Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Will You?


__ADS_3

Kali ini Tama akan bertindak dengan mengikuti kata hatinya. Seolah tak menghiraukan Ayah Tendean, tetapi Tama ingin mengikuti kata hatinya, dan kata hatinya adalah ingin menghentikan Anaya sekarang juga. Dengan masih menggendong Citra dengan hipseat yang terikat kencang di pinggangnya, Tama sedikit berlari.


Ya, Tama tak ingin kehilangan kesempatan ini. Kata hatinya berkata bahwa dia harus menghentikan Anaya sekarang. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Citra. Tama harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Anaya. Papa muda berstatus duda itu sedikit berlari, memompa tenaganya dengan tetap menggendong Citra.


"Anaya," serunya di tengah lalu-lalang orang-orang yang memenuhi Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Akan tetapi, wanita yang sekarang dia kejar dan dia panggil namanya. Hanya menghentikan langkahnya saja. Anaya belum membalikkan badannya.


"Anaya, jangan pergi Anaya. Jangan tinggalkan aku dan Citra."


Tama bukan hanya memanggil nama Anaya, tetapi dia meminta supaya Anaya tidak pergi ke Amerika Serikat dan meninggalkan dirinya dan Citra. Itu adalah kata hati seorang Tama.


Di satu sisi, Anaya memang telah menghentikan langkahnya. Dadanya terasa begitu sesak kala Tana memanggilnya. Telinga Anaya pun bisa mendengar bahwa kini Tama tengah meminta kepadanya untuk tidak pergi. Wanita itu pun berderai dalam air mata yang terus-menerus mengalir dari matanya. Tangannya memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Benarkah yang sekarang Anaya dengar mengenai permintaan Tama?


Sementara perasaan kalut yang menyelimuti hati Tama tak bisa dibendung lagi. Pria itu terus berjalan cepat dan memangkas jaraknya dengan Anaya. Bahkan jarak keduanya kini hanya tinggal sekian meter saja. Tama menghela nafas ketika melihat Anaya yang sama sekali tidak bergerak, wanita itu seolah mematung di tempatnya.


"Anaya, kumohon jangan pergi Anaya. Jangan tinggalkan aku dan Citra," ucap Tama lagi.


Beberapa meter di tempat Tama berdiri, rupanya Ayah Tendean mengamati semuanya itu. Sungguh, Ayah Tendean pun tak mengira bahwa di Terminal 3 hal yang dramatis akan terjadi. Kesempatan di mana Tama, seorang duda beranak satu yang sedang menghentikan kepercayaan anaknya ke Negeri Paman Sam itu.


"Anaya, maukah kamu menjadi Mama untuk Citra?"


Akhirnya Tama mengucapkan itu. Permintaan yang bukan hanya dorongan emosional, tetapi memang Tama merasa tak mampu jika tanpa Anaya. Hari-hari mereka tentu akan kian menyenangkan jika Anaya bersedia menjadi lebih dari sekadar Ibu Susu bagi Citra. Menjadikan Anaya sebagai Ibu Sambung bagi Citra.

__ADS_1


"Anaya, maukah kamu menikah denganku dan menjadi Mama bagi Citra?"


Lagi Tama meminta karena memang Anaya tak beranjak di tempatnya dan tak memberikan jawaban. Mungkinkah diamnya Anaya menjadi isyarat nyata bahwa memang tidak ingin menikahi duda beranak satu itu. Mungkinkah diamnya Anaya menjadi bukti nyata bahwa dirinya sudah ditolak?


Tama benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Permintaannya tak terbalas. Mungkinkah keinginan hatinya pun tak akan terbalas juga. Untuk itu, Tama menunjukkan wajahnya dan mengusap kepala Citra, anak kecil itu mengangkat tangannya dan menunjuk sosok Anaya yang tidak jauh darinya.


"Kita pulang ya Citra Sayang, Papa gagal," ucap Tama dengan lirih kepada Citra.


Air mata pun menetes begitu saja dari kedua sudut mata Tama. Ya, Tama mengambil kesimpulan bahwa mungkin memang Anaya tetap teguh pada hatinya bahwa malam ini Anaya memang harus terbang ke Amerika.


Namun, Citra masih mengangkat tangannya dan menunjuk kepada Anaya. Seolah tak ingin menjauh dari Anaya.


"Mmm … a … ma ma. Ma ma …."


"Emm … ma … ma … ma …."


Lagi Citra bersuara dengan suara khas bayinya yang keras dan melengking. Tama pun menjadi berkaca-kaca karenanya. Mungkinkah itu adalah kata pertama dari putri kecilnya dan nama yang pertama kali dia sebut adalah 'Mama' dan menunjuk kepada Anaya.


Akan tetapi, Tama menggelengkan kepalanya, "Maafkan Papa, Sayang … Papa gagal meminta Onty Anaya untuk menjadi Mama kamu," ucapnya dengan dada yang terasa begitu sesak.


Bersamaan dengan itu, Tama membalikkan badannya dan kemudian mulai mengambil langkah untuk kembali ke dekat Ayah Tendean. Pria itu tak menyadari bahwa saat dia membalikkan badannya bersamaan dengan Anaya yang juga berbalik badan dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Kedua mata Ayah Tendean bisa menangkap semua ini, sejalan kemudian dengan tatapan mata Anaya yang kini menatap Ayahnya, seolah meminta izin dari Ayahnya terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban kepada Tama.

__ADS_1


Dari jauh terlihat anggukan kepala Ayah Tendean. Sehingga tangis Anaya kian pecah rasanya. Wanita itu meninggalkan trolinya begitu saja dan kemudian buru-buru melangkah mengejar Tama.


"Tama, akankah kamu pergi?" tanya Anaya kemudian dengan terus berjalan dengan air mata yang masih terus berlinangan.


Tama menghentikan langkah kakinya, dan kemudian pria itu segera berbalik, mencari arah sumber suara sekarang ini. Tama kini berhadap-hadapan dengan Anaya. Mata yang saling bersitatap satu sama lain, air mata yang sama-sama berlinang, dan juga tangan Citra yang masih terangkat dan menunjuk ke arah Anaya.


"Emm ma … ma …."


Kini, Tama kian berjalan mendekat ke tempat Anaya berdiri. Memangkas jaraknya dan kemudian kembali meminta kepada Anaya.


"Anaya, maukah kamu menerima pria yang tak mampu berdiri dengan benar di atas kakinya? Maukah kamu mendampingi duda beranak satu ini? Maukah kamu untuk tinggal dan menjadi Mama untuk Citra? Aku tidak ingin menjanjikan apa pun, tetapi aku berjanji seumur hidupku, aku akan berusaha membahagiakanmu dan melindungimu. Anaya, Will you marry me?"


Tak perlu tempat romantis dengan lilin yang menyala. Tak perlu makan malam romantis dengan menu istimewa. Bahkan, tak percaya seikat mawar merah yang Tama bawa. Kali ini, Tama meminta Anaya untuk menjadi pendampingnya, menjadi Mama untuk Citra. Tama sepenuhnya sadar, dia tidak akan mampu tanpa Anaya.


Sekarang Tama menundukkan kepalanya, jantung berdebar-debar melebihi ambang batasnya. Menunggu jawaban dari Anaya membuat Tama benar-benar gugup. Sepenuhnya Tama sadar bahwa dia hanyalah seorang duda. Finansial juga tak terlalu kaya raya. Bukan seperti seorang CEO yang memiliki segala. Cukup menunjuk dengan jarinya, semua yang dia mau bisa didapatkan. Akan tetapi, bagi Tama yang hanya Staf IT, dia perlu bekerja keras untuk bisa hidup dengan layak.


Bukan menjawab, tetapi Anaya justru terisak dan berjalan kian mendekat ke arah Tama. Bahkan Anaya sesegukan sekarang, entah jawaban apa yang hendak diberikan oleh Anaya hanya Anaya saja yang tahu.


“Tama … iya aku mau,” balas Anaya.


Seketika Tama memejamkan matanya, begitu lega rasanya saat Anaya mengucapkan kata “iya, aku mau.” Kebahagiaan seketika menghampiri Tama. Anaya kemudian mendekat ke arah Tama dan Tama pun menyambut dengan merangkul bahu Anaya. Ya, hanya sebatas merangkulnya karena di depan dia menggendong Citra dengan menggunakan hipseat, sehingga ingin memeluk Anaya pun terhalang oleh Citra. Sehingga, Tama pun merangkul bahu Anaya dengan erat. Kali ini, biarlah Tama yang berjuang. Dulu, Anaya pernah berada di posisi Tama dengan mengungkapkan rasa cintanya kepada Tama, dan sekarang Tama yang sudah mengungkapkan perasaannya kepada Anaya.


“Ay, aku cinta kamu … dan aku butuh kamu,” ucap Tama.

__ADS_1


Bukan hanya sekadar kata cinta, tetapi ada rasa ketergantungan yang Tama ungkapkan kepada Anaya. Tama membutuhkan Anaya, dan juga Citra. Dua pengakuan yang diucapkan Tama dengan hati yang meluap penuh kebahagiaan.


__ADS_2