Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Perjalanan Melintasi Angkasa


__ADS_3

Menempatkan diri dalam pangkuan suaminya, Anaya tampak menatap wajah suaminya itu. Pria tampan dengan sejuta pesona dan kebaikan yang selalu ditunjukkan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pria yang selalu mengedepankan istri dan anak-anaknya terlebih dahulu, barulah memikirkan dirinya sendiri. Ya, itulah Tama. Jika di dunia nyata mungkin orang akan bertanya-tanya adakah pria seperti Tama? Jawabannya ada, di bumi ini Tuhan masih sisakan pria-pria baik yang merawat istri dan anak-anaknya dengan begitu baik dan penuh tanggung jawab.


"Gak usah, Sayang ... tadi kan kamu mengeluh capek," balas Tama yang mulai menelisipkan rambut Anaya ke belakang telinganya.


Pria itu memandang wajah Anaya, masih bisa Tama ingat bahwa Anaya tadi mengeluh capek. Sehingga, jika malam ini meminta pemenuhan ladang batin, Tama merasa kasihan kepada istrinya itu. Oleh karena itu, Tama memilih untuk mengurungkan niatnya.


"Kan udah hilang capeknya. Sudah kamu pijitin juga," balasnya.


Tama pun tersenyum, "Kamu nanti tambah capek enggak?" tanyanya.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggaklah ... kalau capek, besok pijitin lagi dong, Mas ... enak sih, bukan hanya capeknya yang hilang, tapi hati jadi senang," balasnya.


Tama pun terkekeh di sana, "Kamu bisa saja sih ... kalau anak-anak sudah tidur kayak gini, kita berdua kayak orang yang pacaran yang Sayang. Malam mingguannya Mama dan Papa, serasa ABG yang pacaran," balasnya.


"Ya quality time berdua, Mas ... sesekali memberi waktu untuk diri sendiri dan pasangan kan tidak ada salahnya," balas Anaya.


"Benar Yang ... biar kehidupan rumah tangga kita tidak hambar yah ... kayak sayur tanpa garam," balasnya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Makanya itu ... berhasil tidaknya sebuah rumah tangga tergantung suami dan istri yang menjalaninya. Dalam konteks ini adalah aku dan kamu."


Lagi, Tama menyunggingkan senyuman di wajahnya. Perlahan pria itu menahan tengkuk Anaya, dan mendekatkan wajahnya. Tidak perlu ditanya lagi apa yang hendak dilakukan Tama. Sebab, hanya dalam hitungan detik, bibir Tama sudah berlabuh, mendarat tepat di antara dua buah lipatan bibir yang kenyal itu. Mata masih beradu, nafas yang saling menyapu.


Hingga perlahan, Tama tersenyum lagi dan berbicara tepat di antara dua belah bibir Anaya.


"Kamu makin dewasa ... makin keibuan. I Love U forever," ucapnya.


Ketika Anaya hendak menjawab ucapan cinta itu, rupanya bibir Tama sudah menghisap bibir istrinya. Pria itu tidak memberikan kesempatan bagi Anaya untuk membalas ungkapan cintanya. Biarkan saja suara itu tertelan olehnya, karena Tama akan menggantikannya dengan ciuman dan cumbuan yang berhasil berbicara meresap ke dalam hati sanubarinya.


Tama memiringkan sedikit wajahnya dan kian memperdalam ciumannya. Semakin dalam. Bibir semakin beradu, pun dengan tangan pria itu yang kian kokoh untuk mempertahankan Anaya dalam pangkuannya. Bibir yang mengecup indah hingga menghasilkan decakan, dan lidah yang menelusup dan memberikan usapan yang berhasil menyulut hasrat di dalam tubuh keduanya.

__ADS_1


Pun dengan Anaya yang merasakan dadanya kembang kempis di sana. Ciuman yang begitu intens, basah, dan juga hangat, membawanya dirinya merasakan hangatnya bara cinta. Tubuhnya meremang merasakan gelenyar asing yang membuatnya kian memejamkan matanya begitu erat.


Tama kian menelisipkan tangannya ke punggung dan paha istrinya itu, dengan mengerahkan kekuatannya, dia berdiri dan mempertahankan Anaya dalam gendongannya. Menggendongnya ala bridal style, dan bibir keduanya terus beradu. Langkah demi langkah yang Anaya ambil terasa begitu pasti. Sudah pasti, yang Tama tuju sekarang adalah tempat peraduan bagi mereka.


Dengan perlahan-lahan, Tama menidurkan Anaya di atas ranjang itu. Pria itu tersenyum menatap Anaya dengan kelopak matanya yang perlahan-lahan terbuka, dengan bibir yang membengkak di sana. Anaya tersenyum, wanita itu sedikit beringsut dan mengambil posisi duduk di sana. Lantas tangan Anaya bergerak dan menarik tepian kaos yang dikenakan suaminya, membiarkan tubuh suaminya shirtless. Dadanya yang bidang, dengan otot-otot liat yang terpahat di sana, membuat Anaya tersenyum, bahkan tangannya meraba perlahan dada bidang suaminya.


Tama turut tersenyum, "Kenapa Sayang?" tanyanya perlahan.


Anaya tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Pun Tama yang melakukan hal yang sama, membuat istrinya itu shirtless di sana.


Dengan pelan-pelan, Tama menindih istrinya. Bibirnya kembali melahap habis bibir Anaya. Memagutnya dengan begitu kuat, hisapan demi hisapan yang membuat Anaya memekik. Tangan remasan rambut suaminya, dengan mata yang kian terpejam.


Ketika Tama membawa bibirnya mengeksplorasi leher sang istri, Anaya menengadahkan wajahnya. Memberikan akses langsung untuk suaminya. Kecupan yang hangat dan basah Tama tinggalkan di sana, tapi Anaya menikmatinya.


Indah.


"Anaya."


Telapak tangan yang perlahan memberikan pijatan layaknya remasan di bahu sang istrinya, bergerak membelai dari bahu turun ke lengan, kian bergerak hingga ke telapak tangan Anaya. Berakhir dengan remasan di telapak tangan itu. Tangan yang sudah berhasil menggenggam tangan itu bergerak dan membawa tangan Anaya naik ke atas kepalanya, mempertahankan kedua tangan itu di sana.


Dengan mempertahankan tangan di atas kepala seperti ini seolah membakar keduanya. Bara api yang kian menyala, hingga akhirnya de-sah keduanya tak tertahan lagi. Anaya kian mende-sah manakala wajah Tama kian turun dan pria itu menggoda buah persik miliknya. Meremasnya perlahan. Bahkan hanya dengan ujung jari yang memberikan usapan lembut di puncaknya saja membuat Anaya memekik, melenguh, dan nafasnya kian kacau di sana.


"Mas Tama."


Tak menghiraukan Anaya, Tama kian membuai buah persik itu dengan bibirnya. Mengecupinya dengan begitu lembut, menyapanya dengan usapan lidahnya, dan menggigitnya perlahan. Bahkan Tama sengaja menggigitnya, menariknya, membuat Anaya menahan nafas, dan melakukannya berulang kali.


Tama kian bergerak turun dan mengecup perut Anaya yang rata. Hingga pria itu meloloskan sisa-sisa busana mereka. Dengan tatapan memuja, dia akhirnya bergerak kian turun dan menyisir lembah di bawah sana. Tak segan-segan untuk membuat Anaya kian memekik dan bergerak dengan gelisah di sana. Bahkan ketika Anaya berusaha menghalau wajah suaminya dari bawah sana, yang ada justru Tama kian bergerak, kian mengusap, bak tidak memberi ampun untuk Anaya.


Nyaris menjerit. Dengan cepat Tama membungkam bibir istrinya itu dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Ssttss, Twins bisa terbangun Sayang," ucapnya dengan lirih.


Anaya beringsut, dan dia kini yang akan berganti untuk mengambil kendali. Wanita itu menyapa Lingga milik suaminya. Meremasnya perlahan, menggerakkannya naik dan turun. Hingga akhirnya Lingga itu sepenuhnya tenggelam dalam rongga mulutnya yang basah dan hangat.


"Anaya ... Anaya!"


Jantung Tama kian bergedup kencang, darahnya seakan berdesir. Akan tetapi, rasa nikmat ini tidak pernah bisa dia tolak. Terlampau enak. Hingga Tama seakan pasrah di sana.


Tama terengah-engah, mana kala Anaya justru mengambil kendali, dan dia berada di atas dan menyatukan Lingga dengan Yoni. Berpadu, terasa menghantam, terasa membentur. Akan tetapi itu adalah rasa yang membuatnya melayang. Walau tanpa sayap yang ada di badannya, keduanya berhasil terbang melintas angkasa, terjatuh dalam pantulan gumpalan awan. Oksigen yang terasa kian menipis karena dada yang kembang kempis dan sejuta pesona yang membuai keduanya.


"Anaya!"


"Mas Tama!"


Saling menyahut untuk menyebut nama dengan suara yang begitu parau dan begitu dalam. Tama merasa limbung sekarang. Pergerakan Anaya yang membuat Tama serasa merasakan bubuk candu. Walau hanya sedikit, tapi dampaknya luar biasa sampai dia kehilangan kesadaran. Pun Tama yang merasa dia sangat senang dengan Anaya yang sedikit nakal dan berani memegang kendali seperti ini.


Sebab, hubungan suami istri bukan berarti suami yang memberi, dan istri yang menerima. Akan tetapi, bisa dilakukan bersama-sama. Take and give. Saling memberi dan juga saling menerima. Saling mengeksplorasi. Hasilnya tentu adalah keharmonisan dan benih cinta yang kian bersemi di antara kedua pasangan. Tak jarang, koneksi secara hati pun bisa tercipta karenanya.


Hingga akhirnya Tama memberikan instruksi dan mulai berganti posisi. Kini dia yang mengambil penuh kendali. Pria itu menghantam dengan benturan Lingga dan Yoni. Begitu padu. Tubuh yang liat dan basah saling bergesekan. Luar biasa. Hingga gerakan seduktif yang dilakukan Tama kian cepat. Ritme yang kian bertambah, cepat, dan kuat.


Melesak.


Menghantam.


Menghujam.


Sampai di batas, Anaya sudah tak kuasa dengan semua rasa yang menerpa dirinya. Anaya terengah-engah. Kepayahan di sana. Pun dengan Tama yang merasakan ambang batasnya tiba. Pria itu bak menambah ritmenya. Hingga berakhir dengan rubuh di atas tubuh Anaya.


Erupsi vulkanik yang dahsyat disertai dengan lava pijar yang memenuhi seluruh cawan surgawi bak kantong magma di sana. Jika erupsi terjadi dengan semburna lava api dan bola api yang menggelinding membakar semua yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan keduanya sekarang. Terbakar tapi tak hangus. Meledak tapi tidak hancur!

__ADS_1


__ADS_2