Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
26. Seperti anak gadis saja!


__ADS_3

Tapi memang tak ada yang salah sebenarnya jika tongkatnya hitam, sebab tubuhnya juga hitam.


Masa iya, tubuh hitam tapi tongkat putih? Kan aneh.


"Opa jangan lupa baca aturan pemakaiannya, sebelum memakainya, ya!" tegur Robert.


"Tapi ini aman buat tongkat, Rob? Yakin kamu?"


"Yakin." Robert mengangguk cepat. "Setau Robert sih komposisinya dari buah-buahan. Jadi aman, Opa."


"Oh ya sudah, nanti Opa pakai pas mau mandi. Terima kasih ya, Nak! Opa sayang sekali sama kamu." Tubuh Robert yang berada di pangkuannya itu langsung dia peluk, kemudian mencium keningnya.


"Sama-sama. Semoga tongkat Opa cepat putih, ya, seperti tongkat Daddy." Robert tentu ikut senang, jikalau melihat orang yang dia sayangi senang.


"Amin." Abi Hamdan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Oh ya, semalam kamu tidurnya nyenyak nggak, Rob?"


"Sebenarnya nyenyak, tapi gerah doang, Opa."


"Kipas anginnya mati?"


"Hidup. Tapi kurang dingin. Daddy sih bilang ... mau pasang AC di kamar. Boleh 'kan, Opa?"


"Boleh dong, masa nggak boleh," jawab Abi Hamdan sambil tersenyum. "Kamu nanti bujuk saja Mommymu, untuk tinggal di rumah Daddy, ya? Pasti lama-lama dia mau."


"Tapi Robert lebih suka tinggal di sini ah, daripada di rumah Daddy."


"Kenapa memangnya? Kan rumah Opa kecil, Rob. Jelek lagi."

__ADS_1


"Bukan masalah kecil sama jeleknya, Opa." Robert pun perlahan memandangi rumah Abi Hamdan, cat temboknya terlihat sudah banyak yang mengelupas. "Eh, tapi rumah Opa sebenarnya bagus kok. Cuma catnya saja yang sudah luntur, kalau dicat lagi pasti jadi bagus." Robert langsung memperbaiki ucapannya. Sebab tak enak jika dengan jujur mengatakan jelek, takut menyakiti hati Opanya.


"Masa? Tapi alasan kamu suka tinggal di sini kenapa?"


"Karena dekat masjid. Kalau denger suara adzan ... bangun tidur bisa langsung lari dan ikut sholat."


"Memangnya di sekitar rumah Daddy nggak ada masjid?" tanya Abi Hamdan.


"Ada, tapi jauh banget, Opa. Musti naik mobil dulu. Yang dekat malahan gereja."


"Oh pantes."


***


Ting! Tong!


Sebelum membuka, dia menyeka kedua tangannya dulu dengan serbet di bahunya.


Ceklek~


"Selamat pagi Bu Maryam," ucap Mami Yeri sambil tersenyum. Dia datang bersama suaminya yang berdiri di samping, dan kedua tangan Papi Paul terlihat menenteng beberapa kantong belanjaan.


"Eh, Besan!" Umi Maryam terlihat terkejut, tapi juga senang. "Selamat pagi juga. Ayok silahkan masuk!" Cepat-cepat dia melebarkan pintu rumahnya, mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Terima kasih, Bu." Mami Yeri menatap sekitar rumah sederhana yang terlihat sepi itu, kemudian duduk di sofa. Papi Paul juga duduk di sampingnya dan menaruh apa yang dia bawa ke atas meja. "Aku bawa beberapa buah, susu ibu hamil dan vitamin buat Syifa, Bu," tambahnya sambil menunjuk ke arah kantong belanjaan.


"Wah, terima kasih banyak. Jadi merepotkan begini." Umi Maryam melihat salah satu kantong merah yang berisi buah apel dan jeruk Mandarin. Terlihat besar-besaran dan masih sangat segar.

__ADS_1


"Nggak merepotkan kok, Bu," sahut Mami Yeri. Matanya masih menatap sekeliling rumah itu. "Tapi ngomong-ngomong ... di mana Syifa, Joe sama Robert? Aku semalam telepon Joe ... dan dia mengatakan ingin tinggal di sini untuk sementara waktu."


"Mereka memang tinggal di sini, Bu. Tapi saat ini mereka sedang pergi ke makam istri pertamanya, Joe. Robert bilang ... dia ingin mengenalkannya kepada Syifa," jelas Umi Maryam. "Oh ya, Ibu sama Bapak sudah sarapan belum? Masih ada nasi goreng. Kalau mau nanti saya bawakan."


"Nggak usah, Bu." Mami Yeri menggelengkan kepalanya. "Kami berdua sudah sarapan." Perlahan dia menatap suaminya sebentar.


"Oh begitu. Ya sudah ... saya buatkan teh sama kopi dulu, ya, Bu." Umi Maryam tersenyum, kemudian pamit menuju dapur.


"Joe dan Robert memangnya betah, ya, Mi ... tinggal di rumah kecil seperti ini?" tanya Papi Paul pelan, bahkan seperti berbisik. "Papi baru sebentar saja rasanya sudah sumpek." Dia mengibaskan tangannya ke wajah, sebab merasa gerah dan sudah mulai berkeringat.


"Mami juga nggak yakin. Harusnya sih mereka ...." Ucapan Mami Yeri seketika terhenti saat melihat Umi Maryam datang dengan membawa nampan. Berisi segelas kopi hitam dan teh manis, juga ada cemilannya beberapa potong bolu marmer di atas piring.


"Silahkan diminum dan dimakan, Besan, mumpung masih anget," tawar Umi Maryam seraya menata apa yang dia bawa di atas meja.


"Iya, Bu." Mami Yeri mengangguk sambil tersenyum. "Oh ya, Pak Hamdannya mana, ya, Bu? Kebetulan ... saya dan suami juga sekalian ingin membahas masalah resepsi Joe dan Syifa. Jadi kita rundingkan biar enaknya gimana."


"Sebentar, Bu. Saya panggilkan dulu. Beliau bilang sih tadi mau mandi." Umi Maryam pamit untuk masuk ke dalam kamarnya, lalu mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tapi tak terdengar suara gemericik air.


Tok! Tok! Tok!


"Abi lagi ngapain? Kok lama banget di kamar mandi, semenjak Umi nyuci baju?" tanya Umi Maryam sedikit keras, takutnya sang suami tak mendengarnya. "Umi sampai sudah selesai nyuci baju lho, tapi Abi belum keluar juga dari kamar mandi."


"Sebentar! Abi lagi luluran, Umi!" sahut Abi Hamdan berteriak.


"Luluran?!" Kening Umi Maryam tampak mengernyit. "Ngapain pakai luluran segala? Ganjen amat, seperti anak gadis saja!" tambahnya mengomel.


...Konyol emang Ustad yang satu ini, Umi 🤣🙏...

__ADS_1


__ADS_2