Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Inisiatif Sang Ibu Susu


__ADS_3

Di rumahnya sendiri, Anaya seketika khawatir. Memang Anaya belum bisa tertidur karena kepikiran Citra sejak Mama Rina mengabarinya jika Citra demam karena tumbuh gigi. Anaya hanya membaca di sebuah artikel bahwa ketika demam karena tumbuh gigi seorang bayi akan lebih suka untuk menghisap pu-ting ibunya secara langsung.


Usai pumping, Anaya sampai mondar-mandir di dalam kamarnya. Ingin ke rumahnya Tama, tetapi hari sudah malam. Jika tidak kesana, sudah pasti Anaya akan kepikiran. Rasanya, menjadi semakin membingungkan saja untuknya.


Atas inisiatifnya sendiri, Anaya memilih untuk membangunkan Ayahnya, dan akan meminta Ayahnya untuk mengantarkannya ke rumah Tama. Dengan perlahan Anaya mengetuk pintu kamar milik Ayahnya itu.


Tok ... tok ... tok ...


"Ayah," panggil Anaya dengan menunjukkan raut wajah yang tampak bingung.


Rupanya Ayah Tendean pun masih terjaga. Pria paruh baya itu segera bangun dan membukakan pintu kamarnya bagi Anaya.


"Ya, Aya ... ada apa? Kamu belum tidur tengah malam begini?" tanya Ayah Tendean.


"Belum Ayah ... Aya ... uhm, Aya ingin pergi ke rumahnya Tama, Yah ... Citra demam dan rewel karena tumbuh gigi. Bolehkah Anaya menginap di sana Ayah? Untuk Citra," balas Anaya.


Ayah Tendean yang mendengarkan ucapan Anaya agaknya tahu kemana arah pembicaraan putrinya itu. Sehingga Ayah Tendean segera meresponsnya.


"Kamu ingin Ayah mengantarkanmu ke rumah Citra yah? Kamu khawatir dengan Citra?" tanya sang Ayah.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Iya Ayah ... Aya khawatir sama Citra. Jadi, boleh enggak Ayah?" tanya Anaya lagi.


"Aya, ini sudah tengah malam ... besok pagi saja ke rumahnya Citra. Percayalah kepada Ayah, Tama adalah Papa yang baik. Tama pasti bisa menghandle Citra malam ini," balas Ayah Tendean.


"Hanya saja, Anaya tetap kepikiran Ayah ... jika tidak ke sana, Anaya tidak akan bisa tidur," balasnya lagi.


Seolah bahwa Anaya sudah berkemauan keras, Ayah Tendean pun menyetujui permintaan putrinya itu. "Baiklah ... Ayah akan antar kamu ke sana. Hanya saja, hanya boleh di kamarnya Citra saja, Aya. Ingat, kamu hanya Ibu Susu dan mengasuhnya saja ... sementara dengan Tama, kamu tetap bukan mahramnya. Ayah sudah bilang, sayang boleh ... hanya saja jangan terlalu sayang, nanti kalau Tama menemukan wanita lain dan menikahinya, kamu yang akan terluka," balas Ayah Tendean.


"Gimana lagi Ayah ... Aya sudah terlanjur sayang sama Citra. Iya, selama di sana, Aya juga tidak pernah masuk ke dalam kamarnya Tama kok Ayah. Aya juga tahu diri. Aya kali ini tidak akan mengecewakan Ayah lagi," balasnya.

__ADS_1


"Baiklah ... kabarin Tama dulu, kalau kamu akan datang dan pakai jaket kamu, ini sudah malam," pinta Ayah Tendean.


Untuk memenuhi keinginan Anaya, Ayah Tendean segera mengeluarkan mobilnya dan segera mengantarkan Anaya ke rumah Tama. Sepanjang perjalanan begitu banyak nasihat yang Ayah Tendean sampaikan kepada Anaya dan juga termasuk dengan hubungannya dengan Reyhan. Ayah Tendean meminta untuk memutuskan semua, sehingga kalau pun di kemudian hari jika ada pria yang tepat yang hendak meminang Anaya, Ayah Tendean akan memberikan izinnya.


Berkendara beberapa belas menit, dengan jalanan yang sudah lengang, Anaya kini sudah sampai di rumah Tama. Segera Anaya turun dari mobil Ayahnya, berpamitan, dan segera masuk ke dalam rumah Tama. Anaya memilih tidak mengetuk pintu karena sudah pasti akan membangungkan penghuni rumah yang lain, Anaya memilih untuk menelpon Tama.


Tama


Berdering


"Halo ... Tam," sapa Anaya melalui panggilan seluler itu.


"Ya, halo ... Ay, ada apa?" balas Tama.


"Uhm, aku sudah berdiri di depan rumah kamu. Tolong bukakan pintu untukku dong," balas Anaya.


"Aku tidak bercanda, Tam ... cepat bukakan pintu," balas Anaya.


Rupanya tidak berselang lama, Tama sudah berdiri di depan pintu dengan masih menggendong Citra. Tama pun menggelengkan kepalanya, melihat Anaya yang hanya mengenakan piyama rumahan dan jaket, dengan membawa sling bag datang ke rumahnya tengah malam begini.


"Aya," sapa Tama begitu membukakan pintu.


Anaya pun tersenyum dan segera masuk ke dalam rumah Tama. Wanita itu tetapi agak menundukkan wajahnya, lantaran melihat kemeja yang Tama kenakan masih terbuka, hingga menunjukkan bagian dada pria itu yang memang usai melakukan skin to skin dengan Citra.


"Tama, kemeja kamu," balas Anaya dengan cepat-cepat membuang muka.


"Eh, sorry ... ini aku habis skin to skin sama Citra," balasnya.


Namun, ingin membenarkan kancing kemejanya, Tama juga bingung, karena sekarang kedua tangannya memegangi Citra. Kedua tangannya tidak bisa untuk mengancingkan kemeja itu.

__ADS_1


"Sini, Citra biar aku yang gendong," balas Anaya yang segera menggendong Citra.


Begitu Citra sudah berpindah tangan, Tama segera mengancing kemejanya. Kemudian Papa muda itu pun menghela nafas karena cukup gugup juga harus mengancingkan kemeja di hadapan Anaya. Malu rasanya.


"Demam banget ini, Tama ... gimana, mau diminumin obat lagi enggak?" tanya Anaya yang mengusapi kening Citra.


"Sebentar lagi ... belum ada empat jam soalnya. Katanya Mas Bisma kan selang empat jam boleh diminumin lagi, lima belas menit lagi," balas Tama. Kemudian Tama melihat kepada Anaya, "Kamu ke sini naik apa?" tanyanya.


"Oh, tadi sama Ayah kok ... aku bilang sama Ayah kalau mau menginap di sini," balasnya.


"Syukurlah ... aku gak tega kalau kamu sampai naik taksi online tengah malam begini. Ya sudah, ke kamarnya Citra saja yuk ... makasih banget Aya, aku justru merepotkan kamu," balas Tama.


"Tidak repot, Tama ... lagian kalau aku di rumah, sudah pasti aku tidak bisa tidur karena kepikiran Nak Cantik ini terus," balas Anaya.


Sungguh, kali ini sepenuhnya adalah inisiatif dari Anaya sendiri. Di rumah, juga dia tidak bisa tertidur karena terus memikirkan Citra. Setelah ada di rumah Tama, dan bisa menggendong Citra seperti ini, Anaya merasa lebih tenang.


"Makasih banyak yah ... mau minum? Aku buatkan," tawar Tama kepada Anaya.


"Enggak ... enggak usah. Aku sudah minum banyak tadi di rumah. Jadi, ini kita tahan lima belas menit dulu, setelah ini Citra dikasih obat lagi yah?" tanya Anaya.


"Iya ... makasih banyak Aya, aku merepotkan kamu banget yah," balas Tama lagi.


Di dalam kamar Citra, Anaya segera menggendong bayi kecil yang badannya tengah demam dan merengek-rengek dalam tangisannya itu. Tumbuh gigi itu memang tidak nyaman, tetapi mau tidak mau harus melampaui fase itu. Setelah lima belas menit berlalu, Tama memberikan Paracetamol Drops terlebih dahulu untuk Anaya, dan dia berharap bahwa Citra akan segera turun demamnya malam ini.


"Pinter ya Sayang ... Citra udah minum obat. Abis ini ne-nen yah ...."


Anaya mengajak Citra berbicara dengan masih menggendong Citra. Anaya kemudian melirik kepada Tama, "Tam, kamu kalau mau ke kamar tidak apa-apa. Aku mau ngasih ASI buat Citra. Tidak apa-apa, istirahatlah ... aku akan urus Citra," ucapnya.


Jujur, di kala Citra sakit dan melimpahkan mengurus putrinya itu kepada orang lain membuat Tama tidak enak hati rasanya. Dia adalah Papanya, seharusnya memang dia sendiri yang harus mengurus Citra. Namun, jika berada dalam satu kamar, dan Anaya hendak memberikan ASI untuk Citra rasanya juga tidak nyaman. Akhirnya mau tidak mau Tama akan meninggalkan kamar Citra. Memberikan waktu untuk Anaya supaya nyaman memberikan ASI untuk bayinya.

__ADS_1


__ADS_2