Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kejutan Terindah


__ADS_3

"I Love U, Sayang ... I Love U."


Ledakan perasaan yang benar-benar membuncah membuat Tama tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengucapkan tiga kata yang bermakna paling indah untuk Anaya. Pria itu masih jatuh di atas tubuh Anaya. Matanya masih terpejam, tetapi Tama tahu bahwa rasa ini benar-benar nikmat dan dahsyat.


Menyadari bahwa jika dia menindih Anaya terlalu lama, bisa membuat istrinya itu sesak. Tama lantas berguling di sisi Anaya dan membawa istrinya itu dalam dekapannya. Di dalam dekapan Tama, Anaya pun masih berusaha mengatur nafasnya dan memejamkan mata. Tidak bisa Anaya ucapkan lagi bahwa dirinya pun meledah, bagaimana percikan kembang api yang meledak di udara.


Melihat Anaya yang terkulai lemas dalam dekapannya, Tama lantas tersenyum, "Makasih surprisenya, aku seneng banget," ucapnya dengan mengecup kening Anaya.


Terlihat Anaya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.


"Aku malu," balasnya.


"Kenapa malu?" tanya Tama lagi.


Anaya menggelengkan kepalanya. Seumur hidup baru kali ini Anaya mengenakan Satin Lace Dress yang minim bahan, bahkan tadi hanya itu saja yang dia kenakan, tak ada yang lainnya.


"Cantik, Sayang ... kamu sangat cantik," ucap Tama lagi.


Percayalah, pujian cantik benar-benar disukai wanita. Ketika pasangannya mengatakan bahwa dia cantik di matanya, seolah wanita menjadi bunga yang merekah dan menunjukkan pesonanya. Walau bagi orang lain, mereka biasa saja, tetapi di hadapan suami tercinta, menjadi cantik dan dipuji cantik itu begitu menyenangkan hati seorang wanita.


"Makasih Mas Suami," balas Anaya.


Tama tersenyum, "Sexy banget," ucapnya.


Anaya kian menahan malu dan menyembunyikan wajahnya, "Udah ... malu. Malu banget," balasnya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Aku berbicara fakta Sayang. Kapan-kapan aku belikan baju kayak gitu mau?" tanya Tama lagi.


"Jangan ... satu kali percobaan saja," sahut Anaya.


"Ya sudah ... aku tidak memaksa. Hanya saja, pakaian kamu tadi membuat suasana makin membara," aku Tama dengan jujur.


Untuk beberapa saat, keduanya masih sama-sama memeluk. Benar yang orang tua katakan sebelumnya, keduanya memang membutuhkan waktu berkualitas. Sekarang Anaya bisa merasakan hanya berdua dengan suaminya, melakukan apa pun yang mereka mau, dan juga kian dekat secara hati.


"Besok seharian di kamar atau mau jalan-jalan Yang?" tanya Tama kemudian.


"Malam aja ke Batu Night itu Mas, mau enggak. Kelihatannya tempatnya romantis," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Oke ... besok malam yah. Sisa empat hari kita maksimalkan baik-baik, Yang ... sapa tahu nanti kamu telat haidnya dan benih-benih cinta kita sudah bersemi di sini. Jadi, di sini kita harus kerja keras Yang. Mau kan?"


"Setiap hari Mas?" tanya Anaya dengan begitu lugunya.


"Apa enggak sakit dan capek tuh setiap hari?" tanya Anaya dengan menghela nafasnya.


"Enggaklah ... kan nikmat dulu. Enggak setiap jam tumbuk-menumbuk juga," balas Tama.


"Terserah aja, Mas ... penting kalau aku lemas, kamu tanggung jawab loh," balas Anaya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... aku akan tanggung jawab. Penting bisa menghamili kamu, Yang ... udah pengen menambah baby lagi. Biar Citra punya adik."


Anaya tersenyum dan kian mendekap tubuh suaminya itu. Sekarang rasanya dia ingin terbang ke alam mimpi. Mengantuk rasanya, tetapi bagaimana dengan suaminya itu. Apakah juga mengantuk sama sepertinya?

__ADS_1


"Bobok boleh Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Enggak mandi dulu?" tanya Tama. Memang keduanya sering kali membiasakan untuk mandi terlebih dahulu usai bercinta.


"Dingin Mas ... aku juga langsung ngantuk loh," balas Anaya.


"Mandi dulu yuk ... sebentar saja. Kan showernya air hangat bisa. Daripada lengket nanti," sahut Tama.


Akhirnya dengan menahan kantuk, Tama menggandeng istrinya itu menuju ke dalam kamar mandi, keduanya mandi kilat dengan berdiri di bawah shower yang sama. Merasakan percikan air hangat dan sabun dengan wangi Sea Butter yang membersihkan tubuh keduanya. Setelahnya, keduanya kembali ke dalam kamar sudah dalam tubuh yang bersih.


"Nah, sudah bersih kan ... sekarang boleh bobok. Baru jam 20.00 loh padahal," ucap Tama lagi.


Anaya tersenyum di sana, "Sesekali bobok jam segini kan enggak apa-apa," balas Anaya.


"Yang, coba pagi-pagi yuk ... mau enggak?" tanya Tama kemudian.


"Sepagi apa Mas? Mandi dulu, aku enggak mau kalau belum mandi," balasnya.


"Kamu ini higienis banget sih ... harus bersih," balas Tama dengan mengusapi kepala Anaya dengan gemas.


"Kan seger enak ... wangi juga," balas Anaya.


"Ya sudah ... kalau kamu mau, semuanya aman terkendali. Subuh itu kualitas terbaik Yang ... biar dapat benih terbaik juga," balas Tama.


Anaya kemudian menatap suaminya, "Kamu kalau masalah beginian pinter banget sih Mas ... suhu loh kamu ini."

__ADS_1


Dikatai Suhu oleh istrinya membuat Tama tertawa. Sebenarnya bukan Suhu juga. Hanya saja, Tama memang beberapa kali membaca masalah kesehatan pria di media sosialnya. Bahkan bercinta di pagi hari bisa memperlancar peredaran darah, mengurangi nyeri migrain, mengurangi risiko diabetes, dan juga kualitas yang terbaik untuk benih yang hendak di tanam di dalam rahim nanti. Untuk itulah, Tama ingin mengajak sang istri menikmati pusara cinta di pagi hari.


__ADS_2