Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
117. Punya pesawat


__ADS_3

"Abi ini apa-apaan, sih! Katanya tadi minta dipijitin, kok malah buka sarung dan celana?" tanya Umi Maryam tak habis pikir. Aslinya dia juga masih syok ketika sempat melihat penampakan tongkat suaminya.


'Kok bisa sih, sekarang putihan. Nggak item kayak kemarin-kemarin? Apa hanya perasaanku saja? Atau karena efek udah lama nggak lihat?' batin Umi Maryam bertanya-tanya.


"Tongkat Abi juga pegel, Mi, minta dipijitin," ucap Abi Hamdan terang-terangan. Dia pun meraih tangan istrinya, kemudian menariknya untuk ikut menyentuh miliknya yang sudah tegak berdiri.


Baru saja menempel, Umi Maryam sudah menarik tangannya. Dan perlahan berdiri. Tapi sejak tadi, matanya masih terpejam.


"Kenapa sih, Umi? Umi mah kebiasaan deh, suka susah diajak bercinta. Padahal 'kan enak." Abi Hamdan melangkah maju, lalu menangkup kedua pipi sang istri. Bibir Abi Hamdan sudah monyong dan perlahan mendekat, hendak mencium bibir Umi Maryam.


Tapi semua itu tak berhasil terjadi lantaran ada jari telunjuk yang menghalanginya.


"Abi kayaknya lupa, ya?" Umi Maryam membuka matanya dan menatap sang suami.


"Lupa apa, Umi? Pintu sudah Abi kunci kok."


"Bukan pintu. Tapi kita 'kan lagi puasa, Bi. Masa iya orang puasa bercinta siang-siang? Batal dong," tegur Umi Maryam mengingatkan.

__ADS_1


"Astaghfirullahallazim!" Mata Abi Hamdan sontak melotot lantaran terkejut. Segera dia pun mengusap kasar wajahnya sambil geleng-geleng kepala. Mungkin kalau Umi Maryam tak mencegah serta mengingatkannya, puasa hari ini otomatis batal. "Bisa-bisanya Abi lupa. Ini semua gara-gara Jojon dan Syifa!" Dia pun mendengkus kesal. Lantas membungkukkan badannya untuk memungut sarungnya, dan melilitnya di atas pinggang.


"Kok gara-gara Syifa dan Joe?" tanya Umi Maryam heran.


"Ya jelas gara-gara mereka. Pagi-pagi bercinta mana berisik, nggak ingat kalau ada yang puasa di rumah." Abi Hamdan mengerucut bibirnya, kemudian duduk sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Namanya orang kangen, Bi, wajar kalau begitu. Abi kayak nggak pernah muda aja deh." Umi Maryam berdecak, membela anak dan menantunya.


"Tapi Abi tiap bercinta nggak pernah berisik tuh, apalagi sampai didengar orang luar," cibir Abi Hamdan yang tampak kesal sebab apa yang dia inginkan harus ditahan.


"Kata siapa? Mana kita tau, kan. Ya sudah ditunda saja kalau udah buka. Lagian masih banyak waktu juga." Umi Maryam lantas melangkah menuju pintu, kemudian membukanya.


"Tahan sampai Magrib, Bi," sahut Umi Maryam sembari melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.


"Pokoknya habis Magrib langsung 10 ronde, jangan kalah sama mereka," gumam Abi Hamdan dengan kedua tangan yang mengepal. Bertekad dalam hati.


***

__ADS_1


"Aa ... kok hanya kita berempat yang naik pesawat? Yang lainnya ke mana?" tanya Syifa saat baru saja masuk ke dalam sebuah pesawat besar berwarna putih, yang terlihat begitu mewah di dalamnya. Sebelum masuk tadi, dia sempat melihat ada nama 'JONATHAN' dibadan pesawat tersebut.


"Nggak usah ngelantur deh, Fa, kan memang kita berempat yang mau ke Korea!" Yang menyahut Papi Paul dan terdengar begitu ketus.


"Papi nggak perlu judes gitu kenapa, sih, jawabnya. Orang nanya 'kan nggak salah," tegur Joe menasehati. Sepertinya memang wajar Syifa bertanya demikian, sebab pesawat yang mereka tunggani bukan untuk umum, melainkan pribadi.


"Terserah." Papi Paul memutar bola matanya dengan malas.


Dia pun lantas memilih tempat duduk yang jauh dengan Joe, sambil meminta Sandi untuk menemaninya. Sedangkan Joe dan Syifa sendiri duduk di posisi yang cukup dekat dengan pilot.


"Jangan diambil hati ya, Yang, omongan Papi. Dia kayaknya masih sensitif gara-gara masalah kita," ucap Joe seraya memakaikan Syifa sabuk pengaman dan setelah itu memakaikan untuk diri sendiri.


"Nggak apa-apa kok, A." Syifa mengangguk sambil tersenyum menatap Joe. "Tapi seriusan, kenapa hanya kita berempat yang menjadi penumpang, A? Apa nggak ada orang lain yang mau berangkat ke Korea, hari ini?" tanyanya penasaran.


"Bukan nggak ada orang yang mau berangkat ke Korea, tapi pesawat ini milik Papi dan Mami, Yang. Yang hanya untuk keluarga saja, jadi orang lain nggak bisa naik kecuali dapat izin dari Papi dan Mami," jelas Joe sambil mengecup pipi istrinya, yang mana membuat wajah Syifa langsung merona.


"Wah ... ternyata ini pesawat milik Papi dan Mami? Pantes ada nama Aa dibadan pesawatnya." Syifa sontak menganga, merasa takjub sendiri membayangkan betapa fantastisnya harga pesawat itu. Apalagi ruangannya begitu mewah dan luas, tak lupa dengan kursinya yang begitu empuk. "Hebat banget Papi dan Mami punya pesawat, A. Pasti harganya mahal, ya?"

__ADS_1


"Ya lumayan lah, Yang," jawab Joe dengan santai. "Kamu sendiri kepengen pesawat nggak? Nanti aku belikan besok, ya?"


...Widih orang kaya🤣 beli pesawat kaya beli cilok aja😆...


__ADS_2