
"Eng ... itu ...." Syifa terlihat makin bingung untuk menjelaskan, takut juga nanti salah. Dia pun lantas kembali melirik ke arah Joe, lalu menarik turunkan alis matanya. Memberikan kode.
"Kata Opa, kamu nggak mau makan siang kalau nggak disuapi Mommy. Jadi sekarang mending langsung makan saja, dan bahas itunya nanti," ucap Joe yang langsung mengubah topik pembicaraan. Sebab Joe juga bingung untuk menjawab apa.
"Daddymu benar, Rob." Mami Yeri ikut menyahut. Menu dia atas meja pun sudah diganti dengan menu baru yang masih hangat. "Cepat makan dulu, ini sudah sore. Sayangi perutmu, kan kamu ada penyakit magh."
"Ya sudah, Robert makan." Bocah itu langsung mengangguk setuju. Lalu menunjuk ke arah spaghetti. "Robert mau makan itu, Mom."
"Oke. Mommy suapi, ya?" Syifa meraih piring tersebut, lalu mulai menyuapi anak sambungnya. Robert terlihat begitu semangat sekali makannya, bahkan mulutnya yang paling lebar saat Syifa memberikan suapan berikutnya. "Anak pintar." Syifa mengulum senyum, lalu mencium hangat kening Robert. Dan seketika wajah bocah itu merona.
"Mommy manis sekali, Robert sayang Mommy." Robert mencubit lembut hidung mancung Syifa, lalu tersenyum.
"Kamu juga manis dan Mommy sayang kamu, Nak."
"Kamu makan juga, Yang," tawar Joe yang menyodorkan paha ayam goreng ke bibir istrinya.
Syifa menggeleng, lalu mengusap perut. "Aku masih kenyang, A. Kan kita baru makan tadi."
"Tadi kapan? Ini 'kan sudah sore, Yang." Joe sekarang sudah menempelkan daging ayamnya tepat dibibir Syifa. "Ayok buka mulutmu. Kamu harus makan lagi, biar ada tenaga. Kan nanti malam kita ada lembur."
"Lembur?" Kening Syifa tampak mengernyit. Tak paham maksud Joe. Tapi mulutnya sudah membuka dan mengigit kecil daging ayam itu. "Lembur apaan, A? Aku nggak ngerti."
"Yang tadi kita bahas itu, lho, di kamar mandi."
"Pokoknya nanti malam Robert mau tidur sama Mommy! Titik!" tegas Robert sambil menggenggam tangan Syifa. Mulut kecilnya itu masih sibuk mengunyah.
Tampaknya Robert memiliki firasat kuat, jika nanti malam dia akan diminta untuk tidur lagi bersama Oma dan Opanya.
"Lho, kok gitu?" Raut wajah Joe seketika sendu. "Kamu tidur sama Opa dan Omamu lagi, Sayang. Besok baru boleh ... tidur bertiga sama Mommy," tambahnya merayu sambil mengusap bibir anaknya dengan tisu, sebab ada saos yang tertinggal.
"Nggak mau!" tegas Robert menolak, kepalanya menggeleng cepat. "Robert pokoknya nanti malam mau tidur sama Mommy dan nggak pakai tapi-tapian!" Matanya melotot, lalu memeluk kembali Syifa dengan erat.
__ADS_1
'Enak saja, Daddy. Dia kira ... Mommy itu hanya miliknya. Padahal 'kan milik Robert juga. Dan dia pikir ... hanya dia saja apa yang bisa menghabiskan waktu berdua dengan Mommy, padahal Robert juga bisa,' batin Robert cemberut.
'Duh ini anak. Alamat gagal dong gaya helikopternya,' keluh Joe dalam hati. Lalu mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Masih ada hari esok, Minggu esok atau bulan esok, Joe," tegur Papi Paul yang bernada sindirian. "Jangan lebay deh, ngalah juga sama anakmu. Dia jauh lebih membutuhkan Syifa, daripada kamu, Joe."
'Dih, apa katanya?' Mendengar itu, Joe langsung memutar bola matanya dengan malas. Jelas disini jika Papi Paul memihak pada Robert, ketimbang dirinya. 'Semua laki-laki di dunia ini rupanya sama. Nggak ada yang mengerti perasaanku. Padahal, aku 'kan juga sama-sama laki-laki.' Dengan rasa kesal, Joe pun memakan habis paha ayam bekas gigitan Syifa tadi, kemudian menenggak segelas penuh jus mangga di atas meja.
Drrttt ... Drrtt ... Drrtt.
Tiba-tiba, ponsel milik Joe bergetar di dalam kantong celana. Benda itu memang sudah diaktifkan sejak dirinya hendak ke restoran.
Ketika sudah berhasil diambil, tertera panggilan masuk bernama 'Abi Mertua' yang berarti Abi Hamdan. Segera, Joe pun mengangkatnya.
"Assalam—"
"Ke mana saja kau, Jon?! Kenapa baru mengaktifkan hape?!" Suara Abi Hamdan terdengar begitu melengking, hingga membuat telinga Joe berdengung. Cepat-cepat dia pun menjauhkan benda pipihnya sebentar, lalu menepuk-nepuk pelan telinganya sambil berdiri.
Perempuan itu hanya menatap punggung suaminya, tapi dalam hati dia bertanya-tanya. 'Siapa yang telepon Aa? Kok dia sampai keluar restoran segala? Padahal bukannya tadi udah mengangkatnya, ya?'
"Halo, Bi, assalamualaikum," ucap Joe yang kini sudah berada di dekat parkiran. Sengaja dia menjauh sebab takut berisik, dan menganggu semua orang yang sedang makan.
"Walaikum salam," jawab Abi Hamdan disertai suara helaan napas.
"Maafin aku, ya, Bi, karena baru mengaktifkan hape. Maklumlah namanya juga pengantin baru, jadi nggak mau diganggu," ujar Joe memberitahu.
"Pengantin baru apaan. Emang dasar mesum saja kau, Jon! Awas saja kalau Syifa kecapekan dan berpengaruh pada janinnya ... kupecat jadi menantu!" ancamnya marah. Dan kembali, suaranya begitu lantang.
"Nggak akan, Abi tenang saja. Aku tentunya memberikan jeda buat Syifa istirahat."
"Terus bagaimana jawabanmu? Jadi bener atau nggak, Jon?"
__ADS_1
"Bener apanya?" Joe tampak mengerutkan keningnya bingung. "Kan aku udah jawab, Syifa nggak akan kecapekan, Bi. Aku beri dia jeda buat istirahat."
"Dih, bukan masalah itu, Jon. Tapi tentang Nak Fahmi."
"Fahmi?!" Kembali, pria itu dibuat bingung. "Tentang Fahmi apaan, Bi? Aku nggak ada urusan sama Fahmi."
"Kata Pak Haji Samsul dan Nak Fahmi ... kamu mengunci Nak Fahmi di dalam toilet, jadi benar atau nggak?" tanya Abi Hamdan dengan nada penekanan.
"Ngapain aku mengunci Ustad abal-abal itu? Dan di toilet mana, yang Abi maksud?"
"Di toilet hotel, pas pesta. Kamu tau nggak, sih, kalau dia masuk rumah sakit sampai dirawat inap? Dan itu juga jadi penyebabnya."
"Enggak. Lagian nggak penting juga, sih, ngapain aku tau."
"Tapi kamu jujur sama Abi, kan, Jon?" Abi Hamdan memastikan.
"Iya, aku jujur, Bi. Lagian buat apa juga aku kunci dia di toilet? Nggak ada untungnya untukku," jawab Joe yang memang jujur.
"Ya barangkali kamu ada kesal sama Nak Fahmi, mangkanya mengunci dia," tebak Abi Hamdan.
"Lho, kesalnya kenapa?" tanya Joe yang masih tak habis pikir. "Ya aku akui ... aku memang nggak suka sama Fahmi, malah bisa dikatakan benci. Tapi kalau untuk mengunci dia di dalam toilet sampai membuatnya masuk rumah sakit ... aku nggak akan melakukannya, Bi."
"Kenapa?"
"Ya itu 'kan sama saja mencelakai orang, Bi. Dan bukannya mencelakai orang itu hukumnya dosa, ya?"
"Iya. Itu benar, Jon."
"Ya terus ... untuk apa aku melakukannya, Bi? Nambah-nambah dosa saja. Aku juga 'kan belum lama menjadi umatnya Allah, nanti bisa-bisa dia marah dan memecatku lagi."
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1