
Baru beberapa jam Anaya di rumah, rupanya ada Ayah Tendean yang datang untuk mengunjungi Anaya. Sebelumnya Tama memang memberitahukan bahwa Anaya mengalami blighted ovum, sehingga harus melakukan kuretase untuk membersihkan jaringan yang ada di dalam rahim. Mengingat Ayah Tendean sedang praktik di Rumah Sakit, baru sekarang Ayah Tendean bisa mengunjungi putrinya.
Terdengar ketukan pintu dan juga suara Ayah Tendean yang memanggil Anaya dan juga Tama.
“Anaya … Tama,” panggilnya disertai dengan mengetuk pintu.
Mengenali suara Ayah Tendean, Anaya yang semula di kamar akhirnya memilih untuk turun ke ruang tamu dengan perlahan. Akhirnya, Tama memilih membopong istrinya itu sampai ke ruang tamu. Itu karena Tama tidak tega melihat Anaya yang masih kesakitan dan harus naik turun tangga.
“Makasih Mas,” ucap Anaya begitu Tama sudah mendudukkannya di sofa.
“Sama-sama My Love,” balas Tama.
Kemudian Tama sedikit berlari dan membukakan pintu untuk Ayah Tendean. "Ayah," sapanya dengan menjabat tangan Ayah Tendean, bersalaman taklim kepada mertuanya itu.
"Sehat?" tanya Ayah Tendean kemudian.
"Iya, sehat Ayah," balas Tama. "Mari silakan masuk, Yah," ucap Tama lagi dengan sopan mempersilakan Ayah Tendean untuk masuk ke dalam ruang tamu.
Ayah Tendean segera menuju ruang tamu dan Anaya sudah tersenyum melihat Ayahnya yang datang dengan membawa kue, buah, dan juga makanan kesukaan Anaya yaitu Ramen. Sengaja Ayah Tendean membelikan semua itu untuk putrinya satu-satunya.
"Ayah," sapa Anaya dengan berdiri dan memeluk Ayahnya.
"Duduk saja, Aya," balas Ayah Tendean yang meminta anaknya untuk duduk saja.
__ADS_1
Sebab, jujur saja Ayah Tendean juga kaget dan kepikiran waktu Tama memberitahukan bahwa Anaya mengalami Bligthed Ovum. Pertama kali yang dipikirkan Ayah Tendean pasti Anaya sedih karena harus kehilangan janinnya. Sebagai Ayah yang mendampingi Anaya, Ayah Tendean merasa pasti Anaya rapuh dan harus merasakan kehilangan.
"Kamu baik-baik saja, Ay?" tanya Ayah Tendean kemudian.
Dengan cepat Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Aya baik-baik saja kok Ayah. Tadi waktu pulang masih terasa sedikit kram di panggul. Sekarang tidak terlalu," balas Anaya lagi.
Mendengar bahwa Anaya baik-baik saja, rasanya Ayah Tendean merasa lega. Sebab, sebelumnya Ayah Tendean mengira Anaya akan bersedih seperti yang dulu, bahkan lebih buruk jika sampai depresi yang pernah diidap Anaya bisa kambuh. Syukurlah, semuanya itu tidak terjadi.
"Kenapa bisa Blighted Ovum?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Ya, ada embrionya tetapi tidak berkembang Ayah. Jadi, harus diambil. Sebenarnya bisa diberikan obat dan nanti bisa gugur dengan sendirian melalui haid. Cuma Mas Tama minta dibersihkan sekalian saja Ayah, justru bersyukur karena ada sisa plasenta juga yang menempel di dinding rahim. Jadi tadi sekalian diambil," balas Anaya.
Tampak Ayah Tendean menghela nafas dan menatap kepada Anaya, "Syukurlah ... makasih Tama, sudah memberikan saran yang baik. Jika tidak, kita tidak pernah tahu ada retensi plasenta di dalam rahimnya Anaya," balas Ayah Tendean.
"Citra di mana?" tanya Ayah Tendean kemudian. Sebab, Ayah Tendean juga ingin menggendong Citra terlebih dahulu.
"Citra tidur di rumah Eyangnya, Ayah ... Tama ingin fokus dengan Anaya dulu. Kebetulan Eyang sana juga kangen sama Citra, jadi ya sudah ... Citra di sana, dan Papanya full untuk Mamanya dulu," balas Tama kemudian.
Tampak Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, dan menepuk bahu Tama. Ada perasaan lega dari seorang Ayah karena ada pria yang begitu tepat untuk putrinya satu-satunya. Ayah Tendean merasa bahwa memang Tama adalah sosok pria yang tepat untuk Anaya.
"Baiklah ... Ayah pulang yah ... Anaya, banyak istirahat dan jangan angkat yang berat-berat dulu. Pastikan pulih dalam dua-tiga hari ini," balas Ayah Tendean.
"Baik Ayah, terima kasih banyak," balas Anaya.
__ADS_1
Tama mengantarkan Ayah Tendean sampai ke depan rumah, kemudian mengucapkan salam juga kepada Ayah mertuanya itu.
"Terima kasih banyak Ayah sudah mau menjenguk Anaya, pasti Anaya senang karena dijenguk oleh Ayah," ucap Tama.
"Sama-sama Tama ... Ayah titip putri Ayah satu-satunya yah. Jaga dia. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk merawat Anaya. Terima kasih banyak," balas Ayah Tendean.
Setelahnya, Tama memilih menyimpan roti dan buah-buahan yang dibawa Ayah Tendean ke dalam kulkas, kemudian menawarkan Ramen yang dibawa Ayah Tendean kepada Anaya.
"Mau makan Ramen nya Sayang?" tanya Tama.
"Boleh ... pas banget, aku tadi kepikiran pengen Ramen loh," balas Anaya.
Tama membukakan Ramen itu dan memberikannya kepada Anaya, tidak lupa membuka plastik untuk sumpit dalam kemasan itu.
"Aku suapin mau?" tanya Tama kemudian.
"Makan sendiri saja bisa kok, Mas," balasnya.
Tama lantas mengusapi puncak kepala Anaya di sana, "Makan yang lahap Sayangku ... yang banyak, biar cepet pulih," balasnya.
"Iya, sudah baikan kok. Tinggal pemulihan aja, Mas ... dua hari palingan sudah sembuh kok," balas Anaya.
Tama kemudian tersenyum, "Intinya kamu sembuh dulu. Full aku akan jagain kamu dan merawat kamu. Jadi kamu butuh apa pun tidak usah ragu untuk meminta bantuanku. Aku akan selalu ada buat kamu," balas Tama dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Sungguh, beruntungnya Tama memiliki suami yang begitu siaga seperti Tama. Bahkan Tama memilih Citra di rumah Eyangnya dulu supaya Anaya bisa beristirahat dan juga dia bisa mengurusi Anaya terlebih dahulu. Bukan bermaksud menomor duakan anak, tetapi Anaya lebih cepat pulih, tentu akan lebih cepat juga untuk bisa mengasuh Citra lagi.