Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Membutuhkan Sosok Ibu


__ADS_3

Ketika Anaya pergi dari rumah Tama untuk berbicara dengan Reyhan, rupanya Citra yang berada di dalam kamar pun menangis. Tama sampai merasa heran dibuatnya, bukankah sebelumnya bayinya itu sudah tertidur, tetapi kenapa sekarang Citra terbangun dan menangis.


Dengan sedikit tergesa-gesa, Tama pun berlari menaiki anak tangga dan menuju ke dalam kamar Citra. Si Papa muda itu segera masuk dan mendapati Citra yang menangis. Tangan Tama pun terulur dan mulai menggendong Citra. Menggendong ala kangguru, di mana Tama mendekatkan Citra yang sedang menangis dekat ke dadanya, supaya si bayi bisa merasakan tenang.


"Citra kok menangis? Kenapa Sayang? Ada Papa di sini ... digendong Papa yah. Citra di rumah nih sama Papa. Uhm, Papa sayang Citra ... ada Papa di sini. Papa enggak akan meninggalkan Citra," ucap Tama dengan lirih ketika Citra menangis.


Ucapan yang lirih itu seakan juga menjadi media untuk menenangkan Citra yang tiba-tiba saja menangis. Sudah digendong layaknya kangguru, tetapi Citra masih saja menangis. Tama berjalan perlahan ke kanan dan ke kiri, dengan tangan yang memberikan usapan di kepala Citra.


"Bukannya tadi Citra bobok yah? Kok sekarang kebangun dan menangis seperti ini sih. Cup cup cup, Sayang ...."


Dengan masih menggendong Citra, Tama kemudian mengambil kantong ASIP dari lemari es, kemudian menghangatkannya dengan penghangat ASIP. Menghangatkan sesaat, hingga ASIP itu menjadi cair, kemudian Tama memangku Citra, dan memberikan ASIP itu dengan menggunakan dodot.


"Minum pake dodot ya Citra ... Onty baru pergi. Semoga saja Onty akan kembali lagi yah. Semoga saja Onty gak lama perginya, atau besok pagi Onty sudah bisa ada di sini lagi," ucap Tama.


Entah, itu ucapan yang ditujukan untuk Citra, atau Tama yang sudah mulai membutuhkan kehadiran Anaya. Sebab, Anaya begitu baik. Dia memperlakukan Citra layaknya anak sendiri. Bahkan Citra pun juga terlihat nyaman dengan Anaya.


Mendapatkan dodot berisi ASIP, perlahan Citra pun bisa tenang. Legalah perasaan Tama.


"Jangan menangis ya Sayang ... kalau kamu menangis, Papa seakan tak bisa berbuat banyak untukmu. Papa hanya bisa menggendongmu, menenangkanmu, dan memberikan ASIP saja. Maafkan Papa," balas Tama.


Sekadar berbicara dan melakukan sounding dengan Citra saja, Tama merasakan dadanya sesak. Dalam pikirannya masih terbersit andai saja Mamanya Citra masih ada, sudah pasti Citra akan bahagia. Ada sosok yang menemani hari-harinya. Pelukan hangat seorang Ibu, air susu Ibu yang selalu tersedia 24 jam, dan juga kasih sayang seorang Ibu. Di kala seperti ini, dalam hatinya Tama merasa bahwa Citra sangat membutuhkan Mamanya.

__ADS_1


Sementara Tama sendiri, dia membutuhkan sosok pendamping yang melengkapi hidupnya. Sosok pendampingnya bisa menenangkannya. Sudah tiga bulan berlalu, dan tidak ada lagi sosok untuknya berbagi, berkeluh kesah, sosok yang bisa membuatnya mencintai dan dicintai. Dalam tiga bulan, Tama mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk Citra saja dan untuk bekerja.


"Nah, sudah diam sekarang putrinya Papa ... tidak apa-apa Citra, Papa janji Papa akan memberikanmu kasih sayang. Walau tidak ada Mama, tetapi Papa pastikan kasih sayang Papa cukup untukmu," gumamnya lagi dengan menggenggam tangan Citra.


***


Sementara itu di kediaman Anaya ....


Siang itu, rupanya Dokter Tendean pun pulang ke rumah. Begitu kaget Dokter Tendean ketika pulang dan melihat Anaya yang menangis di sofa yang berada di ruang tamu. Pria paruh baya itu pun, mendatangi Anaya.


"Aya, kamu kenapa? Bukankah seharusnya jam segini kamu masih memberikan ASI untuk Citra?" tanya Ayah Tendean kepada putrinya itu.


Isakan Anaya pun justru semakin kencang, wanita itu menangis dengan suasana hati yang begitu buruk.


Mendengar nama Reyhan disebut, Ayah Tendean pun mendekat dan memeluk putrinya itu.


"Tenang saja ... kenapa Rey kemari?" tanyanya.


"Rey datang bersama keluarganya dan hendak membawa Anaya ke Singapura. Anaya tidak mau Ayah. Anaya mau di sini menemani Ayah," ucap Anaya.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Anaya, Ayah Tendean mengurai pelukannya dan menatap anaknya itu, "Kamu meninggalkan Ayah tidak apa-apa. Ayah bisa menjalani hidup Ayah sendiri," balas sang Ayah.

__ADS_1


Dengan cepat Anaya pun menggelengkan kepalanya, "Enggak Ayah ... dia kemana saja di kala Aya berada di titik terendah. Dia kemana saja saat Aya nyaris gila. Dia tidak ada Ayah? Lalu, untuk apa Aya pergi bersamanya? Aya tidak mau," sahut Anaya dengan yakin.


Ya, untuk seorang pria yang tidak mendampinginya di kala dirinya benar-benar berada di titik terendah, di kala dirinya benar-benar luluh lantak, di kala dirinya berpikir tidak ada lagi harapan untuk masa depannya, Anaya tidak ingin tinggal dengan pria seperti itu.


"Namun, Reyhan berhak atasmu, Aya ... dia suami kamu," jawab Ayah Tendean.


Ah, dari jawaban Ayah Tendean barulah diketahui bahwa Reyhan adalah suami Anaya. Namun, kenapa sebagai seorang suami, Reyhan justru seakan tidak mendampingi Anaya dan juga tidak tahu dengan duka mendalam yang dirasakan oleh Anaya.


"Ceritakan semuanya pada Reyhan ... bagi kesedihanmu," lanjut Ayah Tendean lagi.


Anaya tampak menggelengkan kepalanya, "Kesedihan apa lagi yang bisa Anaya bagi Ayah? Anaya sudah nyaman dan menerima situasi sekarang ini tanpa Reyhan ... bahkan jikalau bisa, Aya tidak ingin melihatnya lagi. Melihatnya justru membangkitkan semua luka di dalam hidup Aya," tegasnya.


"Begitulah kehidupan Aya ... ada hal-hal yang membuatmu tertawa dan bahagia, tetapi ada pula yang membuatmu terluka. Hanya saja, pikirkan semuanya dengan baik-baik. Benarkah keputusan yang sudah kamu ambil sekarang ini? Sungguh, Ayah tidak apa-apa hidup sendiri. Hanya saja, Ayah cuma meminta kepada Tuhan supaya kamu bahagia, Nak ... melihat kamu bahagia saja membuat Ayah sudah bersyukur dan tentunya merasa lega. Di hidup Ayah ini, yang Ayah miliki hanya kamu, Aya ... jadi bahagialah."


Pesan yang diucapkan oleh Ayah Tendean membuat Anaya memang harus mengejar kebahagiaannya. Sudah lama dirinya mengalami duka, hingga merasakan perihnya kehilangan bayi kecilnya. Untuk semua yang pernah terjadi, Anaya juga ingin merasakan bahagia.


"Sudah jangan menangis ... dalam waktu hampir tiga bulan ini Ayah senang. Kondisi mentalmu lebih sehat, bahkan kamu tidak memerlukan obat anti depresan lagi. Kamu menjaga pola makanmu. Ayah sungguh senang," ucap sang Ayah yang mengamati perubahan baik dalam diri Anaya.


Anaya kemudian menatap Ayahnya, "Ayah, kelihatannya Anaya mulai sayang sama Citra ... ini benar atau salah, Ayah?" tanya Anaya kepada sang Ayah.


"Tidak salah, Anaya ... mungkin karena sudah terbiasa, sehingga rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Hanya saja, ingatkan pada dirimu sendiri bahwa Citra hanya bayi yang kamu asuh dan beri ASI," balas sang Ayah.

__ADS_1


Anaya pun menghela nafas sepenuh dada. Sepenuhnya Anaya memahami bahwa yang dikatakan Ayahnya benar. Untuk itu, memang Anaya harus meyakinkan pada dirinya bahwa hubungannya dengan Citra hanya sekadar ibu susu dengan bayi yang dia susui saja.


__ADS_2