Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
98. Demi Papi dan Mami


__ADS_3

"Kamu nggak usah ngaco deh, Rob." Joe berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Kapan memangnya kita lewat pintu kemana saja? Perasaan—"


"Kalian sudah bangun ternyata," sela Mami Yeri yang tiba-tiba sudah ada di depan mereka. Sontak membuka kedua laki-laki berbeda generasi itu tersentak kaget. "Ayok turun, kita sarapan bareng," ajaknya kemudian melangkah menuju lift.


"Mami! Kok bisa ... kita ada di Korea?" tanya Joe yang berlari, Robert juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua masuk ke dalam lift menghampiri Mami Yeri, sebelum pintu lift itu tertutup.


"Lho, kan memang kalian sudah Mami ajak ke Korea awalnya. Masa lupa?" Mami Yeri bertanya balik dengan santainya, lalu bersedekap.


"Tapi kok seperti ajaib? Bisa tau-tau sudah ada di Korea, Mi?" tanya Joe lagi.


"Oma ketemu Doraemon, ya?" tanya Robert yang masih membahas salah satu tokoh kartun itu.


"Kamu ini bicara apa, sih, Rob?" Mami Yeri terkekeh, lalu mengusap lembut dagu cucunya. "Kalian kemarin itu 'kan ketiduran di lantai, pas Oma mau ajak pergi. Dan karena nggak mau menganggu tidur kalian ... Oma jadi langsung membawa kalian dalam keadaan tidur," tambahnya berbohong.


"Ketiduran?" Joe dan Robert berucap secara bersamaan, dan mereka pun lantas terdiam mencoba mengingat-ingat.


"Perasaan ... Robert nggak ketiduran deh, Dad." Robert menoleh ke arah Joe, menatapnya dengan bingung.


"Malah yang Daddy ingat ... kemarin itu kamu tiba-tiba pingsan, Rob. Terus saat Daddy ingin ...." Joe terdiam sebentar, menjeda ucapannya. Kembali dia mengingat dan sontak kedua matanya itu membulat sempurna. "Pas Daddy ingin membantumu, Daddy justru ikut pingsan entah kenapa. Posisinya pas kita selesai ganti baju, benarkan?"


"Oh iya, Dad!" Robert menyeru saat mengingatnya. Meskipun dia sendiri tak benar-benar ingat jika dirinya pingsan, tapi setidaknya dia ingat saat dimana dirinya telah berganti pakaian karena menuruti ucapan Joe. "Yang Robert ingat, kita mau keluar dari pintu kamar buat ngomong sama Oma ... kalau mau mengajak Mommy juga untuk pergi ke Korea, terus ke sananya Robert nggak inget lagi, Dad."


"Iya, itu benar." Joe menganggukkan kepalanya. "Tapi kenapa, ya, kita bisa pingsan dan tau-tau sudah ada di Korea?"


"Kalian ini nggak denger yang Oma katakan rupanya," cicit Mami Yeri sambil menghela napas. "Kan udah Oma kasih tau, kalau kalian itu ketiduran di lantai. Terus karena nggak mau menganggu tidur kalian ... Oma berinisiatif ingin langsung membawa kalian ke sini."


Ting~


Pintu lift itu seketika terbuka saat sudah sampai lantai dasar. Ketiganya pun lantas keluar bersama-sama kemudian menuju meja makan yang sudah ada menu sarapan di atas sana.


"Harusnya, Mami bangunkan saja kami, kalau memang kami beneran tidur. Aku sama Robert tadinya nggak mau ikut ke Korea, Mi, kalau nggak ngajak Syifa," kata Joe yang baru saja duduk di kursi meja makan, diikuti Robert dan Mami Yeri.


"Jadi beneran, Mommy Syifa nggak Oma ajak?" tanya Robert, raut wajahnya pun seketika menjadi sendu. "Kasihan sekali. Pasti Mommy sedih, apalagi Robert belum minta izin padanya kalau mau pergi ke Korea."


"Ngapain minta izin segala? Dia 'kan cuma Mommy tirimu, Rob. Lagian ... kamu pergi juga bukan sama orang lain. Tapi sama Omamu dan Daddymu." Mami Yeri menggerutu. Terlihat dia tampak kesal, tapi tangannya langsung menuangkan segelas air untuk Robert, dan menaruhnya di dekat mangkuk bubur abon.

__ADS_1


"Mommy Syifa itu Mommy baru Robert, bukan Mommy tiri, Oma!" bantah Robert yang tampak tak suka dengan apa yang Mami Yeri katakan.


Memang dia jauh lebih suka menyebut kata 'Mommy baru' ketimbang 'Mommy tiri' sebab kata 'tiri' indentik dengan sesuatu yang jahat menurutnya.


"Apa pun sebutannya, tapi maknanya tetap sama," jawab Mami Yeri dengan nada judes.


"Mi ... ada apa sebenarnya?" tanya Joe dengan tatapan serius. Dia merasa ada yang janggal, dari perkataan Maminya. Sebab tak biasanya, Mami Yeri berbicara jutek saat membahas tentang Syifa.


Mami Yeri menatap dingin ke arah Joe, lalu menurunkan pandangan pada semangkuk bubur abon yang berada di depan Joe. "Sarapan dulu, kalian dari kemarin malam belum makan. Habis itu ... kamu dan Mami harus bicara."


"Sebelum makan, Robert ingin telepon Mommy dulu, Oma. Bisa Robert pinjam hape? Sekalian Robert mau tanya kalau dia udah sarapan atau belum."


"Oma nggak pegang hape, Sayang," jawab Mami Yeri sambil menatap cucunya. "Sarapan dulu saja. Baru telepon, ya?" rayunya yang langsung menyendokkan bubur ke bibir Robert.


Bocah itu segera membuka mulut, lalu melahapnya. Mami Yeri terlihat senang sekali, dia tersenyum. Sebab cucunya itu tak rewel ternyata, tidak memaksa untuk menelepon Syifa terlebih dahulu supaya dia mau makan.


'Aku sangat yakin kalau sudah terbiasa ... Robert nggak akan ingat sama Syifa lagi,' batin Mami Yeri. Diam-diam Joe masih memerhatikan, sambil menenggak segelas susu putih hangat.


'Ada yang nggak beres pasti, aku yakin. Ditambah hapeku juga entah ada di mana, dari kemarin,' batin Joe, lalu merogoh kantong celananya yang tak menemukan apa-apa di sana. Tidak hanya tak ada hape, tapi dompet pun tidak ada.


Padahal, kedua benda tersebut selalu ada di dalam sana meskipun dia dalam keadaan tidur sekalipun. Dan saat diingat-ingat, ketidakadaannya berawal saat dirinya sampai di rumah orang tuanya. Posisi bangun sehabis pingsan.


"Iya, Sayang." Mami Yeri mengangguk. "Lagi diisi daya juga."


"Habis makan Robert kepengen video call aja deh, sama Mommy. Sekalian juga nanti Oma suruh orang buat jemput Mommy, ya?"


"Jemput Mommy? Mau ngapain?" tanya Mami Yeri yang tampak bingung.


"Kok mau ngapain? Ya biar Mommy ke sinilah, Oma. Ajak juga sekalian Opa Hamdan dan Oma Maryam, pasti mereka senang."


"Oh ... kalau tentang itu biar Oma nanti ngomong sama Opamu, ya, kebetulan Opa juga masih ada di Indonesia."


"Iya." Robert mengangguk dengan senang. Berbeda dengan Joe yang sudah curiga dengan sikap Mami Yeri, Robert justru terlihat biasa-biasa saja dan berpikir positif untuk mempercayai apa yang Omanya itu katakan.


*

__ADS_1


*


"Ini hapenya, Sayang." Mami Yeri memberikan ponselnya ke tangan Robert. Bocah yang tengah duduk di sofa dalam keadaan sudah mandi itu langsung mengambilnya.


"Nama kontaknya siapa, Oma?" tanya Robert yang sudah mengetik-ngetik layar benda pipih itu, merasa sudah tak sabar ingin menghubungi Syifa.


"Menantu baru," jawab Mami Yeri, lalu menyentuh pundak kiri cucunya. "Tapi kamu diam di sini dulu, ya, jangan ke mana-mana dan jangan ganggu Oma dan Daddymu dulu. Karena kami ingin mengobrol masalah penting." Melirik ke arah Joe, yang sejak tadi berdiri di samping anaknya. Pria itu juga terlihat segar dan wangi sekali, sehabis mandi.


"Iya, Oma." Robert mengangguk semangat. Kemudian mengklik ikon panggilan video yang tertera pada ponsel, untuk melakukan video call dengan Syifa.


"Ikut Mami, Joe," ajak Mami Yeri kepada anaknya, lantas melangkah lebih dulu menuju sebuah ruangan tertutup yang letaknya tak jauh dari ruang keluarga.


Persis seperti sebuah kamar, tapi itu adalah sebuah ruang karaoke dan bioskop mini yang memang khusus dibuat untuk karaokean atau menonton film layar lebar pribadi.


Banyak sekali beberapa sofa dengan bentuk yang aneh pula. Selain memang untuk tempat hiburan dan santai, ruangan itu juga selalu dijadikan tempat favorit untuk Mami Yeri dan Papi Paul bercinta. Maka tak heran dengan beberapa bentuk sofanya.


Setelah melihat Joe duduk disalah satu sofa di sana, Mami Yeri pun langsung menutup pintu serta menguncinya. Dan perlahan, dia pun melangkah menghampiri anaknya, lalu duduk di sampingnya.


"Apa kamu masih sayang sama Mami dan Papi, Joe?" tanya Mami Yeri seraya menyentuh punggung tangan Joe.


Pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibirnya itu seketika membuat kening Joe mengernyit. Sebab merasa heran.


"Kok Mami nanya kayak gitu? Ya pasti aku sayang kalian lah, kalian 'kan orang tuaku," jawab Joe apa adanya.


"Kalau sayang, apa kalau Mami minta sesuatu ... kamu akan menurutinya?"


"Minta sesuatu apa memangnya?" Joe berbalik tanya.


"Ceraikan Syifa demi Mami dan Papi."


Jder!!


Bak sebuah petir yang menyambar, dada Joe seketika sesak saat mendengarnya. Kedua matanya itu terlihat membulat sempurna.


"Cerai?!"

__ADS_1


...----------------...


...Hari Senin, nih, jangan lupa kasih vote dan giftnya ya, Guys, biar Authornya semangat up🙂...


__ADS_2