
"Selamat pagi anak-anak. Kelihatan ceria sekali kalian semua," ucap Syifa yang menyapa dengan menggunakan mic.
Dia berdiri ditengah-tengah lapangan bersama Gisel yang menjadi rekan hostnya. Dia seorang guru TK.
"Selamat pagi juga, Bu!!" Seluruh murid-murid sekaligus wali orang tua menyahut. Mereka semua ada disisi lapangan, sedang duduk di kursinya masing-masing.
Ketiga juri juga ada di depan mereka, masing-masing duduk dengan satu meja besar.
"Berhubung murid-murid di sekolah banyak, jadi lomba agustusan dibagi menjadi beberapa kloter seperti biasa," ucap Gisel sambil menatap kertas di tangannya, juga memberikan dua lembar kertas yang lain kepada Syifa untuk ikut membacanya.
"Untuk keloter yang pertama, khusus anak TK dari A dan B. Dibagi menjadi dua regu, lomba pertama adalah makan kerupuk lalu ...."
Sementara dua host itu menjelaskan mengenai lomba, Robert yang kini bersama Joe, Mami Yeri dan Papi Paul justru terlihat sibuk menatap sekitar. Seperti mencari seseorang.
"Kamu cari siapa, Sayang?" tanya Mami Yeri sambil menyuapi Robert biskuit susu.
"Opa Hamdan dan Oma Maryam ke mana, Oma? Kok nggak ke sini? Kan Robert minta tadi pagi sama Daddy ... suruh mereka ikut lihat Robert lomba." Rasanya Robert ingin, Opa Hamdan ikut menyaksikan dan menjadi suporternya. Tentu itu akan membuatnya makin bersemangat dalam melakukan lomba.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang. Tunggu saja," jawab Mami Yeri dengan lembut disertai senyuman manis.
"Oma jadi bayar orang buat suporter, kan?"
"Jadi dong, Sayang." Mami Yeri mengangguk. Baru saja dibahas, suporter sewaan itu kini telah datang dengan menunggangi dua mobil sedan dan turun bersama-sama. Jumlahnya ada 8 orang, pria dan wanita dan mereka adalah karyawan pabrik Joe. Masing-masing dari mereka memegang spanduk yang bertuliskan nama Robert, Joe, Mami Yeri dan Papi Paul. Tersemat tulisan 'semangat' juga. "Itu mereka, Sayang," tunhuknya kemudian.
"Bagus itu, Oma." Robert tersenyum manis dan terlihat senang. Sekarang tinggal menunggu kehadiran Abi Hamdan dan Umi Maryam. 'Pasti mereka masih dijalan. Semoga pas lombanya dimulai ... mereka sudah datang,' batin Robert penuh harap.
"Pi ... aku kepengen kerupuk dong!" pinta Joe kepada Papi Paul.
Melihat anak-anak TK itu sedang melaksanakan lomba makan kerupuk, entah mengapa dia jadi menginginkannya.
"Kamu mau ikut lomba makan kerupuk?" tanya Papi Paul yang duduk di sebelah Joe.
"Enggak." Pria tampan bermata sipit itu menggeleng.
"Terus?"
__ADS_1
"Tapi aku mau kerupuknya."
"Mana boleh, itu 'kan buat lomba."
"Minta satu doang mah nggak apa-apa kali, Pi. Orang banyak." Joe menunjuk ke arah meja di samping juri, dan di atas sana ada sebuah plastik putih besar berisikan beberapa kerupuk bulat berwarna putih. "Ayok ke sana ambil, Pi. Kalau diminta bayar ya Papi belikan saja untuk aku satu."
"Ah kamu ini. Masa kepengen kerupuk sih, Joe?" Papi Paul terlihat kesal, dan enggan menuruti permintaan anaknya.
"Ya orang pengen gimana? Masa Papi nggak mau nuruti kemauanku? Apa nggak sayang, ya, sama aku? Aku begini 'kan karena cucu Papi juga." Joe terlihat merajuk, bibirnya sudah mengerucut.
"Nggak jelas emang kamu tuh. Yang hamil Syifa tapi yang lebay kamu! Aneh!" Papi Paul menggerutu kesal, tapi akhirnya dia menuruti permintaan Joe.
Dia pergi menuju meja kerupuk itu, berniat meminta kerupuk pada panitia lomba.
"Oke ... lomba makan kerupuk dan membawa kelereng dengan sendok sudah selesai ya, anak-anak," ucap Syifa saat dua lomba itu telah usai dan juri sudah mencatat siapa-siapa yang menjadi juara satu, dua dan tiga.
"Sekarang perpindah pada kloter ke dua, yaitu untuk kelas satu dan dua. Bagi yang merasa sudah daftar sama Bu Syifa ... kalian bisa langsung ke lapangan. Lomba pertama adalah balap karung," ucap Gisel.
"Tuh ... Rob! Sekarang giliran kamu, Sayang!" seru Joe menyemangati anaknya. Tapi bocah itu justru terlihat tak bersemangat, berbeda saat upacara bendera tadi.
"Robert! Robert! Robert!"
"Semangat! Semangat! Semangat!"
"Kamu pasti bisa! Bisa!"
"Juara satu! Juara satu!"
"Hadiah mobil! Hadiah mobil!"
"Opa Hamdan sama Oma Maryam belum datang, Opa," jawab Robert dengan cemberut, lalu menatap ke arah Joe.
"Daddy udah telepon Opa kok, Rob, tadi pagi. Dan dia bilang mau datang," kata Joe, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Berniat akan menghubungi mertuanya lagi. "Sekarang kamu ke lapangan saja dulu. Biar Daddy telepon lagi, tanya mereka ada di mana."
"Robert! Sayang! Ayok ke mari, Nak!" Syifa sudah memanggil anaknya. Sebab hanya Robert lah peserta yang belum ada dilapangan. Sedangkan beberapa anak yang lain sudah siap dengan memakai karung.
__ADS_1
"Tuh ... Mommy udah panggil. Cepet, sana! Kamu pasti juara, Sayang!" seru Papi Paul menyemangati, dan Mami Yeri sudah menarik tangan cucunya untuk ikut bersamanya. Dia akan mengantarkannya ke lapangan.
"Ayok pakai karung, Nak. Dan lompatlah yang cepat biar menang," ucap Syifa sambil tersenyum. Kemudian membantu anaknya untuk memakai karung.
"Do'ain Robert biar menang, ya, Mom," pinta Robert. Dan entah mengapa, jantungnya sekarang menjadi berdebar lebih kencang. Mungkin pengaruh akan dimulainya lomba.
"Kamu pasti menang, Sayang. Mangkanya semangat lompatnya." Syifa mengusap kepala botak anaknya, lalu melangkah ke depan untuk melihat beberapa barisan.
Robert tepat berada diujung nomor dua, di samping Baim. Lalu Leon, Juna, Atta dan beberapa anak yang lain.
"Kali ini pasti aku menang lagi, seperti tahun kemarin!" seru Juna dengan semangat membara. Memang dia sudah menjadi langganan juara agustusan, setiap tahunnya di sekolah.
"Enggak, Jun! Kali ini aku yang menang!" balas Atta. "Aku udah latihan lompat-lompat dari kemarin."
"Aku juga udah latihan kemarin, mana dibimbing sama guru lagi," sahut Robert.
"Siapa gurumu, Rob?" tanya Baim yang sudah mulai pemanasan dengan beberapa lompatan kecil.
"Opa Hamdan."
"Oke anak-anak. Sudah siap ya, kalian?" tanya Gisel.
"Siap, Bu!" Sorak mereka semua dengan ramai.
"Satu kali balikan ya, anak-anak. Pertama kalian lompat sampai ke ujung sana. Patokannya tiang bendera." Gisel menunjuk ke arah yang dimaksud, sambil memberikan instruksi supaya beberapa bocah itu paham. "Terus balik lagi ke sini, dan siapa yang cepat dia bisa dipastikan akan jadi juara."
"Dari kelas satu, juara dibagi menjadi tiga. Satu, dua dan tiga. Begitu pun dengan kelas dua. Jadi masing-masing kalian ada kesempatan menjadi juara," ungkap Syifa menambahkan. "Ibu akan hitung dari sekarang, dan bersiaplah kalian."
Seluruh anak-anak yang beranggotakan 10 kelas satu dan 10 kelas dua itu sudah berancang-ancang sembari memegang karung. Bersiap-siap mendengar instruksi selanjutnya.
"Bismillah ... lompatlah yang cepat dan jangan ...." Ucapan Syifa seketika menggantung, kala ada tangan anaknya yang memegang lengannya.
"Aduh, Mom." Robert terlihat meringis, sambil menyentuh perut bagian bawahnya.
"Kenapa kamu, Nak?" tanya Syifa penasaran.
__ADS_1
...Alamat gugur sebelum lomba ini mah๐ ๐ ...