
“Sebaiknya kamu pergi saja, Rey … aku tak sudi berbicara lagi denganmu,” ucap Anaya dengan membuang mukanya.
Jujur saja, Anaya tidak menyangka bahwa hari ini Reyhan akan kembali dan berdiri di hadapannya. Di saat Anaya benar-benar tidak mengharapkan sosok pria itu lagi, tetapi nyatanya pria itu kembali menunjukkan batang hidungnya di hadapan Anaya.
“Untuk orang yang datang dengan tulus, kamu justru mengusirku Ana? Aku datang untukmu,” bal;as Reyhan.
Tama yang berdiri di sana, juga bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya apa hubungan antara Anaya dan Reyhan? Lalu, kenapa Anaya yang menunjukkan sikap penolakan, sementara Reyhan yang begitu getol untuk bertemu dengan Anaya.
“Ay, lebih baik kamu temui saja Reyhan dulu … selesaikan baik-baik masalah yang terjadi di antara kalian berdua,” ucap Tama.
Bukan maksudnya untuk mengusir Anaya, hanya saja masalah antara Anaya dan juga Reyhan harus diselesaikan. Jika ada masalah pribadi di antara keduanya, maka itu bukanlah urusan Tama. Walaupun Tama juga merasa ingin tahu, tetapi biarlah kedua belah pihak yang menyelesaikan semuanya terlebih dahulu.
“Benar Ana, ayo … kita selesaikan semuanya,” balas Reyhan.
“Bagaimana dengan Citra, Tam? Dia butuh aku,” balas Anaya.
Sungguh, hari masih siang, dan jika dia pergi sekarang, bagaimana dengan Citra. Rasanya, hatinya Anaya benar-benar tertinggal untuk Citra. Bayi kecil yang kehadirannya juga menyembuhkan luka di dalam hatinya.
“Masih ada ASIP, Ay … Citra bisa minum ASIP dulu,” jawab Tama.
Sekalipun Anaya akan pergi sekarang, di lemari es ada begitu banyak kantong ASIP yang bisa diminum Citra terlebih dahulu. Oleh karena itu, tidak masalah jika Anaya harus pulang lebih cepat. Lagipula, untuk mengurus Citra sendiri, Tama juga sudah bisa dan sudah terlatih.
“Baiklah Tam … besok aku akan ke sini lagi. Sampaikan pamitku kepada Citra,” balas Anaya.
Dengan hati yang sebenarnya enggan, Anaya mengikuti Reyhan. Wanita itu masuk ke dalam mobil Range Rover berwarna hitam itu. Menuruti saja kemana Reyhan membawanya. Dirinya cukup mengikuti saja.
__ADS_1
Rupanya, mobil yang dikendarai Reyhan berhenti di rumah Anaya. Kali ini, Anaya mengernyitkan keningnya. Sebab, di rumahnya sudah ada banyak orang, dan itu adalah dari keluarga Reyhan yang datang ke rumahnya.
“Apa-apaan ini Rey?” tanya Anaya.
“Dia keluargaku, Ana … kami datang untuk membawamu ke Singapura dalam pengawasan keluargaku,” ucap Reyhan.
Lagi-lagi Anaya menghela nafas sepenuh dada. Apa yang sebenarnya dipikirkan dan direncanakan oleh Reyhan dan keluarganya, hingga keluarganya datang dan hendak membawanya ke Singapura.
Anaya keluar dari mobil dan menemui keluarga Reyhan yang datang kala itu. Jujur saja semua keadaan ini membuat Anaya menjadi kian bingung.
"Halo Ana," sapa Mama Reyhan yang bernama Jasmine itu.
"Halo Ma," jawab Anaya dengan menyalami Mama Jasmine.
"Bagaimana kabarmu, Ana? Baik?" tanya Mama Jasmine.
"Kami datang untuk mengajakmu ke Singapura, Anaya. Tinggalkan Jakarta, ke Singapura saja bersama kami," ucap Mama Jasmine.
Anaya menundukkan wajahnya, semua yang terjadi serba tiba-tiba membuatnya pening. Akan tetapi, sekarang Anaya tahu apa yang dia tahu. Apa yang berharga dalam hidupnya. Oleh karena itulah, kali ini Anaya akan mengambil satu keputusan yang penting dalam hidupnya.
"Maafkan Anaya, Ma … tapi, sekarang Anaya tidak bisa ikut kalian ke Singapura. Ini adalah keputusan Anaya," jawab Anaya dengan tegas.
Reyhan, Mama Jasmine, dan beberapa orang lainnya pun turut mendengarkan perkataan Anaya. Merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran Anaya hingga Anaya mengambil keputusan ini.
"Kenapa An?" tanya Reyhan.
__ADS_1
Pria itu tampak menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang melihat Anaya. Dia datang dengan niat baik, tetapi agaknya Anaya sudah berkeputusan bahwa dia tidak akan ke Singapura. Untuk itu, Reyhan pun meminta alasan dari Anaya.
"Aku masih ingin di Jakarta bersama Ayah. Ayah lah sosok yang ada bersamaku bahkan di titik terendahku," balas Anaya dengan yakin.
Ya, keputusan pertama mengapa Anaya tak ingin pergi ke Singapura karena dia ingin tinggal bersama Ayahnya. Titik terendah dalam hidupnya, ketika dia benar-benar hancur, mengalami patah hati terpahit, Ayahnya lah yang ada bersamanya. Untuk kasih sayang dari seorang Ayah itu, Anaya memilih bertahan dan tinggal di Jakarta. Sebab, usai kepergian bayi kecilnya, Anaya hanya memiliki Ayahnya saja. Di kala dia depresi, berhari-hari tak bisa tidur, tidak bisa makan, bahkan pikirannya yang kosong. Ayahnya lah yang selalu ada untuk merawatnya. Sementara Reyhan tak pernah tahu bagaimana menderitanya Anaya dalam dua bulan terakhir ini. Reyhan tak pernah tahu bahwa Anaya nyaris gila karena depresi berat yang dia derita.
"Itu tidak masuk akal, An," balas Reyhan.
"Itu sangat masuk akal, Rey," balas Anaya.
Tidak ada lagi yang bisa Anaya ucapkan karena memang dirinya sekarang tak bisa meninggalkan Ayahnya. Terlebih usia Ayahnya sudah tak muda lagi. Anaya ingin mengabdi dan menemani Ayahnya di usia senja.
"Tidak bisa, An … kamu harus ikut bersamaku sekarang. Aku memiliki wewenang penuh atasmu," balas Reyhan.
"Wewenang untuk apa Rey? Wewenang untuk meninggalkanku setelah sekian lama? Lebih kamu pergi, Rey … aku tidak ingin melihatmu lagi," balas Anaya.
Pandangan mata Anaya kini beralih kepada Mama Jasmine, "Silakan pergi dari sini, Ma … ini adalah keputusan Anaya. Anaya akan tetap berada di Jakarta. Tidak akan pernah, Anaya ke Singapura," balasnya.
Mama Jasmine pun seolah kehabisan kata-kata untuk membalas Anaya. Wanita paruh baya itu kemudian menatap Anaya, "Tenangkan dirimu dulu, An… nanti kami akan kembali dan membawamu ke Singapura. Reyhan, ayo sebaiknya kita pergi dari sini. Biarkan Anaya tenang dulu. Lain kali kita kemari," ucap Mama Jasmine.
" … tapi, Ma," sahut Reyhan yang merasa tidak terasa.
"Tidak apa-apa, Rey … lain kali kita akan kembali lagi ke mari dan akan membawa Anaya ke Singapura saat hatinya sudah ikhlas. Ayo!"
Mau tidak mau, Reyhan mengikuti Mamanya. Dia beserta rombongan keluarganya pergi dari rumah Anaya. Begitu Reyhan sudah pergi, tangis Anaya tak bisa tertahan lagi.
__ADS_1
"Lebih baik begini Rey … aku punya dua alasan kenapa aku tak bisa pergi. Aku sudah mengatakan alasan pertamaku, dan untuk alasan keduaku cukup aku saja yang tahu. Alasan yang kuat, alasan yang membuatku tidak bisa meninggalkan kota Jakarta."
Anaya menyeka kembali air matanya, sesekali tangannya juga bergerak memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Ini adalah keputusan Anaya. Untuk apa yang sudah Anaya putuskan, sebisa mungkin Anaya akan berusaha menjalaninya. Bahkan jikalau bisa, Anaya justru ingin Reyhan tidak muncul lagi di dalam hidupnya. Biarlah Reyhan dan kenangannya terkubur dalam hatinya.