
Di mata Anaya, suaminya adalah sosok Best Hubby dan sekaligus Best Daddy. Ini dinyatakan Tama secara langsung dalam tindakannya sehari-hari. Pria yang bekerja keras, bertanggung jawab, mencintai istri, menyayangi anak-anak, bahkan tak jarang Tama juga terlibat untuk urusan rumah tangga. Tipe suami dan juga ayah idaman.
Sampai Anaya pun mengatakan bahwa dulu ibu-ibu kompleks di sekitaran rumah Mama Rina sering mengatakan bahwa Tama adalah pria idaman. Walau dulu masih duda, tapi Tama juga terlihat sayang anak, dan terlebih ketika dulu Tama memborong diapers dan kebutuhan Citra di mini market yang ada di dekat rumah.
"Kamu bisa saja Sayang ... aku dulu gak seperti ini. Dulu, aku pernah bersalah juga. Cuma, kalau aku sudah jatuh cinta, aku akan benar-benar melakukan yang terbaik yang aku bisa. Sama kamu, aku jatuh cinta setiap hari Sayang," aku Tama di sana.
Mendengar apa yang baru saja Tama sampaikan, Anaya pun tersenyum. Hatinya berbunga-bunga karena suaminya mengakui bahwa dengan dirinya, Tama merasa jatuh cinta setiap hari. Sehingga, malam minggu saja hatinya melambung tinggi. Merasa sangat bahagia.
"Makasih Mas Suami ... sudah punya anak tiga, masih bisa aja sih manis-manis gitu. Biasanya kan kalau sudah punya anak, para suami mulai bersikap hambar gitu. Kecapekan bekerja, di rumah masih kadang emosi sama anak, membuat keromantisme berkurang. Jadi, ya ... biasanya banyak perubahan sikap dan perilaku bagi suami," jelas Anaya.
Tama pun tersenyum di sana, "Aku kelihatannya sampai punya cucu tiga besok masih akan semanis ini sama kamu kok Sayang. Makin tua makin sweet, makin panas, Sayang."
Anaya yang mendengarkan ucapan suaminya itu pun terkekeh geli karenanya. Bisa-bisanya suaminya mengatakan bahwa Tama semakin tua akan semakin manis dan semakin panas. Agaknya, Anaya pun ketika memasaku usia senja nanti juga harus bersiap dengan perubahan perilaku dan gejolak hormon pada suaminya.
"Masak sih? Wah, makin tua makin menggairahkan," balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Tunggu saja Sayang ... kan kamu yang akan menua bersamaku. Jadi, kamu akan tahu bagaimana aku berubah setiap tahunnya. Seumur hidupku, aku akan menghujanimu dengan kebaikan," balas Tama.
Merasa bahwa apa yang baru saja diucapkan Tama sangat indah dan membuat hatinya tersentuh, Anaya pun memeluk suaminya itu. Sangat tenang ketika suaminya berkata bahwa dia akan menghujaninya dengan kebaikan.
"Kamu sudah begitu baik kepadaku, Mas ... aku pun percaya sampai aku tua nanti, kamu juga akan baik kepadaku."
"Benar Sayang ... mari sama-sama berbuat baik, bukan dasar untuk mencari kebaikan, tapi karena kita saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Aku ingin saat usiaku kian senja, ada kamu yang juga berbuat baik dan peduli kepadaku. Mungkin pandangan mataku akan mengabur, bicaraku akan tidak jelas, atau tubuhku yang kian renta. Akan tetapi, aku sangat berharap bahwa di saat itulah kamu yang akan selalu ada di sampingku."
__ADS_1
Tama berbicara dengan sungguh-sungguh. Di masa-masa dalam hidupnya, dan ketika usia senja menyapa dengan segala kerentanan di sana, Tama berharap Anaya masih ada untuk menemaninya.
"Amin ... semoga Tuhan akan terus menyatukan kita berdua. Duh, kalau manis-manis gini jadi mellow loh aku," balas Anaya.
Tama pun tersenyum, "Ya sudah, aku buatkan minuman hangat buat kamu. Biar pegal-pegalnya hilang. Susu jahe mau?" tawar Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Boleh, tapi sedikit aja Mas ... jangan banyak-banyak, enggak habis. Kalau enggak habis, bantuin minum susu yah," balas Anaya.
Tama kemudian melirik Anaya di sana, dan tangannya sengaja menyentuh area dada Anaya, "Aku nanti susu yang ini saja, Yang ... sudah kangen. Boleh enggak?" tanyanya.
"Gak boleh ... nanti memancur ke segala arah, Mas."
"Ya sudah, gas tipis-tipis saja," balas Tama.
"Diminum My Love," ucap Tama dengan menyerahkan gelas susu itu.
"Makasih Mas Suami," balas Anaya yang merasa senang karena suaminya benar-benar membuatkannya minuman hangat yang dipercaya bisa menghilangkan capek dan pegal di tubuhnya.
Dengan meniupkan sesaat, kemudian barulah Anaya menyeruput Susu Jahe itu. Kali ini dia bisa merasakan aroma dan rasa jahe yang lebih kuat. Rasanya pun enak bagi Anaya.
"Enak banget sih Mas," ucapnya.
"Enak dong ... kan semua yang dibuat dari hati, hasilnya akan luar biasa, Sayangku," balas Tama.
__ADS_1
Kemudian Anaya pun tersenyum dan membelai sisi wajah suaminya itu. "Ya ampun, aku benar-benar meleleh loh Mas. Kamu sweet banget sih malam ini. Aku melting jadinya," balas Anaya.
"Tiap hari juga sweet Sayang ... aku bukan tipe suami yang manis dan baik jika ada maunya. Bukan kayak gitu. Aku akan menghujanimu setiap hari dengan cinta dan kebaikan," balas Tama.
Hingga akhirnya, Anaya pun tersenyum, "Ya sudah ... makasih banget Mas Tama. Nanti aku kasih hadiah usai ini yah," balasnya.
Mendengar kata hadiah, sebenarnya Tama sudah bereksptektasi tinggi. Akan tetapi, dia tidak ingin terlalu berharap juga karena sebelumnya Anaya sudah mengeluh pegal dan capek. Kasihan juga dengan istrinya itu.
"Gak usah dipaksakan. Aku sih, tidak memaksa Sayang ... penting prioritas aku tuh kamu dulu," jawab Tama.
"Aku enggak memaksa kok. Aku habiskan susunya dulu yah," balas Anaya.
"Iya, diminum pelan-pelan. Enak enggak?" tanya Tama.
"Iya, enak ... enak banget malahan Mas. Rasanya lebih enak ini daripada yang dijual-jual itu," balas Anaya.
Mungkin saking enaknya segelas Susu Jahe itu pun sudah nyaris habis. Kemudian Anaya menaruh gelas itu di atas nakas terlebih dahulu. Sebab, jika dia ingin turun lagi ke bawah, sudah pasti suaminya itu akan melarangnya, dan justru sang suami yang akan turun ke bawah.
"Makasih Papa, enak banget," ucap Anaya dengan mengangkat gelasnya yang nyaris kosong.
"Sama-sama Mama," balas Tama.
Kemudian Anaya beringsut dan kali ini wanita itu mengambil duduk di pangkuan suaminya, menatap sang suami dengan wajah berbinar dan senyuman yang mengembang.
__ADS_1
"Mau dikasih hadiah apa malam ini, Mas Suami?"