Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Welcome to Jakarta


__ADS_3

Di dalam pesawat udara, Tama menatap langit yang memang sudah begitu gelap. Bahkan gumpalan awan putih yang terbiasa dia lihat ketika menaiki pesawat, kini semuanya terasa gelap. Di dalam hatinya, Tama berharap bisa tiba di Jakarta. Walau Tama pun tidak tahu apakah istrinya sudah tertidur atau belum. Namun, yang pasti Tama merasa senang bisa sampai di Jakarta walau dia sangat kelelahan dan mengantuk. Maklum, dalam 72 jam terakhir, memang Tama kurang tidur selama mengikuti pekan retas.


Sekarang begitu terdengar pemberitahuan bahwa pesawat udara mulai turun, dan melakukan pendaratan. Tama menegakkan punggungnya, dan juga melipat meja. Setelah dia melihat kerlap-kerlip lampu di atas langit Jakarta yang tampak gemerlap dari atas ketinggian.


"Aku akan segera mendarat dan pulang ke rumah, Anaya Sayang. Sebenarnya, aku bisa pulang esok hari. Namun, rinduku terlalu menggebu-gebu. Aku sudah kangen kamu dan anak-anak di rumah," gumam Tama dalam hatinya.


Begitu pesawat sudah mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Tama menunggu keluar dari pintu pesawat. Sekarang di Jakarta sudah menunjukkan jam 21.00 malam. Jika ditambah dengan perjalanan ke rumahnya, kira-kira jam 22.00 baru akan tiba di rumah. Menurut perhitungan Tama, istrinya itu belum tertidur di jam 22.00 malam. Oleh karena itu, lebih baik jika segera pulang, membersihkan diri, dan memeluk istrinya.


Menunggu untuk mengambil koper, sembari Tama memesan taksi yang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Begitu koper sudah di tangan, Tama segera menuju pintu kedatangan, dan sudah ada taksi yang sebelumnya dia pesan. Menaiki taksi, dan melihat jalanan Ibukota yang lebih lengang di malam hari itu.


Kurang lebih hampir satu jam menaiki taksi, dan sekarang Tama sudah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Melihat rumah, rasanya begitu tenang. Seluruh keluarga tercintanya ada di dalam rumah ini. Rasa rindu untuk anak dan istri tercinta sudah menggetarkan dadanya. Hingga Tama membuka gerbang dari teralis itu perlahan-lahan dan mulai menekan bel pintu rumahnya.


Sementara di dalam Anaya juga bingung siapa yang datang ke rumahnya malam-malam. Namun, akhirnya Anaya memilih turun dari kamarnya dan membukakan pintu untuk siapa yang datang menjelang jam setengah sebelas malam.


"Siapa?" tanya Anaya dengan membuka pintu pelan-pelan.


Rupanya di hadapannya ada senyuman dari pria yang sudah empat hari ini pergi ke Singapura. Pria yang kini mengenakan Jaket hitam dan matanya merah karena mengantuk itu, menunjukkan senyumannya yang begitu lebar kepada Anaya.


"My Love ... i am coming," ucap Tama.


Ya Tuhan, Anaya benar-benar terkejut. Tidak menyangka bahwa malam-malam begini suaminya itu akan datang dari Singapura. Dia pikir, suaminya akan terbang esok dari Singapura. Rupanya sekarang, malam ini justru Tama sudah berada di hadapannya.


"Kangen," balas Anaya dengan kedua matanya yang sudah berembun.


"Sama," balas Tama.

__ADS_1


"Pengen meluk kamu, tapi aku kotor. Jadi, aku mandi dulu yah. Sabar yah," balas Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya. Memilih kembali menutup pintu depan dan menguncinya. Setelahnya, segera mengekori suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Tama pun memilih langsung menuju ke kamar mandi. Sementara itu, Anaya memilih untuk menghangatkan Susu sapi segar yang dia beli, dan menambahkan madu supaya capek dan lelah di tubuh suaminya menjadi lebih bugar tentunya.


Membawa secangkir susu hangat dan madu ke dalam kamar, Anaya pun menyambut suaminya yang keluar dari kamar mandi. "Susu madu hangat, Mas ... biar capeknya hilang," ucap Anaya.


Tama tersenyum, pria itu menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan, mengikis jaraknya dengan Anaya. Tanpa banyak berkata-kata, Tama segera memeluk Anaya dengan begitu eratnya.


"Peluk dulu, Sayang ... kangen," ucap Tama.


Mengikuti permintaan suaminya, Anaya pun masuk ke dalam pelukan Tama. Sungguh, tenang dan juga sangat senang bisa kembali bertemu suaminya dan juga. Tampak Anaya membenamkan kepalanya di dada suaminya, sembari menghirup aroma sabun yang begitu maskulin. Begitu segar dan juga kangennya terobati sudah.


"Kangen kamu, My Love," ungkap Tama lagi.


"Iya, harusnya besok Sayang ... cuma tadi usai closing ceremony, aku langsung pulang dan cari tiket penerbangan ke Jakarta. Udah kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Tama dengan mendekap erat tubuh Anaya, dan juga Tama beberapa kali mengecupi kening Anaya.


"Tidak terbiasa, kamu tinggal ke luar kota. Terus ditinggal empat hari rasanya lama banget," balas Anaya.


"Maaf ... tapi sebanding sih Sayang dengan pengalaman yang kudapat," ucap Tama.


Kemudian Tama mengajak Anaya untuk duduk. Kini, Anaya duduk di tepian ranjang. Sementara Tama tampak mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya.


"Coklat Merlion untuk Mama Anaya dan Kak Chitra," ucapnya.

__ADS_1


Rupanya Papa Tama benar-benar membelikan oleh-oleh coklat dengan gambar Merlion itu untuk istri dan Citra. Selain itu, ada beraneka ragam coklat yang Tama beli sampai satu paper bag penuh untuk istri dan anaknya sebagai oleh-oleh.


"Ya ampun, banyak banget," ucap Anaya.


"Ya untuk stok camilan kamu dan Citra," balas Tama.


Kemudian Tama menunjukkan sesuatu di handphonenya kepada Anaya. "Fotoku tadi siang waktu presentasi di Demo Day, Sayang. Sudah cocok ya jadi programmer yang bisa mengikuti Start Up."


Anaya tampak memperhatikan suaminya yang mengenakan kaos berwarna hitam dengan tulisan Hackhaton itu. Ada name tag juga yang tergantung di lehernya. Anaya kemudian tersenyum.


"Kamu keren deh, Mas ... bangga akunya," ucap Anaya.


Ya, melihat foto-foto sang suami membuat Anaya merasa begitu bangga dengan suaminya itu. Kemudian Tama tersenyum, sembari meminum Susu dengan madu yang masih hangat itu. Kemudian Tama menunjukkan sesuatu hal yang lain.


"Ini oleh-oleh juga ... merchandise dari mengikuti acara itu. Bisa buat kenang-kenangan ada masker, pena, tumbler, dan hardisk," ucap Tama.


Anaya tersenyum. "Aku simpan yah ... sapa nanti kalau besar Charel mau jadi Programmer seperti Papanya, biar Charel bisa mengikuti jejak Papanya," balas Anaya.


"Ini kejutan terakhir," ucap Tama. Kemudian pria itu menunjukkan foto lain kepada istrinya. "Aku memenangi kompetisi itu untuk membuat Mobil Pintar, Sayang ... dapat 450 Juta, Sayang. Dibagi tim ... tadi ada empat tim. Wah, seneng banget. Ide dari Smart Car itu akan dikembangkan oleh produsen mobil listrik di Singapura, Yang ... kalau algoritma buatanku dipakai, maka aku akan mendapatkan royaltinya," ucap Tama.


Anaya benar-benar bangga kepada suaminya itu. Wanita itu segera mengangkat dua ibu jari kepada suaminya. "Luar biasa ... keren banget sih, Mas. Kemampuan kamu luar biasa. Selamat Mas Suami ... aku sangat bangga kepadamu," ungkap Anaya.


"Buat tabungan masa depan kita berdua dan untuk sekolahnya anak-anak ya Sayang. Kalau hasilnya baik, mungkin dua bulan lagi aku ke Singapura untuk mengikuti Uji lisensi mobil pintar. Kamu mendukung aku kan?" tanya Tama.


"Iya, pasti aku dukung ... penting jangan terpikat cewek sana loh, Mas," balas Anaya.

__ADS_1


"Pasti Sayang ... di hati aku cuma ada kamu. I Love U So Much!"


Bagi Tama, andaikan bisa mengembangkan sayap di bidang programming, itu semua juga untuk keluarganya. Di dalam hatinya dia tidak akan terpengaruh untuk terpikat dengan yang lain. Yang dia cintai hanya Anaya, dan hanya demi Anaya dan rasa rindu yang sudah membuncah dalam dada, akhirnya Tama memilih terbang ke Jakarta malam ini juga.


__ADS_2