
Ketika Ramen yang dinikmati Anaya sudah habis, dengan segera Tama berdiri menuju ke kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan. Sebagai pria sejati, dia harus membaca situasi dan berdiri lebih dulu, membayar makanannya bersama dengan Anaya. Rasanya lucu, sejak dulu ... dirinya memang selalu berdiri lebih dulu ketika makanan yang mereka makan telah habis.
"Masih ada yang ingin dimakan lagi?" tanya Tama kepada Anaya.
"Enggak ... makasih banget yah. Kenyang banget," balas Anaya dengan tersenyum.
"Habis ini mau langsung pulang atau kemana Ay?" tanya Tama lagi. Seakan Mas Duda itu siap untuk mengantar Anaya ke tempat yang hendak dia tuju.
"Mampir ke rumah kamu sebentar boleh enggak, Tam? Aku kangen sama Nak Bayi nih ... pengen nyayang Citra dulu sebentar boleh enggak?" tanya Anaya.
Tama pun terkekeh geli karenanya, "Boleh ... tentu boleh," balas Tama.
Ketika ada orang lain yang memberikan perhatian dan kasih sayang untuk Citra dengan tulus, tentu saja Tama merasakan begitu bahagia. Sebab, tidak dipungkiri bahwa Citra sebenarnya juga membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu. Bersyukur keluarga yang saling mensupport dan keberadaan Anaya juga yang membuat Citra benar-benar tumbuh dengan baik.
"Kamu bisa buat MPASI-nya sendiri Tam?" tanya Anaya kemudian.
"Ya, belajar aja dulu besok ... ya walaupun enggak jago sih. Tahu sendiri kan bagaimana kelakuan pria di dapur yang pasti akan bikin dapur kotor dan semua perabotan menumpuk di cucian. Cuma, ya aku mau belajar ... gimana lagi Citra cuma punya Papa," jawab Tama.
Pria itu seakan menjelaskan sebuah fakta bahwa para pria memang tidak handal di dapur. Bukan membuat dapur menjadi lebih bersih, tetapi justru mengotori dapur dan semua peralatan yang ada di dapur. Selain itu, Tama memberikan fakta bahwa hanya dirinya yang dimiliki Citra, ada Mama dan Papanya yang kadang kala membantu saja sudah benar-benar menolong Tama, sehingga Tama bisa terus bekerja.
"Hmm, gak apa-apa. Yang mau belajar dan berusaha itu yang keren. Justru Citra beruntung banget nanti karena Papanya maksimal untuk merawat dia," sahut Anaya.
"Katering MPASI juga ada loh, Tam ... menunya juga bervariasi setiap hari. Sapa tahu kamu mau," ucap Anaya.
Rupanya Anaya pun cukup membekali dirinya dengan berbagai informasi pengasuhan bayi, sampai katering MPASI pun Anaya juga tahu. Siapa tahu saja, Tama bisa memilih alternatif itu untuk Citra.
"Coba yah aku pikirkan pelan-pelan, cuma di awal MPASInya, aku pengen buatkan untuk dia. Biasanya para Mama yang heboh menyambut MPASI pertama anaknya, kali ini aku ingin Citra juga merasakan itu, walau Papanya yang buatin," cerita Tama lagi.
Ya Tuhan, mendengar semua cerita Tama itu yang ada justru hati Anaya kian terharu saja jadinya. Yang disampaikan Tama sepenuhnya benar bahwa para Ibu biasanya yang heboh untuk mencari resep MPASI bintang empat yaitu MPASI yang di dalamnya mengandung Karbohidrat, Lemak Nabat dan Lemak Hewani, serta Protein.
Memberikan menu empat bintang ini dapat menyeimbangkan gizi, baik secara makro dan mikro. Selain itu, nutrisi untuk pertumbuhan bayi pun terpenuhi. Tak ingin kehilangan momen itu, Tama pun akan berusaha untuk memberikan MPASI pertama untuk bayi kecilnya. Keberadaan Mamanya memang sudah tiada, tetapi momen-momen yang bisa Tama lakukan dengan sepenuh hati Tama akan mencobanya.
__ADS_1
"Iya Tam ... Rumah Sakit pun menawarkan jasa katering MPASI kok, yang diawasi oleh ahli gizi juga, di Rumah Sakitnya Ayah ada tuh selebarannya. Nanti aku fotoin dan kirim ke kamu," ucap Anaya.
"Iya Ay, makasih," balas Tama dengan terus melajukan mobilnya, membelah jalanan kota Jakarta yang begitu ramai itu.
Sampai pada akhirnya mobil itu sudah sampai di depan rumah Tama.
"Permisi," sapa keduanya memasuki rumah Tama.
Di ruang tamu sudah ada Mama Rina yang menggendong Citra. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Tama dan Anaya yang datang.
"Rewel enggak Ma?" tanya Tama kepada Mamanya.
"Enggak ... anteng kok," balas Mama Rina.
"Tama masukkan belanjaan ke kulkas dan bersih-bersih dulu sebentar ya Ma," pamitnya.
Rupanya Anaya juga mengekori Tama ke dapur dan membantu menata barang-barang belanjaan itu ke dalam kulkas. Kemudian setelahnya, Anaya mencuci tangannya dengan menggunakan sabun dan mendekat kepada Mama Rina dan Citra.
"Mama, Anaya boleh gendong Citra enggak?" tanyanya.
"Sudah minum tadi, Ma ... ini sampai penuh perutnya," balas Anaya dengan tertawa.
Ketika menggendong Citra, mendekat kepala bayi itu ke dadanya, rupanya Citra menggerak-gerakkan kepalanya ke sumber ASI yang dimiliki Anaya. Sampai Anaya geli dengan gerakan kepala Anaya itu.
"Kamu mau ASI ya Sayang? Ihh, Nak Bayi lucu banget sih ... ke kamar saja ya Sayang, jangan di sini," ucap Citra.
Mama Rina pun terharu, mungkinkah Citra sudah mengenali aroma tubuh Anaya sehingga baru menempel sejenak saja, Citra sudah mengingatkan meminum ASI secara langsung. Andai saja Anaya bisa menjadi Ibu bagi Citra, rasanya Mama Rina tidak akan keberatan.
Di dalam kamar, kurang lebih lima belas menit, Anaya memberikan ASI untuk Citra. Kemudian Anaya sedikit memangku bayi kecil itu.
"Sudah kenyang yah? Lucu banget sih Citra ... cantiknya. Anak siapa sih ini?"
__ADS_1
Anaya terkekeh dan mencium kening Citra, mengajak bicara Citra dengan penuh tawa.
Tidak berselang lama Tama dan Mama Rina pun menyusul ke dalam kamar Citra. "Kalian heboh banget sih," ucap Mama Rina.
"Iya Nenek ... bercanda-canda ini Citranya," jawab Anaya.
Kemudian Anaya memberikan paper bag miliknya menyentuhkannya kepada Citra.
"Ini ... Onty berikan hadiah kecil untuk Citra. Diterima ya Sayang," ucapnya.
Tama cukup ingat dengan paper bag yang dibawa Anaya saat ke Supermarket itu. Namun, dia tidak menyangka bahwa paper bag itu adalah untuk anaknya. Mama Rina juga bingung kenapa justru Anaya membelikan hadiah untuk Citra.
Bayi kecil itu seolah begitu suka mendapat hadiah, sampai tangan kecilnya meraih dan menepuk-nepuk paper bag itu. "Mau dibuka ya Cit? Pengen lihat isinya?" tanya Mama Rina.
"Dibuka boleh enggak Onty?" tanya Mama Rina kemudian kepada Anaya.
"Boleh ... boleh dibuka kok," balas Anaya.
Kemudian Mama Rina dan Tama membuka kotak hadiah itu, betapa terkejutnya keduanya mendapati dodot dengan gambar Minnie Mouse berwarna pink dan set peralatan makan untuk bayi. Sudah pasti itu adalah peralatan yang dibutuhkan dalam MPASI bayi.
"Wah, Citra yang mau MPASI malahan dibeliin sama Onty nih," ucap Mama Rina.
"Tidak apa-apa, Ma ... sedikit hadiah dari Onty juga Citra," balasnya.
"Makasih banyak ya Ay," ucap Tama yang juga tak lupa berterima kasih.
Anaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sembari melihat Tama. Sungguh, bisa membelikan sesuatu untuk Citra rasanya membuat Anaya begitu bahagia. Memberikan dodot dan set peralatan makan yang esok bisa digunakan Citra untuk MPASI pertamanya.
“Yuk, Citra … ucapkan terima kasih kepada Onty,” ucap Tama yang seakan sudah mengajari Citra sejak kecil untuk mengucapkan terima kasih.
“Aciihh,” ucap Tama dan Mama Rina mewakili Citra tentunya.
__ADS_1
“Cama-cama Nak Cantik,” balas Anaya.
Anaya pun terkekeh geli mendengarnya. Wanita itu justru beberapa kali mendaratkan ciuman sayang di kening Citra. Sungguh, Anaya merasa bahwa dia sangat menyayangi Citra. Bisa terlibat dalam tumbuh kembang putri Mas Duda Muda itu justru memberikan sinar kebahagiaan dalam hidupnya.