
Selang satu bulan berlalu, hari ini adalah hari yang spesial untuk Anaya, Tama, dan juga Citra. Tepat dua tahun yang lalu, seorang bayi mungil lahir memberikan kebahagiaan untuk keluarga Tama, tetapi di saat tertentu ada duka yang menggelayuti hati seluruh keluarga besar, ketika almarhumah Cellia tiada. Kini, bayi kecil yang diberi nama Citra Eira Kinanthi itu sudah berusia 2 tahun.
Kediaman keluarga Tama pun kali ini berkumpul dengan Eyang dan Opa Dokter yang berada di sana untuk memberikan selamat ulang tahun untuk cucu mereka. Di ruang tamu rumah Tama sudah dipasangi sendiri oleh Tama dengan tulisan ‘Happy Birthday’ dan nama Citra di sana, lengkap dengan angka 2. Ada kue ulang tahun juga yang sudah mereka pesan dengan karakter salah satu Youtube Channel Burung Nuri yang bernama Lili itu sebagai action figure kesukaan Citra.
“Selamat ulang tahun Citra,” teriak keluarga itu bersama-sama, dan kemudian lagu Selamat Ulang Tahun dan dilanjutkan dengan tiup lilinnya dinyanyikan bersama. Terlihat Citra yang tersenyum dan bertepuk tangan di sana.
Hingga Tama yang menggendong Citra pun bersama dengan Anaya merayakan ulang tahun kedua putrinya itu. Ketiganya sama-sama meniup lilin di atas Kue Ulang Tahun itu dan berharap doa yang terbaik untuk Citra.
“Papa doakan Citra sehat selalu, tambah pintar, dan selalu bahagia ya Sayang,” ucapnya dengan mendaratkan kecupan di kening Citra.
“Mama juga berdoa Citra juga sehat, pinter, nanti jadi Kakak untuk baby yah,” ucap Anaya sekarang.
“Baby love u,” balas Citra dengan mengusap perut Mamanya yang terlihat kian membesar itu.
Setelahnya, Eyang-Eyangnya dan Opa Dokter juga memberikan selamat kepada Citra. Momen emosional dialami oleh Mama Rina yang kala itu justru menangis, tidak menyangka bahwa cucunya yang dia rawat sejak bayi, kini sudah berusia 2 tahun, sudah memiliki Mama dan keluarga yang lengkap tentunya.
“Selamat ulang tahun cucunya Eyang … mengingat bagaimana kamu waktu kecil dulu, bikin Eyang jadi mellow. Sehat selalu ya Citra … bersiap menjadi kakak untuk twins baby yah,” ucap Mama Rina.
“Happy Birthday cucunya Opa … panjang umur dan sehat selalu. Citra pasti jadi Kakak yang sayang adik-adiknya yah,” balas Opa Tendean.
Keluarga yang saling sayang dan juga saling support satu sama lain. Hingga ada tamu yang datang di kediaman Anaya dan Tama kali itu. Wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dan seolah tidak menua di sana. Wanita itu mengetuk pintu dan memanggil nama Anaya di sana.
__ADS_1
“Permisi … Anaya,” sapa perempuan paruh baya itu.
Anaya pun menengok dan mencari arah sumber suara, “Tante Dokter,” balasnya dengan melambaikan tangan.
Seluruh keluarga pun atensinya teralihkan kepada wanita yang dipanggil Tante Dokter itu. Ya, wanita itu adalah Dokter Indri yang kala itu memang diundang spesial oleh Anaya untuk bisa hadir di ulang tahun Citra. Sekaligus Anaya ingin mengenalkan Tante Indri yang tak lain adalah kembaran mendiang Bundanya itu.
"Mama, Papa, dan Ayah ... perkenalkan beliau adalah Tante Indri. Dokter Spesialis Kandungan Anaya, dan juga kembaran dari mendiang Bunda Desy," ucap Anaya memperkenalkan Tante Indri.
Jika Mama Rina dan Papa Budi segera bersalaman dan memberikan ucapan selamat datang kepada wanita yang berprofesi sebagai Dokter Kandungan itu. Di satu tempat, Ayah Tendean justru tertegun. Sungguh. seolah Ayah Tendean melihat sosok mendiang Bunda Desy dalam diri Dokter Indri. Rasa pedih justru yang lebih mendominasi dada Ayah Tendean sekarang ini. Jika, istrinya masih ada, kurang lebih akan seperti Dokter Indri ini.
"Ayah, beliau adalah Dokter Indri ... saudari kembarnya Bunda," ucap Anaya lagi yang mendekat kepada sang Ayah.
Sekadar berkenalan saja, suara Ayah Tendean terdengar bergetar di sana. Andai ada mesin pemutar waktu. Kurang lebih akan segera mendiang istrinya. Sayangnya, yang berdiri di hadapannya hanya saudari kembarnya saja. Sementara raga sang istri sudah menyatu dengan tanah, jiwanya sudah tenang dalam haribaan-Nya.
"Ya, salam kenal ... Indri," balas Dokter Indri dengan santun. Sekilas Dokter Indri pun mengamati Ayah Tendean sesaat, sebatas berkata dalam hati bahwa pria inilah yang menjadi suami Kakaknya yang meregang nyawa ketika melahirkan Anaya. Dulu, Dokter Indri sewaktu muda dan tinggal di Batam pernah mendengar bahwa saudari kembarnya yang tinggal di Jakarta akan menikahi seorang Dokter Spesialis Saraf yang bernama Tendean. Tentu saja, Dokter Indri merasa senang dan berharap kehidupan rumah tangga Kakaknya akan bahagia bersama dengan suaminya. Akan tetapi, setelah itu dan Dokter Indri menempuh pendidikan Dokter, mengambil S2 dan program spesialisasi, tidak pernah lagi terdengar kabar mengenai sosok kembarannya. Puluhan tahun berlalu, barulah Dokter Indri bertemu Anaya secara tidak sengaja dan juga mendengar bahwa Saudari kembarnya sudah tiada.
Padahal di dalam hati, Dokter Indri berharap bisa bertemu dengan saudari kembarnya. Mengenalnya lebih dekat, tetapi semuanya itu tidak pernah terwujud, karena saudari kembarnya sudah lama tiada.
Lantas Dokter Indri beralih dan juga memberikan salam kepada Tama sebagai tuan rumah serta memberikan kado untuk Citra yang berulang tahun.
"Selamat ulang tahun ya Citra cantik ... kado dari Oma ya buat Citra," ucapnya.
__ADS_1
Waktu siang itu dihabiskan bersama dengan makan bersama dan juga berkenalan dengan Dokter Indri. Lebih mengenal sosok Dokter Indri dari dekat. Rupanya Dokter Indri sudah menikah dan bersuami. Memiliki dua putra yang sekarang menempuh pendidikan kedokteran yaitu Raja yang menyelesaikan pendidikan Kedokteran di Nanyang University dan mengambil spesialisasi Obgyn, dan satu lagi bernama Ranver yang sekarang menempuh spesialisasi andrologi (masalah reproduksi pria) yang sekarang menyelesaikan pendidikannya di Oxford, University. Sementara suaminya sendiri adalah Dokter Spesialisasi Kandungan yang kini ditempatkan di Rumah Sakit Dokter Karyadi. Semarang, Jawa Tengah. Bisa dikatakan bahwa keluarga Dokter Indri memang adalah keluarga Dokter, suami, istri, dan dua putranya adalah Dokter. Namun, karena praktik Dokter Indri di salah satu klinik, Dokter Indri tidak bisa berlama-lama di sana.
"Saya pamit dulu yah ... masih ada jadwal praktik," pamitnya.
Anaya dan Tama pun mengantarkan Dokter Indri sampai ke depan pintu gerbang rumah mereka. “Terima kasih Tante Dokter sudah berkenan hadir, maaf yah merepotkan,” ucap Anaya.
“Tidak repot sama sekali kok. Jangan lupa untuk kontrol dua pekan lagi yah … nanti kita akan tahu jenis kelaminnya kalau kalian berdua mau lihat,” ucap Dokter Indri.
Anaya dan Tama pun sama-sama menganggukkan kepalanya, “Oke Tante Dokter … siap,” balasnya.
“Sampaikan salam saya untuk keluarga yah,” balas Dokter Indri lagi dengan melambaikan tangannya kepada Anaya dan Tama.
Sepeninggal Dokter Indri, Anaya dan Tama pun kembali masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, tiba-tiba pintu utama rumah mereka di kunci. Sehingga Tama harus mengetuk pintu itu berkali-kali.
“Kalian di luar dulu yah … sepuluh menit,” teriak Papa Budi dari dalam rumah.
“Ada apa sih Mas?” tanya Anaya dengan bingung.
“Entahlah Sayang … aku juga tidak tahu,” balas Tama dengan mengedikkan bahunya.
Sehingga mau tidak mau, Anaya dan Tama pun menunggu di luar dan tidak bisa untuk masuk ke dalam. Mereka pun menerka-nerka apa yang sebenarnya direncanakan oleh keluarganya di dalam sana?
__ADS_1