Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Happy 1st Anniversary 2


__ADS_3

Rupanya kejutan untuk anniversary masih berlanjut. Jika siang tadi, kejutan diberikan oleh para orang tua. Malam ini, tanpa Anaya sangka sang suami ternyata juga menyediakan kejutan untuknya. Malam itu, ketika Anaya sedang menidurkan Citra di dalam kamar Citra, Tama sengaja mematikan lampu di dalam kamar. Benar-benar gelap suasana di dalam kamar itu, dan ada sebuah lilin yang dia nyalakan dan di taruh di atas nakas di depan sofa.


Ketika Anaya sudah selesai menidurkan Citra, dan kembali ke kamar, Anaya merasa bingung kenapa kamar mereka begitu gelap. Biasanya kamar mereka tidak pernah segelap ini, dan juga kalaupun lampu utama kamar dipadamkan, pasti ada lampu tidur yang dinyalakan. Akan tetapi, sekarang sumber cahaya hanya dari lilin yang menyala di dekat sofa.


“Mas … Mas Suami,” panggil Anaya dan mengedarkan pandangan matanya mencari suaminya. Wanita itu mengedarkan pandangannya dan mencari di mana sosok suaminya itu berada.


“Mas … Mas Suami,” panggilnya lagi. Berharap kali ini Tama akan muncul di hadapannya.


Rupanya yang dipanggil pun muncul, ya Tama pun dari balik walk in closet yang ada di dalam kamar itu. Pria itu mendekat ke arah Anaya dengan membawa buket bunga Mawar merah dan Baby Breath yang dirangkai dengan sangat indah.


“Happy 1st Anniversary My Love,” ucap Tama dengan mendekat kepada Anaya dan menyerahkan buket bunga itu.


Melihat sang suami dan buket bunga di tangannya, Anaya pun menitikkan air matanya, “Makasih … hobi banget sih buat aku menangis,” balasnya.


Tama pun segera merangkul istrinya itu, “Aku mau mengucapkan dengan cara yang lebih romantis. Khusus untuk Istriku tercinta,” balasnya.


Anaya pun menerima bunga dari suaminya, dan kemudian menundukkan wajahnya, mencium wangi bunga tersebut, dan kemudian menatap suaminya. “ …, tapi bunga ini bukan dari cewek yang naksir kamu kan Mas? Aku ngeri kayak yang di infotainment, suaminya beli bunga dari toko bunga si pelakor. Takut,” balas Anaya.


Tama dengan cepat terkekeh di sana, “Mana ada, Yang … di hati dan hidupku ini, pemiliknya hanya ada satu dan itu adalah Anaya,” balasnya.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Anaya pun tersenyum dan kembali mencium bunga itu. “Makasih banyak Mas Suami … Happy 1st Anniversary juga. I Love U, Saranghae,” balas Anaya.


Kali ini Anaya mengambil posisi sedikit berjinjit, satu tangannya bertumpu pada bahu suaminya, dan Anaya dengan perlahan-lahan mendaratkan bibirnya di atas bibir suaminya. Mengecupnya dengan begitu lembut. Ada beberapa detik Anaya mempertahankan posisi itu dan mengecup bibir suaminya, hingga akhirnya kaki Anaya yang berjinjit pun kembali menapak di lantai.


Tama tersenyum di sana, “Satu kecupan kurang sayang … i want more,” pinta Tama kali ini.


Tama kian mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara keduanya. Semakin dekat, hingga tinggal beberapa milimeter lagi bibir mereka akan menempel sempurna. Sementara Anaya masih menatap wajah suaminya yang memang tampan itu dengan perasaan gugup dan juga malu. Walau pun sudah menjadi istri, Anaya selalu saja malu berada sedekat ini dengan suaminya itu.


"Kalau sudah sedekat ini, ditutup matanya dong Sayang." Tama berbicara dengan suaranya yang terdengar parau dan juga serak di telinga Anaya.


Anaya justru mengedipkan matanya beberapa kali. Pemandangan yang membuat Tama semakin gemas hingga pria itu langsung melahap bibir mungil yang berada di bawahnya. Menghisapnya bergantian atas dan bawah. Kemudian menyerukkan lidahnya ke dalam mulut manis dan hangat milik istrinya itu.


Awalnya perlahan dan lembut, tiba-tiba ciuman itu semakin panas hingga nafas keduanya memburu. Tangan Tama bahkan telah meremas benda kembar milik istrinya yang terasa begitu pas dalam genggamannya. Nafas mereka memburu dan detakan jantung keduanya berpacu.


Gerakan tangan Tama yang bergerilya hingga akhirnya membuat Anaya telah melepaskan piyama yang ia pakai, hanya menyisakan bra berwarna pink di sana.


"Mas..." Anaya sedikit memegang kencang rambut suaminya ketika bibirnya yang hangat itu sampai di puncak gundukan kembar di sana. Seolah pria itu memuaskan dahaganya dengan meremas, mencium, hingga kecupan yang membuat puncak bukit itu menegang. Sementara itu tangannya meremas rambut suaminya, hingga membuatnya berantakan, tetapi justru membuat kadar ketampanan pria itu bertambah berkali-kali lipat.


"Boleh?" Tanya Tama pada akhirnya. Pertanyaan itu pun mendapat respons berupa anggukan dari Anaya.

__ADS_1


Bangkit, Tama lantas melepaskan pakaian yang tersisa dari keduanya sehingga membuat keduanya sama-sama polos tanpa ada sehelai benang pun yang menempel. Tama lantas duduk bersandar di headboard, dan memangku istrinya itu. Posisi seperti adalah posisi yang aman untuk Ibu hamil karena tidak akan menekan perut Anaya yang kian membesar.


"You look so pretty," ucap Tama dengan kembali mencium bibir Anaya di sana, dan tangan bergerak memberikan remasan di buah persik milik istrinya yang memang kian berisi karena kehamilannya.


"Mas ... Mas," de-sahan tak bisa berhenti dari bibir Anaya. Hasratnya seketika memuncak mana kala bibir, lidah, bahkan gigi suaminya memberikan godaan di buah persiknya. Anaya memejamkan matanya begitu rapat, begitu meledak dirinya kala ini.


"Sexy banget sih," ucap Tama lagi.


Anaya tak mampu menjawab. Dia mencengkeram kuat-kuat bahu suaminya. Rasanya Anaya ingin menjerit, ketika Tama mengangkat pantatnya, dan perlahan-lahan melesakkan pusakanya ke dalam inti sari tubuh Anaya.


"My Love ... astaga," ucap Tama dengan memegangi pinggul istrinya.


Tanpa banyak diberi instruksi, Anaya sudah bergerak dengan kacau di sana. Rasanya badai benar-benar menerpanya. Bahkan rasanya Anaya hendak menjerit kala merasakan sesuai yang hendak keluar dari inti sari tubuhnya.


"Mas Tama ... aku gak tahan," aku Anaya pada akhirnya.


Tama yang sudah diselimuti kabut hasrat pun menganggukkan kepalanya. Pria itu bergerak dan menambah ritme permainannya menjadi semakin cepat.


"Sayang ...," dipanggilnya istrinya itu di sela-sela deru nafasnya yang memburu. Pria itu menggeram sembari menyerukkan kepalanya ke leher istrinya. Pergerakannya semakin cepat disertai dengan pelepasannya ke dalam rahim istrinya.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan dalam posisi yang serupa, sampai Tama memberikan usapan di perut istrinya itu.


"Baby Twins sehat-sehat yah ... sudah dijengukin Papa. Dua pekan lagi, Mama dan Papa ingin tahu kamu cewek atau cowok. Sehat-sehat di sini yah. I Love U Bumilku yang makin sexy," ucap Tama dengan merapikan rambut istrinya dan mengecupi bibir istrinya yang sedikit bengkak bawahnya itu.


__ADS_2