Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
239. Sampai jadi mertuamu


__ADS_3

"Tapi, Boy, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Maksudnya, kenapa kamu mengira itu sebuah petunjuk dari Tuhanmu? Sedangkan Pak Pendeta sendiri ngomong kalau itu mahkluk jahat?" Papi Yohan terlihat kebingungan.


"Semua orang memiliki pemikiran dan prinsip yang berbeda-beda, Om. Sama halnya seperti saya, Om dan Pak Pendeta. Tapi apa yang dialami Om ini sama persis dengan bos dari keponakan saya."


"Bos dari keponakanmu?" Kening Papi Yohan mengerenyit. "Jadi, dia juga diganggu sama mahkluk halus, Boy?"


Ustad Yunus mengangguk. "Iya, Om. Dia juga terus diminta untuk membaca Al-Qur'an, sedangkan dia umat Kristen Protestan kalau nggak salah."


"Terus sekarang, dia masih diganggu nggak, Boy? Dan apakah dia sempat kecelakaan juga, seperti apa yang Om alami?"


"Kalau kecelakaan sih enggak Om. Soalnya kalau dia, Al-Qur'an yang diberikan Kakek itu nggak sengaja diambil. Karena awalnya dia nggak tau, isi dari plastik hitam yang Kakek itu berikan," jawabnya, lalu melanjutkan. "Tapi sejauh ini ... saya enggak dengar lagi masalah dia yang diganggu kakek itu. Setiap menghubungi paling dia tanya masalah doa-doa yang dia nggak ngerti. Udah itu saja."


"Tapi dia nggak jadi mualaf 'kan, Boy?"


"Jadi, Om." Ustad Yunus mengangguk. "Malah dia sudah jadi orang Islam dan sudah menikah dengan wanita muslim. Kebetulan juga ... Abi mertuanya seorang Ustad, dan saya mengenalnya. Karena dia juga tetangga sekaligus orang yang cukup dekat dengan saya, Om."


"Apa kamu punya nomornya, Boy?"


"Nomor bosnya keponakan saya, Om?"


"Iya."


"Coba telepon dia, Boy. Tanyakan apakah kakek itu masih menganggunya atau nggak. Om ingin tau," pintanya penasaran.


"Sebentar, Om." Ustad Yunus pun merogoh kantong celana jeansnya untuk mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi Joe via panggilan WA karena kebetulan dia juga sedang online sekarang.


"Jonathan?" Melihat nama pada layar ponselnya Ustad Yunus, Papi Yohan pun jadi heran. Sebab namanya begitu familiar.


"Halo, assalamualaikum Pak Joe. Apa saya menganggu Bapak?" tanya Ustad Yunus saat panggilan itu berhasil diangkat oleh seberang sana.


"Walaikum salam. Enggak kok Ustad. Tapi ada apa, ya?" Suara Joe terdengar nyaring, karena Ustad Yunus sendiri sudah menglospeakernya.


"Ini ... ada seseorang yang ingin bicara dengan Bapak." Ustad Yunus pun melirik ke arah Papi Yohan dan pria tua itu langsung tersenyum. "Dia juga mengalami hal yang sama, seperti apa yang dialami Bapak sebelum Bapak memeluk Islam."

__ADS_1


"Maksudnya gimana, Tad?" Joe seperti tak mengerti. "Oh ... apa dia juga kebakaran bulu, sampai akhirnya disunat?" tebaknya kemudian..


"Bukan, Pak. Ini bukan tentang bulu, tapi tentang bertemu Kakek-kakek tua itu. Yang pernah Bapak ceritakan."


"Ooohh ... iya, iya."


"Halo, Joe," ucap Papi Yohan. "Apa kamu Jonathan anaknya Paulus yang botak itu?" tambahnya menebak, karena dia sendiri sudah yakin—jika Jonathan yang berada dalam sambungan telepon itu adalah orang yang sama dengan orang yang Papi Yohan kenal.


"Iya. Tapi Bapak siapa?" tanya Joe.


"Ini Om Yohan, Joe."


'Om Yohan kenal sama Pak Joe?' batin Ustad Yunus heran. Namun seketika, dia pun teringat saat melihat Mami Yeri yang sempat ada ketika Papi Yohan kecelakaan. Pasti itu berarti, mereka memang saling mengenal. 'Oh iya, Bu Yeri juga sempat ada pas Om Yohan kecelakaan. Dan bareng Nona Yumna juga. Jadi Om Yohan juga pasti kenal sama Pak Joe.'


"Om Yohan siapa?" tanya Joe.


"Ya ampun Joe ... kamu belum setua Om kali. Om aja ingat kamu, tapi masa kamu nggak ingat Om?" Papi Yohan mendengkus kesal.


"Beneran, Om, aku memang nggak ingat. Karena nama Yohan yang aku kenal cukup banyak."


"Oh ya Allah ... maaf, Om. Aku sampai lupa."


"Udah inget 'kan sekarang? Coba kamu ceritakan dong, Joe, tentang kamu yang katanya ketemu kakek-kakek. Soalnya Om juga ketemu kakek-kakek yang selalu gangguin Om. Mana dia maksa ngasih Al-Qur'an."


"Iya, Om. Sebelum aku masuk Islam ... aku sempat bertemu Kakek tua. Dia ngasih Al-Qur'an dan bilang ... kalau itu bisa menjadikanku jalan supaya aku bisa menikah lagi. Kebetulan saat itu, aku memang sedang dilema, Om. Om 'kan tau sendiri, kalau istri baruku beragama Islam. Dan mertuaku juga seorang Ustad. Otomatis mereka menolakku dulu karena perbedaan agama."


"Terus sekarang, setelah kamu masuk Islam ... apa kamu masih diganggu lagi sama Kakek-kakek itu, Joe? Atau sekedar bertemu lagi?"


"Udah lama enggak, Om. Terakhir kali saat aku berikrar dan ijab kabul."


"Oh gitu. Ya sudah Joe, hanya itu saja yang ingin Om tanyakan."


"Iya, Om. Aku tutup teleponnya kalau begitu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Walaikum salam." Yang menjawab salam Ustad Yunus, lalu benda itu kembali dia taruh ke dalam kantong celananya. "Jadi bagaimana menurut Om sekarang? Apa Om bersedia, untuk saya bimbing?"


Papi Yohan terlihat termenung, memikirkan jawabannya. 'Apa kucoba saja, ya? Kata si Boy 'kan itu bukan paksaan. Dan kalau ragu aku bisa mundur,' batinnya lalu beberapa detik kemudian dia pun mengangguk-angguk kepalanya. 'Iya. Yang penting aku udah nggak bertemu Kakek-kakek itu lagi. Jadi lebih baik aku ikuti saran dari Boy.'


"Eemmm ... tapi, Boy, kalau misalkan Om pindah agama. Apa itu berarti Om juga harus bercerai dengan istri Om?" tanya Papi Yohan setelah beberapa menit berlalu.


"Ngapain cerai segala, Om? Enggak usah." Ustad Yunus menggeleng.


"Tapi 'kan istri Om Kristen, Boy. Sedangkan Om sendiri mau masuk Islam. Otomatis nanti kami beda agama dong? Nggak boleh wikkwik."


"Apa wikkwik?"


"Bercinta maksudnya, Boy." Papi Yohan nyengir kuda.


"Oohh ... tapi kalau Om pindah agama, ya istri Om juga musti pindah. Jadi kalian nggak perlu bercerai."


"Kalau misalkan istri Om nggak mau bagaimana? Apa dipaksa?"


"Nggak perlu dipaksa, Om. Coba dibicarakan dulu baik-baik. Enaknya gimana. Tapi sebagai seorang istri ... selagi apa yang dilakukan suaminya baik, dia harus mau menurutinya. Karena berbakti kepada suami 'kan memang harus."


"Oke, Boy." Papi Yohan mengangguk setuju, lalu menghela napasnya dengan lega. "Om mau kamu bimbing. Bila perlu, sampai jadi mertuamu."


"Lho, kok jadi mertua saya?"


"Eh, maksudnya biar jadi Ustad kayak kamu, Boy," ralat Papi Yohan sambil terkekeh. Sengaja dia mengajaknya bercanda, demi menyenangkan hatinya sendiri sekaligus menggoda Ustad Yunus.


"Insya Allah ... saya akan membimbing Om sampai jadi orang yang begitu dekat dengan Allah," ucap Ustad Yunus yang terdengar tulus. Lalu mengenggam tangan kanan Papi Yohan. "Dan apakah Om mau kita mulai sekarang? Atau nanti saja setelah Om keluar dari rumah sakit? Yang pertama saya akan menceritakan tentang sejarah Islam dulu, supaya Om tau dan makin ingin mengenal Islam."


"Sekarang juga boleh kok, Boy. Kalau kamu ingin menceritakannya. Tapi sebelum itu ... Om ingin tanya sesuatu dulu sama kamu, soalnya Om penasaran banget."


"Apa itu, Om? Bicara saja."


"Perempuan berhijab yang bertemu denganmu di restoran pas sama Om itu siapa, Boy? Dia hanya temanmu, kan? Bukan istri apalagi pacarmu?" tanyanya dengan harapan jika Ustad Yunus akan menjawab, "Iya, hanya teman."

__ADS_1


...Jangan patah hati ya, Pi, kalau denger jawaban aslinya 🤭...


__ADS_2