Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pertemuan Kali Ini


__ADS_3

“Hati-hati Nak ….”


Wanita yang menjelang usia paruh baya yang menahan tubuh Citra, sehingga tubuh Citra tidak sampai terpelanting ke tanah. Bahkan wanita paruh baya itu masih memegangi tubuh Citra dan memeluknya sesaat.


“Hati-hati, Nak Cantik … banyak akar pohon yang beberapa bagiannya berada di tanah, kalau berjalannya tidak pelan-pelan kamu bisa jatuh,” ucap wanita itu dengan mengusapi punggung Citra.


“Terima kasih,” ucap Citra dengan terdengar nafasnya yang lebih menderu dan wajahnya memerah. Mungkin saja Citra hendak menangis karena nyaris jatuh. Kaget juga. Syukurlah ada orang yang dengan sigap menolongnya.


“Citra, kamu tidak kenapa-napa Sayang? Tunggu Opa,” ucap Opa Tendean dengan dada yang kembang kempis.


Opa Tendean sendiri merasa terkejut dan cukup panik karena Citra tiba-tiba berlari dan nyaris saja kakinya terantuk akar pohon. Syukurlah, ada orang lain yang menolong Citra kali ini. Citra pun yang mendengar suara Opanya segera berbalik dan memeluk Opanya.


“Maafkan Citra, Opa … tadi Citra pengen lihat burung yang cantik itu,” balasnya.


Opa Tendean memeluk Citra, dan segera menggendongnya. Lantas perlahan-lahan dia berdiri dan matanya bersitatap dengan wanita yang sudah menolong Citra itu. Ketika mata bertemu dengan mata, seolah ada perasaan bahwa wanita yang berdiri di hadapannya ini tidaklah orang yang asing.


“Dianti?”


Opa Tendean menyapa dan juga tampak mengenali wanita yang dia panggil Dianti itu.


“Mas Dean?”


Sungguh tidak mengira, setelah bertahun-tahun berlalu. Rupanya Ayah Tendean bertemu dengan wanita yang bernama Dianti itu. Sungguh, tidak mengira berawal dari jalan-jalan di Ragunan dan Ayah Tendean bertemu lagi dengan wanita yang sudah dia kenal beberapa tahun yang lalu.


"Opa kenal?" tanya Citra dengan pandangan yang menelisik Opanya.


"Opa?" tanya Dianti dengan bingung.


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, ini adalah cucuku ... namanya Citra," balas Ayah Tendean.


Ada senyuman samar di wajah wanita yang berusia 46 tahun itu. Terlihat lucu kala mengamati Citra yang masih berada dalam gendongan Opanya.


"Dia, putrinya Aya yah?" tanya Dianti lagi.


"Iya, dia putrinya Aya ... kabarmu bagaimana Di?" tanya Ayah Tendean menyapa.


"Aku masih seperti yang dulu Mas Dean," balasnya.

__ADS_1


Ayah Tendean kemudian menurunkan Citra dari gendongannya. "Ayo Citra, coba sapa dengan baik yah ... ini temannya Opa. Namanya Dianti. Mau dipanggil apa?" tanya Ayah Tendean.


Dianti pun tertawa, "Kalau dipanggil Tante, aku sudah begitu tua. Kalau dipanggil Ibu, kok gimana ... ya sudah, panggil Oma saja," balasnya.


Mendengar jawaban dari Dianti, Citra pun mengulurkan tangannya, "Halo Oma Dianti ... namaku Citra, terima kasih sudah nolongin Citra tadi," ucapnya.


"Sama-sama Citra ... lain kali lebih berhati-hati yah. Supaya tidak tersandung akar atau batu-batu yang ada di sini," balas Dianti dengan ramah.


Ayah Tendean tersenyum dan kedua tangannya memegangi bahu Citra, "Sekarang tinggal di mana?" tanya Ayah Tendean.


"Di Jakarta Mas ... kalau Mas Dean tidak keberatan mampir, aku sedang membuka Taman Baca untuk anak-anak di kawasan Bendungan Hilir. Kalau memiliki buku-buku yang bisa disumbangkan, bisa juga, nanti kami yang akan ambil ke rumah," jelas Dianti.


"Kamu masih suka anak-anak dan buku ya Di?" tanya Ayah Tendean.


"Ya, begitulah Mas ... sudah begitu lama yah, tetapi apa yang aku sukai masih tetap sama," balas Dianti.


Kemudian Citra menarik tangan Opanya, "Opa ... Opa duduk di situ saja, Citra lihat burung itu dulu. Namanya burung apa itu Opa?" tanya Citra dengan menunjuk burung yang indah itu.


"Namanya burung Merak, Citra ... cantik kan. Kalau semua bulunya terbuka, akan jauh lebih cantik," balas Oma Dianti kepada Citra.


"Citra mau lihat dulu sampai bulu-bulunya terbuka ya Opa ... kita duduk dulu saja," pintanya.


"Mirip Aya ya Mas Dean," ucapnya perlahan.


Ayah Tendean tersenyum, sebenarnya tidak ada darah Anaya yang mengalir di dalam tubuh Citra, tetapi memang Citra seolah begitu mirip dengan Anaya. Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, kan anaknya Aya," balasnya.


Lantas, Ayah Tendean bertanya kepada Dianti itu, "Kamu sudah memiliki berapa anak, Di?" tanya Ayah Tendean dengan lirih.


Terlihat Dianti tersenyum samar di sini, "Aku memiliki banyak anak, Mas ... anak asuh karena aku menginvestasikan sejumlah royalti dari bukuku untuk anak-anak di Panti Asuhan Kasih Bunda."


Dianti sendiri adalah seorang penulis buku anak-anak. Penulis buku yang berhasil menerbitkan beberapa buku Best Seller, hasil royalti penjualan bukunya dia investasikan untuk sejumlah anak-anak kurang beruntung di Panti Asuhan Kasih Bunda.


"Mulia sekali, Dian," ucap Ayah Tendean.


"Biasa sama Mas Dean ... jadi, ini sendirian saja sama Citra yah? Sekarang Aya sudah sebesar apa?" tanya Dianti lagi.


"Sudah menikah, dan Anaya memiliki tiga anak. Yang kecil baru saja lahir, bayi kembar fraternal di rumah," balas Opa Tendean.

__ADS_1


"Wah, hebat ... kembar fraternal putra dan putri kan? Biasanya disebut kembar emas itu Mas, karena sudah begitu langka. Kapan yah terakhir ketemu Anaya? Waktu dia se-Citra ini atau lebih besar yah?" tanya Dianti mengingat-ingat.


"Benar ... waktu kami berlibur ke Bandung dulu. Sudah begitu lama ya Di ...."


Citra kemudian berteriak kegirangan kala melihat bulu-bulu burung merak membuka dengan begitu sempurna. Terlihat begitu elok dan juga anggun. Beberapa kali Dianti juga mengabadikan gambar burung merak itu.


"Oma, burung meraknya difoto yah?" tanya Citra.


"Iya, mau Oma gambar untuk membuat buku cerita nanti," jawabnya.


"Citra bisa membaca buku loh Oma," balasnya.


"Oh, ya ... buku apa yang Citra sukai?" tanyanya.


"Buku Papa dan Liburan Terbaik, Oma ... ada Candi Prambanan, Tana Toraja. Citra suka," balasnya.


"Oma kapan-kapan beri bukunya Oma mau?" tanyanya.


"Mau ... mau Oma ... cerita anak? Oma pembuat buku yah?" tanya Citra lagi.


"Iya, Oma penulis buku anak-anak, Citra ... nanti datang ke Taman Baca yang baru Oma buat yah ... ajak Mama dan Papa juga," balasnya.


"Iya Oma ... nanti yah," balas Citra.


Opa Tendean kemudian tersenyum, "Boleh minta alamat dan nomor kamu, Dian ... nanti aku akan kumpulkan buku-buku di rumah. Senang kalau buku bisa disalurkan dengan tepat."


Akhirnya keduanya pun bertukar nomor dan akan bertemu lagi untuk bisa memberikan buku-buku di Taman Baca Dianti yang ada di kawasan Bendungan Hilir.


"Opa, itu Oma yah?" tanya Citra.


"Iya Oma Dian ... kenapa Nak?" balas Opa Tendean.


"Istrinya Opa ... kalau Mama kan sama Papa ... kalau Opa kan sama Oma dong?" balas Citra.


Opa Tendean tertawa di sana, "Bukan begitu juga Citra ... nanti kalau Citra lebih besar, pasti Citra akan memahaminya," balas Opa Tendean.


"Kapan-kapan ajak Citra ke tempa Oma Dian ya Opa ... mau dikasih buku sama Oma," balasnya.

__ADS_1


"Tentu Citra," balas Opa Tendean.


Pertemuan yang tidak disengaja. Sudah begitu lama waktu berlalu dan sekarang Opa Tendean dipertemukan lagi dengan wanita bernama Dianti itu. Bahkan anak sekecil Citra pun bisa berpikir bahwa ada Papa ada Mama, ada Opa dan tentunya ada Opa. Begitu lucunya Citra hingga bisa menerka sedemikian rupa.


__ADS_2