
“Ay, kapan-kapan mau aku ajak ke suatu tempat mau enggak?” tanya Tama kepada Anaya.
Anaya yang sedang mengunyah martabak pun menghentikan kunyahannya, sekadar ditanyai Tama saja rasanya martabak itu seolah terhenti di tenggorokannya. Sampai susah untuk menelannya kembali.
"Gimana Ay, mau enggak kapan-kapan ikut aku? Temani aku?" tanya Tama lagi.
Seakan Tama sendiri juga menunggu jawaban yang hendak diberikan oleh Anaya. Sebab, untuk urusan yang satu ini agaknya memang Tama harus mengajak Anaya.
"Hmm, kemana emangnya? Harus yah, sama aku?" tanya Anaya.
Sampai sekarang, Anaya justru menaruh martabaknya. Kemudian mengambil tissue dan membersihkan tangannya yang belepotan terkena cokelat. Rupanya sekarang Tama justru mengamati pergerakan Anaya yang sedang membersihkan tangan dan jari-jarinya itu dengan tissue.
"Ay, ada coklat juga deh di sudut bibir kamu," ucap Tama tiba-tiba. Pria itu membawa jari telunjuknya dan menyentuk sudut bibirnya sendiri, mengisyaratkan di bagian itulah ada coklat layaknya ceres yang menempel di sudut bibir Anaya.
"Eh, serius ada coklat yah?" tanya Anaya.
"Hmm, iya ... di sudut bibir kamu," balas Tama.
Anaya berusaha menyentuh sudut bibirnya, kemudian berusaha membersihkan di bagian mana yang memang terkena cokelat, tetapi sayangnya tidak berhasil.
"Masih ada, Ay ...."
Tama berbicara dengan tersenyum. Papa muda yang berstatus sebagai duda itu kemudian menatap bayi kecilnya.
"Adik Citra, lihat Onty tuh ... makan martabaknya sampai belepotan. Lucu ya Dik," ucap Tama dengan memberikan mainan genggaman yang menghasilkan bunyi itu kepada Citra.
Seolah ingin turut berbicara, Citra pun sampai tertawa dan bersuara, "Aaa ... ya ... aaa," teriaknya yang dengan tersenyum.
__ADS_1
Sungguh, dengan bertambah hari, justru Citra begitu menggemaskan. Senyumannya, suaranya ketika babbling, dan matanya yang bisa mulai fokus terhadap objek tertentu justru membuatnya kian menggemaskan.
"Di mana sih? Sudah hilang kan?" tanya Anaya lagi.
Akan tetapi, Tama justru menggelengkan kepalanya, "Masih ada, Ay ... di sini," ucapnya.
Sebisa mungkin Anaya membersihkan sudut bibirnya, baik sudut bibir kanan dan juga kiri, tetapi masih ada Tama yang tertawa melihat bekas coklat di bibir Anaya. Merasa diketawakan, kali ini Anaya cemberut. Anaya hendak berdiri dan menuju ke dalam kamar mandi saja untuk bisa membersihkan bibirnya.
Namun, Tama segera mencegahnya, "Sini aku bersihin," ucap pria itu.
Tama beringsut, duduk mendekat ke Anaya, kemudian pria itu membawa ibu jarinya untuk membersihkan sisa noda coklat di bibir Anaya, sementara jari telunjuknya yang menahan dagu Anaya.
Bagi Anaya sendiri, dengan Tama yang berada sedekat ini dengannya membuatnya dag-dig-dug tak karuan. Bahkan sebisa mungkin Anaya menghindari untuk kontak mata dengan Tama. Sungguh grogi, Anaya yakin bahwa jantungnya berdebar-debar melebihi ambang batasnya, bahkan sebisa mungkin Anaya menahan nafasnya.
"Sudah ... sudah bersih," ucap Tama setelah membersihkan bekas coklat di sudut bibir Anaya.
"Makasih," sahut Anaya dengan menundukkan kepalanya.
"Hmm, iya ... sama-sama," balas Tama.
Kemudian Anaya teringat dengan pertanyaan yang tadi ditanyakan oleh Tama yang belum sempat dia jawab. Untuk mengusir rasa canggung yang seakan memenuhi kamar Citra itu, Anaya pun memulai untuk bertanya kepada Tama.
"Oh, iya ... tadi mau mengajak aku kemana Tam?" tanya Anaya.
Ah, barulah Tama ingat bahwa memang Anaya belum memberikan jawaban kepadanya. Sekarang, seolah dia diingatkan lagi dengan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Anaya.
"Mau enggak? Dan merepotkan kamu enggak?" tanya Tama. Sungguh aneh, karena pria itu justru bertanya balik kepada Anaya.
__ADS_1
"Ya, kalau aku bisa sih, akan aku usahakan. Sama nanti kan aku bisa minta izin ke Ayah dulu," balasnya.
"Oh, ya nanti aku mintakan izin ke Ayah kamu," sahut Tama.
Kemudian Anaya kembali menatap wajah Tama, "Emangnya mau mengajak aku kemana?" tanyanya.
"Ke Supermarket sih ... kan beberapa hari lagi Citra mau fase MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), jadi aku butuh bantuan kamu untuk beli-beli bahan MPASI untuk Citra. Bantuin buat list juga, kamu tahu kan cowok itu lemah banget untuk begituan," jawab Tama.
Oh, rupanya niatan Tama mengajak Anaya adalah untuk ke Supermarket dan membeli bahan makanan untuk membuatkan MPASI untuk Citra. Mendengar jawaban yang diberikan Tama, Anaya pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Oh ... ke supermarket yah? Aku kirain ke mana?" tanyanya.
"Emang kamu pengennya aku ngajak kamu ke mana, Ay?" sahut Tama.
Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak kok. Enggak ke mana-mana juga," sahutnya dengan berusaha menutupi bahwa sekarang Anaya terlihat gelagapan.
"Jadi, gimana mau enggak?" tanya Tama.
"Iya, boleh ... nanti aku buatkan list-nya untuk beli makanan MPASI. Cuma aku sendiri masih awam, Tam ... jadi, bagaimana? Coba, nanti kamu tanya Dokter Bisma itu saja, tanya ke istrinya yang sudah berpengalaman merawat dua anak. Bisa kita minta ilmunya," balas Anaya.
"Oh, iya ... boleh. Nanti aku telepon Mas Bisma dulu," jawabnya.
Tama sedikit menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu melirik sekilas ke arah Anaya.
"Makasih banyak ya Ay ... aku bisa berbagi pengasuhan Citra denganmu ... enggak tahu jika tidak ada kamu yang memberikan ASI dan mengasuh Citra, entah bagaimana akhirnya," ucap Tama.
Itu adalah perasaan nyata yang Tama rasakan. Bersama dengan Anaya yang baik dan sabar, Citra pun tumbuh setiap harinya dengan baik. Berat badan yang normal, grafiknya naik di Kartu Menuju Sehat, perkembangan sensorik dan motoriknya yang baik, dan juga capaian milestonenya yang baik juga. Jika tidak ada Anaya entah seperti apa jadinya Citra.
__ADS_1