
Selang sepekan berlalu, di hari ini kediaman Ayah Tendean sudah dihias dengan tende dan beberapa bunga. Hari ini akan menjadi hari di mana pengajian untuk syukuran empat bulanan Anaya dilangsungkan.
Biasanya, tasyakuran empat bulanan di adakan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus meminta perlindungan kepada Allah agar sang bayi di dalam kandungan selalu diberi keselamatan. Kali ini memang Ayah Tendean yang meminta supaya bisa menggelar tasyakuran empat bulanan di rumahnya. Tentu ada rekan-rekan Dokter dan teman sejawat yang akan diundang. Begitu juga dengan rekan kerja Tama, Papa Budi, dan beberapa tamu yang diundang secara khusus oleh Anaya dan Tama.
Sebagaimana permintaan Anaya sebelumnya, Tama juga mengundang anak-anak yatim dan piatu yang akan turut mendoakan si bayi dalam kandungan. Disebutkan bahwa doa anak yatim dan piatu akan didengarkan oleh Allah. Oleh karena itu, di hari yang baik pula, Tama dan Anaya juga sekaligus mengucapkan syukur dengan memberikan sedikit santunan kepada anak yatim dan piatu.
Tidak ada kata yang lebih indah, selain bisa berbagi. Sekaligus ini juga menjadi momen bagi Anaya untuk merasakan pengajian empat bulanan. Dulu dia sama sekali tidak pernah merasakan hal ini. Akan tetapi, dengan adanya Tama, banyak yang berubah, termasuk ucapan syukur yang diselenggarakan petang hari ini.
"Mama," ucap Citra yang kala itu begitu menempel, padahal Mamanya baru dimake-up.
"Iya Sayang ... sebentar yah, Mama mau dimake-up, biar cantik," balas Anaya.
"Mama cantik," balas Anaya yang perlahan sudah bisa berbicara.
"Kamu juga cantik, Sayang ... lebih cantik kamu malahan," balas Anaya.
MUA yang sedang merias wajah Anaya pun tersenyum, "Putri pertamanya ya Kak?" tanyanya.
"Iya Kak ... ini yang sulung," balas Anaya.
"Cantiknya," balas MUA tersebut.
Anaya pun tersenyum dan mendekap Citra yang masih duduk di pangkuannya itu. "Tuh, kata Onty nya kamu cantik, Nak," ucap Anaya dengan gemas.
__ADS_1
"Aciih," balas Citra di sana.
"Lucu banget sih, namanya siapa ini?" tanya MUA itu lagi.
"Cita," balas Citra, itu juga karena Citra belum bisa menyebutkan huruf R, sehingga dia tahunya namanya Cita.
"Namanya Citra, Onty," balas Anaya lagi.
Cukup lama Anaya berhias, mulai dari make up yang tipis saja, dan mengenakan dress panjang dengan warna peach, demikian juga Citra yang mengenakan baju serupa dengan Anaya. Sementara Tama akan mengenakan kemeja koko dengan warna peach. Sebenarnya warna peach ini dipilih juga karena hanya Anaya sedang suka warna peach, sedangkan bayi dalam kandungan Anaya kembar fraternal ada cowok dan cewek, jika hanya memilih warna pink atau biru tentu tidak sesuai dan mewakili baby twins. Akhirnya, warna peach yang sengaja dipilih Anaya.
"Sudah selesai?" tanya Mama Rina kemudian.
Biasanya ibu kandunglah yang akan datang dan menjemput putri tercintanya, tetapi karena Anaya sudah tidak memiliki seorang Bunda, jadi Mama Rinalah yang menjemput menantunya itu.
"Sudah Bunda," balas Anaya.
Kemudian Mama Rina menggandeng Anaya, mengajak menantunya itu untuk turun dan juga Anaya yang menggandeng Citra di sana. Sungguh, ini pemandangan yang indah, dan terlihat bahwa Anaya tetap bisa menyayangi Citra dengan kasih yang sama besarnya dengan bayi yang kini sedang dikandungnya.
Setibanya di bawah, Anaya pun duduk di samping Tama, dan Citra pun mengambil duduk di antara Mama dan Papanya. Lantas, mulailah dimulai pengajian malam itu. Dengan pemuka agama yang memimpin doa dan juga sholawatan dari anak yatim piatu.
Dengan khusyuk, Anaya dan Tama, serta semua tamu undangan yang hadir pun mengikuti doa bersama itu.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman ayat 14)
__ADS_1
“Ya Allah, peliharalah dia selama berada dalam kandungan ibunya. Sehatkanlah dia, karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang bisa menyehatkan. Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.
Ya Allah, Bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang bagus dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu.
Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna.
Ya Allah, Jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya."
Ketika doa ini dilantunkan, Anaya menitikkan air matanya. Dulu, dia pernah kehilangan buah hatinya, dan kini dia benar-benar merendahkan dirinya di hadapan Allah dan meminta kemurahan untuk dirinya, semoga janin yang ada di dalam kandungannya sehat, dirinya juga diberikan kesehatan dan kekuatan untuk melahirkan bayi kembarnya kelak.
Tama pun melihat bagaimana istrinya menangis di sana, pria itu lantas mengusapi punggung Anaya sejenak.
"Tuhan pasti menolong kita," ucap Tama dengan lirih.
"Amin," balas Anaya dengan menghela nafasnya.
"Baby twins dan Mamanya akan selalu sehat," ucap Tama lagi.
Citra pun yang melihat Mamanya menangis di sana, anak kecil itu segera berdiri dan mengecup pipi Mamanya.
"Mama angan angis (Mama jangan menangis)," ucapnya dengan melingkarkan tangannya di leher Anaya.
"Iya Sayang," balas Anaya dengan tersenyum menatap putrinya itu.
__ADS_1
"Cita ayang Mama," balasnya.
Tama pun tersenyum di sana, dengan hamilnya Anaya terbukti bahwa Anaya justru kian menyayangi Citra, pun begitu juga dengan Citra yang kian menyayangi Anaya. Semoga kebahagiaan ini akan selalu ada untuk selamanya.