Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mendapatkan Ibu Susu


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, itu artinya sudah tiga hari pula, Tama dan keluarga dalam masa berkabung. Pengajian untuk mendoakan agar Almarhumah Cellia tenang di alam sana pun masih digelar untuk tujuh hari ke depan. Di kediaman Mama Rina dan Papa Budi masih dilangsung pengajian sampai pada hari ketujuh nanti. Itu artinya, hampir setiap hari dalam tiga hari ini orang tua kandung Cellia juga datang ke kediaman Mama Rina dan menggelar pengajian dengan pembacaan Surat Yasin untuk Almarhumah Cellia.


“Sudah tiga hari lamanya Almarhumah Cellia meninggalkan kita, itu artinya sudah tiga hari juga Citra menjadi Piatu, dan Tama menjadi Duda,” ucap Mama kandung Cellia yang menatap pilu Tama yang tertunduk dan melantunkan ayat Al Quran untuk almarhumah.


“Benar Bu Shinta … sudah tiga hari,” jawab Mama Rina dengan menghela nafas.


“Untuk ASIPnya Baby Citra apakah masih mendapatkan donor ASI dari kerabat yang bernama Dokter Bisma dan Istrinya itu?” tanya Bu Shinta yang adalah Mamanya almarhumah Cellia.


“Iya, masih … Mbak Kanaya selalu mengirimkan ASIPnya secara bertahap untuk Cellia,” balas Mama Rina.


“Saya ada saudara dari desa, sudah janda … tetapi bisa menyusui. Apakah dia bisa menjadi Ibu ASI untuk Citra?” tawar Bu Shinta kepada besannya itu.


Tentu, jika ada Ibu ASI, akan jauh lebih baik. Sebab, sejujurnya Mama Rina tidak setuju dengan keputusan Tama yang akan memberikan susu formula untuk bayi yang baru lahir.


Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir bisa membuat masalah pencernaan hingga memicu terjadinya diare pada bayi, radang telinga hingga 50%, radang paru-paru, dan beberapa infeksi lainnya. Hal ini terjadi karena susu formula bisa terkonstaminasi bakteri berbahaya. Bayi pun berisiko mengalergi susu sapi dan asma sebanyak 40% - 50%.


Mengingat pentingnya ASI untuk bayi yang baru saja lahir, maka Mama Rina menyambut baik tawaran dari besannya itu. Kendati demikian, lebih baik untuk membicarakan semuanya dengan Tama terlebih dahulu karena bagaimana orang tua tunggal baby Citra adalah Tama.

__ADS_1


"Sebaiknya bicarakan dengan Tama dulu, Bu Shinta. Kalau saya setuju dengan Ibu ASI atau pendonor ASI tetap untuk Citra. Sebab, tidak mungkin menggantungkan penuh kepada Mbak Kanaya yang juga memberikan ASI ekslusif untuk putranya sendiri. Sementara dengan bertambahnya hari, kebutuhan ASI seorang bayi juga akan terus meningkat," jelas Mama Rina.


“Baiklah,” jawab Bu Shinta.


Begitu pengajian selesai, rupanya Bu Shinta benar-benar menyampaikan niatannya itu kepada Tama. Siapa tahu, Tama bisa mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu. Mendengarkan saran dan juga nasihat keluarga, akhirnya Tama pun setuju untuk mempekerjakan saudara jauh mertuanya itu dari desa. Keluarga Tama juga memberikan tempat untuk menampung saudaranya itu dan akan menjaga pola makannya supaya ASI yang dihasilkan pun berkualitas.


“Baiklah … dia boleh datang dan tinggal di sini. Sekaligus menjadi babysitter Citra saat Tama mulai bekerja nanti,” keputusan Tama kali ini.


***


Seorang janda muda kira-kira berusia di atas tiga puluhan pun datang ke rumah keluarga Tama. Wanita bernama Mina ini akan menjadi Ibu Susu untuk Citra. Mina datang ke Jakarta setelah menjanda selama tiga bulan, sementara anaknya yang masih berusia 3 tahun diasuh oleh Kakek dan Neneknya di Gunung Kidul, salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta.


“Permisi … Bu Rina, ini saudara jauh saya … namanya Mina, dia berniat menjadi Ibu Susu untuk Citra,” jelas Bu Shinta kepada Mama Rina dan Tama saat itu.


“ASI-nya masih keluar ya Mbak Mina?” tanya Mama Rina sopan kepada wanita bernama Mina itu.


“Iya, masih keluar, Bu … walau sudah menyapih anak saya satu tahun lalu, tetapi masih keluar,” jawabnya dengan tersenyum dan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Sementara itu, Tama hanya memilih diam. Tidak ingin terlibat dengan pembicaraan seperti ini. Yang pasti adalah Citra mendapatkan ASI. Itu saja kepentingan Tama sekarang ini.


“Dalam sebulan ingin gaji berapa Mbak?” tanya Mama Rina.


Ya, seorang Ibu Susu yang bekerja akan mendapatkan upah. Walau sebenarnya seorang ibu atau wanita bisa dengan sukarela memberikan ASInya dengan cuma-cuma. Akan tetapi, mengingat bahwa Mbak Mina akan sekaligus menjadi babbysitter, maka kali ini dengan terbuka Mama Rina bertanya gaji yang diinginkan Mina.


“UMR saja tidak apa-apa, Bu … yang penting, bisa mengirim setiap bulan untuk anak saya yang ada di desa,” ucapnya.


“Baiklah, saya akan berikan UMR sesuai kota Jakarta, empat juta setiap bulannya untuk Mbak Mina,” ucap Mama Rina sekarang ini.


“Banyak sekali, Bu … kan hanya menyusui dan mengurus si Baby saja,” balas Mina dengan polosnya.


Hal itu terjadi karena Upah Minimum Regional di Gunung Kidul tidaklah sebanyak di Jakarta. Sehingga, uang 4 juta Rupiah rasanya begitu banyak untuk Mina.


“Tidak apa-apa Mbak Mina … bisa untuk tabungan pendidikan anaknya yang ada di desa,” ucap Mama Rina.


Semoga saja kali ini, Mbak Mina bisa betah dan kerasan bekerja sebagai Ibu Susu dan juga sebagai babysitter untuk bayi Citra. Dengan cara ini, semoga saja Baby C tercukupi kebutuhan nutrisinya melalui ASI yang dia minum, walaupun bukan dari Ibu Kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2