—dari ketiga pria botak di sana yang lebih menawan adalah Daddynya sendiri. "Kok bisa, sih, Dad ... Opa Paul dan Opa Hamdan ikut digundul? Robert 'kan jadi iri ... jadi kepengen digundul juga."
"Jangan dong, Sayang." Yang menyahuti Mami Yeri. "Cukup Daddy dan kedua Opamu saja. Tapi kamu jangan."
"Kenapa memangnya, Oma? Kok jangan?"
"Nanti kamu diledekin temen-temenmu. Lagian kamu juga nggak malu apa, digundul?"
"Nak ... pindah ke sini." Syifa menunjuk kursi kosong yang berada di samping posisi dia duduk. "Ayok duduk dekat Mommy, biar Mommy bisa suapi kamu."
"Iya, Mom." Robert mengangguk. Setelah merelai pelukannya dari Joe dia lantas berlari menghampiri Syifa untuk duduk di dekatnya. "Robert nggak malu kok, Oma, kalau digundul. Lagian biar Robert juga samaan. Masa hanya Opa-Opa saja yang ikutan digundul, terus Robert nggak?" Dia menjawab ucapan Mami Yeri tadi.
"Rob ... udah nggak perlu minta yang aneh-aneh." Joe menegur. Dia juga merasa tak habis pikir dengan anaknya. Bisa-bisanya bocah itu kepengen digundul—sedangkan Joe sendiri dari awal tak ingin digundul. "Kamu nggak perlu ikut digundul."
"Ih nggak mau, Dad! Pokoknya habis pulang sekolah ... Robert kepengen digundul. Kalau nggak digundul, Robert nggak mau sekolah ah!" tukasnya dengan bibir mengerucut.
Joe hanya menghela napas, lalu mulai melahap nasi goreng di piringnya.
Memang hari ini, Joe sengaja mengundang mertuanya untuk makan bersama di rumah, dengan orang tuanya juga tentunya.
Ya hitung-hitung menjalin silaturahmi, dan semoga saja dengan begini—hubungan antar sesama besan itu terjalin lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu ini ada-ada saja, ya, Rob ...." Papi Paul yang sedang makan justru terkekeh, mendengar permintaan lucu cucunya. "Orang dimana-mana itu nggak ada yang mau digundul. Ini kamu kok mau digundul, sih?"
"Ya suruh siapa Opa dan Opa Hamdan ikut digundul? Kan Robert jadi iri. Masa cuma Robert di sini ... laki-laki yang berambut?" Robert memerhatikan kepala botak kedua Opa-Opanya yang terlihat begitu licin, mirip seperti kepala Joe.
"Kami digundul hanya sekadar menemani Daddymu, Nak," ucap Abi Hamdan seraya menatap cucunya. "Biar Daddymu ada teman sesama gundul, gitu."
"Ya udah, Robert juga ikutan kalau begitu dan kalian harus setuju! Titik!" tegas Robert. Dia pun membuka mulutnya lebar-lebar, ketika Syifa baru saja menyuapinya sesendok nasi goreng.
"Ya sudah, Joe, turuti saja," ucap Papi Paul yang terlihat sudah luluh.
__ADS_1
"Lho, kok dituruti?" Joe mengerutkan keningnya dengan bingung. "Bukannya kemarin Papi nggak mau, ya, kalau aku sampai menggunduli Robert? Kok sekarang malah dukung?"
"Kemarin sih iya, Papi nggak mau. Karena Papi sendiri nggak gundul, Joe. Tapi karena Papi sekarang sudah terlanjur gundul ... jadi biarkan saja Robert ikutan. Kayaknya seru, kalau kita gundul bersama dan foto keluarga."
"Wah ....ide yang bagus itu, Pi!" Syifa menyeru dan terlihat senang. Kapan lagi coba mereka bisa foto keluarga bareng dan tentunya dengan suasana tentram begini.
"Tapi lebih bagus lagi kita semua musti copelan, Opa," sahut Robert dengan mulut yang penuh
"Iya, bener banget, Sayang." Papi Paul menimpali. "Setelah sarapan ... nanti Opa akan telepon asisten Opa untuk bawa baju copelan untuk kita semua. Terus kita fotonya di depan rumah, ya? Buat kenang-kenangan."
"Setuju!!" Robert bersorak dengan riang gembira. Sedangkan Joe sendiri hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala.
*
*
*
Tepat jam 10, mereka pun sudah bersiap akan melakukan sesi foto keluarga di halaman rumah mewah Joe.
Selain mengundang seorang fotografer profesional, Papi Paul juga menyewa jasa dekorasi untuk memperindah tampilan fotonya nanti. Tidak lupa dengan tim makeup artis.
Tema mereka adalah 'Seputih Cinta Keluarga Gundul' Jadi semuanya memakai pakaian serba putih.
Joe, Robert dan Abi Hamdan memakai stelan jas. Sedangkan Umi Maryam, Syifa dan Mami Yeri memakai dress panjang. Hanya bedanya Mami Yeri tidak memakai hijab.
"Mommy ... Robert ganteng nggak, sih, gundul begini?" tanya Robert yang berdiri di depan cermin, sambil memerhatikan wajah dan juga kepala botaknya.
Dia telah dicukur dan menjadi licin sekarang, oleh tangan Tirta yang kembali diundang untuk datang beberapa jam yang lalu.
"Ganteng. Malah jadi tambah lucu," jawab Syifa sambil mencium kepala botak anaknya. "Tapi kamu yakin ... percaya diri dengan penampilan gundul seperti ini, Nak? Apa kamu nggak takut dibully, sama teman-temanmu di sekolah?"
__ADS_1
Sejujurnya Syifa mendukung saja, setiap apa pun yang Robert inginkan asalkan itu adalah hal baik. Tapi entah mengapa dalam hal ini rasanya ada sedikit kekhawatiran, mengingat Joe juga sempat dibully oleh orang-orang karena melihatnya botak.
"Ngapain takut. Kan cuma gundul. Lagian ... meskipun gundul juga nggak akan mengurangi ketampanan Robert. Iya, kan, Mom?" Robert terlihat cukup percaya diri sekali. Bahkan sejak tadi dia tak pernah lepas untuk berhenti tersenyum, karena sangking senangnya.
"Kamu benar, Sayang." Syifa langsung memeluk tubuh anaknya dari belakang, kemudian mengusap dagunya dengan lembut.
"Yang ... ayok!" ajak Joe yang berdiri di ambang pintu. Sambil memerhatikan anak dan istrinya dari pantulan cermin. "Semuanya sudah siap. Kita tinggal foto."
"Iya, A." Syifa mengangguk. Dia pun mengandeng tangan anaknya, kemudian mengajaknya melangkah keluar bersama dari kamar dan menuju halaman rumah.
Posisi barisan fotonya adalah; Papi Paul, Mami Yeri, Syifa, Joe, Abi Hamdan dan Umi Maryam. Sedangkan Robert sendiri berada di depan, ditengah-tengah antara kedua orang tuanya.
"Oke siap. Mari senyum ... satu ... dua ... ti ...." Seorang fotografer mulai memberikan aba-aba untuk melakukan pemotretannya.
Semua orang disana tampak tersenyum manis dengan dengan deretan gigi putihnya. Apalagi Robert, malah senyumannya yang paling lebar di sini.
Keluarga si Gundul itu benar-benar tampak bahagia sekali.
Cekrek!
Cekrek!
Dua foto berhasil dipotret dengan sempurna, tentu dengan dua gaya yang berbeda sesuai perintah dari sang fotografer.
"Ini rumah Kak, Joe, kan?"
Yumna baru saja turun dari mobil taksi yang berhenti di depan pagar besi rumah Joe. Tangannya memegangi ponsel yang menunjukkan sebuah map.
Namun, dia tampak heran karena memerhatikan beberapa orang dari kejauhan itu yang sibuk berpose untuk gaya foto berikutnya.
"Salah alamat nggak sih, aku? Kok itu ada yang foto keluarga? Mana kepalanya pada botak-botak, ditambah silau lagi." Mata Yumna sampai memicing, saat sinar matahari di pagi hari itu memantul pada kepala Joe. Sehingga membuat sorotan matanya pun menjadi silau.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^