
Syukurlah setelah dua hari, demam Citra sudah sembuh. Tumbuhan gigi layaknya biji jagung yang putih tampak terlihat di gusi Citra yang bawah. Tama dan Anaya yang pertama kali melihatnya pun sama-sama tertawa, karena Citra terlihat lucu.
“Gigi kamu sudah tumbuh Citra Sayang … ih, lucu banget,” ucap Tama yang kala itu memangku putrinya dan memeluknya dengan begitu erat.
Sementara Anaya yang duduk tidak jauh dari Tama pun tampak turut tertawa, dan mengamati Citra yang menjadi lebih lucu dengan giginya yang baru saja tumbuh. “Bener … lucu banget. Gigi kelinci ya Citra,” balas Anaya.
“Bener yah … giginya dua kayak kelinci,” balas Tama yang masih begitu gemasnya dengan Citra.
“Iya, ini yang tumbuh bawah dulu yah … kelihatannya nanti habis ini yang tumbuh gantian yang di atas itu dua lagi,” balas Anaya.
Mengingat ketika periode tumbuh gigi, ada kalanya pertumbuh tiap gigi susu tidak membutuhkan waktu lama, Tama justru terpikirkan dengan demam yang mungkin saja bisa kembali datang saat giginya kembali tumbuh nanti.
“Kalau nanti tumbuh gigi lagi, demam lagi yah? Duh, aku tuh paling khawatir kalau Citra demam,” balas Tama.
Anaya kemudian tersenyum tipis, “Ya, nanti kalau Citra demam lagi, Onty menginap di sini yah … bobok sama Citra,” balas Anaya.
Tama pun sekilas menatap Anaya. Melihat Anaya dan segala kasih sayangnya untuk Citra, seolah kasih sayang dan ketulusan itu mengetuk pintu hati Tama. Rasanya jika Citra mengalami demam, Tama seolah benar-benar bersandar pada Anaya yang bisa menjaga Citra dan memberikan ASI-nya di tengah malam.
Rupanya baru sesaat di dalam pangkuan Tama, Citra tampak mengejan dan kelihatan sedang pup. Tama pun tertawa, “Bisa-bisanya kamu pup sih, Citra … yuk dibersihkan Papa dulu,” ucapnya dengan membawa Citra untuk dibersihkan.
Anaya yang melihat Tama pun salut. Ya, sejak Citra bayi sampai sekarang sudah berusia 7 bulan, Tama bisa melakukan semuanya sendiri, termasuk membersihkan diapers. Jikalau di luar sana mungkin para Ayah akan sangat menolak untuk membersihkan diapers anaknya, tetapi tidak dengan Tama. Tama bisa melakukan semuanya tanpa harus terlihat jijik. Justru ada kalanya Tama membersihkan diapers Citra yang kotor sambil mengajak anaknya itu bernyanyi.
“Yah, diapers kamu tinggal satu ya Cit? Ya sudah, habis ini Papa ke mini market di depan buat beliin kamu diapers yah?” ucap Tama yang mengajak Citra berbicara.
Setelah selesai membersihkan Citra, Tama menyerahkan Citra kepada Anaya terlebih dahulu, dan kemudian Tama mencuci bersih tangannya dengan sabun. Kemudian Tama tampak masuk ke dalam kamarnya melalui connecting door untuk mengambil dompetnya.
“Ay, aku mau ke mini market depan dulu beli diapersnya Citra. Ada yang mau dititip enggak?” tanya Tama.
__ADS_1
"Aku ikut boleh enggak Tama? Kita ajakin Citra saja pake stroller. Biar aku yang dorong. Aku mau beli sesuatu deh," balas Anaya.
"Yakin, mau ikut? Nanti kalau ada tetangga yang nyinyir loh," balas Tama.
Setidaknya Tama memang hanya mengingatkan saja, karena ada beberapa tetangga yang nyinyir dan mengatakan bahwa Anaya mungkin saja menjadi pacarnya Mas Duda. Bahkan di kala Posyandu ada juga yang terang-terangan bertanya apakah mungkin Anaya akan menjadi istrinya Tama. Tama hanya tidak ingin Anaya merasa terganggu dan tidak nyaman saja.
"Enggak apa-apa. Sudah tujuh bulan aku di sini, sudah biasa sih sama beberapa tetanggamu. Biarin saja," balas Anaya.
"Ya sudah ... yuk, mau beli apa sih sebenarnya?" tanya Tama.
"Ada deh ... sama mau jajan kok," balas Anaya dengan tersenyum dan sudah berdiri menggendong Citra.
Ketiganya pun segera turun dari kamar Citra, menuju ke bawah dan menempatkan Citra di Stroller. Terlihat Tama yang mendorong stroller itu, sementara Anaya berjalan tidak jauh di sisi Tama. Benarlah baru beberapa meter berjalan keluar dari pintu gerbang, beberapa tetangga sudah melihat kebersamaan ketiganya. Akan tetapi, Anaya terlihat santai, begitu juga dengan Tama.
"Tuh, dilihatin Ibu-Ibu kan," ucap Tama dengan lirih.
Begitu sudah dekat dengan mini market, Anaya yang berinisiatif untuk membukakan pintu mini market supaya stroller Citra bisa masuk, dan Anaya yang mengambil keranjang belanjaan.
"Biar aku yang bawain keranjangnya yah ... diapersnya Citra yang biasanya kan?" tanya Anaya.
"Iya ... sudah yang ukuran M nih Onty. Dulu make yang S, sekarang sudah naik size-nya," jawab Tama.
"Iya ... Citra makin gemoy ya Sayang ... Cantiknya Onty ini makin ndut," balas Anaya dengan menyentuh pipi Citra yang memang chubby. "Diapersnya satu atau dua, Tam?" tanya Anaya kepada Tama.
"Dua aja deh ... sekalian buat stok. Maklum, aku Papa pemburu diapers," balasnya dengan tertawa.
Anaya pun tertawa mendengar ucapan Tama itu, "Kamu bisa saja ... biasanya Mama-Mama yang berburu diapers, tapi justru kamu yah?" balas Anaya.
__ADS_1
"Iya ... nasibnya menjadi Duda ya seperti ini," balas Tama dengan tertawa juga.
Rupanya obrolan dan tawa Tama bersama Anaya di bagian diapers bayi itu, diamati oleh salah satu teman kuliah Tama dulu yang kebetulan juga tengah membeli sesuatu di mini market ini.
"Tam, kamu di sini?" tanya Metta, mahasiswi satu angkatan dengan Tama saat kuliah S1 satu dulu.
"Eh, Ta ... kamu sama siapa? Mana Suami kamu?" tanya Tama.
"Iya ... itu Mas Dimas ada di luar mini market beli martabak," balas Metta.
Itu karena di depan mini market itu adalah penjual Martabak Manis yang memang enak rasanya. Tama pun seolah menengok ke luar dan melihat memang ada suami temannya itu yang sedang membeli martabak.
"Belanja kalau berdua gini lebih baik ya Tam ... bisa pilih sambil bercanda," ucap Metta dengan tiba-tiba.
Mungkin dipikirnya Metta, Anaya adalah istrinya Tama karena memang siapa lagi jika bukan istrinya jika berbelanja bersama dan mendorong stroller bayi. Bukankah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Iya ...."
Tama membalas dan melirik sejenak ke arah Anaya. Semoga saja kali ini Anaya juga bisa memahaminya. Itu memang karena Tama dulu waktu menikah memang tidak mengundang teman-temannya kuliah. Sehingga tidak tahu jika istrinya Tama yang sebenarnya sudah tiada.
"Anak kalian yah?" tanya Metta lagi.
"Iya, namanya Citra, Onty," balas Tama.
"Ih, cantik banget sih ... tapi wajahnya Tama banget deh. Mamanya hanya untuk jalan lahir yah," balas Metta dengan sedikit menunduk dan tersenyum kepada Citra. "Kapan-kapan playdate yuk Tam ... anakku cewek, anaknya Khaira juga yang sulung cewek tuh ... seru kalau main bersama," balas Metta.
Namun, mendengar nama Khaira, Anaya sekilas melirik ke Tama. Dulu saat berpacaran hanya sekian bulan dengan Tama, ada sebuah foto yang Anaya lihat dan di belakangnya bertuliskan nama Khaira di sana. Rasanya Anaya menjadi penasaran dengan sosok wanita yang bernama Khaira itu.
__ADS_1