
"Mari berbaring, Bu."
Seorang dokter perempuan mengajak Syifa berbaring di atas ranjang, dan dia pun langsung melakukan pemeriksaan USG dengan membaluri gel pada perut Syifa.
"Silahkan lihat pada monitor, nanti saya akan menjelaskannya."
Dokter itu menunjuk layar monitor yang menampilkan gambar 4 Dimensi. Namun, meskipun sudah beberapa menit, mereka semua yang ada di sana sama sekali tak melihat apa pun. Hanya gambar seperti ruang kosong saja.
"Mana adik bayinya Bu Dokter? Kok nggak kelihatan?" tanya Robert yang terlihat begitu penasaran. Dia bahkan tak berkedip sama sekali.
"Seperti yang Adek lihat. Mohon jangan berkecil hati ...." Dokter itu menatap Robert sambil tersenyum kecil. "Karena adik bayi Adek belum hadir."
"Maksudnya aku belum hamil, Dok?" tanya Syifa yang seketika menjadi sedih, saat mendengar apa yang dokter katakan tadi.
"Iya, Bu." Dokter itu mengangguk. "Kalau boleh tau, usia pernikahan Anda dan suami sudah berapa lama?"
"Berapa sih, A?" Syifa menatap ke arah Joe, sebab merasa lupa.
"3 bulan, Yang," jawab Joe.
"Apa bulan ini Ibu sudah datang bulan?" tanya Dokter lagi.
"Kayaknya belum." Syifa menggeleng.
"Perasaan ... semenjak kita bercinta, kamu belum haid deh, Yang. Kan kita hampir setiap hari bercinta."
"Dih Aa ... ngapain jujur, sih?" Syifa mendengkus kesal, tapi wajahnya tampak memerah lantaran malu.
"Lha, ya memang iya, kan?"
"Iya. Tapi nggak usah diperjelas, A. Maluuuu ...."
"Ngapain malu, Mom. Biarkan saja." Robert yang sudah turun dari gendongan Joe perlahan memegang tangan kanan Syifa. "Biarin aja kalian rajin bercinta, biar Robert cepat punya adik."
"Pintar banget kamu, Nak." Dokter itu tersenyum sambil mengelus kepala gundul Robert.
"Iya dong, Bu Dokter." Robert tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kalau begitu Anda coba pakai tespek saja dulu, Bu. Tapi bagusnya besok pagi-pagi setelah bangun tidur. Dan kalau hasilnya positif, seminggu kemudian Ibu datang lagi untuk periksa. Kita coba mengeceknya lagi lewat USG," saran Dokter.
"Memang kalau sekarang melakukan tespeknya nggak bisa, Dok?" tanya Syifa.
"Bukan nggak bisa. Tapi kurang akurat, Bu. Karena lebih bagus itu urin dipagi hari."
"Tespek itu apa sih, Bu Dokter?" tanya Robert bingung.
__ADS_1
"Itu tes kehamilan, Dek, yang menentukan Mommymu hamil atau tidak," balas Dokter.
"Tadi kata Bu Dokter ... Mommy belum hamil. Kok disuruh tes lagi? Aneh."
"Rob ... kamu jangan banyak tanya dulu," tegur Joe, karena takutnya Dokter itu risih untuk menjawab. Dia juga yakin jika bocah itu nantinya akan memberikan lebih banyak lagi sebuah pertanyaan.
"Kenapa memangnya, Dad?" Robert memutar menoleh ke arah Joe.
"Bukan kenapa, tapi nurut apa kata Daddy!" tegas Joe.
"Eemmm ... yasudah deh." Robert merengut lesu, lalu menatap kembali pada layar monitor.
"Ya, Bu, Anda coba lakukan dengan tespek dulu. Dan sebaiknya, Bapak dan Ibu berhubungan badan jangan terlalu sering. Minimal seminggu tiga kali." Dokter kembali memberikan saran.
"Sehari sekali aja kurang, Dok, apalagi sehari tiga kali?" protes Joe.
"Kan memang bagusnya seperti itu, Pak. Idealnya berhubungan badan itu seminggu tiga kali. Nggak boleh keseringan, nanti kualitas sp*rmanya nggak bagus, dan kemungkinan jadi encer."
"Ah nggak juga sih, Dok. Tetep kentel. Sp*rmaku 'kan kualitas super."
"Ih Aa! Ngomongnya!" Syifa langsung mencubit lengan Joe, lantaran gemas sekali pada mulut suaminya yang lemes. Dan bisa-bisanya Joe tidak malu mengatakan hal itu di depan dokter, ditambah dokter perempuan lagi.
"Saya harap sih Bapak dengarkan ucapan saya, kalau memang ingin cepat punya momongan lagi," tutur Dokter.
"Terus, Dok, apa aku perlu melakukan tes kesuburan juga sekalian?" tanya Syifa.
"Iya, Dok." Syifa mengangguk.
"Lho, ngapain Ibu mengecek subur atau nggak? Kan Ibu sudah punya anak sebelumnya. Ini kehamilan yang kedua, kan?" Dokter itu menatap ke arah Robert.
"Pertama, Dok," jawab Syifa, lalu mengelus puncak kepala Robert. "Kalau dia anak sambungku. Anak dari suamiku."
"Oh gitu." Dokter itu mengangguk paham, lalu kembali berkata, "Kalau semisal nanti hasil tespeknya negatif ... Ibu bisa melakukan tes kesuburan. Tapi usahakan untuk mengetesnya lebih dari sekali, ya, Bu. Semisal sekaligus tiga tespek. Dan Ibu bisa ulangi besok paginya lagi. Tapi kalau dalam seminggu tetap negatif ... sedangkan Ibu tak kunjung haid, Ibu bisa datang untuk berkunsultasi, kalau mau mengecek kesuburan ya bisa."
"Oh begitu. Baik, Dok." Syifa menganggukkan paham.
"Saya akan resepkan vitamin untuk kesehatan rahim Anda. Nanti rutin diminum, ya, Bu, sampai Minggu depan kita ketemu lagi."
"Iya, Dok." Syifa mengangguk.
Setelah Dokter itu membereskan kembali pakaian Syifa, dia pun lantas menarik tubuhnya untuk bangun, kemudian berdiri.
Tangan Dokter perempuan itu kemudian terulur ke arah Joe, lalu memberikan sebuah selembar resep.
"Ambil dibagian farmasi ya, Pak."
__ADS_1
"Iya, Dok." Joe langsung menerimanya dengan senang hati. "kalau begitu aku, istri dan anakku pamit ... selamat siang."
"Siang."
Joe merangkul bahu Syifa dan menggandeng tangan Robert. Lantas, ketiganya pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana hasilnya?"
Baru keluar, Mami Yeri lah yang langsung bertanya dengan penuh antusias. Dia juga sampai berdiri dari duduknya dengan kaki yang bergerak-gerak seperti hendak loncat-loncat.
"Kembar berapa si Syifa, Joe? Empat atau dua?" tanya Papi Paul yang ikut antusias juga.
Sedangkan Umi Maryam sendiri sejak tadi lebih memerhatikan ekspresi wajah Syifa yang tampak murung. Dan dia punya feeling kalau apa pun hasilnya, Syifa terlihat tidak bahagia di sini.
"Aku belum hamil, Mi, Pi," jawab Syifa dengan sendu sambil menyentuh perutnya sendiri.
Wajah sumringah serta senyum mengembang dibibir kedua mertuanya itu seketika sirna. Dan kini berubah menjadi raut kekecewaan.
"Lho ... kok belum hamil? Kok bisa, sih, Fa?" tanya Mami Yeri sambil merengut.
Padahal harusnya, pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. Karena Syifa sendiri tak tahu jawabannya.
"Iya." Papi Paul menyahuti. "Bukannya kamu dan Joe rajin bercinta, ya? Kok belum jadi-jadi?"
"Kamu bikinnya bisa nggak, Jon?" tanya Abi Hamdan.
"Bapak kok jadi ngeremehin Joe begitu?" Papi Paul menanggapi ucapan besannya, dan terlihat dia tak terima. "Masa Joe nggak bisa bikin anak. Itu buktinya dia 'kan udah punya Robert. Mana ganteng dan pinter lagi. Ya berarti bisa lah!" tambahnya marah, sambil merangkul Robert.
"Bukan Joe yang nggak bisa bikin, si Syifa kali yang nggak pinter goyang. Mangkanya belum jadi." Mami Yeri menimpali.
"Lha, urusannya sama goyang apa, Bu?" Abi Hamdan tampak bingung. Karena setahunya, meski perempuan tidak bergerak saat berhubungan badan—itu sama sekali tak masalah. Yang terpenting pria sudah berhasil klim*aks dan mengeluarkan cairan cintanya.
"Dih aneh. Ya nggak enaklah. Iya, kan, Pi?" Mami Yeri menatap suaminya, meminta tanggapan darinya.
"Iyalah!" sahut Papi Paul dengan semangat. "Dan tanpa goyang, si Joe nggak bakal bisa cr0ot lah, Pak."
"Astaghfirullahallazim!" Joe langsung tepok jidat. Mendengar kata vulgar yang terucap dari mulut Papinya. Sedangkan Syifa sendiri sudah berkaca-kaca lantaran melihat orang tua dan mertuanya itu berdebat.
"Tapi tetap saja itu nggak ada hubungannya dengan Syifa bisa goyang apa nggak, Pak," ujar Abi Hamdan. "Kan yang penting si Joe yang keluar, jadi cuma Joe yang goyang pun nggak masalah."
"Ya nggak boleh egoislah, Pak." Mami Yeri menimpali. Dan sepertinya makin sengit saja pembasahan mereka. "Dimana-mana istri itu harus pintar memuaskan suami. Masa pas bercinta Syifa diem aja kayak patung? Mana enak, kasihan Joenya lah!"
"Iya. Harusnya goyang bareng-bareng, biar adil!" sungut Papi Paul.
"Kalian ini bahas apa, sih?!" gerutu Joe tampak begitu jengah dan dadanya begitu bergemuruh. Dia juga sekaligus malu karena menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana. Apalagi dengan pembahasan mereka yang sudah mencapai rating 21++. "Ini nggak ada hubungannya dengan goyangan tau! Intinya ya Syifa belum hamil, itu aja. Nggak usah dibikin ribetlah!" tambahnya menegaskan.
__ADS_1
...Sabar ya, Om Joe🤣 pasti Om Joe pusing, punya mertua+orang tua yang ngeselin 🙈...