
Terkadang harapan dan angan tak sesuai dengan kenyataan. Ketika hasrat sudah sepenuhnya naik, yang ada justru pagi itu Citra datang dengan Mamanya. Beberapa saat di belakang ada Tama yang turun mendorong stroller baby yang berisikan dua kembar mereka.
Oma Dianti pun tersenyum di sana, "Anak dan cucu kita datang," ucapnya dengan telapak tangan yang mengusapi dada suaminya.
"Ah, iya ... nanti malam saja yah," balas Opa Tendean.
Terlihat Oma Dianti menggelengkan kepalanya, "Kamu semangat banget, Mas ... terlalu lama menduda yah?" godanya.
"Ya, tahu sendiri, Bunda ... aku gak bisa tahan lagi sekarang. Cuma sekarang aku akan membukakan pintu untuk anak dan cucu kita dulu," balasnya.
Tampak Opa Tendean berjalan dan membukakan pintu, sudah ada Citra yang tersenyum manis kepada Opanya. "Opa," sapanya dengan senyuman cerah. Gadis kecil dengan rambut sebahu itu tampak memeluk Opanya.
"Iya, Citra ... sama siapa?" tanya Opa Tendean.
"Sama Mama, Papa, dan Adik-Adik," balasnya.
"Semuanya ke sini?" tanya Opa Tendean kemudian.
"Iya, Citra mau sarapan di rumahnya Opa dan Oma," balasnya.
Terlihat Opa Tendean tersenyum dan mengusapi puncak kepala Citra. Gemas dengan cucunya itu. Walau tadi keinginannya untuk bercinta dengan istrinya gagal, tetapi melihat Citra yang lucu justru membuat Opa Tendean tertawa gemas jadinya. Tidak berselang lama, juga ada Anaya, Tama, dan Twins yang datang.
"Pagi Ayah," sapa Anaya dengan senyuman yang tentunya geli melihat Ayahnya. Sebagai anak dan juga sudah dewasa, ketika seseorang menikah, pastilah bahwa orang yang menikah akan menikmati malam pertamanya. Dalam benak Anaya, mungkin saja Ayahnya dan Bunda Dianti sudah mengarungi malam pertama bersama.
"Pagi Aya," sapa Ayah Tendean dengan menatap wajah Ayahnya.
__ADS_1
"Bunda mana, Yah?" tanya Anaya kepada Ayahnya.
"Ada, itu di dapur," balasnya.
Tama kemudian tersenyum dan menyapa Ayahnya, "Pagi Ayah ... bisa tidur?" tanyanya.
Ayah Tendean pun tertawa, dan menepuk bahu menantunya itu. Walau tidak bisa menjawab, tetapi sepenuhnya itu adalah candaan bahwa memang tidurnya semalam walau hanya beberapa jam saja, rasanya justru begitu nyenyak. Memang terbiasa berbaring sendirian, dan sekarang akan yang berbaring di sisinya, menjadi kombinasi sempurna untuk mengarungi malam.
"Bunda, baru ngapain?" tanya Anaya kepada Bunda Dianti.
"Masak, Anaya ... buat sarapan," balasnya.
"Anaya bawakan sarapan ini, Bunda ... kami mau ikutan sarapan di sini boleh?" tanyanya.
Bunda Dianti pun menganggukkan kepalanya, "Tentu boleh ... jangan sungkan Anaya. Bagaimana pun ini adalah rumah kamu. Bunda justru yang sungkan karena penghuni barunya," balasnya.
"Iya, cuti menikah lima hari," balas Bunda Dianti.
"Bunda dan Ayah tidak berencana bulan madu?" tanya Anaya kemudian.
"Kami sudah tua, Anaya ... malu sama kamu yang muda," balasnya.
Anaya kemudian menggelengkan kepalanya, "Bulan madu kedua lebih indah kok Bunda. Ayo, Bunda ... luangkan waktu untuk benar-benar menikmati waktu bersama dengan Ayah," ucapnya yang seakan memberikan dukungan penuh kepada Bundanya dan Ayahnya untuk menikmati bulan madu kedua.
"Ada apa Aya?" tanya Ayah Tendean kemudian.
__ADS_1
"Bulan madu, Ayah ... ayolah, Ayah ... ajak Bunda menikmati bulan madu. Supaya Ayah dan Bunda saling mengenal dan lebih dekat secara hati," ucap Anaya.
Ayah Tendean pun tertawa, "Ke Bandung sama kayak kamu dan Tama dulu ya Ay?" tanya Ayahnya.
"Boleh ... yang penting break dari rutinitas saja, Ayah. Pengantin baru gitu," balasnya.
"Boleh deh ... besok Ayah dan Bunda jalan-jalan bersama yah. Ke Bandung biar sama kayak kamu," balas Ayah Tendean.
Di sana Anaya pun tertawa, "Ayah paling bisa ... sini Anaya bantu siapin meja makan yah. Senengnya Anaya sekarang memiliki Bunda dan Ayah. Lengkap dan sempurna," ucapnya.
Bunda Dianti pun memperhatikan Anaya, "Bunda yang seneng, Anaya ... dapat Duda banyak bonusnya yah ... anak, menantu, dan tiga cucu," balas Bunda Dianti dengan tertawa.
"Benar Bunda, ibarat kata beli satu dapat lima," balasnya dengan tertawa.
Di meja makan pun banyak yang mereka perbincangkan. Terlihat juga Bunda Dianti yang berusaha melayani suaminya dengan baik. Kadang-kadang Bunda Dianti juga gemas dengan Citra yang lucu dan begitu kritis.
"Oma, Citra seneng loh sekarang bisa sering ketemu Oma," ucapnya.
"Sama Citra ... Oma juga senang. Oma mulai hari ini bobok di sini sama Opa yah?" tanya Bunda Dianti.
"Iya Oma ... boleh ... Opa biar punya teman," balasnya.
"Iya, Oma akan menemani Opanya Citra yah," balas Bunda Dianti lagi.
"Oma, kapan-kapan kalau menulis buku cerita buat tokohnya namanya Citra dong Oma ... jangan hanya Dean," balasnya lagi.
__ADS_1
Kali ini semuanya tertawa. Merasa bahwa Omanya adalah penulis buku anak-anak, Citra sudah request khusus supaya Omanya nanti akan membuat buku cerita dengan tokohnya bernama Citra. Begitu lucu. Oma Dianti agaknya mendapat ide juga untuk menjadikan Citra sebagai tokoh di buku dongengnya nanti.