Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kejutan untuk Mama Anaya


__ADS_3

Di hari ini adalah hari yang spesial untuk Anaya. Sebenarnya, dalam beberapa tahun pernikahannya dengan Anaya, perayaan ini selalu dirayakan. Akan tetapi, sekarang Tama tampak ingin merayakannya secara khusus. Bukan membuat istrinya sebal, tetapi dari pagi Tama sudah begitu rajinnya membersihkan rumah.


"Hari ini mau dibantuin apa Sayang? Kamu santai saja, tidak usah masak. Aku nanti yang pesan makanan untuk makan kita," ucap Tama yang seakan memberi hari libur untuk istrinya itu.


Melihat suaminya yang terlampau rajin, Anaya justru mengernyitkan keningnya, "Tumben sih Mas ... biasanya kamu paling suka kalau aku masakin. Masak sekarang enggak, dan justru mau pesan makanan sih?" tanya Anaya dengan bingung.


"Ya, sesekali beli lauk saja kan tidak apa-apa, Sayang ... tadi pagi begitu bangun, aku juga sudah memasak Nasi. MPASI untuk Charela dan Charla juga sudah aku masakin. Aman," balas Tama.


Bahkan ketika mendengar bahwa Tama juga sekaligus membuatkan MPASI untuk Si Kembar, Anaya kian bingung jadinya. Akan tetapi, dia ingat dengan dulu ketika dia masih menjadi ibu susu untuk Citra, dia pernah melihat Tama berjibaku di dapur dan membuatkan Bubur MPASI pertama untuk Citra. Kala itu, Anaya merasa kagum dengan Tama. Dia seorang pria, seorang ayah yang kala itu masih menduda, tapi rela bangun pagi, dan membuatkan MPASI untuk Citra. Terlihat sekali kasih sayang seorang ayah tunggal dari Tama beberapa tahun yang lalu.


"Mendengar kamu membuat bubur MPASI, mengingatkanku saat kamu membuatkan bubur MPASI pertama untuk Citra. Aku jadi ingat, ketika MPASI pertama menjadi momen menyenangkan dan berharga untuk ibu dan bayi. Kamu waktu itu bilang, tidak ingin membuat Citra kehilangan momen MPASI pertamanya. Bagaimana riwehnya seorang ibu berjibaku di dapur dan membuat MPASI, menyuapi si bayi, dan melihat si bayi memakan makanan pendamping ASI pertamanya. Tahu enggak Mas, waktu itu aku kagum banget sama kamu. Pengen nangis ada seorang ayah yang begitu keren dan berpikir supaya momen itu tidak hilang," cerita Anaya seorang memorinya mengingat lagi ke beberapa tahun yang lalu.


Tama pun tersenyum di sana, "Waktu itu yang Citra miliki hanya aku, Sayang ... memang ada Eyangnya, dan ada kamu. Namun, aku Papanya. Aku juga tidak ingin membuat Mamaku kerepotan mengurus anakku. Sebisa mungkin apa yang aku bisa lakukan, sudah pasti aku lakukan. Waktu itu, walau semalaman aku tidak bisa tidur, begadang, tapi aku selalu bangun pagi mencuci baju-baju kotor milik Citra, mencuci dan mensteril dodot bayi dan sebagainya. Bahkan di malam hari aku terkadang melipati pakaian Citra. Sisi lain seorang duda beranak bayi, Yang," cerita Tama.


Image yang terlanjur terbentuk sekarang adalah duda yang berpikiran kotor bahkan berotak mesum dan haus belaian. Padahal di luar sana ada sisi lain seorang duda yang terpuruk karena kepergian istri tercinta, dan juga mereka yang all out untuk mengurus bayinya. Sama seperti Tama, yang ketika pulang dari kantor harus menggendong bayinya. Di malam hari harus menidurkan bayinya. Bahkan berbagai kegiatan pengasuhan akan dilakukan Tama, dengan ditolong Mama Rina dan Anaya yang waktu itu menjadi Ibu Susu untuk Citra.


"Kamu dulu itu duda luar biasa, Mas ... keren deh," balas Anaya.


"Ya, walau aku banyak kurangnya, Sayang ... makasih yah, kamu sudah mau dipinang duda ini. Setahun menduda, akhirnya aku memiliki pendamping hidup lagi," balas Tama.


Memang selang waktu yang bergulir hanya satu tahun. Akan tetapi, dalam satu tahun itu Tama pun belajar banyak hal. Menjadi ayah tunggal dengan berbagai tantangan dan problematikanya. Hingga akhirnya, dia memberanikan diri untuk meminang Anaya.


"Setahun ya sudah lama sih Mas ... banyak kok pria yang baru kehilangan istrinya atau usai bercerai dan sudah menikah lagi. Maaf, ibarat kata tanah pemakaman istrinya belum kering sudah menikah lagi," balas Anaya.

__ADS_1


"Ya, tapi menurut mantan mertuaku, aku seharunya menduda untuk seribu hari, Yang," balas Tama.


Anaya pun tersenyum, "Iya, peristiwa yang bikin sebel waktu itu ya Mas. Ya sudah, aku mau menjemur bajunya anak-anak dulu, Mas ... itu mesin cucinya sudah berbunyi. Sudah waktunya menjemur dulu," ucap Anaya.


Akan tetapi, Tama dengan cepat menghalau Anaya dan menyuruh istrinya itu untuk berada di dalam kamar saja. Dia yang akan menjemur baju anak-anaknya. Tama benar-benar melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri. Sementara Anaya diminta untuk istirahat.


Hingga sore pun tiba, Anaya tampak menatap wajah suaminya yang sedang rebahan di sisinya itu. 


"Tumben loh Mas ... hari ini kamu kerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Padahal ini hari libur dan kamu bisa istirahat dari pekerjaan di kantormu. Malahan kamu mengerjakan semua sendiri, gak mau dibantuin," ucap Anaya yang sudah berkaca-kaca di sana.


Tama pun tersenyum, "Sesekali tidak apa-apa, Sayangku," balas Tama.


"Ya, tapi aku enggak mau, dikira menjadikan suami sebagai pembantu. Nanti viral kayak di media sosial itu, Mas," balas Anaya.


Tama justru terkekeh geli, "Ya, biarin aja. Bagiku rumah tangga itu adalah sharing, Yang ... berbagi peran, berbagi pengasuhan, dan berbagai tugas rumah tangga. Santai saja," jawab Tama.


Begitu membukakan pintu, Anaya terkejut dan sekarang benar-benar menangis karena melihat Mama Rina, Papa Budi, Ayah Tendean, Bunda Dianti, dan Citra yang datang dengan membawa kue ulang tahun dan bunga Mawar Putih kesukaan Anaya. Tangisannya benar-benar pecah, karena dikejutkan dengan orang tua dan mertuanya yang datang sekarang.


"Happy Birthday Mama Anaya!"


Semua yang datang meneriakkan ucapan selamat ulang tahun. Anaya menangis sampai sesegukan. Barulah dia sadar mungkin suaminya yang sangat rajin hari ini karena dirinya tengah berulang tahun. Anaya menoleh kebelakang dan menatap suaminya, dan terlihat Tama merespons dengan menganggukkan kepalanya.


"Happy Birthday My Love," ucap Tama dengan mendekat dan mengecup pip Anaya.

__ADS_1


"Makasih Mas Suami," balas Anaya dengan sesegukan di sana.


Kemudian Bunda Dianti mengambil beberapa langkah dan meminta Anaya untuk meniup lilin dengan angka 27 tahun di sana.


"Selamat ulang tahun putrinya Bunda ... sudah dewasa dan menjadi ibu dari tiga anak yang lucu-lucu, panjang umur dan sehat selalu yah. Yuk, tiup lilinnya," ucap Bunda Dianti.


Anaya menganggukkan kepalanya dan perlahan mulai meniup lilin itu. Ketika nyala api dari lilin itu padam, keluarga pun bertepuk tangan dan kembali meneriakkan, "Selamat Ulang Tahun!"


Wah, sungguh hebat rasanya. Dia yang lupa akan hari ulang tahunnya. Sekarang justru mendapatkan kejutan spesial dari seluruh keluarga. Rasanya begitu bahagia dan tentunya terharu.


Kemudian Citra mendekat dan menyerahkan Bunga Mawar Putih untuk Mamanya. "Selamat ulang tahun Mama Anaya ... terima kasih sudah menyayangi Citra dan adik-adik. You are the best mom in the world. I Love U so much Mama," ucapnya.


Anaya pun menyerahkan Charel dalam gendongan Mama Rina, kemudian dia berlutut, menyamakan tingginya dengan Citra, dan kemudian memeluk putrinya itu.


"Terima kasih Nak Cantiknya Mama ... Mama sangat sayang sama kamu, Charel, dan Charla," balasnya.


"Sehat dan bahagia ya Mama," ucap Citra lagi.


"Amin ... doakan yang terbaik untuk Mama ya Nak Cantik," balasnya.


Kemudian Anaya mendapatkan pelukan dan ciuman dari orang tua dan mertuanya. Terutama Ayah Tendean yang memeluk Anaya dengan erat.


"Terima kasih sudah hadir ke dunia 27 tahun yang lalu dan menyempurnakan hidup Ayah. Kala itu hidup Ayah penuh duka, tapi usai memiliki kamu, Ayah merasa bahagia. Selamat ulang tahun, Anaya," ucap Ayah Tendean.

__ADS_1


"Terima kasih Ayah," balas Anaya yang menangis di pelukan Papanya.


Ini hari yang istimewa untuk Anaya. Mungkin dulu ketika hari kelahirannya akan teringat dengan berpulangnya almarhumah bundanya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu mereka mengingat kebahagian. Bahkan di ulang tahun ini Anaya juga bahagia karena ada sosok baru yang dia panggil Bunda. Ulang tahun yang indah untuknya. Happy Birthday, Anaya!


__ADS_2