Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
211. Makan bareng


__ADS_3

"Iya, Pi." Mami Yeri menyahut dengan anggukan kepala. "Mana Mami lagi diet, Mami 'kan lagi hindari makan malam."


*


*


*


Beberapa menit kemudian, mobil milik Joe pun akhirnya berhenti tepat di depan rumah Ustad Yunus.


Alasan Sandi berhenti di sana karena memang ada pedagang nasi goreng, yang selalu mangkal setiap harinya. Jarak rumah Ustad Yunus dan rumahnya pun lumayan dekat.


"Kenapa berhenti di sini, San? Dan rumah siapa ini?" tanya Papi Paul dengan heran, sebab rumah di depannya itu tampak asing.


"Itu rumah Om Yunus, Pak. Ayok turun, Pak," ajak Sandi yang sudah melepaskan sabuk pengaman, lalu turun lebih dulu.


Papi Paul, Abi Hamdan, Mami Yeri dan Umi Maryam yang menggendong Robert pun turun berbarengan dari mobil. Kemudian tak lama, sebuah mobil hitam yang ditunggangi oleh Joe dan Syifa tiba. Dan mereka pun ikut turun juga.


"Apa sudah siap, Pakde, nasi gorengnya?" tanya Sandi pada seorang pria paruh baya yang sibuk dengan wajannya. Ada dua orang juga di sana, pria dan wanita yang sepertinya tengah mengantre nasi goreng.


"Ini tinggal satu lagi, San. Habis ini Bapak akan buatkan," jawab pedagang itu.


"Joe ... sebenarnya kita mau ngapain sih ke rumahnya Ustad Yunus? Dan itu Sandi lagi ngapain?" tanya Papi Paul yang terlihat kebingungan. Dia memerhatikan Sandi dengan kening yang mengerenyit.


"Lho, kan aku udah ngomong mau ngajak Papi makan enak."


"Makan enak kok di rumah orang?"


"Mungkin si Jojon mau numpang makan nasi gorengnya di rumah Ustad Yunus, Pak," tebak Abi Hamdan yang menimpali.


"Nasi goreng?" Papi Paul makin bingung dibuatnya.


"Yang benar saja kamu, Joe!" Mami Yeri bersuara dan terdengar begitu nyaring. "Jadi kamu mau ngajak kita semua makan nasi goreng? Dari pedagang itu?" tambahnya sambil menunjuk apa yang dia maksud dengan tatapan tak menyangka.


"Iya." Joe mengangguk cepat dengan wajah ceria. "Aku kepengen kita bareng-bareng dan makannya langsung diwajan penggorengan, Mi."


"Astaga Joe!" Papi Paul langsung tepok jidat. "Yang benar saja! Udah makan nasi goreng pedagang kaki lima, ditambah makannya di wajannya langsung lagi! Kamu mau buat kita semua keracunan, ya?!"

__ADS_1


"Masa keracunan? Aneh deh Papi ini."


"Lihat saja penampakannya, Joe!" Papi Paul menunjuk gerobak nasi goreng itu dengan tatapan jijik. "Pasti nggak higienis, kelihatan banget joroknya!"


"Papi nggak boleh ngomong gitu, Pi." Syifa menegur Papi mertuanya, tentu dengan suara lembut. "Aku sama Abi sering beli kok sama Pakde penjual nasi goreng ini. Dan buktinya kami sehat. Selain itu rasanya juga enak."


"Syifa bener, Pak." Abi Hamdan ikut menimpali. Dan selain Joe, dia juga orang yang begitu antusias sekali untuk makan bersama. Sebab perutnya memang lapar. "Nasi gorengnya enak. Tapi kalau dibandingkan nasi goreng istriku, sih ... lebih enak buatan istriku," tambahnya sambil menaik turunkan alis matanya menatap Umi Maryam yang sejak tadi masih menggendong Robert. Bocah itu bahkan terlihat masih terlelap tidur.


"Mau enak atau nggak juga Papi nggak peduli, Fa!" Papi Paul malah marah-marah. "Intinya makanan itu nggak higenis dan pasti kotor!"


"Udah deh, Pi, nggak usah ngomongin tentang higienis. Nggak usah sok bersih juga." Joe terlihat mulai mendidih emosinya. Kesal rasanya melihat tingkah Papinya itu. Sebab yang dia mau, pria itu cukup menurut saja supaya mereka bisa segera makan bareng.


"Lha, memangnya apa yang Papi katakan salah, ya? Kebersihan 'kan yang utama, Joe. Kalau enak itu nomor dua," sangkal Papi Paul.


"Aku tau. Tapi Papi sendiri pernah makan makanan yang udah jatuh ke lantai, terus dipungut lagi. Alasannya belum ada lima menit. Itu artinya apa? Apakah higienis?"


"Ya beda konsep lah, Joe."


"Beda konsep gimana? Orang sama. Namanya makanan yang udah jatuh itu apalagi di lantai 'kan sama aja kotor dan udah nggak higienis, Pi!" tegas Joe.


"Lantai rumah Papi bersih, Joe. Jangan sembarangan kamu kalau ngomong. Tetap aja nggak—"


Pria paruh baya di samping Sandi sudah membawa nasi goreng penuh sewajan. Benda itu kemudian dibawa menuju teras rumah, yang sudah ada tikar terhampar di bawah sana.


Adanya tikar di sana tentu dari inisiatif Sandi, yang meminjam tikar milik neneknya untuk dipakai malam ini.


"Wih ... kayaknya enak nih." Joe sudah menelan salivanya dengan mata berbinar. Uap masakan yang mengepul itu benar-benar membuat perutnya semakin keroncong. Segera, dia pun menuju ke sana sambil menarik tangan Syifa, lalu duduk lesehan bersama. "Ayok cepat berkumpul ke sini. Kita makan bareng," tambahnya mengajak.


"Sebelum makan, Abi mau numpang ke kamar mandi dulu, ya, Jon. Abi pengen kencing dan ambil wudhu," ucap Abi Hamdan, lalu menatap Sandi. "Boleh 'kan, San, aku numpang ke kamar mandi? Dan apakah ada Ustad Yunus di dalam?" Dia pun menunjuk pintu depan rumah yang tertutup rapat sejak tadi.


"Mau makan kok wudhu segala, Bi?" tanya Joe heran.


"Nggak apa-apa, Jon."


Abi Hamdan tentu ingat, kalau dia habis bercinta tadi dan belum ke kamar mandi. itulah alasannya dia ingin menumpang ke kamar mandi.


"Umi sendiri mau sekalian ke kamar mandi nggak? Buat kencing sama ambil wudhu?" tanyanya kepada sang istri.

__ADS_1


"Umi tadi udah di rumah, Bi," jawab Umi Maryam.


"Ayok saya antar, Tad. Saya juga sekalian mau membawakan air minum untuk kalian." Sandi melangkah maju menuju pintu, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil sebuah kunci.


"Memang rumahnya kosong, ya, San? Di mana Ustad Yunus dan Uminya?"


"Om Yunus tidur di masjid, Tad. Kalau Nenek Mae lagi nginap di rumahku."


Setelah pintu rumah itu berhasil dibuka, Sandi pun lantas mengajak Abi Hamdan masuk ke dalam sana.


"Pak ... buatkan sepiring nasi goreng lagi buat Sandi, ya!" pinta Joe kepada sang pedagang nasi. Tidak enak rasanya, jika melihat Sandi tak ikut makan, sedangkan yang lainnya makan.


"Baik, Pak." Pedagang nasi goreng itu mengangguk, kemudian menuju gerobaknya lagi.


*


*


Beberapa menit kemudian, mereka semua akhirnya duduk lesehan bersama dengan posisi membentuk lingkaran dan wajan nasi goreng lah yang berada di tengah-tengah.


Sandi sendiri tidak ikut, dia duduk pada bangku di samping gerobak nasi goreng. Dan rencananya akan makan di sana saja. Sebab tikarnya pun sepertinya tak akan muat, jika ditambah dengan dirinya.


Di samping wajan nasi goreng sudah ada sebuah toples yang berisikan kerupuk emping, teko air beserta beberapa gelasnya dan semua orang yang duduk lesehan itu masing-masing memegang sendok.


"Ayok kita makan sekarang dan jangan lupa baca do'a," ajak Joe kemudian mulai menyendokkan nasi goreng di atas wajan.


"Robert gimana, Joe? Dia masih tidur."


Ucapan Umi Maryam menghentikan gerakan tangan Joe. Dan memang benar apa yang dia katakan, Robert masih tidur dalam pangkuannya sekarang.


"Biar aku yang bangunin, Mi," ucap Joe. Tangannya pun terulur ke arah anaknya, lalu mengusap kelapa botaknya sembari menepuk-nepuk pipinya secara bolak balik. "Robert Sayang ... ayok kita—"


"Enggak usah dibangunin, Joe. Kasihan dia," sela Mami Yeri yang juga menahan tangan anaknya untuk menghentikan gerakan.


"Iya. Daritadi Papi lihat Robert tidur terus dan kelihatan nyenyak." Papi Paul menimpali.


"Nggak apa-apa, Mi, Pi." Joe tampak kekeh. Dia pun menarik tangan Maminya, untuk melepaskan lengannya. "Robert harus bangun, nggak apa-apa sebentar juga. Dia harus ikut makan, nanti kalau nggak ikut makan besok dia bisa marah karena dikira nggak diajak," tambah Joe, kemudian menepuk-nepuk lengan anaknya sambil mengguncangnya. "Robert ... bangun, Sayang. Ayok kita makan nasi goreng bareng, sebelum kamu kehabisan."

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2