Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
21. Supaya Robert mau disunat


__ADS_3

"Masa, sih, Opa?" Mulut Robert seketika menganga, mendengar ceritanya. "Coba Robert lihat, boleh nggak?" pintanya, lalu mulai meraba ke bawah tubuh Abi Hamdan.


"Heh! Nggak boleh lah!" cegahnya. Abi Hamdan menahan tangan Robert yang sebentar lagi akan menyentuh asetnya. "Melihat ke*maluan orang lain itu haram hukumnya! Nggak boleh!"


"Lagian Abi, ngobrol sama anak kecil kok ke situ-situ! Nggak enak tau didengernya, malu," tegur Umi Maryam menasehati. Dia juga menatap sekitar yang banyak sekali orang. Pasti orang-orang itu ikut mendengar percakapan dari dua lelaki berbeda generasi itu.


"Kan supaya Robert mau disunat, Umi," jawab Abi Handan beralasan.


"Tapi Opa, Robert dan temen-temen sering kencing bareng sambil melihat tongkat. Jadi nggak boleh, ya?" tanya Robert.


"Ya sebenarnya sih nggak boleh. Tapi kalau anak kecil sama anak kecil mah baru boleh," jawab Abi Hamdan.


"Tapi Robert sering melihat tongkatnya Daddy. Gimana itu? Kan Robert sering mandi bareng."


"Ya harusnya nggak boleh," jawab Abi Hamdan. "Eh tapi, Rob, kok tongkat Daddymu bisa putih begitu? Pakai apa dia kira-kira?"


Umi Maryam hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Pakai apa gimana maksudnya?" tanya Robert yang terlihat tak mengerti.


"Maksudnya biar putih begitu. Mungkin pakai sabun apa atau bedak nggak?"


"Kalau bedak sih kayaknya nggak. Paling cuma sabun."


"Merek sabunnya apa?" Sekarang, percakapan tentang sunat itu justru beralih pada warna kulit. Dan memang, ada rasa penasaran Abi Hamdan sebenarnya, tentang tongkat Joe yang putih bersih itu.

__ADS_1


"Mereknya Joe Soap."


"Ada di warung-warung nggak? Atau mini market? Soalnya Opa baru denger nama merek itu."


"Opa mau beli memangnya?" tanya Robert.


Abi Hamdan berjalan beberapa langkah, menjaga jarak pada Umi Maryam supaya wanita itu tak mendengarnya. Dia merasa malu.


"Iya, Opa mau coba," jawab Abi Hamdan lirih, berbisik ke telinga kanan Robert.


"Kalau Opa mau coba, nanti Robert mintain ke Daddy. Soal itu prodak skincare di kantornya."


"Maksudnya gimana?" Abi Hamdan tampak bingung.


Dia memang tidak tahu, jika menantunya itu adalah CEO di perusahaan skincare miliknya sendiri. Selama ini, Abi Hamdan juga belum pernah bertanya tentang pekerjaan Joe itu apa.


"Daddy 'kan kerjanya bikin prodak skincare, Opa. Dia jadi CEO-nya."


"CEO itu apa, Rob?" tanya Abi Hamdan tak mengerti. Dia orang awam sekali, jadi wajar kalau tak mengerti dengan jabatan-jabatan di perkantoran. Maklum, Abi Hamdan dulunya hanya lulusan SD, sebelum akhirnya belajar ilmu agama di pondok pesantren.


"Pemimpin perusahaan."


"Oh, kayak mandor?" tebaknya.


"Mandor itu apa?" Sekarang berbalik, Robert lah yang tak mengerti.

__ADS_1


"Sama juga, memimpin orang kerja. Tapi bedanya itu bergerak dibidang proyek bangunan. Abi dulu pernah kerja dibangunan soalnya, jadi tau."


"Oh." Robert mengangguk-ngangguk tanda mengerti. "Bangunan itu kayak kita mau buat rumah, ya, Opa?"


"Iya, semacam itu." Abi Hamdan mengangguk. "Tapi kebanyakan sih bangunan yang besar-besar. Yang buat perkantoran."


"Terus Opa, dulu itu ...." Ucapan Robert seketika terhenti, lantaran melihat Syifa melangkah menghampiri Umi Maryam. Dan mereka pun akhirnya melangkah mendekat ke arah Umi Maryam juga. Menghentikan obrolan yang sudah panjang itu.


"Udah, Fa? Gimana kasurnya?" tanya Umi Maryam.


"Udah, Mi. Tinggal diantar saja. Katanya nanti sore." Syifa menoleh ke arah Joe yang berada di depan kasir. Tengah membayar apa yang mereka pilih tadi.


"Mbak, aku sekalian beli sofa panjang yang warna merah di depan, ya?" ucap Joe seraya mengambil black card-nya di dalam dompet.


"Sofa yang mana, Pak?" tanya wanita bersanggul penjaga kasir.


"Itu di depan." Joe memutar kepalanya, lalu menatap sofa yang Umi Maryam inginkan tadi. Akhirnya dia membelinya, sebab merasa kasihan.


"Oh. Tapi itu satu set sama sofa single dua dan meja kacanya, Pak."


"Iya nggak apa-apa." Joe tersenyum ketika Syifa, Robert, Umi Maryam dan Abi Hamdan menatap ke arahnya. Memang posisi mereka berdiri bertepatan dengan posisi sofa tersebut. "Nanti dikirimnya sekalian sama ranjang dan kasur. Tapi aku minta ...." Joe perlahan menatap kembali kepada penjaga kasir. "Jangan bilang kalau sofa itu aku yang beli. Bilang saja itu bonus dari tokonya, ya, Mbak."


Joe tidak mau, jika nantinya Syifa menolak setelah dia membelikan benda itu. Sebab Joe memang berniat dengan ikhlas membelikannya untuk sang mertua.


"Oke, Pak." Kasir itu lantas mengetik keyboard komputernya, menambah satu item lagi untuk pembayaran. Setelah selesai, Joe lantas membayar semuanya.

__ADS_1


...**Guys, minta doanya semua biar novel ini cepat turun kontrak. Soalnya banyak banget kendala, sampai hampir seminggu nggak turun-turun....


...Andaikan gagal kontrak, kepaksa Author nggak terusin πŸ˜­πŸ™**...


__ADS_2