
"Nggak akan, Bi," jawab Joe dengan tulus, lalu tersenyum. Dia terlihat begitu santai menanggapi ucapan mertuanya, dan sama sekali tak takut. Karena memang dia ingin menjadikan Syifa cinta terakhirnya. "Syifa itu cinta terakhirku, Bi," tambahnya.
"Alah, nggak usah ngomongin cinta kamu, Jon! Laki-laki zaman sekarang 'kan banyak bohongnya." Abi Hamdan tampak tak percaya, lalu bersedekap.
"Lho, siapa yang bohong? Orang aku jujur?"
Abi Hamdan hanya mengerucut bibirnya, tak ada tanggapan lagi.
"Ya itu sih terserah Abi mau percaya atau nggak, tapi aku dari dulu bukan tipe pria yang suka mempermainkan perempuan," tambahnya kemudian fokus menyetir.
Tak lama kemudian, Joe menghentikan mobilnya di sisi jalan. Sebab ada beberapa mobil yang berhenti di jalan itu dan salah satunya adalah mobil polisi. Terlihat ramai banyak orang juga, jadi itu membuatnya penasaran.
"Mau ngapain kamu, Jon?" tanya Abi Hamdan ketika menantunya membuka pintu mobil, hendak turun.
"Aku mau lihat di depan, Bi, kayaknya ada kecelakaan," jawab Joe, kemudian langsung turun.
Abi Hamdan pun memutuskan untuk turun juga, kemudian menetap sekitar jalanan yang terasa familiar di dalam otaknya.
"Ini kok jalannya persis seperti saat motorku kempes, ya?" gumamnya bertanya, kemudian berjalan maju mengikuti Joe yang sudah menjauh. "Barangkali memang si Kuning motorku ada disekitar sini, jadi sekalian saja deh."
"Maaf, ada apa, ya, Pak?" Joe bertanya pada Pak Polisi yang tengah berdiri sambil menatap sebuah mobil berwarna hitam. Bagian depan mobil tersebut sepenuhnya hancur menabrak pohon di sisi jalan.
Pak Polisi itu menoleh dan menatap Joe. "Seorang pria mengalami kecelakaan tunggal, Pak, diduga karena rem blong."
"Ya ampun. Terus kondisinya sekarang bagaimana? Apa sudah dibawa ke rumah sakit?"
"Kondisinya—"
"Astaghfirullahallazim si Kuning!!" sergah Abi Hamdan yang berteriak histeris, kala melihat motor kesayangannya itu berada di bawah mobil hitam tersebut. Tergiling dan terlihat ringsek.
__ADS_1
"Si Kuning? Si kuning siapa, Bi?" Joe yang terlihat tak paham langsung berjongkok, mendekati mertuanya yang sudah bersimpuh dibawah dengan berurai air mata, menangisi motor kesayangannya itu. Yang terlihat sudah hancur parah.
"Motor Abi, Jon! Itu motor Abi!" Dengan tubuh yang bergetar, dia menunjuk ke arah bawah. Tepat dimana motornya berada.
Joe sontak membulatkan matanya, kemudian langsung ikut beristighfar. "Astaghfirullah." Segera, dia merangkul bahu mertuanya, sebab isak tangis pria itu makin pecah saja.
"Itu motor kesayangan Abi, Jon!" teriak Abi Hamdan kencang dengan tangis tersedu-sedu.
Joe menatap ke arah Pak Polisi. "Pak, tolong angkat mobilnya, ada motor mertuaku yang ...." Permintaan Joe itu belum sepenuhnya terucapkan, tapi langsung terjeda kala melihat tubuh mertuanya ambruk. Jatuh pingsan. "Astaghfirullahallazim! Abi!" teriaknya terkejut, kedua bola matanya itu membulat sempurna.
Beberapa orang di sana pun langsung menghampiri mereka, guna membantu Joe untuk menggotong mertuanya ke dalam mobil.
"Tolong bantu, Pak, aku akan membawanya ke rumah sakit," pinta Joe.
***
Sementara itu di rumah Abi Hamdan.
"Oh ya, Mom, kemarin Pak Bambang nanyain Mommy lho," ucap Robert memberitahu.
"Nanya gimana, Nak?"
"Katanya kapan Mommy mengajar lagi."
"Oh. Terus kamu jawab apa?"
"Kata Robert ... belum tau. Kan Mommy kemarinnya bilang kalau Mommy masih capek," jelas Robert dengan jujur.
"Besok Mommy coba pergi ke sekolah deh. Dan mulai mengajar lagi," ucap Syifa meskipun sejujurnya masih ragu.
__ADS_1
"Hore!!" Robert bersorak sambil menggerakkan tangannya naik turun. Kemudian langsung memeluk tubuh Mommy sambungnya. "Akhirnya ... Mommy mengajar lagi. Robert udah kangen banget pengen diajari Mommy di sekolah."
"Iya, Sayang." Syifa tersenyum, kemudian mencium kening anaknya.
"Syifa ... itu diluar sudah ada Sandi, yang mau mengantar Robert ke sekolah," ucap Umi Maryam dari pintu, yang kebetulan pintu kamar Syifa terbuka lebar.
"Iya, Mi." Syifa mengangguk, kemudian berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan Robert seraya melangkah keluar bersama dari kamar itu. Hingga keluar dari rumah.
"Oma!!" seru Robert yang langsung menghamburkan pelukan, kepada wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobil Sandi. Wanita itu adalah Mami Yeri.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Mami Yeri pada cucunya, kemudian mengelus puncak rambutnya.
"Pagi, Oma!" sahut Robert.
"Mami ke sini hanya sama Pak Sandi? Di mana Papi?" Syifa bertanya dengan basa-basi, kemudian mendekat dan mencium punggung tangannya.
"Iya." Mami Yeri mengangguk dan tersenyum. "Mami memang sengaja datang hanya bersama Sandi, karena ingin mengajak kamu pergi, Fa."
"Pergi? Pergi ke mana, Mi?"
"Ketemu teman Mami. Kebetulan Mami punya teman seorang dokter kandungan, jadi Mami ingin mengajakmu pergi untuk mengecek kondisi cucu kedua Mami sama dia, Fa." Mami Yeri mengusap perut rata Syifa, dan dilihat perempuan itu membulat matanya.
Bukan karena dia kaget perutnya disentuh oleh mertuanya, tapi karena dirinya memang tidak sedang hamil.
"Tenang saja, Fa, teman Mami perempuan kok. Jadi aman," tambah Mami Yeri seraya tersenyum, kemudian menarik menantunya untuk masuk bersama ke dalam mobil. Yang sudah Robert duluan masuk.
'Ya Allah bagaimana ini? Aku 'kan nggak lagi hamil. Bisa-bisa Mami kecewa kalau tau semaunya,' batin Syifa dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kencang.
...----------------...
__ADS_1
Hari Senin nih, Guys, jangan lupa vote sama hadiahnya, ya, biar Author semangat buat update 🙂🙏