Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Serasa Kembali Pacaran


__ADS_3

"Sekarang kita mau ngapain Sayang?" tanya Tama yang menanyakan kepada istrinya.


Sebab, jika hanya mengikuti kehendaknya saja, sudah pasti Tama ingin langsung bergelut di ranjang dengan istrinya itu. Apalagi usai hujan deras dan mati listrik yang membuatnya harus menyudahi kegiatan panas karena Citra yang terbangun dan juga rewel. Akan tetapi, mengingat banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama, Tama tidak akan egois. Kenyamanan Anaya juga akan dia prioritaskan.


"Makan dulu yuk Mas ... laper banget," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Oke, yuk ... makan di restoran hotel dulu saja ya Yang. Aku baru sewa mobilnya itu besok, jadi kalau mau kulineran keluar ya besok saja yah," balas Tama.


"Iya Mas ... aku sih enggak masalah, penting sama kamu. Seperti katamu tadi, mau menikmati waktu bersama dengan kamu dulu," balasnya.


Tama tersenyum, dia segera menggandeng istrinya itu untuk keluar dari kamar dan tujuannya sekarang adalah untuk makan bersama terlebih dahulu. Di restoran Anaya lebih memesan Rawon, sementara Tama memesan Soto. Mungkin karena udara di Malang yang sejuk, sehingga mereka memilih memesan makanan berkuah dan hangat.


Duduk di restoran yang berada di dalam hotel itu sembari melihat pemandangan yang indah setiap sisi hotel itu. Tentu dengan orang tercinta, rasanya sungguh indah.


"Suapan pertama buat Sayangku," ucap Tama yang mengambil satu sendok Soto dan menyuapkannya kepada Anaya.


Merasa diperlakukan manis oleh suaminya, Anaya pun membuka mulutnya, menerima suapan dari suaminya itu dengan tersenyum. "Makasih Mas Suami," balasnya.


"Sama-sama Sayang," balas Tama yang kemudian barulah memakan untuk dirinya sendiri.


Pun demikian dengan Anaya, dan juga mengambil suapan pertama dari Rawon miliknya dan menyuapkannya kepada Tama. "Aku suapin Mas," ucapnya.

__ADS_1


Tama juga tersenyum dan kemudian menerima suapan pertama dari istrinya itu. Pria itu mengunyah makanannya perlahan dan tersenyum lagi, "Kamu suapin rasanya jadi lebih enak, Sayang."


"Kamu bisa saja sih, Mas ... ya ampun malahan jadi pacaran kayak ABG gini sih," balas Anaya.


"Enggak apa-apa, Sayang ... biar makin harmonis. Dulu kan kita pacaran juga cuma di rumah, sambil ngasuh Citra. Ketemu kalau pagi hari sebelum aku berangkat kerja, dan sore hari setelah aku kerja," balasnya.


"Benar banget ya Yang ... fase ngedate atau apa gitu sudah hilang kayaknya ya Mas ... bagaimana lagi, kita sama-sama terluka, dan fokus untuk mengasuh Citra," balasnya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya Yang ... sekarang, dinikmati waktu pacaran lagi. Pacaran halal kok. Jadi, kan enggak apa-apa."


"Pacaran halal langsung beberapa hari ya Mas ... abis ini mau ngapain Mas?"


Giliran Anaya yang bertanya kepada suaminya itu untuk melakukan apa setelah ini. Sebab, melakukan kegiatan yang diinginkan satu sama lain tentu lebih menyenangkan.


Anaya kemudian menundukkan wajahnya, tahu dengan kemana arah keinginan suaminya itu. "Malam saja ya Mas?" tanyanya kepada suaminya.


"Kenapa harus malam?" tanya Tama.


"Ya, nggak apa-apa. Mau sekarang, usai makan?" tanya Anaya kemudian.


Tama kemudian tersenyum, "Iya ... santai saja. Malam juga enggak apa-apa Sayangku. Ya sudah, buruan dihabiskan kita balik ke kamar yah. Aku agak ngantuk deh Sayang," ucap Tama yang sudah mulai menguap.

__ADS_1


Merasakan bahwa suaminya itu sudah mengantuk, Anaya pun mempercepat makannya dan kemudian meminum airnya terlebih dahulu. Setelahnya Tama membayar makanan mereka berdua dan kemudian kembali ke kamar.


"Kelihatannya aku mending tidur dulu sebentar deh Yang ... daripada ntar malam aku kecapekan dan tidak bisa maksimal," ucap Tama.


Anaya yang berjalan di samping suaminya itu hanya tersenyum, "Kamu capek saja bisa maksimal, Mas ... bikin aku lemes," balasnya.


"Apa iya?" tanya Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... hobi banget bikin aku lemes," bisiknya kepada suaminya itu.


Begitu sudah sampai di kamar. Rupanya Tama segera memeluk istrinya itu, "Peluk dulu, Yang ... kangen. Sayang, bagiku ... kamu cantik banget kalau setiap menapaki puncak asmara bersamaku," ucap Tama.


"Mana ada Mas? Kamu ini bisa saja."


"Serius ... aku enggak bohong." Tama menjawab sembari mengurai pelukannya. Pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu, mencuci wajah, gosok gigi, dan mencuci tangannya biar bersih.


"Udah bersih ... aku tidur dulu sebentar boleh Sayang?" tanya Tama kemudian.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, boleh ... dinikmati saja waktunya, Mas," balas Anaya.


"Temenin aku bobok yah. Mau pelukin kamu, beberapa hari ini Mama Anaya sepenuhnya punya Papanya. Senengnya," balas Tama yang mengajak Anaya untuk naik ke ranjang. Pria itu terlihat senang karena bisa memiliki waktu dengan istrinya.

__ADS_1


"Baiklah Mas Suami tercinta," balas Anaya.


Siang menuju sore yang sejuk itu, Tama dan Anaya memilih istirahat sejenak. Mengistirahatkan tubuh mereka usai perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya, dan dilanjutkan ke Malang. Sebelum malam nanti pasti Tama tidak akan segan-segan mengajak istrinya itu mendaki gunung hingga mencapai puncak asmara bersama.


__ADS_2